
Davina memilih tak bicara pada suaminya, ia terus masuk ke dalam ruang perawatan Cleo tanpa mengindahkan suaminya yang tersenyum lebar.
Senyum Davina lenyap setelah kedua mantan mertua Tian pergi, wajah Davina langsung terlihat datar.
"Sayang, kita makan bareng ya??" ucap Tian mencoba berbicara dengan Davina.
Davina hanya melirik sekilas lalu kembali berjalan mendekati Cleo.
Davina asik berbicara dengan Cleo.
Saat Sebastian ikut nimbrung, Davina mengabaikannya.
Cleo yang melihat ada yang aneh hanya mengerutkan alisnya bingung.
Saat Sebastian pergi ke kamar mandi, Cleo langsung bertanya pada Davina
"Mama, apa kau sedang bertengkar dengan papa???"
"Cleo kenapa berfikiran seperti itu?" tanya Davina sambil menyuapi Cleo mango delight yang ia beli siang tadi
"Habis mama kelihatan mengabaikan papa" ucap Cleo dengan mata menyelidik.
Bocah kecil ini ternyata lebih cerdik dari yang Davina kira.
"Mama lagi ngerjain papa kok.
Cleo gak usah khawatir ya" ucap Davina mengusap rambut Cleo
"Ehmm.
Kalau begitu Cleo lega. Cleo Memang belum bisa menerima mama sepenuhnya.
Tapi Cleo akan berusaha menjadi anak yang baik.
Cleo gak pernah melihat papa begitu bahagia.
Selama ini papa selalu berusaha membahagiakan Cleo.
Sekarang waktunya papa yang mendapatkan kebahagiaannya. Papa mencintai mama genit" ucap Cleo mengedipkan sebelah matanya.
Davina masih melongo tak percaya, bocah kecil itu yang masih duduk di bangku kelas satu sekolah dasar memiliki pemikiran dewasa melebihi usianya.
Davina antara takjub dan kagum.
Jika seperti ini Davina menyukai putri sambungnya, namun jika dia tidak sakit, mulut Cleo lebih pedas dari sambal judes.
"Apa ini karena kecelakaan dan kepalanya terbentur?????" gumam Davina dalam hati.
"Apa menurut Cleo seperti itu???" tanya Davina lembut pada Cleo
"Iya , dengan mama , papa terlihat banyak senyum dan terlihat lebih muda, ya walaupun papaku tetap tampan di usianya sekarang" ucap Cleo sombong, tapi benar adanya.
Setelah meminum obat akhirnya Cleo mengantuk dan tertidur sambil memeluk boneka Teddy bear nya.
__ADS_1
Beruntung Davina sebelum kesana me- laundry kilat boneka tersebut agar steril.
Davina mendudukkan bokongnya di sofa yang terdapat di ruang perawatan tersebut, rasanya kurang nyaman duduk di kursi di samping Cleo.
Kini ia asik berselancar di dunia Maya.
Melihat Sebastian keluar dari kamar mandi lalu menghampirinya.
Davina bangkit dan diikuti oleh Tian, namun ia segera masuk kamar mandi dan menutupnya cepat
"Ya Allah untuk wajahku yang tampan ini gak kena sayang, kalau kena kamu juga yang rugi kan?" ucap Tian mencoba membuat Davina tertawa.
Namun tak ada suara balasan dari Davina.
Sebastian bosan lalu duduk di sofa menunggu istrinya keluar.
Tiga puluh menit kemudian Davina sudah keluar dengan pakaian ganti, ia terlihat fresh.
Buru-buru Sebastian mendekati dan lagi-lagi Davina menjauhinya.
"Sayang kamu marah ya sama aku" tanya Sebastian terus mengikuti Davina layaknya anak ayam yang mengikuti induknya.
Alih-alih menyaut Davina hanya melirik sekilas suaminya lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
Sejak tadi Davina terlihat diam dan irit bicara sehingga saat Cleo tertidur Sebastian langsung mendekati istrinya yang sedang duduk di sofa
"Maafkan aku ya sayang, kamu marah pasti karena kedatangan Marsha ya? Kan aku bukan yang mengundang Marsha. Dia yang datang sendiri dengan kedua orang tuanya.
Marsha juga yang mendonorkan darah untuk Putri kita, aku merasa berhutang budi pada Marsha "ucap Sebastian menjelaskan pada Davina
"Siapa yang marah sama kamu, itu hanya perasaanmu saja "ucap Davina santai
"Aku tahu kok kalau kamu marah kalau kamu marah lebih baik kamu ungkapkan saja, jangan diam seribu bahasa "ucap Tian dengan wajah memelas
"Oh jadi kamu maunya aku ngomel-ngomel gitu? Maaf ya mas Sebastian yang ganteng, aku bukan tipe wanita yang seperti itu. "ucap Davina mengejek
"ya nggak gitu juga ya.
