Nikahi Aku Dong Om

Nikahi Aku Dong Om
Enggak Ingat Waktu


__ADS_3

Dua hari Cleo di rawat di rumah alit tersebut, dan selama itu pula Marsha datang mengunjungi Cleo, terkadang bersama orangtuanya, namun terakhir kali ia datangi sendiri, berlagak seperti seorang mama yang perhatian pada Putrinya.


Sebastian memenuhi janjinya, ia hanya berbicara seperlunya pada Marsha dan memanggil Marsha dengan nama utuh.


Selebihnya sebastian lebih memilih keluar dari ruangan tersebut menghindari kesalahpahaman.


Sebastian tak mau istrinya cemburu padanya lagi.


Masuk ke tiga harinya Davina memindahkan putrinya ke rumah alit miliknya, di sana sudah menunggu seorang dokter ahli kenalan profesornya yang akan menangani pengobatan dan pemulihan Cleo.


Davina meminta Sebastian menyerahkan urusan Cleo pada dirinya, di banding dengan Tian, Davina memiliki jam kerja fleksibel.


Sebelum menikah dengan Tian pun ia orang yang santai jarang masuk kerja.


namun Maslah tanggung jawab, Davina orang yang memiliki dedikasi tinggi pada pekerjaannya.


Walau terlihat santai ia memperhatikan jalannya perusahaan dan mengontrolnya dari luar kantor.


Pagi ini Davina dan Sebastian berpamitan pada Cleo untuk pulang dulu. Hari ini Sebastian akan berangkat ke kantor, Davina perlu mempersiapkan keperluan Tian dan setelah itu ia kembali ke rumah sakit.


Di rumah alit Davina menempatkan empat orang bodyguard dan satu orang anggota elite nya di dalam ruangan Cleo yang berpakaian perawat.


Namun begitu sampai di rumah, Sebastian malah meminta jatahnya, ia sudah menahan sejak kepulangan mereka dari bulan madu.


hingga akhirnya Sebuah panggilan telepon membuat Sebagian harus mengurungkan niatnya untuk melakukan sessions ke tiga dengan istrinya.


Wajar saja mereka sudah menghabiskan waktu satu jam setengah, melakukan lagi dan lagi seolah tak ada puasanya


"Siapa sayang??" tanya Davina membungkus tubuhnya dengan selimut


"Panji sialan, hobby banget ganggu kesenangan orang" ucap Sebastian memakai Panji


"Hahaha, kamu sih main enggak lihat waktu, lihat tuh sudah jam sembilan.


Katanya ada meeting jam sembilan" ucap Davina tertawa geli


"Astaghfirullah, aku lupa sayang" ucap Tian lalu terbirit-birit menuju kamar mandi, sementra ponselnya terus berteriak, siapa lagi jika bukan Panji yang terus menerus menelponnya.


"Hallo Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam kakak ipar dimana suamimu???" tanya Panji setengah berteriak


"Kau bertanya atau mau memecahkan genderang telingaku??" ucap Davina menjauhkan ponsel suaminya dari kupingnya


"Maaf kakak ipar, aku hanya panik, investor sudah tiba dan pria menyebalkan itu belum datang juga.


Ini sudah jam sembilan. Dimana suamimu kakak ipar???"

__ADS_1


"Tian???"


"Ya Tuhan siapa lagi memangnya suamimu kakak ipar??? ya Sebastian chou yang super ganteng dan galak itu" cerocos Panji kesal


Davina tak menyahut hany tertawa mendengar ucapan Panji yang seperti nenek-nenek kehilangan sirih


"Kakak ipar, kenapa kau tertawa????


Dimana dia? apa yang ku lakukan pada bestie ku???"


"Apa yang bis aku lakukan??? yang ada dia yang mengerjai aku" ucap Davina sengaja menggoda jomblo karatan di ujung sana


"Kakak ipar, aku masih lugu dan ku anggap kau tak mengatakan apapun" ucap Panji membuat Davina tertawa


"Lugu saat usiamu masih tujuh belas tahun, tapi kau sudah tiga puluh tujuh tahun, susah berkarat" ucap Davina langsung membuat mental Panji mental.


"Kakak ipar, tidak pernah ada orang yang mengatakan padamu bahwa kau sungguh kejam.


Sepertinya semesta menghukum mu kakak ipar, kau selevel pedesnya dengan putrimu" ucap Panji di ujung telepon


"Mau ku kirim ke pelosok ya???" bentuk Tian yang sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya yang sexy. Davina berbinar melihat pemandangan di depannya, air liur nya menetes


"Sayang kamu sexy sekali, love you" ucap Davina tanpa suara


"Panji, meeting kali ini aku tak bisa hadir, aku ada meeting dadakan dengan yang lain"


"Bos, bos astaga mereka hanya ingin bertemu denganmu"


"Tian kampret, gue. tahu loe mau meeting dengan kakak ipar, penganten baru ga tahu etika.


