Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 35


__ADS_3

Aisyah masuk dalam kamarnya, tujuan utama bukanlah mengobati lukanya, tapi ia ingin bertemu suaminya.


Aisyah berjalan menaiki tangga. ia tau, suaminya ada di ruang kerjanya. begitu sampai di depan pintu ruangan yang belum pernah ia masuki itu, Aisyah mendengar suara barang-barang berjatuhan dan pecah.


Ya, Gus Aham tampaknya masih marah. ia mengobrak-abrik semua peralatan kerja, buku dan yang lainnya di meja. Aisyah mencoba mengerti, datang saat suaminya sedang marah bukanlah hal tepat. ia pun segera turun dan mengobati lukanya, lalu keluar kamar menemui para tamu yang hadir.


Untungnya, luka di kening Aisyah tertutup oleh kerudung. jadi, bila tidak di lihat dengan seksama tidak akan ada yang menyadarinya.


Ruang tengah, menjadi ruang berkumpul para keluarga besar dari Abah dan Ummi, juga dari keluarga Aisyah. sementara, aula yang merupakan ruang tamu dan pelataran ndalem menjadi tempat acara inti pada malam ini.


Aisyah menyalami semua yang sudah hadir di ruang tengah. setelah selesai, ia duduk di samping ibunya yang baru datang karena sedari pagi ada kunjungan dari donatur.


"Suamimu, mana?.", tanya ibu yang sedari tadi tidak melihat Gus Aham.


Pertanyaan itu membuat Ummi sedikit terkejut.


"Gus Aham, sebentar lagi datang. Bu.", ucapnya lembut dengan senyum yang menghiasi bibirnya. membuat Ummi berreaksi dan menatap Aisyah, Ummi tidak mengerti dengan pemikiran Aisyah.


"Mba. lama ndak ketemu, kata Ummi. mba sekarang ndak cuma jadi dosen, tapi juga ngisi seminar.", sapanya melihat istri kakaknya mendampingi ibunya hadir di acara tiga bulanan nya.


"Iya, tapi sekarang disuruh stop dulu sama, mas mu.", jawabnya.


"Kenapa, mba?.",


"Mba mu, kan hamil lagi. saking sibuknya, sampek ndka tau, kalau hamil adiknya Abel.", sahut ibu.


"Iya kah?!, Alhamdulillah..", seru Aisyah ikut senang dengan berita kakak iparnya yang hamil lagi.


"Berapa bulan, mba?.", sambungnya.


"Dua bulanan, dek.", jawab kakaknya.


"Alhamdulillah.", Aisyah sangat senang dengan berita itu, karena mungkin. ia bisa sharing dengan kakak iparnya yang sama-sama sedang hamil muda.


Acara syukuran untuk tiga bulanan Aisyah selesai, tapi keluarga dan kerabat masih duduk bersama saling melempar tanya tentang kabar, bercanda dengan mengingat masa lalu dan masih banyak yang mereka lakukan untuk menghidupkan suasana.


Pukul sepuluh lewat, akhirnya semua tamu pulang. mba-mba ndalem dan kang-kang membereskan sisa-sisa piring dan gelas untuk di bawa ke dapur dan di cuci.


Ada juga kang-kang yang saling tolong menolong dan membantu untuk melipat tikar dan karpet. setelahnya, baru mereka menyapu ndalem dan halaman.

__ADS_1


Aisyah memasuki kamar, Gus Aham masih di ruang kerjanya. ia pun berganti baju terlebih dahulu sebelum menemui suaminya.


Aisyah mengambil kunci cadangan yang menggantung di tempat biasa. ia memberanikan diri membuka pintu tempat suaminya bekerja.


Begitu terbuka, Aisyah terkejut. ruangan itu sangat berantakan. ada set komputer yang sudah rusak karena kemarahan suaminya. buku-buku juga tak kalah berserakan, ia bahkan juga melihat beberapa pecahan kaca dari cermin yang ada di ruangan itu, juga serpihan kaca dari gelas kopi yang jatuh.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aisyah melihat suaminya tertidur di sofa. Gus Aham terlihat sangat kacau, bahkan di ujung mata indah suaminya, ia melihat bekas air mata.


Aisyah mendekat. ia duduk di bawah, lalu meraih kaki suamiku yang terluka. mungkin, ia tidak sengaja menginjak pecahan kaca.


Aisyah mengambil kapas, tisu, alcohol dan plester. ia kembali, lalu membersihkan luka itu. Gus Aham terbangun merasakan perih di kakinya.


Ia terdiam melihat istrinya mengobati lukanya. di tatapnya istrinya lekat-lekat, ada rasa bersalah di sorot matanya.


"Lain kali, njenengan harus hati-hati.", ucap Aisyah sambil mengoleskan kapas yang sudah di basahi Alcohol ke luka suaminya.


