
Begitu sampai ndalem, Aisyah dan Gus Aham di beri kejutan dengan datangnya Gus Irfan dan istrinya, Ning Bilqis.
Gus Irfan adalah kakak kedua Gus Aham. Gus Ma'adz putra pertama, lalu ada Gus Irfan sebagai putra kedua, sedang Gus Aham sendiri menjadi putra ketiga, dan yang ke empat atau terakhir ada Gus Fahim, putra ragil kalau orang Jawa bilang atau putra paling kecil, putra bungsu.
Entah kenapa?!, melihat Gus Irfan raut wajah Gus Aham terlihat tidak senang. ia menggenggam erat tangan Aisyah, sebagai istri yang menyadari perubahan pada suaminya, Aisyah mencoba menenangkan. beberapa kali ia malah menggandeng lengan Gus Aham dan mengusapnya lembut untuk menenangkan.
"Ham, mas mu ngajak salaman dari tadi lho.", suara Ummi membuyarkan keterdiaman Gus Aham. ia meraih tangan Gus Irfan, tapi Gus Irfan malah memeluknya dengan perasaan haru.
"Adikku, wes gede. sebentar lagi jadi ayah.", ucapnya sambil melepas pelukannya.
"Kapan sampai, mas?. katanya mba Bilqis hamil tua, ndak bisa ikut.", tanyanya. emosinya sudah terkontrol, terdengar dari suaranya.
"Kata Ummi, kamu baru keluar trs mas dateng.", jawabnya. sambil menggeser duduknya agar Gus Aham bisa duduk di sampingnya. Aisyah juga memberi isyarat pada suaminya untuk duduk di dekat kakaknya, mengingat mereka lama tidak bertemu. sementara Aisyah duduk sendiri di kursi kecil, di samping tempat duduk suaminya.
"Sebenarnya, mas mau kesini sendiri. sambang Abah dan Ummi saja, trus pulang. tapi pas telfon, Ummi bilang mau ada acara tiga bulanan istrimu. ya udah, akhirnya mas bilang ke mba mu kalau, mas mau nginep disini agak lama karena ada acara. ech, malah mba mu yang denger kalau Aisyah hamil, juga geger ikut. mau ketemu istrimu katanya.", cerita Gus Irfan panjang lebar.
Temu kangen mereka terjadi di siang hari, banyak cerita yang di ceritakan Gus Irfan pada keluarga ndalem. hingga berakhir karena, Gus Aham mohon izin mengantarkan Aisyah ke kamar.
Gus Aham duduk di sofa, sementara Aisyah menyiapkan air mandi untuk suaminya. ia terlihat gusar, pikirannya kalut. Aisyah yang baru saja keluar kamar mandi dan melihat suaminya bertingkah seperti itu, segera menghampirinya.
"Kenapa?.", tanya Aisyah yang tanpa di sadari Gus Aham sudah duduk di sampingnya. wajahnya terlihat mengkhawatirkan suaminya.
Gus Aham yang awalnya menyandarkan kepalanya di sofa itu, segera memeluk tubuh istrinya. dengan manja ia mengalihkan sandaran kepalanya pada dada Aisyah, sehingga membuat Aisyah bersandar pada sofa. lama mereka diam, Aisyah menunggu suaminya untuk bercerita. sementara Gus Aham hanya diam dan memeluk Aisyah. bersandar di dadanya memberikan ketenangan pada Gus Aham, sehingga ia hanya diam dan tidak mengatakan apapun.
"Gus. airnya sudah siap dari tadi, lho.", ucap Aisyah berharap suaminya melepaskan pelukannya, karena itu membuat aisyah tidak leluasa bergerak.
"Mas, nggak mau mandi.", jawabnya tetap dengan posisi yang sama.
"Kan, mau sholat.", bujuknya.
"Mandiin, ya?!.", pintanya. sontak permintaan itu membuat Aisyah terkejut. ia menghela nafas dalam dengan permintaan suaminya akhir-akhir ini.
__ADS_1
Aisyah berusaha melepaskan pelukan suaminya, lalu merangkup wajah suaminya.
"Kenapa?.", tanya Aisyah. begitu Gus Aham menatapnya.
"Apanya?.",
"Kenapa, akhir-akhir ini njenengan aneh?.", tanyanya melepaskan tangan dari kedua pipi suaminya.
"Aneh?.", Gus Aham malah bertanya kembali.
"Njenengan, tiba-tiba marah. emosi njenengan akhir-akhir tidak terkontrol, terkadang itu membuatku takut.", jelasnya. Gus Aham terdiam mendengar itu. ia ingat dengan jelas, saat-saat ia marah tanpa Aisyah tau alasannya sehingga membuat istri tercintanya menangis.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Gus Aham menceritakan apa yang terjadi padanya beberapa hari ini, awalnya ia takut Aisyah akan marah atau kecewa padanya, karena tidak bertanya langsung kepadanya. tapi Gus Aham tidak ingin berbohong lagi pada istrinya, yang mana kebohongan itu membuat istrinya mengkhawatirkannya dan memicu pertengkaran diantara mereka.