Gue jomblo woi" teriak Panji di ujung telepon.


KLIK


Sebatian memutuskan panggilan teleponnya lalu mematikan ponselnya, setelah itu ia menyerbu Davina, menggendongnya lalu meletakkannya diatas kasur dengan hati-hati seolah Davina mudah pecah.


"Kau membuat aku tak jadi berangkat kerja, jadi sebaiknya kau membalasnya" ucap Tian langsung melancarkan serangan.


Keduanya kembali dalam pergulatan asik lagi dan lagi seolah tenaga Tian tak ada habisnya, sementara Davina sudah terkapar tak berdaya.


Setelah satu jam pergulatan Davina tertidur masih dalam kondisi tak memakai sehelai benangpun.


Sebastian menutupi tubuh mulus istrinya yang kini seperti harimau tutul karena Tian meninggalkan tanda kepemilikan hampir di sekujur tubuh Davina.


Sebastian mengecup kening istrinya lalu bergegas menuju kamar mandi dan mandi.


Setelah berpakaian lengkap Sebastian mengecup kening istrinya lagi tanpa niat membangunkan istrinya yang terlihat kelelahan karena ulahnya, ia meminta asisten rumah tangga membawakan makanan setelah dua jam lagi. Sementara ia berangkat ke kantor.

__ADS_1


Di rumah sakit


Cleo terlihat berkali-kali memandang jam di dinding kamarnya, sudah siang hari dan mama tirinya belum juga kembali.


Bahkan papanya juga tak menghubunginya seolah mereka sudah melupakan keberadaan Cleo.


Cleo menolak makan siang, ia ingin di suapi Davina.


Namun tiba-tiba pintu ruangan tersebut di ketuk dan masuklah Ayudia dan kedua putri kembarnya


"Assalamu'alaikum cucu Oma" sapa Ayudia membuat Cleo langsung berteriak kegirangan


"Omaaaaa, aunty Dira, aunty Dina....." ucap Cleo berbinar senang


"Kenapa cucu Oma cemberut begitu???, salamnya mana syang?" tanya Ayudia mengelus puncak kepala cucu nya


" Eh maaf Oma, wa'alaikum salam" ucap Cleo memamerkan deretan giginya yang putih


"Oma bawakan sesuatu, pasti kamu suka deh" ucap Ayudia langsung membuka lunch box yang ia bawa


"Waaaaaaa, bento.....


Cleo suka" teriak anak itu antusias


"Ini aunty Dina dan aunty Dira loh yang buat sama Oma" ucap si bungsu Dira


"Makasih ya Oma, pintu Dira dan Dina"


"Sama-sama.sayang, kita makan bareng yuk" ucap Dina bersemangat


"Tapi mama Davina belum datang" ucap Cleo sedih


"Oh mama kamu tadi nelpon Oma, katanya agak telat karena urusan mendadak, jadi kita makan aja sekarang, biar mama kamu rasa kita habiskan saja" ucap Ayudia beralasan.


Beberapa waktu lalu memang Ayudia menghubungi putrinya dan tahu jika Davina di rumah, jadi Ayudia berimprovisasi karena dia menduga bahwa penganten baru itu main sampai tak ingat waktu.


"Ma, emang kak Davina nelpon???" tanya Dira yang memang masih polos


Ayudia melotot mengirim signal pada putrinya untuk menutup mulutnya, anak ini bisa membuat dirinya ketahuan berbohong.


"Iya tadi kan gak ada kamu pas kak Davina telepon" ucap Dina menyikut adiknya.


Dira hanya bisa meringis sambil memasang senyum terpaksa.


"Ya udah deh ayo nek kita makan, Cleo sudah lapar" ucap Cleo membuat Ayudia lega Cleo tidak sadar dengan ucapan Dira.


ketiganya lalu makan siang bersama, terkadang terdengar tawa dari Cleo melihat kedua tantenya yang bertengkar karena berebut makanan.

__ADS_1


Cleo sangat bahagia memiliki keluarga utuh sekarang.


Sementra di luar ruangan bodyguard yang di tugaskan Davina bergantian makan siang dengan makanan yang di bawa oleh Ayu, mereka sangat bersyukur memiliki bos dan keluarga bos yang sangat perhatian pada semua karyawannya.


__ADS_2