
"Mas. tolong, jangan biarkan Aisyah tau, aku kena masalah ini.",
"Kalau dia tanya. jawab saja, aku sedang dalam masa pemulihan.", sambungnya, berpesan pada sang kakak. yang hanya di angguki kakaknya.
Justru Aisyah lah orang pertama yang tau hal ini. dan, Gus Ma'adz merahasiakannya dari Gus Aham.
Akhirnya, setelah melalui pemeriksaan dokter, dan di nyatakan kondisi Gus Aham membaik. ia di izinkan dokter untuk di bawa ke kantor polisi. tentunya, dengan di dampingi Gus Ma'adz dan pengacaranya.
Berita Gus Aham yang di bawa ke kantor polisi saat masih dalam masa pemulihan, sampai di telinga mas Raihan.
Ia bingung harus berbuat apa?!.
"Aku, harus gimana, mi?!.", tanya mas Raihan, pada istrinya.
"Kita, fokus ke Aisyah saja ya, mas?!.", jawabnya. Gus Aham menghela nafas berat.
Aisyah, Gus Aham, keluarga ndalem, sekarang Gus Aham di bawa ke kantor polisi. kepalanya pening memikirkan nya. ia mengusap-usap rambutnya dengan kedua tangan, sebelum akhirnya, tangannya turun ke wajahnya dan mengusapnya kasar.
Sementara di tempat lain....
Handphone mba Yati berdering. handphone GSM miliknya yang hanya berbentuk persegi panjang, dengan merek Nokia itu, menjadi sahabatnya dalam bekerja sehari-hari.
Untuk saling memberi dan menerima kabar, dengan keluarganya yang di perantauan. juga, untuk menemaninya ketika bekerja di panti, seperti saat ini. mba Yati mengerjakan tugas nya sebagai juru masak panti dengan memutar musik dan radio dari ponsel kecil itu.
"Assalamualaikum.", ucapnya. menyapa seseorang di seberang sana, ketika ia sudah menekan tombol telepon berwarna hijau, di handphone nya.
"Waalaikum salam. mba, ini Riko.", sahutnya.
"Riko?.", tanyanya. keningnya berkerut sesaat, lalu terlihat wajahnya sumringah.
"Oalah. iya, ono opo ?!.", tanya mba Yati, kemudian.
"Gimana kabar di panti, mba?.",
" Panti, apik-apik ae. donatur makin banyak, anak-anak semua keurus dengan baik. terus opo neh ya?!.....
"Bukan itu, mba. maksudnya, ada berita apa di panti?!.", tanyanya. menjelaskan maksud pertanyaan nya.
"Berita opo ya?!.", mba Yati nampak berpikir. ia merasa tidak ada yang spesial di panti.
Keadaan panti ya gini-gini aja, tiap hari rame kunjungan donatur. tiap hari nyiapin makan dan kebutuhan anak-anak. sungguh, ndak ada yang spesial.
"Ndak ada berita opo-opo.",
"Panti, ya ngene-ngene wae (panti, ya gini-gini aja).", sambungnya.
Riko memukul jidatnya di seberang sana. sepertinya, ia menghubungiku orang yang salah, pikirnya.
__ADS_1
"Ech..., tapi, ko. mba Aisyah, masuk rumah sakit.", ucap mba Yati setelah berpikir beberapa saat. yang mana ucapan itu, langsung membuat mata Riko terbelalak, kaget.
"Aisyah, sakit apa mba?.", tanyanya, segera.
"Mba Aisyah, ndak sakit. yang sakit suaminya.",
"Berarti yang sakit Gus Aham, kan?!.", tanyanya, menuntut kejelasan.
"Ndak. kata ibu, mba Aisyah juga sakit.",
"Sakit apa?!.",
"Ndak tau. nanti, kalau ada kesempatan tak nguping lagi. hehehe......", mba Yati tertawa di akhir kalimatnya. membuat Riko menggelengkan kepalanya pelan, dan tersenyum di sana.
"Ya udahlah, mba. nanti, saya telepon lagi deh.", ucapnya.
"Ho'oh.",
"Assalamualaikum.",
"Waalaikum salam, ko.",
Dan panggilan itupun terputus. Riko nampak bingung. dalam pikirannya, banyak pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan.
Gus Aham sakit apa?, dan kenapa Aisyah meminta bantuannya?!. ngasih sendiri bisa kan?.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Riko beralih menelepon mas Raihan. setelah beberapa kali tersambung, akhirnya di angkat juga.
