Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 12


__ADS_3

 


Mungkin inilah yang dikatakan dengan "malam pertama yang tertunda". setelah tiga bulan lebih, inilah pertama kalinya bagi mereka bersama-sama menikmati "surga dunia", melepaskan hasrat yang sudah seharusnya mereka salurkan sedari dulu setelah sah menjadi suami-istri, mengekspresikan rasa cinta yang bergelora dalam hati. mendekap erat dalam harmoni cinta yang sejati.


 


Ya, ciuman pertama mereka pada akhirnya membawa mereka pada hal yang lebih intim. saling menginginkan dan menuntut untuk memberikan dan mengharapkan lebih.


Peluh yang bercucuran dari tubuh mereka mengundang rasa nikmat yang menggila, membuat Gus Aham menginginkannya lagi, dan lagi.


Ini kali ketiga bersama Aisyah Gus Aham melakukannya, seolah membayar dan menyalurkan semua hasrat yang sudah terpendam selama tiga bulan itu. hingga mereka mengulang dan terus mengulangnya, dan baru berhenti saat melihat istrinya benar-benar kelelahan.


Aisyah terbangun karena merasa haus. perlahan Aisyah menyibakkan selimutnya, ada rasa nyeri di sekitar paha, dan saat dia bergeser terlihat darah di sekitar tempatnya tidur tadi. Aisyah panik, dia tau itu darah perawannya, tapi itu terlalu terlihat di sprei berwarna putih itu.


Aisyah menarik sprei itu perlahan, hendak menggulungnya pelan agar Gus Aham tidak menyadarinya dan terbangun. tapi kenyataannya meskipun sudah sangat pelan, tetap saja gerakannya membangunkan suaminya.


"Kenapa?.", tanya suaminya. Aisyah diam sambil berusaha menutupi noda darah itu, tapi rupanya Gus Aham sudah lebih dulu melihatnya ketika mereka melakukan hubungan itu tadi.


"Maaf.", ucapnya lalu memalingkan muka. Aisyah yang mendengarnya terdiam. hatinya merasa sakit, pilu.


"Setelah semua yang telah terjadi. kenapa mengucapkan maaf?!, apa yang salah?, bukankah ini normal untuk suami-istri melakukan itu?.", pikirnya.


Diam-diam dia menitikkan air mata, lalu berjalan tertatih ke kamar mandi. meninggalkan Gus Aham yang kembali berbaring memunggunginya.


Aisyah menyalakan shower, guyuran shower dan aliran air matanya mengalir menjadi satu. Aisyah menatap tubuhnya di kaca, terlihat jelas tanda merah bekas kecupan suaminya semalam, tapi itu malah membuatnya terisak. teringat kata maaf yang terlontar dari bibir suaminya pagi ini.


 


Pelayan datang membawa sarapan dan meletakkannya di meja yang berada di balkon kamar. Gus Aham sengaja memesan sarapan dan memintanya di antar ke kamar karena melihat keadaan Aisyah yang sulit berjalan. selesai menyiapkan makanan di meja, para pelayan itu segera undur diri dan pergi.


 


Aisyah keluar dari kamar mandi, rambut ikalnya yang panjang di gerai karena masih basah.


"Sarapan dulu.", ucap Gus Aham yang sudah duduk di kursi dengan beberapa hidangan di meja depannya. Aisyah mengangguk, ia berjalan perlahan. ada rasa nyeri di pangkal pahanya dan sakit di kakinya bekas luka kemarin. melihat istrinya berjalan dengan pelan, Gus Aham menghampiri lalu menggendongnya dan kemudian mendudukkannya di kursi.


"Lain kali, jangan seperti itu Gus. saya bisa sendiri.", ucapnya. Gus Aham terdiam sejenak, lalu mengangguk.

__ADS_1


"Mungkin Aisyah marah, atau tidak suka dengan perlakuan nya semalam?!, bagaimanapun semalam adalah hal yang salah.", pikirnya. Aisyah segera mengambilkan nasi dan memberikan pada suaminya, Gus Aham menerimanya dan segera mengambil sayur serta lauk yang sudah tersaji di meja.


"Setelah ini, kita ke kantor polisi. sebagai korban, kamu harus memberikan keterangan dan kesaksian.", ucap Gus Aham ketika makanannya telah habis. Aisyah terdiam sejenak, gambaran kejadian itu terlintas lagi. membuatnya menghela nafas berat dan berusaha untuk menghilangkan rasa takutnya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


 


Aisyah keluar dari ruang penyidik setelah empat jam lamanya. banyak sekali pertanyaan dan detil kejadian yang harus di jelaskan oleh Aisyah. Gus Aham segera menghampiri Aisyah saat istrinya keluar ruangan.


 


"Sudah?.", tanyanya. yang hanya di angguki Aisyah.


