
🌸 Terimakasih kepada para pembaca yang sudah mampir🌸
🌺jangan lupa like, komen dan vote ya!!!,🌺
💝di tunggu kritik, saran dan masukannya untuk membangun karya yang lebih baik lagi 💝
Pada awalnya mereka duduk bertiga sambil menunggu makanan datang, tapi lama-kelamaan itu membuat Gus Aham tidak nyaman. Yach, cara menatap Boby pada Aisyah membuatnya risih dan terganggu. semacam tatapan penuh nafsu yang membuat hatinya gusar.
Aisyah pun demikian, merasa tidak nyaman dengan cara teman suaminya melihatnya, tapi Aisyah hanya diam. dia takut kalau langsung menunjukkan rasa tidak sukanya akan menyinggung tamu suaminya, lagi pula dia memang belum pernah bergaul dengan para pebisnis. "mungkin seperti inilah pergaulan dikalangan para pengusaha", pikirnya.
"Ayo, lakukan negosiasi di ruangan lain.", ajak Gus Aham pada Boby. dia jengah istrinya di tatap terus-terusan oleh pria itu.
"Lho, kenapa?.", tanyanya
"Lebih leluasa di tempat lain.", jawabnya. lalu menarik tangan temannya pergi menuju ruang baca.
Ya, ruang dengan buku-buku yang tersusun rapi di setiap rak. ruang ini biasa digunakan belajar bersama oleh anak-anak jalanan yang di asuhnya.
Sekedar info, Gus Aham memiliki sebuah yayasan. bukan yayasan anak yatim, tapi lebih ke yayasan anak-anak jalanan. anak-anak itu tidak diperbolehkan mengamen ataupun berkeliaran di jalanan ketika sudah masuk ke yayasan miliknya.
Sebaliknya, anak-anak itu di beri pendidikan, tempat tidur yang layak dan pelatihan kerajinan. dan tempat baca ini biasa digunakan mereka untuk berkumpul bersama Gus Aham, membahas tentang berbagai pengajaran, pelatihan ataupun hal lain yang bermanfaat bagi mereka ke depannya.
Makanan sudah dihidangkan. Aisyah masih menunggu Gus Aham untuk makan bersama. sudah cukup lama bagi Aisyah, suaminya pergi bernegosiasi bersama temannya.
"Apa yang dibicarakan?, kenapa lama sekali?.", pikirnya. suara ponselnya mengalihkan perhatiannya yang sedari tadi tertuju ke arah lorong tempat suaminya menghilang bersama temannya.
"Ummi.", bibirnya bergerak membaca tulisan di layar ponsel. cepat-cepat Aisyah mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Ummi.", ucapnya
"Waalaikum salam.", jawab suara di seberang.
"Dari tadi siang di tunggu kabarnya kok ndak nelfon to, nduk?!..., Ummi khawatir.", sambungnya.
"Maaf, Ummi. Aisyah lupa.", jawabnya.
"Yowes,btapi mas mu gimana nduk?.sehat toh?!, ndak muntah-muntah lagi?.",
"Ndak, Ummi. Gus Aham sehat, baik-baik saja.",
__ADS_1
"Trus, Saiki kamu sama mas mu lagi ngopo nduk?.",
"Ini mau makan malam Ummi, tapi Gus Aham masih ada temennya.",
"Oalah.......,
"Ummi, sudah makan?!, minum obat?.",
"Yowes, to. kan selama kamu pergi sama mas mu , Ummi di kancani mba Nafis. ndak usah khawatirin Ummi. seng penting, kamu nanti kalau pulang bawa kabar bahagia.", ucap Ummi tersenyum sambil melirik menantunya, Ning Nafis yang sedang membereskan obat Ummi. dan mba Nafis pun ikut tersenyum. di seberang sana Aisyah hanya tersenyum pahit.
"Yowes. Ummi tutup telfonnya yo nduk, ini Dija ngajak Ummi main.",
"Injih, Ummi.", jawabnya
"Assalamualaikum.",
"Waalaikum salam.", jawab Aisyah.
Bersamaan dengan panggilan telfon dari Ummi yang berakhir. Gus Aham datang dan segera duduk.
"Siapa yang telfon?.", tanyanya tanpa melihat Aisyah.
"Ummi, Gus.",
"Kenapa?.",
"Ya udah. ayo makan dulu.", ajak Gus Aham.
Aisyah segera mengambilkan nasi di piring dan memberikan pada suaminya. Gus Aham menerima nya dan segera mengambil lauk.
malam itu selesai makan Gus Aham mengajak Aisyah jalan-jalan menyusuri kota Surabaya, hingga malam semakin larut dan mereka kembali ke hotel.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Keesokan hari......
"Tok....
"Tok...
"Tok....
Terdengar pintu di ketuk. Gus Aham segera membuka pintu kamarnya. seorang pelayan nampak berdiri di sana dengan satu tas baju bertuliskan sebuah nama brand di tas itu. pelayan itu menyerahkan tas baju itu pada Gus Aham.
