
Sudah dua hari Davina tak keluar dari kamarnya, ia teramat malu dengan keluarganya.
Ditambah ia tak mau mendengar ejekan kakek atau Kedua kakak kembarnya.
Davina yakin mereka pasti akan meledeknya terus tanpa henti.
belum lagi keusilan kakek buyutnya, Davina takut terkena jebakan kakek buyutnya, tapi kalo di kamar dia aman, Ia bisa mengecek makanan dan minumannya aman dari keusilan Angelo.
Tian yang bosan di kamar, ia juga tak enak hati karena mereka tak keluar kamar selama dua hari.
Berulang kali Tian membujuk Davina, namun istrinya itu menolak dan tetap ingin di kamar.
Tian menyadari jika dia ataupun Davina malu, namun mereka tak bisa selanya hanya di kamar saja..
"Sayang, Ayolah kita keluar kamar, apa kamu gak bosan di kamar terus?????"
"Enggak" jawab Davina santai tanpa menoleh ke arah Sebatian.
ia sedang asik memainkan game di ponselnya.
"Sayang, aku bosan"
"Terus aku harus bilang apa???
Kalau mas bosan keluar aja sana.
Aku gak gak melarang mas keluar kamar" ucap Davina menatap sekilas suaminya Lalu kembali fokus pada ponselnya
"Ya gak harus bilang apa-apa sih.
kita keluar yuk gak enak di dalam aja, nanti apa kata mereka" bujuk Tian
"Ih aku malas keluar.
Pasti si rese Daffi dan Daffi meledekku.
belum lagi kakek buyut dan pandangan penuh selidik mama dan nenek buyut
Aku malu mas. Terus ya kamu pernah dengar sendiri kan kakek buyutku pernah mengerjai kakek dan papa ku, apa kamu mau juga jadi korban keusilan kakek buyut????" tanya Davina berapi-api
"Kan kakek buyut berbuat begitu demi kebaikan.
Lagi pula kamu juga akan suka kan???" goda Tian dengan senyum menggoda
"Bugh "
Sebuah bantal melayang ke arah Sebastian dan menimpa sofa di dbelakang Tian, diritingi pelototan kesal Davina
"Kau suami mesum.
pikiranmu hanya ke sana saja" pekik Davina tertahan.
Sebastian tertawa terkekeh,, kini ia punya kebiasaan baru, menggoda istrinya sampai marah.
Bagi Tian Davina saat marah terlihat sangat menggemaskan, tapi ga tahu aja Sebastian kalau orang lain bisa jadi rujak bebek di buat sama Davina.
untung saja Tian pria yang Davina cintai kalau gak habis perkara😅😅
Tian berjalan mondar mandir, ia sudah mulai bosan di kamar, sementara Davina asik di atas kasur.
Membiarkan dirinya hanya berguling-guling malas diatas tempat tidur.
Ternyata obat yang diberikan Ernest sangat ampuh, terbukti Davina sudah bisa berjalan dengan aman.
__ADS_1
Karena malu dan ingin cepat sembuh Davina memilih tidur dengan memberikan pembatas di tengah-tengah tempat tidur mereka.
Namun bukan Tian namanya jika tidak mengisengi istrinya
Setelah Davina pulas, ia menyingkirkan bantal pembatas wilayah mereka dan langsung memeluk istrinya, sejak menikah dengan Davina Sebastian seakan tak rela jauh dari istrinya.
aroma tubuh Davina seolah candu baginya.
"Mau kemana mas???"
"Aku bosan, butuh udara segar.
Mau ikut???" tanya Tian yang sudah rapih dengan pakaian santainya
"MMMmmm, aku....."