Melihat istrinya sedikit kelelahan dan ada raut wajah sedih, Gus Aham segera mengajak pergi dari kantor polisi.


Mobil berjalan, sepanjang jalan Aisyah hanya diam. Gus Aham yang tengah menyetir pun sesekali melirik istrinya.


"Mau mampir makan siang?!, atau jalan-jalan?.", Gus Aham bertanya untuk memecah kesunyian. Aisyah hanya menggeleng, ia hanya ingin pulang ke hotel dan istirahat. duduk selama empat jam dan menjawab semua pertanyaan penyidik itu melelahkan.


"Balik ke hotel?!.", tanyanya lagi yang hanya di jawab anggukan oleh Aisyah. Hotel menjadi tempat ternyamannya saat ini. setelah sampai kamar hotel, Aisyah segera menuju kamar mandi, wudhu lalu melaksanakan sholat dhuhur berjamaah dengan Gus Aham.


Ponsel Gus Aham berdering ketika mereka selesai sholat dan berdoa. Aisyah segera mencium tangan suaminya sebelum Gus Aham mengangkat telfon.


"Oh,ok. sebentar lagi saya kesana.", ucapnya ketika telfon itu tengah tersambung.


"Aku, mau ketemu sama pengacara di cafe hotel. kamu mau ikut?.", tanya Gus Aham pada Aisyah setelah mematikan sambungan teleponnya. tapi Aisyah hanya menggeleng.


"Ya udah, aku tinggal nggak apa-apa kan?.", tanyanya lagi dan Aisyah mengangguk. Gus Aham mengelus wajah Aisyah dan seolah ingin mengatakan


"Karena aku, bersamamu. maka semua akan baik-baik saja".


Gus Aham sampai di cafe hotel tempatnya menginap. ia segera mencari tempat duduk yang sedikit jauh dari keramaian, agar pembicaraan mereka nanti lebih nyaman.


"Mau pesan apa tuan?.", seorang pramusaji menghampiri dan bertanya padanya.


"Ambilkan dulu satu minuman dingin. pesanan yang lain, menunggu teman saya datang.", ucapnya

__ADS_1


"Baik. permisi.", ucap pramusaji itu mengiyakan dan undur diri mengambilkan pesanan Gus Aham dan mengantarkan ke meja Gus Aham lagi, lalu pergi melayani pengunjung cafe lainnya.


Gus Aham mengambil ponselnya, membuka kontak dan mencari nomer telfon seorang psikolog kenalannya.


"Hallo.", ucap suara di seberang setelah Gus Aham menemukan nomer itu dan menghubunginya.


"Hallo. apa kabar, bro?.", sahut Gus Aham


"Baik. kenapa?., tumben telfon. ngilang kemana aja lo?, setelah nikah. gak pernah hubungi gue.", Gus Aham tertawa mendengar celotehan temannya di seberang telfon.


"Indah banget, kayaknya. hidup Lo setelah nikah.", ucap suara itu lagi.


"Yang jelas pasti beda.", jawab Gus Aham di sertai senyuman. teringat kejadian malam pertamanya semalam, melihat darah perawan Aisyah Gus Aham merasa senang dan bangga.


Ntah kenapa?!, sekarang prioritas utamanya adalah istrinya. bagaimana cara membuatnya nyaman dan merasa aman, hanya itu yang dipikirkannya.


"Trus, kenapa tumben inget gue?!, kalau udah hepi sama do'i?.", tanyanya, membuyarkan ingatan Guse.


"Istri, gue lebih banyak diem setelah kejadian percobaan pemerk*saan yang di alami kemarin. nah, gue mau bawa dia ketemu sama lo. takut aja kalau lama-lama kejadian itu jadi beban dan buat dia down.",jelasnya.


"Kapan itu kejadiannya, bro?., kok gue gak denger?!., secara elu kan pengusaha muda sukses, dikenal banyak orang. berita tentang lo, gaak mungkin gak diliput.", ucapnya.


"Gue yang minta ke pihak hotel untuk menutup berita ini, jangan sampai keluar. gue takut ngaruh ke psikologis istri gue.", ucapnya.


"Gimana?!, lho ada waktu kapan?, kalau bisa di rumah lo, atau di hotel tempat gue nginep ajalah. yang penting, jangan di tempat praktek lo. takutnya istri gue gak nyaman.", sambung Gus Aham.


"Ok deh. nanti gue atur jadwalnya, kalau udah siap ntar gue hubungi lo.",jawabnya.


"Ok, thank you ya!!. sambung nanti lagi.", ucap Gus Aham


"Ok.", ucap suara di seberang, dan panggilan pun terputus.


Gus Aham masih menunggu pengacara kepercayaannya datang. cuaca yang panas membuatnya membuka botol minuman dingin itu dan meneguknya.


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_1


__ADS_2