Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Salah Paham


__ADS_3

Panji dengan penuh percaya diri memasuki halaman rumah Sekar yang sedang ramai.


Panji langsung menghampiri seorang bapak yang terlihat dengan mengatur, pria setengah baya itu menunjuk ke sana dan kemari lalu menilai.


Panji langsung menyimpulkan itu adalah orangtua Sekar.


ia merapihkan rambutnya dan memastikan pakaiannya rapih, berjalan mendekati pria paruh baya tersebut


"Pagi pak, assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam" ucap pria itu terlihat galak


"Perkenalkan...."


"Saya sedang sibuk dik, maaf ya kalau mau minta sumbangan besok-besok saja" ucap pria tersebut melihat Panji dari atas ke bawah seolah menilai Panji dan kembali menatap para pekerja


Sial gue seganteng ini di bilang minta sumbangan??, Sabar ji, sabar. Ini semua demi Sekar" ucap Panji mengelus dadany


"Kenapa kamu ngelus dada, kamu balik aja besok, nanti saya kasih uang sumbangan.


Kamu liat sendiri kan saya sibuk" ucap pria itu terlihat tak suka dengan kehadiran Panji


"Itu om saya...."


"Om, om.


Kamu bukan keponakan saya, sana pergi.


pagi-pagi sudah minta sumbangan. dan satu lagi sebelum pergi minta sumbangan mbok mandi dulu.


bau naga mulutmu" ucap pria paruh baya itu lalu meninggalkan Panji membuat Panji melongo, kesal, marah dan malu


"Kalau bukan karena Sekar, dah gue jadiin dadar gulung nih aki-aki, mulutnya kurang sambel" gerutu Panji dalam hati.


"Maaf ya nak kamu sedang sibuk, ada keperluan apa ya?" tanya seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Panji hanya diam menatap wanita tersebut. alay sudah menginjak kepala enam, wanita itu masih terlihat cantik dan anggun.


tapi melihat pakaiannya yang sederhana, Panji menyimpulkan jika wanita ini kerabat si empunya rumah, begitu sok tahunya Panji main menyimpulkan seenak hatinya


"Saya mau bertemu pemilik rumah ini Bu,


tapi ternyata...."


Panji mendekati wanita paruh baya itu yang terlihat menatap tajam kearahnya dari kejauhan


"Bapaknya Sekar galak ya bu" ucap Panji setngah berbisik


"Dari mana kamu tahu kalau galak???" tanya si ibu heran


"Tuh liat deh dari tadi bapaknya Sekar melototin saya" ucap Panji sambil menatap pria blparuh baya tadi.


Arah pandangan wanita itu ke arah Panji memandang dan terbatuk-batuk


ia tersenyum dan menatap Panji


"Memang kamu mau apa kesini??"


"Saya .... sebenarny saya tunangan Sekar, ah maksudnya kami ...


bingung deh ngomongnya, jadi Sekar itu di jodohkan sama saya, tapi karena satu dan lain hal..."


"Jadi kamu datang kesini karena tahu Sekar akan bertunangan???" tanya wanita paruh baya tersebut


"Nikah Tan, bukan tunangan" ralat Panji lirih


Wanita paruh baya itu memperhatikan Panji dan tak lama kemudian ia tersenyum penuh arti


"Kamu Panji???"


""Eh kita kan belum kenalan, Tante tahu dari mana???" tanya Panji bingung


"Siapa yang bilang Sekar mau nikah?" tanya wanita itu menahan tawa tak menjawab pertanyaan Panji lh balik bertanya

__ADS_1


"Kok Tante malah ketawa sih, saya sedih tahu tan"


"Kamu menolak di jodohkan dengan Sekar, terus pas Sekar mencari pengganti kamu sedih dan tak terima. Terus mau kamu apa?" tanya wanita itu lembut, terdengar nada kecewa dari suaranya


"Saya...


saya juga gak mengerti perasaan saya Tan,cuma saya gak rela Sekar dengan yang lain"


"Itu namanya egois" ucap wanita itu telak membuat Panji menunduk malu


"Kalau gak yakin kenapa kamu cegah Sekar bahagia??? bukankah kamu gak bisa menjanjikan apa-apa sama dia???"


"Saya juga bingung,, begitu mendengar Sekar mau nikah saya langsung ke kota ini"


"Naik apa?"


"Mobil" ucap Panji menunjuk kearah mobil yang di parkirnya di luar halaman rumah.


"Sejauh itu perjalanan kamu tapi kamu gak tahu mengapa kamu kesini???, duduk disini biar tante ambilkan kamu minum ya" ucap wanita itu berjalan ke kedalam rumah, Panji hanya bisa memandang punggung wanita paruh baya itu menjauh.


Benar ucapan wanita itu,, buat apa ia datang kesini??? apa yang mau ia lakukan??? melarang Sekar bahagia sedang dia saja tak bisa membahagiakan dan memberi apa yang Sekar butuhkan


Panji memijit pelipisnya yang berdenyut, mengusap wajahnya kasar.


terdengar ia menghela nafas berat beberapa kali.


Mengapa ia jadi bodoh seperti ini????


Tapi merelakan Sekar dengan yang lain, Panji tak rela. membayangkan Sekar tertawa dan bergelayut manja dengan pria lain hati Panji mendidih.


Sebenarnya apa yang terjadi padanya????


