
Gus Aham mengajak Aisyah pulang. mereka kembali menyusuri sawah, ladang serta tambak. setiap kali bertemu orang, dengan ramah Aisyah dan Gus Aham menyapanya.
Ketika tiba di ndalem, Gus Aham dan Aisyah segera ke kamar dan bergantian masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
Gus Aham bersiap untuk ke diniyah putra. sementara Aisyah, fokus lagi dengan kesibukannya mempersiapkan wisuda Khotmil Qur'an dan mengajar di diniyah.
"Bagaimana?!.", tanya Gus Aham, selesai berpakaian. entah sejak kapan?!. ia selalu meminta pendapat istrinya tentang penampilan.
Aisyah yang duduk di depan meja rias memberikan isyarat dengan jarinya. jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk lingkaran sementara tiga jari yang lain tetap berdiri. yang di artikan "Ok" oleh suaminya.
Gus Aham tersenyum dan mendekat. menunggu kecupan bersarang di pipinya seperti biasa, sebelum berangkat.
"Sudah.", ucap Aisyah, setelah mengecup pipi suaminya cukup lama. Gus Aham tersenyum. terlihat dari kaca, mereka nampak sangat bahagia.
"Yaudah. mas, berangkat dulu ya?!.", ucapnya. Aisyah segera meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangan itu. Gus Aham membalas dengan mengecup kening nya.
"Da..., assalamualaikum.", ia mulai melangkah menjauh dan keluar dari kamar.
...****************...
Hari berlalu dengan cepat. Aisyah pun berusaha memberikan yang terbaik untuk para wisudawati.
Mulai dari memilih bahan, mendatangkan penjahit untuk mengukur badan semua wisudawati, agar sesuai dengan ukuran masing-masing. mengurusi pembayaran dekor, tenda, makanan dan jajanan untuk para tamu undangan. menyiapkan souvenir dan piagam untuk para wisudawati.
Semua dilakukan Aisyah sebisanya, semampunya dan berharap mendapat hasil yang maksimal.
Hari menuju wisuda kurang sepuluh hari lagi. dan Aisyah masih sibuk dengan segala persiapan.
Hari ini, Aisyah harus pergi mengambil pesanan souvenir. karena, mobil yang mengantarkan souvenir mogok di jalan dan terkendala longsor.
"Mi, Aisyah jemput souvenir nya dulu.", pamitan pada mertuanya yang sedang menyeduh wedang madu untuk Abah.
"Ati-ati ya, nduk?!.", pesan Ummi, yang mengulurkan tangannya pada Aisyah.
Aisyah segera meraih dan menciumnya. berharap ridho dan restu dari mertuanya memberikan kelancaran pada tugasnya.
"Kamu, sudah pamit sama, Aham?.", tanya Ummi, setelah Aisyah menarik tangannya.
"Sampun, mi.",
"Yasudah. takut di cariin nanti.",
__ADS_1
"Ning. mobilnya sudah siap.", ucap kang Mu'idz, yang tiba-tiba muncul dan masuk ke ndalem.
"Iya, kang.", jawab Aisyah, di sertai anggukan.
Kang Mu'idz pergi keluar. Aisyah yang melihat Abah baru saja masuk ruang tamu, segera mencium tangan ayah mertuanya dan pergi.
Aisyah menuju dan segera naik ke mobil BMW milik suaminya. ntah, kenapa?!. hari ini, Gus Aham mengizinkan mobilnya di pakai kang Mu'idz.
Padahal sebelumnya, ia tidak pernah izinkan siapapun, kecuali Gus Ma'adz untuk memakainya.
Aisyah duduk di jok belakang. dan seperti biasa, mesin mobil segera menyala dan mobil berjalan perlahan di pelataran, sebelum akhirnya melewati gapura ndalem.
"Kita kemana, Ning?.", tanya si pengemudi. suaranya tidak asing di telinga Aisyah.
Karena penasaran, ia mendekati si supir dan membuka maskernya. wajah itu cukup membuat Aisyah terkejut penuh tawa.
"Njenengan?!.", ucapnya. ia heran, terkejut bercampur senang melihat suaminya mengemudi untuk mengantarnya.
Gus Aham dan Aisyah sama-sama tertawa renyah.
"Bukane, njenengan bilang?!. sibuk bantu, Gus Ma'adz di diniyah?.", tanyanya. Gus Aham tersenyum mendengar perkataan istrinya.
"Kamu itu terlalu polos, sayang. orang, di diniyah banyak yang bantu, mas. jadi, ndak butuh tenagaku. apalagi, aku ndak terlalu paham sama urusan diniyah.", jawabnya.
