Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Pikiran Sakit


__ADS_3

Sebastian menoleh ke arah Agatha yang tertawa terpingkal-pingkal, entah mengapa Tian juga merasa jika Davina terlihat marah, pada dirinya atau Agatha???


Sebastian mencoba membaca situasi.


Mood Davina buruk karena kedatangan Agatha, tepatnya saat Agatha membuka kotak makannya.


Sebastian tersenyum lebar.


Kini ia mengerti mengapa istrinya itu terlihat sangat kesal.


Tian hanya menggeleng melihat kelakuan istrinya dan kakak iparnya


"Mas kenapa??? seneng ya Agatha menggodaku, lihat saja kelakuannya"


"Nanti sehat ma janji kita makan seafood di pinggir pantai sambil menikmati sunset, jangan cemberut lagi nanti cantiknya hilang" ucap Tian setengah berbisik pada Davina.


Davina berbinar senang, ia memang belum mengakui Tian suaminya karena ia mengalami amnesia, namun ia senang Tian perhatian padanya


"Beneran ???? jangan cuma membuatku senang ya.janji????" tanya Davina sangsi


"Janji" ucap Tian tiba-tiba mengecup kening Davina reflek. Davina yang terkejut hanya melongo bengong tak menduga Tian akan menciumnya, ya walau hanya di kening tapi bisa membuatnya merah merona karena malu sekaligus senang.


"Hei kalian, ngapain bisik-bisik di sana, jangan umbar kemesraan deh, lagi sakit banyak tingkah.


Apa kalian merencanakan mau...."


"Dasar mesum, pikiranmu tuh yang kotor"


"Terus ngapain kalian pake bisik-bisik segala di depanku kalau bukan masalah dapur???" goda Agatha membuat Davina kembali kesal, namun Tian menggeleng berusaha Menenangkan istrinya.


"mau tahu banget deh" ejek Davina membuat Agatha tak bisa berkomentar lagi


"Huh" Dengus Agatha tak ingin berkomentar,


"Tian ayo di makan sarapannya nanti keburu dingin" ucap Agatha mengalihkan pembicaraan


"Iya kak"


"Sayang sementara kamu nikmatin bau nya aja dulu ya, nanti kalau sudah sembuh kita makan seafood Samapi puas" ucap Tian tanpa dosa membuat Davina mendelik ke arahnya,sementara Tian hanya memasang wajah menyeringai bodoh


Setelah satu jam yang menyiksa akhirnya kedua orang itu selesai makan juga, Davina beberapa kali menyeka air liur nya di selimut.


"Sial Agatha, tunggu pembalasanku!!!" gumam Davina lirih.


Tak selang beberapa lama Ayudia dan Arjuna datang di ikuti kedua kakak kembar Davina dan dua adik kembarnya.


Davina sangat senang melihat kedatangan saudara dan saudaranya, terutama kedua orangtua yang ia sayangi.


"Assalamu'alaikum "


"Wa'alaikum salam"


"Bayi montok ku mama sangat khawatir hik hik hik" Ayudia langsung mendekati putrinya dan memeluknya

__ADS_1


"Jiah mulai deh mama....


Utuk Utuk Utuk bayi montok tua" cibir Daffa membuat semua orang tertawa kecil mendengar olokan Daffa


Davina langsung melotot mengirim signal peringatan membuat semua langsung menahan tawanya


"Aduhhh" pekik Davina kesakitan membuat Ayudia langsung melepas pelukannya


"Ma, Davina cidera tulang belakang" ucap Tian memberitahu, sementara Davina senang meringis menahan sakit.Jika saja di ruangan ini hanya ada ayu dan Arjuna , ia akan menangis dan merajuk pada Ayudia seperti yang biasa ia lakukan saat dekat dengan kedua orang tuanya


"Astaghfirullah maaf sayang mama tidak sengaja" ucap Ayudia dengan wajah bersalah


"Mama sih terlalu antusias sampai lupa anak sendiri lagi cidera" protes Arjuna yang melihat putri kesayangannya kesakitan.


Dibanding dengan Dira dan Dina, Arjuna lebih dekat dengan Davina, walau saat kecil Davina sangat menyebalkan dan suka mengerjainya, tapi Arjuna sangat menyayanginya.


Setelah besar mereka menjadi kompak layaknya adik kakak beda generasi. Dan hubungan mereka rusak saat Davina berpacaran dengan Marcel, karena Arjuna menentang keras hubungan yang Arjuna nilai tak sehat itu. Ia bisa melihat Marcel hanya memanfaatkan Davina, namun demi Davina Arjuna merestuinya walau keputusan itu akhirnya membuat Arjuna menyesal.


Tapi setidaknya ada hikmah di baliknya karena Davina bisa menikah dengan orang yang tepat.


"Iya,iya maaf mama gak sengaja.


