
Mobil mulai menyusuri tol menuju Surabaya. Aisyah hanya diam, pandangan nya lurus ke depan meski hanya warna hitam yang terlihat di matanya.
Sesekali, Gus Aham menoleh atau membelai jilbab yang menutupi rambut kepala Aisyah dengan sempurna. ia tetap memasang wajah sumringah meski kekasih hatinya tidak dapat melihatnya.
"Sebentar lagi, sampai. kita ke rumah sakit dulu, ya?!. baru nanti ke hotel.", ucapnya. tapi lagi-lagi, Aisyah mengacuhkannya. sayangnya, itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Gus Aham. dan ia hanya tersenyum menghadapi sikap istrinya.
Tidak peduli bagaimanapun sikapnya pada Gus Aham, asal mereka bisa bersama, itu sudah cukup bagi Gus Aham.
Ia sudah bertekad. tidak akan menyerah hanya karena Aisyah sering mengacuhkannya. sama seperti Aisyah dulu yang tidak pernah menyerah untuk meraih hatinya, hingga membuatnya luluh dan takluk.
Kini, giliran ia yang akan berusaha meraih hati istrinya. agar rasa di antara mereka tumbuh lagi, agar Aisyah menjadi miliknya seutuhnya lagi.
Mobil BMW milik Gus Aham terparkir sempurna di depan sebuah rumah sakit. Gus Aham, segera membukakan pintu setelah ia turun dari mobil.
"Pelan-pelan.", ucapnya pada Aisyah. ketika Gus Aham memegang tangan istrinya, untuk membantu turun.
Mereka mulai berjalan memasuki rumah sakit saat Gus Aham sudah menutup pintu mobil dan menuntun Aisyah menaiki tangga kecil.
"Selamat datang.", ucap seseorang. menyapa mereka, mengingatkan Aisyah pada seseorang. dokter Mike.
"Hai, Aisyah. selamat datang.", suara yang tidak asing ini, milik Sintya.
Aisyah beringsut mundur. ia ingat dengan benar, bagaimana mereka membawa Aisyah ke ruang pemeriksaan, yang ternyata malah mengambil sampel bayinya untuk tes DNA.
Raut wajah Aisyah berubah. ia terlihat terkejut, takut dan panik bersamaan.
"Kenapa, Aisyah?.", tanya Sintya. yang melihat Aisyah mundur dan tampak terlihat ketakutan.
"Aisyah?.", Mike ikut memanggil namanya. membuatnya lebih takut karena mengingat pemeriksaan kemarin.
"Sayang. kenapa?.", tanya Gus Aham yang melihat Aisyah ketakutan. Aisyah segera putar balik dan berjalan cepat hingga kakinya tersandung kursi tunggu.
"Ach..., teriaknya. ia terjatuh di kursi dengan posisi tersungkur.
__ADS_1
"Sayang?!.", Gus Aham dengan suara paniknya berlari menolong Aisyah. tapi Aisyah mendorongnya, membuat Gus Aham terjatuh. Aisyah bangun dan berjalan ke sembarang arah. Gus Aham segera mengejarnya.
"Sayang?!.", panggilnya. ia berusaha menarik tangan istrinya agar berhenti dan tidak terus berjalan ke sembarang arah. ia takut Aisyah jatuh dan terbentur lagi yang menyebabkan luka.
"Berhenti, sayang!. kamu bisa jatuh dan terluka.", ucapnya. Aisyah mengibaskan tangan suaminya.
"Mau apalagi dengan dua orang itu?. kalian semua pembohong!.", teriaknya. Gus Aham terkejut melihat Aisyah berteriak di depannya. Aisyah berjalan lagi.
"Sayang.", Gus Aham menyusulnya dan menghadangnya agar Aisyah tidak berjalan lebih jauh.
"Mereka hanya menyambut kita.", ucapnya mencoba menjelaskan pada istrinya. karena memang, mereka hanya menyambut dan mereka tidak ahli di bidang ini. Mike dan Sintya hanya akan mengantarkan mereka bertemu dokter saraf mata. sesuai janji yang Sintya lakukan dengan dokter saraf, agar Aisyah dan Gus Aham tidak antri atau menunggu lama.
"Sekali pembohong, tetap pembohong!. kalian orang-orang yang tidak punya hati.", ucapnya.
"Kalian bersekongkol, membodohi saya.", ucapnya kali ini dengan terisak.
"Dia bilang pemeriksaan itu untuk mencegah penyakit berbahaya sejak dini. tapi nyatanya, itu untuk membuktikan siapa ayah dari bayiku?!. kenapa kalian Setega itu pada anakku?. air matanya mulai membanjiri kedua pipinya.