Oke aku minta maaf, walau aku tidak tahu apa kesalahanku.
Maafkan aku ya sayang Jangan ngambek lagi dong" rayu Sebastian pada istrinya
"Aku bukannya keberatan Marsha datang menjenguk Cleo hanya saja seharusnya kamu bisa memposisikan dirimu sebagai mantan suaminya kamu juga harus bisa menghargai bagaimana perasaanku "ucap Davina berapi-api
"Maafkan Aku, waktu kamu masuk ke dalam ruangan ini, Cleo hanya ingin mengabadikan momen di mana kedua orang tuanya utuh.
kamu kan tahu sendiri selama ini Cleo tidak pernah memiliki keluarga yang utuh.
Cleo tidak pernah melihat mamanya, setelah melihat kedatangan Marsha , Cleo terlihat antusias.
Selama ini aku tahu jika Cleo iri pada teman-temannya yang memiliki mama, sehingga aku hanya ingin memposisikan diriku sebagai papanya yang memberi hak pada Cleo untuk bertemu dan dekat dengan mama kandungnya.
aku nggak punya perasaan apapun pada Marsha posisinya hanya sebagai mama kandung Cleo dan tidak ada sangkut pautnya dengan diriku "ucap Sebastian tegas
__ADS_1
"Apa harus pakai ponselmu? Bukankah Cleo juga punya ponsel sendiri jika ingin mengabadikan kebersamaan kalian. Dan satu lagi apa perlu pose seperti itu, bikin sebel aja ngelihatnya "ucap Davina sambil bersedekap dada
"ponsel Cleo mati.
Berpose seperti apa sih sayang?" tanya Sebastian bingung
"Ya itu tadi, pakai peluk-pelukan segala lagi "ucap Davina merajuk
"Astagfirullah, jadi kamu cemburu???? kamu cemburu sayang? " goda Sebastian membuat Davina makin kesal
"Siapa yang cemburu Ih geer, aku cuman nggak suka aja nggak etis dilihatnya "ucap Davina mencari alasan
"Aku suka kok kamu cemburuin "goda Sebastian membuat Davina melotot
"Oh jadi kamu menantangku? Apa kamu mau dibuat cemburu juga tanda tanya emangnya enak orang cemburu apa? "Ucap Davina sini
"Utu utu, kesayangan aku ngambek karena cemburu ya. Kamu percaya deh sama aku cuma kamu wanita yang akan mendampingiku sampai ajal menjemput.
hanya kamu wanita yang aku cintai sampai aku mati" ucap Sebastian memeluk istrinya
"Ih meluk-meluk lagi, sana "ucap Davin jaim
"Terus aku suruh meluk siapa kalau bukan meluk kamu? Kamu mau aku meluk Marsha?" goda Sebastian
"Cari mati, punya nyawa berapa?"tanya Davina melotot tajam
"Ih istriku kalau marah serem tapi jadi tambah manis "
"Lebay" ucap Davina memutar bola matanya malas
"Pokoknya untuk semua kesalahpahaman hari ini aku minta maaf dari lubuk hati yang paling dalam.
Semoga Tuan putriku mau memaafkan hamba Mu yang lemah ini "ucap Sebastian bersimpuh di kaki Davina, membuat Davina mau tak mau tersenyum melihat kelakuan lebay suaminya
"Nah gitu dong, kalau senyum kan jadi makin cantik "
"Makanya jangan bikin aku kesal.
kamu mau aku diamkan seharian? "
"Ampun ndoro Putri "akhirnya keduanya kembali akur. Davina juga bukan tipe wanita yang marah berlarut-larut, lagi pula kesalahan Sebastian ini untuk pertama kalinya dan Davina menilai bukan murni kesalahan Sebastian.
Namun Davina merasa harus memberitahu batasan antara dirinya dan Marsha karena status Bastian kini adalah suami dan mantan istrinya demi menjaga perasaan bersama.
"Aku mau tanya sama kamu, kalau seumpamanya aku bertemu dengan Marcel, lalu aku memanggil Marcel dengan panggilan akrab yang biasa kami lakukan saat kami bersama dulu. Begitu juga Marcel memanggilku dengan panggilan kecil sewaktu kami masih bersama. Menurutmu bagaimana perasaanmu? "Tanya Davina yang sedang tiduran di paha suaminya
Sebastian langsung menyadari sesuatu dan dia menggaruk kepalanya yang tak gatal
"Sayang maafkan aku ya, itu bukan aku sengaja tapi mungkin karena sudah kebiasaan.ke depannya aku akan bersikap formal kepada Marsha "
"Aku nggak minta kamu untuk berbicara formal, hanya saja sebaiknya jangan memanggil dengan panggilan seperti itu lagi. Itu tidak etis "
"Baik, baik, aku mengaku salah maafkan aku ya "ucap Sebastian mengecup kening istrinya.
__ADS_1