"Terimakasih.", ucap Gus Aham yang kemudian di jawab oleh pelayan itu.
__ADS_1
"Saya permisi dulu tuan.", ucapnya pamit undur diri. Gus Aham menutup pintu lalu memberikan tas itu pada Aisyah.
"Apa ini, Gus?.",
"Baju, aku sengaja beliin kamu. malam ini ada pertemuan pengusaha-pengusaha muda. mereka bawa istrinya, bawa pasangannya. kamu pakai baju itu, dan nanti ikut aku.", ucapnya dingin.
"Injih, Gus.", jawab Aisyah.
Seharian ini di lewati mereka tanpa aktivitas dan obrolan yang bearti. seperti biasa, Gus Aham sibuk dengan laptopnya dan Aisyah hanya bisa menghibur diri dengan Qur'an nya. hingga waktu berpesta tiba.
Aisyah sudah mempersiapkan kaos dan jas hitam untuk Gus Aham, karna memang Gus Aham akan turun lebih dulu menemui para tamu. kebetulan acara bertempat di hotel yang sama dengan Gus Aham menginap, jadi meskipun Aisyah belum siap, Gus Aham berinisiatif untuk turun lebih dulu dan menemui para sahabatnya.
Gus Aham keluar kamar. begitu suaminya pergi, Aisyah segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. cukup lama Aisyah merendam dirinya sampai benar-benar merasa rileks dan akhirnya membilas tubuhnya lalu memutuskan keluar kamar mandi. Aisyah berdiri di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk karna baru saja keramas. tiba-tiba, terdengar suara pintu kamar terbuka lalu sejenak kemudian tertutup. Aisyah diam saja dan tidak melihat karena mengira itu Gus Aham, dan diapun tetap melakukan pekerjaannya mengeringkan rambut.
Aisyah merasakan sentuhan di kepalanya, ada yang membantunya mengeringkan rambut. Aisyah merasa heran, karena Gus Aham tidak pernah melakukan itu, dan ini bukan aroma parfum suaminya.
"Siapa anda?.", Aisyah beranjak berdiri dari kursi yang di dudukinya. laki-laki itu hanya tersenyum, samar-samar dia mengingat siapa laki-laki itu, "Boby", ingatnya.
"Gus Aham, ndak ada disini. gus Aham sudah turun ke tempat acara.", ucapnya sambil beranjak pelan menjauh dari pria itu.
bagaimana pun, ini bukanlah hal yang pantas. apalagi dengan keadaan Aisyah saat ini yang hanya memakai handuk kimono.
"Saya tahu, makannya saya kesini.", jawab Boby.
"Kalau begitu, silahkan pergi dari sini.", ucap Aisyah.
"Justru ini kesempatan buat kita, sayang.", jawabnya seraya lebih mendekat pada Aisyah. membuat Aisyah merasa jijik mendengar panggilan sayang darinya.
Aisyah hendak berlari, tapi dengan cepat Boby menangkap tangannya membawanya dalam dekapan. Aisyah terus berontak, di injaknya kaki Boby dengan cukup keras, hingga dia mengaduh dan melepaskan Aisyah.
Aisyah berusaha lari lagi, tapi Boby berhasil menangkapnya lagi. kali ini rambut panjang yang terurai itu yang menjadi sasaran. Aisyah di Jambak lalu di dorong ke tempat tidur.
Air matanya sudah tak terbendung, rasa sakit bercampur takut merasukinya. Aisyah berusaha bangkit dari tempat tidur, sementara Boby melepas ikat pinggangnya. secepat kilat dia berlari ke arah pintu, tapi tiba-tiba Aisyah terjatuh dan merasa kesakitan pada kakinya yang di sabet dengan ikat pinggang oleh Boby.
Cepat-cepat Aisyah berbalik berusaha berdiri, tapi di dorong hingga jatuh oleh Boby. dengan posisi merangkak, Boby menghampiri Aisyah. mereka semakin dekat, sementara Aisyah tetap berusaha menghindar ,mundur dan berusaha menjauh.
Tapi tiba-tiba Boby menerkamnya, dengan brutal dia berusaha melepas handuk kimono yang di pakai Aisyah. Aisyah yang mempertahankan handuk kimono itu agar tetap menutupi tubuhnya tanpa sengaja menendang ke*aluan Boby hingga dia mengerang kesakitan.
Sekali lagi Aisyah berusaha bangun. dengan langkah tertatih dia berusaha berjalan ke arah pintu. namun Boby tak melepaskannya begitu saja, dengan langkah tertatih juga dia berhasil meraih Aisyah lalu mendorongnya hingga kening Aisyah terbentur tembok. Aisyah terjatuh, dia kesakitan.
"Dasar jal*ng!!!.", umpatnya sambil meremas dagu Aisyah dan menatapnya marah.
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1