Kini ia sudah berdiri di depan rumah Sekar, tinggal selangkah lagi bisa bertemu dengan Sekar, tapi ia takut dan ragu.


Tak lama kemudian wanita paruh baya tadi datang dengan membawa nampan berisi teh hangat dan sepiring nasi


"Makan dan minumlah, kamu pasti lelah.


Panji termenung sejenak, masakan itu familiar baginya, udang balado kentang, tumis buncis, ayam Laos...


Mengapa masakan ini terasa mengingatkan nya pada seseorang"


"Sekar,


Sekar biasa memasak, dia pernah memaksakan aku yan Laos dan udang balado ini" ucap Panji lirih


"Apa sama rasanya?" Panji mengangguk dan terus memakannya dengan mata berkaca-kaca, hingga ludes tak tersisa


"Sekarang lebih baik kau pulang ke rumah orangtuamu nak, ibunda mu sangat merindukanmu.


Sekeras apapun orangtua mendidik mu, mereka sangat mencintaimu.


Sudah enam tahun kau tak pulang bukan???


kau sudah meninggalkan rumah delapan tahun nak.


kau hanya pernah pulang saat kuliah itupun hanya ketemu ibunda mu"


"Apa tante teman ibunda juga?"


"Iya, kami sahabat dekat" ucap wanita paruh baya itu tersenyum lembut, walau ia kesal dengan Panji, cinta tak bisa di paksakan


Mungkin Panji disini saat ini hanya karena Panji merasa bersalah dengan Sekar.


"Bu semua sudah siap" ucap pria paruh baya yang tadi berbicara dengan Panji


"terima kasih pak Bambang, tolong bapak antarkan mbok Jum ambil cake ya, soalnya sudah siang"


"Siap Bu"


"Heh kamu kenapa masih disini???" tegur pria baya itu

__ADS_1


"mau tahu aja" ucap Panji cuek, lalu pria itu terlihat kesal


"Pa Bambang, dia tamu saya"


"Ba..baik Bu, saya permisi" ucap pria itu langsung pergi


Panji jadi bingung sendiri menatap kepergian pria paruh baya yang akhirnya ia tahu bernama Bambang, tapi papanya Sekar bernama Danu, bagaimana bisa Bambang???


"Dia supir keluarga ini" ucap wanita paruh baya tersebut seakan tahu kebingungan Panji


"Jadi... jadi dia.....


Pantes aku bingung, Sekar cantik gitu gak mungkin kan..."


"Hus, gak baik.


Sekarang kamu pulang dulu dan renungkan apa yang Tante sampaikan tadi, Tante gak bisa menemani kamu lagi karena ..."


"Tenang Tante, Panji mengerti.


terima kasih ya buat teh hangat dan makannya,


masakan Tante juara enaknya.


Panji pamit dulu Tan, assalamu'alaikum" pamit Panji sambil mencium punggung tangan wanita baya tersebut


Baru saja dua langkah Panji menoleh


"Maaf nama Tante siapa ya, Panji sampai lupa"


"Laras" ucap wanita paruh baya itu tersenyum


"Sampai jumpa Tante Laras" ucap Panji melambai lalu meninggalkan kediaman orangtua Sekar


Dilantai atas rumah tersebut, Sekar sedang menatap nanar ke halaman rumahnya yang sudah di penuhi para kerabat nya, dekorasi juga sudah siap.


Sekar menutup matanya, tak terasa air mata lolos dari sudut matanya


"Mas Panji, selamat tinggal" ucap Sekar lirih, namun sesaat ekor matanya menangkap sosok pria yang amat ia cintai di halaman rumahnya sedang berjalan keluar


"Mas Panji??" gumam Sekar.


Wanita cantik itu menghapus air matanya dan berlari turun menuju halaman rumahnya, hatinya sangat yakin jika itu Panji


Ia sangat hapal silet pria itu, bahkan gaya berjalannya.


Namun saat sampai di bawah ,Sekar tak melihat Panji ataupun pria yang mirip dengannya


"Dia sudah pergi" ucap Laras yang berdiri di belakang Sekar


"Mama????"


"Kamu gak bisa mengejarnya sekalipun kamu ingin.


Ingat sayang, kamu akan bertunangan hari ini" ucap Laras mengingatkan


"Jadi mas Panji beneran kesini ma, kerumah kita??" tanya Sekar meyakinkan dirinya


"Iya, tuh gelas dan piringnya aja masih di situ"


Sekar merasa senang sekaligus sedih.


Senang tahu Panji menyusulnya tapi sedih karena perubahannya sudah di depan mata


"Ikhlas kan, apa yang buka jadi milikmu sekuat apapun kau kejar, ia tak akan pernah jadi milikmu nak.


Hadapi masa depanmu dengan nak Candra, bukankah kamu sudah membuat keputusanmu sendiri???" cap Sekar menasihati putri semata wayangnya


"Ayo kita masuk" ucap Laras menuntun Sekar yang terlihat tak berdaya.


Sebenarnya Ia ingin menentang keputusan Sekar bertunangan dengan Candra, ia tahu Sekar sangat mencintai Panji, namun saat kelurga tahu Panji sudah punya kekasih mereka meminta Sekar memenuhi janjinya.

__ADS_1


Kini Laras hanya berharap yang terbaik untuk putri kesayangannya.


__ADS_2