"Jadi, hari ini di anter supir pribadi?!.", tanya Aisyah senang. ia memeluk leher suaminya dari belakang. Gus Aham tersenyum sebagai jawabannya.
"Perhatikan tanganmu, sayang.", ucap Gus Aham. yang seketika membuat Aisyah tertawa dan melepas pelukannya. ia tidak bisa bayangkan, apa yang terjadi?!. kalau tidak segera melepaskan pelukannya.
Mobil berhenti, Aisyah segera turun dan pindah ke jok depan. ia duduk di samping suaminya. mobil pun mulai berjalan lagi.
"Jadi, kita mau kemana, Ning?.", tanyanya. mirip pertanyaan kang Mu'idz. membuat Aisyah tertawa, begitu juga dengan suaminya.
"Mm..., bos nya bapak. ndak ngasih tau, ya?!, kita mau kemana?. hm..., nggak profesional.", ucap Aisyah. ia berlagak seperti nyonya besar.
"Bos yang mana?.", tanya Gus Aham.
"Bos nya bapak lah!. yang bapak gantiin hari ini.", jawabnya. Gus Aham terdiam sejenak mendengar jawaban istrinya.
"Kamu, ya!.", umpat Gus Aham, kesal. ia menggelitik perut Aisyah. membuatnya merasakan geli dan tertawa.
"Sudah, mas!. sudah.....", pintanya. ketika ia sudah tidak mampu menahan rasa geli. membuat Gus Aham tertawa puas.
__ADS_1
Aisyah mengambil nafas besar, lalu membenarkan duduknya. ia mudah lelah akhir-akhir ini. pekerjaan nya menumpuk, meskipun telah selesai satu persatu.
"Kita, ke Ngantang, Malang, mas. haruse ngambil di blimbing. cuma di tengah perjalanan, mobil mereka mogok. di tambah lagi ada longsor. jadi, harus segera mindahin Qur'an nya ke mobil lain, takut rusak.", ucap Aisyah. memberi tau suaminya, kemana tujuannya.
"Siap!, Bu bos.", sahut Gus Aham. Aisyah tersenyum mendengarnya.
Gus Aham segera melajukan mobilnya. menyusuri hiruk pikuk dan ramainya jalan.
"Besok mas, harus ke Surabaya.", ucap Gus Aham.
"Lagi?!.", tanya Aisyah. ada nada kecewa dari suaranya.
"Iya. ada orang penting yang mau ke yayasan. Ali, bilang mas harus disana.",
" Mas, kan sudah janji. besok kita ke panti, hadir di acara santunan anak yatim.",
"Iya. mas, kan berangkatnya pagi. santunan anak panti, malam kan?!.", ucap Gus Aham, yang membuat Aisyah malas menanggapi. ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Gus Aham menepikan mobilnya dan mematikan mesin. ia kemudian meraih tangan istrinya.
"Ali, bilang. mas, harus datang. karena, kali ini Bupati yang hadir.", ia mencoba memberi pengertian Aisyah.
"Bukankah, kamu berjanji akan mendukung apapun. selama itu bermanfaat bagi orang banyak kan?!.", sambung Gus Aham.
"Tapi, kan. njenengan, sudah janji. besok hadir di panti?!.", sahut Aisyah. ntah lah, biasanya ia tidak masalah bila suaminya meminta izin untuk pergi, tapi kali ini, ia benar-benar tidak ingin suaminya pergi.
"Acara dengan bupati kan pagi, sayang. setelah selesai, mas langsung pulang.", ucap Gus Aham lembut.
"Besok pagi, sebelum berangkat. mas, anter kamu ke panti dulu.", lanjutnya.
Aisyah terdiam sejenak, ia menghela nafas dan akhirnya menyetujui ide sang suami.
"Aku tau. istriku, yang terbaik.", ucapnya. lalu mengecup kening Aisyah. ia memeluk pundak istrinya, tapi Aisyah hanya diam.
"Sayang?!.", Gus Aham. memanggil istrinya, yang hanya di respon lirikan oleh Aisyah.
"Oh sayangku, jangan begitu!. mas, jadi sedih.", rengek Gus Aham dengan gaya lebay yang membuat Aisyah merasa aneh dengan sikapnya.
"Sayang....!, mas, sedih.", ucapnya lagi. kali ini, ia menggosok kan kepalanya ke dada istrinya. yang mana tingkah manja suaminya kini, berhasil membuat Aisyah tersenyum.
"Bayi besar.", ucap Aisyah. dan sebutan itu, membuat Gus Aham tersenyum karena bisa melihat istrinya tersenyum lagi.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