Aisyah menghela nafas mendengar cerita suaminya. ia meraih tangan suaminya, menatapnya dan mulai meluruskan cerita yang di dengar suaminya.
"Dulu, memang saya sangat mengagumi Gus Irfan. beliau kalem, sangat hormat dan sayang kepada Abah dan Ummi. juga terlebih karena predikat Gus Irfan di pondoknya.", ucapnya pelan.
"Jadi, pada intinya. meskipun saya dulu mengagumi mase njenengan, tapi sekarang njenengan yang berhak atas saya. masalah dulu, biar saja berlalu. toh, pada kenyataannya saya hanya terikat dengan njenengan.", ucapnya menenangkan.
"Tinggal njenengan, mau percaya kalau saya sekarang hanya mengagumi dan mencintai njenengan atau tidak?!.", ucapnya yang membuat Gus Aham langsung menarik Aisyah ke dalam pelukannya.
"Mas, percaya.", ucapnya yakin.
"Mas, janji nggak akan dengerin omongan orang-orang lagi. mas cuma akan percaya kamu.", janjinya dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Sekarang mandi, ya?!.", bujuk Aisyah. Gus Aham terdiam, terlihat berpikir sejenak.
"Ok. aku mandi sendiri, tapi nanti di bajuin. ya?!.", teriaknya sambil berlalu menuju kamar mandi. membuat Aisyah mengerutkan keningnya mendengar permintaan suaminya.
__ADS_1
Malam menyapa, Gus Aham tidak ingin berlama-lama berkumpul dengan anggota keluarga lain di ruang tamu. maka dari itu ia selalu menggunakan Aisyah sebagai alasan. tak bisa di pungkiri, perasannya cemburu luar biasa melihat Aisyah tersenyum bersama keluarga lainnya karena ada Gus Irfan disana. ia takut perasaan istrinya pada Gus Irfan tumbuh lagi.
"Abah, Ummi, dan semuanya. Aham sama Aisyah mau istirahat dulu, dikamar.", ucapnya yang di angguki oleh semua.
"Mba Bilqis, saya ke kamar dulu, geh?. mba Bilqis juga harus segera istirahat, kan hamil tua. biasanya perut sering kram dan gak betah duduk lama.", ucap Aisyah mengingatkan kakak iparnya.
"Iya, dek. makasih udah di perhatiin.", jawab Ning Bilqis tersenyum pada Aisyah.
Gus Aham berjalan beriringan dengan Aisyah meninggalkan anggota keluarga lain yang masih bercengkrama di ruang tengah.
Gus Aham membuka pintu begitu sampai di depan kamarnya. ia masuk lebih dahulu, baru di susul oleh Aisyah.
Aisyah menutup pintu kamar. ia masuk, melepaskan kerudungnya dan meletakkannya di gantungan baju. melihat suaminya berdiri di balkon kamar, Aisyah menghampirinya.
"Kenapa?.", tanya Aisyah. memeluk suaminya dr belakang. Gus Aham hanya melirik istrinya, wajahnya terlihat sedang sebal.
"Baiklah, kalau tidak ingin cerita.", ucap Aisyah melepaskan pelukannya dan hendak meninggalkan suaminya, tapi terhenti karena Gus Aham menariknya ke dalam pelukannya.
"Aku marah.", ucapnya.
"Aku mau di bujuk, supaya nggak marah.",, sambungnya lagi. yang mana permintaan itu malah membuat Aisyah tertawa. ia berontak sehingga lepas dari pelukan suaminya. Gus Aham mengejarnya, Aisyah berlari ke dalam kamar setelah sedari tadi berlari di balkon menghindari suaminya.
Gus Aham berhasil menangkap Aisyah ketika ia berlari mengitari ranjang. mereka pun menjatuhkan diri di ranjang, masih ada tawa yang menghiasi bibir mereka. wajah mereka terlihat begitu bahagia.
Gus Aham menatap Aisyah yang masih tertawa, ia menyibakkan rambut ikal istrinya. perlahan tawa Aisyah terhenti, ia menatap wajah suaminya.
Gus Aham membelai lembut wajah Aisyah, ia mendekatkan wajahnya pada Aisyah lalu perlahan mengecup bibirnya.
"Malam ini, kamu harus dihukum karena buat mas marah.", ucap Gus Aham melepaskan ciumannya. Aisyah mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti apa yang di lakukan nya sehingga suaminya marah.
"Dua kali, karena tidak menyadari kesalahan.", sambungnya. membuat aisyah menjerit tertahan karena Gus Aham dengan sigap meraih tubuhnya dan mengecup bibirnya.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