"Assalamualaikum, mas. ini Riko.",
"Waalaikum salam. kenapa, Rik?!.",
"Aisyah mana ya, mas?!. saya, nyoba telepon kok ndak di angkat?!.",
"Aisyah, lagi istirahat.", ucapnya beberapa saat setelah melirik adiknya, yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Kenapa emang?!.", sambung mas Raihan, dengan pertanyaan untuk Riko.
"Ndak apa sih, mas. cuma beberapa hari yang lalu, Aisyah telepon. katanya, mau minta tolong. cuman, belum sampai selesai ngomongnya. ponsel saya mati, mas.", jelasnya.
Mas Raihan yang sedang berdiri di samping ranjang Aisyah itu, menatap adiknya curiga. apa yang sedang di rencanakan adiknya ini?!, pikirnya.
"Mas?!.", Riko memanggil. mencoba memastikan bahwa panggilnya masih tersambung.
"Mas Raihan?!.", ia mengulangnya.
__ADS_1
"Iya. nanti kalau Aisyah bangun, mas suruh dia hubungi kamu.", jawab mas Raihan, setelah diam beberapa saat.
"Oh. yasudah, mas. kalau gitu, saya matikan ya panggilannya?!.",
"Iya.",
"Assalamualaikum.", ucap Riko.
"Waalaikum salam.", dan panggilan pun berakhir.
Mas Raihan menggenggam ponselnya erat. ia menatap adiknya yang masih belum juga sadarkan diri. berpikir, permainan apa yang sedang di mainkan adiknya?!.
Riko adalah teman kecilnya. dan mas Raihan tau betul, Riko akan melakukan apapun yang di pinta dan di mau Aisyah.
Bila ia meminta Riko untuk membantunya, maka memang ada hal yang Aisyah rahasiakan dari kakaknya.
Karena saat mas Raihan tidak mengabulkan permintaannya, Riko pasti akan memberikannya.
Ya, seperti saat mereka kecil. Aisyah tidak di izinkan makan permen oleh kakaknya, karena akan tidur malam. dan Aisyah kecil, paling malas menggosok gigi ketika akan tidur.
Riko yang melihat sahabat kecilnya sedih, diam-diam mengambil permen dan memberikannya pada Aisyah lewat jendela kamarnya.
Sementara di kantor polisi...
"Le, kamu nurut sedikit sama mas, to!.", ucap Gus Ma'adz sedikit meninggi. ada nada khawatir pada ucapannya.
"Kalau kamu di tahan, itu berarti kamu harus tinggal disini sementara waktu. sedang kamu ini, baru selesai operasi. badan juga belum sehat betul.", sambung Gus Ma'adz, yang sedikit jengkel bercampur khawatir karena adiknya minta segera di proses hukum.
Gus Aham tidak ingin menunda. semakin ia menunda, semakin lama proses hukum ini menjeratnya. ia kekeuh membuktikan dirinya tidak bersalah, karena memang ia tidak membunuh Kevin.
"Mas. kalau mengajukan penangguhan penahanan juga percuma. setelah penangguhan selesai, aku juga bakal di tahan.",
"Jadi sekalian saja. di selesaikan sekarang juga. biar semuanya tenang.", jawabnya.
Gus Aham tidak ingin berlama-lama dengan status tersangka yang membuatnya tidak nyaman. terlebih, penangguhan itu hanya bisa mengulur waktu. sedangkan ia ingin segera bertemu Aisyah. jadi, menyelesaikan semua masalah sebelum bertemu dengan kekasih hatinya adalah pilihan yang tepat, pikirnya.
"Ya. tapi, kesehatan mu ini lho, le?!.", Gus Ma'adz, masih berusaha membujuk adiknya untuk mempertimbangkan keputusannya.
"Mas, bawa saja dokter kesini setiap hari untuk cek kesehatan ku. insyaallah, aku ndak apa-apa.", jawabnya. ia berusaha menghapus kekhawatiran kakaknya.
"Ya Allah....!, piye to, Iki?!.", ( ya Allah...!, gimana, ini?!).", Gus Ma'adz nampak sedikit frustasi. bukan hanya Gus Aham yang jadi fokusnya, tapi juga Ummi.
Bagaimana, ia menjelaskan pada ibunya tentang masalah yang di alami adiknya kini?!. terlebih penyidik mengatakan bahwa Gus Aham adalah seorang tersangka.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1