"Akan sulit bagi, saya. untuk menjelaskan semuanya pada Ummi. kalau njenengan terluka.", sambungnya. suaranya tercekat di tenggorokan, ia sedih melihat keadaan suaminya. perlahan air mata pun mengalir membasahi pipinya.


Gus Aham mendekat. ia ikut duduk di bawah, lalu merengkuh tubuh Aisyah.


"Berjanjilah, untuk tidak meninggalkan ku.", sambungnya.


"Berjanjilah, kau akan selalu menemaniku.", Gus Aham terisak.


Aisyah melepaskan pelukan suaminya. ia menatap Gus Aham. ada sorot mata kekhawatiran tergambar jelas disana.


"Berjanjilah, saat aku jatuh. kau akan menarikku untuk berdiri lagi.", ucap Gus Aham yang di angguki Aisyah. Gus Aham terisak hingga menundukkan badannya.


Aisyah menarik Gus Aham ke pelukannya, kepalanya bersandar di dada Aisyah. membuat Aisyah mempererat pelukannya dan beberapa kali mengecup puncak kepala suaminya.


Aisyah memakaikan baju pada Gus Aham, selesai memandikannya. ia juga menyisir rambut suaminya dan mengikatnya. aisyah tersenyum melihat suaminya sudah bersih dan rapi.


"Sebentar nggeh, Gus.", Aisyah meletakkan sisir di meja samping ranjang, lalu meninggalkan suaminya.


Aisyah tau, sedari sore Gus Aham belum makan. jadilah ia pergi ke dapur dan mengambilkan makanan untuk suaminya.


Aisyah mengambil nasi, lauk dan sayur serta buah, ia juga tak lupa membuatkan suaminya coklat panas. coklat panas adalah minuman favorit Gus Aham sebelum tidur malam.

__ADS_1


Begitu selesai, Aisyah segera meletakkan semua dalam satu nampan dan membawa semua ke kamar.


Aisyah meletakkan nampan berisi makanan itu di meja, lalu berjalan ke arah pintu untuk menutup pintu kamar.


"Makan dulu, Gus.", bujuk Aisyah begitu sampai di depan suaminya.


Gus Aham hanya diam. matanya baru saja selesai membaca sebuah surat yang di tunjukkan untuknya.


"Jelaskan ini!.", perintahnya. lagi-lagi tatapannya begitu tajam. Aisyah yang tidak mengerti apa yang di maksud suaminya hanya mengerutkan kedua alisnya.


"Jangan bersikap bodoh. jelaskan ini.", ucapnya lebih keras, dan melempar kertas itu pada Aisyah.


Aisyah mengambil kertas itu, hasil pemeriksaan tes DNA yang menunjukkan hasil negatif antara Gus Aham dan bayi yang di kandung Aisyah.


"Siapa ayah dari bayi itu?.", tanya Gus Aham. ia tidak percaya akan mendengar pertanyaan semacam ini dari bibir suaminya. Aisyah menatap suaminya, tidak ada rasa bersalah sedikitpun terlihat dari wajah dan sorot matanya.


"Siapa ayah dari bayi ini?!, seharusnya njenengan lebih tau.", jawabnya tegas sementara bulir-bulir air mata mulai terjun bebas dari kelopak matanya.


Gus Aham tersenyum kecut. ia memandang rendah diri Aisyah.


"Wanita mur*han!.", oloknya pada Aisyah.


"Jika mengagumi mas Irfan, kenapa tidak minta dinikahkan dengan dia?!, jika menyukai kang Mu'idz, kenapa tidak minta Ummi menjodohkan dengan dia?!, kenapa memilih ta'aruf denganku?.",


Emosinya tak terkontrol, Gus Aham berjalan ke meja dengan satu gerakan tangannya membuat semua makanan di nampan itu berserakan ke karpet dan lantai.


"Merasa cantik?!. ingin menaklukkan seorang Aham yang terkenal dingin?!, ingin mengendalikan Aham yang terkenal tidak punya aturan?!, atau..., kamu punya niatan yang lain?. SELAMAT!!!!, kamu berhasil melakukannya.", ucapnya mengulurkan tangan pada Aisyah yang terduduk di lantai.


"Kamu wanita hebat. berhasil membuat seorang Aham bisa menjadi selemah dan penurut di depanmu.", sambungnya.


Gus Aham mengambil jaketnya dan mengganti celananya. ia berjalan menuju pintu.


"Ingat!, begitu aku pulang aku tidak ingin melihatmu, ataupun memiliki hubungan denganmu.", ucapnya.


"Brakkk...., suara pintu kamar tertutup cukup keras. sementara Aisyah masih terkejut dengan perkataan suaminya.


Bukankah, itu berarti dia di talak?!.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2