Apa sakit sayang???" tanya Ayudia


"Enggak ma, cuma mama hampir membuatku operasi kedua kalinya" ucap Davina menyeringai


Ayudia meringis membayangkan putrinya dioperasi lagi, hatinya langsung tak enak


"Maaf ya sayang, mama beneran deh gak sengaja" ucap Ayudia merasa sangat bersalah


Aku ga apa-apa kok" ucap Davina pada akhirnya karena kasian melihat mamanya merasa bersalah dan di bawah pandangan Arjuna yang kesal


"Mama kamu khawatir banget sama kamu, dia sampai gak tidur semalaman nangis, lihat tuh matanya kaya telor dadar" ledek Arjuna membuat Davina tertawa tapi juga kasian


"Papaaaaaa" protes Ayudia


seperti perkataan Arjuna kedua kelopak mata Ayu memang bengkak kebanyakan menangis dan memang mirip telor ceplok bagian kuningnya


Begitu pula kedua mata adik kembarnya Dira dan Dina.


Davina merasa bersalah sudah membuat khawatir seluruh keluarganya


"Maafin aku ya udah buat kalian semua khawatir"


"Namanya musibah sayang, yang penting sekarang kamu sudah baikan. Tinggal proses penyembuhannya saja"


"Iya pa"


"Ya seperti nya mama telat ya???


Kalian sudah sarapan pagi.


Padahal mama membuatkan kalian makanan kesukaan kalian" ucap Ayudia menatap sedih ke arah meja dimana sebastian dan Agatha tadi makan lalu menatap paperbag nya

__ADS_1


"Mas Tian dan Tante Agatha tapi cuma makan sedikit kok ma, mereka pasti belum kenyang, aku juga laper ma" ucap Davina sengaja mau mengerjai Tian dan Agatha sekaligus.


"Itu...."


"Ma, aku...." belum selesai Agatha dan Tian membantah ucapan Davina, Ayudia sudah memotong pembicaraan.


"Alhamdulillah makanan yang mama bawa gak mubazir deh


Ayo pa kita buka dan makan bareng-bateng, anggap saja sedang wisata tapi di rumah sakit hehehe" ucap Ayudia antusias


Sebastian dan Agatha saling pandang, mereka sangat kekenyangan saat ini, tapi juga tak enak hati menolak Ayudia dan suaminya.


"Astaghfirullah perutku sudah padat merapat, mau di kasih sela sebelah mana lagi???" gumam Agatha menelan salivanya, bukan karena ngiler tapi karena begah membayangkan mereka akan makan masakan yang Ayudia bawa


"Ya Allah, bagaimana menolaknya ya?? apa Davina sengaja mengerjai ku dan Agatha??" gumam Tian menatap dengan wajah iba ke arah istrinya, namun Davina cuek pura-pura tak melihat.


"Ini balasan pada dua orang menyebalkan, kamu juga sih mas. Makan tinggal makan pake komentar rasanya , pake ekspresi makanannya enak banget, aku dari tadi menahan liur karena mu, rasakan!!" gumam Davina tertawa terkekeh dalam hati.


Akhirnya keduanya makan dengan ragu, sesuap demi sesuap mereka paksa masuk ke dalam perut mereka yang rasanya mau meledak kekenyangan.


Agatha menyerah dan beralasan mau buang air besar membuat Ayudia mengomel karenanya, sementara Tian dia tak punya alasan, kasihan.


Setelah setengah jam kemudian mereka semua selesai makan, Sebastian sampai sulit bangun karena kekenyangan, perutnya bergejolak ingin muntah.


Sebenarnya Davina kasian juga, tapi jiwa usilnya dan balas dendamnya lebih besar dari rasa kasihan nya.


Tiga jam kemudian keluarga Davina pamit di ikuti Agatha, tinggallah Sebastian dan istrinya di ruangan tersebut


"Sayang kamu kejam bener sih sama suami sendiri???" ucap Tian memprotes istrinya


"Ya Ampun Maaf ya om ku sayang, aku lupa kalau kamu suamiku kan" ucap Davina dengan wajah polos.


Ingin rasanya Sebastian menghujaninya dengan ciuman sebagai hukuman, sayangnya Davina kini sedang sakit


"Amnesia sih amnesia, tapi gak ngerjain aku sampai kekenyangan begini.


Makan banyak bener aku, bisa gendut nanti aku.


Kamu mau punya suami gendut apa???"


"Ih mauuuuuu, lucu kaya beruang kutub, jadi gak usah jauh-jauh ke kebun binatang lagi deh" ucap Davin cekikikan


"Davinaaaaaaaaaa"


"Iyaaaa sayaaaaang????" jawab Davina manja membuat sebastian yang kesal dengan langsung lenyap


"Ah sudahlah, pikiranmu sedang sakit" ucap Tian lirih


"Mas, ingatan aku, bukan pikiran aku, aku normal" ucap Davina kesal.


pikiran sakit??? Gila?????


Sebastian hanya menoleh dan tersenyum, ia mengabaikan teriakan istrinya yang kesal.

__ADS_1


Ia harus menjalankan sholat Dzuhur dengan perut yang kepenuhan. sungguh siksaan terberat baginya.


__ADS_2