"Selamanya, hati njenengan akan sekeras batu. tidak akan ada cinta dan belas kasih di hati, njenengan. untuk saya ataupun orang lain.", Aisyah berjongkok. kedua tangannya meraup wajahnya.
Gus Aham yang melihat istrinya menangis dan terduduk di lantai segera duduk di samping istrinya. ia akhirnya tau, semua kekecewaan dan luka istrinya. meskipun ia tau tidak semua keluhan istrinya di keluarkan, tapi ia berharap hati istrinya sedikit lega.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Aisyah terdiam di kamar hotel. ia benar-benar terluka bertemu dengan Mike ataupun Sintya. ingatan tentang pengambilan sampel DNA itu terlintas jelas. membuatnya menangis setiap mengingatnya.
Andai saja, ia tidak terlalu percaya pada suaminya. tidak akan terjadi seperti ini. mungkin bayi mereka masih berada bersama mereka.
Ia seharusnya tidak percaya, bahwa Gus Aham mencintainya. sekalipun sikapnya lebih baik dan berubah. sekalipun hadir janin di rahimnya, karena bayi-bayi itu mungkin adalah janin yang tumbuh dari sebuah hubungan yang salah malam itu.
"Sayang, makan dulu.", ucap Gus Aham yang mendekati Aisyah.
"Makan saja sendiri.", ucapnya ketus.
__ADS_1
"Sayang, nanti kamu bisa sakit.", Gus Aham berusaha membujuk istrinya. ia mendekat pada Aisyah yang sedari tadi hanya berdiri di samping jendela kamar. ia meraih tubuh istrinya.
"Peduli apa, njenengan?!. njenengan, hanya melakukan apapun sesuai keinginan dan kemauan, njenengan. njenengan, tidak pernah memikirkan orang lain. njenengan, egois. njenengan, selalu mengambil keputusan berdasarkan inisiatif, njenengan sendiri. njenengan, benar-benar hanya bisa menyusahkan orang lain. saya, benci njenengan......,
Aisyah terisak setelah mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya. ia mendorong dada Gus Aham, tapi Gus Aham berusaha memeluknya lagi.
"Jika saja tidak ada tes DNA, mungkin bayi-bayi ku masih ada. kenapa njenengan, begitu tega?!. seandainya njenengan, tidak mau menerima mereka. itu bukanlah masalah besar buat, saya. karena, anakku tidak membutuhkan seorang ayah yang meragukannya. njenengan, anggap apa hubungan kita?!. njenengan, anggap apa?...., ia menangis dan memukul dada bidang milik Gus Aham. suaranya terdengar parau, Gus Aham terus berusaha memeluknya walau Aisyah berusaha keras untuk menolak.
Sampai akhirnya, tubuh Aisyah lemas. ia hampir jatuh setelah menangis dan meneriaki suaminya. Gus Aham yang masih memeluknya perlahan membawanya duduk di lantai kamar hotel.
Suara tangisan dan isakan masih terdengar keluar dari bibir mungil istrinya. Gus Aham sendiri tidak kuat menahan air matanya lagi. tapi untuk menenangkan, ia hanya bisa memeluk istrinya.
"Mas, janji. semua luka yang pernah mas berikan, akan segera mas, ganti dengan kebahagiaan.", ucapnya dalam hati.
Beberapa saat kemudian sudah tak terdengar suara rengekan dari bibir istrinya. yang ada hanya suara sesenggukan. Aisyah tertidur di pelukan Gus Aham.
Ia mengangkat tubuh istrinya ke ranjang. ia paham, istrinya pasti lelah dengan semua yang ia hadapi selama ini. apa benar kata Mike?!, jika menginginkan dia bahagia harus melepaskannya?.
Gus Aham terdiam sejenak setelah menyelimuti tubuh Aisyah. ia berlutut di samping ranjang.
"Katakan bagaimana mengobati lukamu?.",
"Apakah berpisah membuatmu bahagia?.",
"Aku, hanya minta satu kesempatan. bisakah kamu melihat hasilnya dulu, baru mempertimbangkan ku?.",
"Aku, tidak ingin berpisah, sayang. tidak hari ini, esok ataupun nanti.", ucapnya. ia menghela nafas dalam. membiarkan rongga-rongga di dadanya bernafas lega. walau beberapa kali bulu matanya basah karena air mata sehingga hidung mancungnya terlihat memerah.
"Beri, mas. waktu sedikit lagi. mas, janji akan memberikan yang terbaik.", ucapnya. kemudian mengecup kening istrinya untuk waktu yang lama.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1