"Sudahlah mas ga mau maksa, mas keluar dulu ya sayang" ucap Tian mengecup kening istrinya lalu berjalan keluar kamar, sementara Davina terlihat bingung
"Argggh gue benci suasana gini, gak pernah gue ngerasa kaya maling yang ketangkap, sebal"
Davina lalu berjalan ke kamar mandi
Sementara Sebastian berjalan menuju ruang keluarga, walau sedikit ragu namun kini ia bagian dari keluarga besar benedito
"Akhirnya pengantin baru keluar juga" goda Daffa melihat adik iparnya berjalan mendekat
"Sttt diam anak kecil, nanti mereka malu" ucap Ayudia yang melihat wajah menantunya malu
"Siang kakek buyut, nenek buyut, mama Ayu, pa" sapa Tian sopan
"Siang nak, gak usah formal gitu kita keluarga" ucap Angelo mempersilahkan cucu mantunya duduk
"Apa Davina baik-baik saja???" tanya Ernest
"Siapa yang bilang aku malas keluar??" saut Davina membuat semua mata memandang ke arahnya
"Sayang sini bergabung bersama kami" panggil Ayudia begitu melihat putrinya
"Udah selesai???" tanya Daffi pada adiknya
"Selesai apa?" tanya Davina duduk di samping Ayudia lalu mulai menyuap buah potong ke mulutnya
"Buat anaknya" goda Daffi membuat Davina tersendak
"Aduh pa sakit" teriak Daffi memegangi kupingnya
"Kamu masih saja banyak bicara" ucap Arjuna kesal
"Makan ini biar mulutmu sibuk" ucap Ayudia menjejali anaknya dengan buah potong membuat semua orang tertawa melihat nya
"Kak kapan kakak menceritakan suasana Thailand, kami mau ke sana tapi mama sama papa melarang kami" adu Dina yang diangguki Dira si bungsu
"Pantainya indah, banyak lady boy" ucap Davina singkat membuat kedua adiknya melongo tak puas, mereka tak senang dengan penjelasan Davina
"Sayang nanti kalau kalian sudah genap dua puluh tahun mama akan izinkan kalian traveling" potong Ayudia yang mengerti keinginan kedua putri kembarnya
"Ah ma, kami sudah besar.
Kami saja sudah mau masuk kuliah tahun ini.
kami bukan anak kecil" protes dina
"Biarkan mereka holiday ini kesana sayang, mereka sudah besar" ucap Arjuna membela kedua putrinya
__ADS_1
"Tidak, aku belum bisa berjauhan dari mereka" ucap Ayudia menatap kedua putri kembarnya
"Kami bukan anak kecil ma" protes Dira kesal
"Biarkan mereka berlibur kesana.
Aku akan meminta Jack menjaga mereka"
"Kami tidak butuh baby sitter" ucap Dina mendengus kesal. Pasalnya mereka ke sekolah saja selalu di kawal bodyguard, kini mereka mau berlibur juga????
"Itu demi kebaikan kalian" ucap Arjuna setuju dengan Angelo.
walau ia setuju putrinya berlibur ke manapun, tapi ia tak tenang jika melepas dua anak kembarnya itu tanpa pengawasan
"Jangan Jack, aku akan meminta Zidan dan Salwa dan Rendy ikut, dan mereka akan di kawal anak buah ku saja secara sembunyi, bagaimana???"
"Kak Davina ia the best" ucap Dina dan Dira memeluk kakaknya.
Dengan pengawal tapi tidak mengikuti mereka dari dekat itu lebih baik.
Mereka sekeluarga menikmati kebersamaan keluarga, bercanda, bercerita, makan bersama.
Tak terasa hari sudah malam, satu persatu akhirnya pamit untuk istirahat.
Kini tinggal Daffa, Daffi , Davina dan Sebastian, sementara si kembar rusuh Dina dan Dira sudah mengekor mama mereka tidur.
"Kami pamit duluan ya" ucap Tian yang merasa ada yang salah pada dirinya
"Siap pengantin baru, sana buatkan aku keponakan" goda Daffa
"Bosan hidup" ucap Davina melotot pada kakaknya
"Ampunnnnn...." teriak Daffa dan Daffi kompak lalu berlari masuk ke kamar Masing-masing
"Jangan galak-galak jelek tahu" ucap Tian mencubit pipi istrinya
"Biar aja, aku memang begini" ucap Davina namun tangan Tian malah membelai pipinya lalu tiba-tiba Tian mencium bibir Davina lembut.
Awal nya ciuman Tian lembut namun lama kelamaan penuh gairah dan tanganya mulai beraksi meremas
"Sayang, ini ruang keluarga kau gak tahu malu" ucap Davina mendorong suaminya, akal sehat nya langsung terjaga
"Sayang, aku merasa ada yang tak beres dengan tubuhku" ucap Tian menunjuk ke arah bawahnya
"Astaghfirullah, kakek buyutttttt" geram Davina
"Apa sayang???"
"Kakek buyut mengerjai mu, aku lengah, sial" gerutu Davina
"Kita bahas nanti" ucap Tian gak sabaran lalu menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mereka.
Rupanya Angelo dan Ernest diam-diam bersembunyi memperhatikan ke dua pasutri baru itu
"Berhasil sayang" ucap Angelo menatap istrinya kagum
"Tentu saja kalau kau berikan lewat minuman, cicitnya yang cerdik itu akan memeriksanya tapi jika di berikan pada puding itu, siapa yang menduga???"
"Kau wanitaku " ucap Angelo memeluk istrinya dan mencium tengkuk Ernest
"Menjauhkan buaya tua, aku tahu niatmu" ucap Ernest langsung meninggalkan suaminya
"Sayang, aku juga mau" ucap Angelo membuat Ernest menutup kupingnya
__ADS_1
"Bandot tua tak tahu malu"