
Abel masih mengerucutkan bibirnya saat acara doa bersama yang dipimpin mas Raihan. ia kesal, karena semua anak mendapatkan mainan, sedang ia tidak.
Gus Aham yang baru saja masuk segera bergabung dan duduk di belakang Abel. ia meletakkan satu tas besar berwarna pink itu di depan keponakannya.
"Yess!.", serunya hingga membuat mamanya menoleh dengan wajah marah, karena tindakannya yang di anggap tidak sopan.
Ia tersenyum dan segera menengadahkan tangannya lagi, mengaminkan doa Papa nya.
Bagaimanapun, Gus Aham telah menyiapkan hadiah sendiri untuk Abel dan dua keponakannya. jadi, mainan untuk mereka sudah disisihkan.
"Isinya apa, pak lek?!.", tanyanya berbisik. ia menyandarkan tubuh kecilnya pada Gus Aham yang duduk di belakangnya.
"Buka saja, sendiri.", jawab Gus Aham, yang juga berbisik.
"Bagus nggak, pak lek?.", bisiknya lagi.
"Nanti lihat sendiri.", jawab Gus Aham tetap dengan suara lirih.
"Nanti, kalau nggak bagus. aku, minta dibeliin lagi.", bisik Abel. membuat Gus Aham hanya menjawabnya mengangguk, karena Aisyah meliriknya. Gus Aham tersenyum pada istrinya, ia tau Aisyah akan marah karena seharusnya mereka sedang berdoa bersama.
"Aamiin...", ucap mereka serentak. lalu mengusap wajah dengan kedua tangan mereka, sebagai akhir dari doa yang dipanjatkan oleh mas Raihan.
"Ayo, semua. makan yang banyak, ya?!. ambil apapun yang di mau.", ucap ibu mempersilahkan semua anak-anak panti untuk menikmati nasi tumpeng dan semua hidangan prasmanan lain.
Gus Aham mendekati Aisyah yang juga ikut makan dalam satu nampan bersama anak-anak panti. ia terlihat berebut demi sesuap nasi ke mulutnya.
"Ayo ikut, Gus. maem berebutan bareng-bareng gini seru.", ajak Aisyah, pada suaminya.
Gus Aham tidak terbiasa dengan hal itu, tapi ia tidak boleh mengecewakan istrinya. jadilah, ia ikut duduk di antara anak panti yang lain. ia menikmati kebersamaan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Selesai acara di panti, Gus Aham dan Aisyah segera pamit pulang ke ndalem. bagaimanapun, keluarga ndalem juga ingin segera bertemu Aisyah setelah hampir tiga minggu, Aisyah meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Pamit dulu nggeh, Bu.", ucapnya. mencium tangan ibunya, lalu memeluk erat sesaat. Gus Aham, ikut pamit pada ibu setelah Aisyah melepaskan pelukannya dan beralih pada kakak iparnya dan mas Raihan.
"Jaga adikku, baik-baik.", ucap mas Raihan tegas. saat Gus Aham pamit padanya. Gus Aham menjawab dengan anggukan yang di sertai senyuman.
Setelah pamit pada semua, Aisyah dan Gus Aham segera menaiki mobil dan mulai meninggalkan pelataran panti.
Mobil melaju di jalanan, kurang lebih hanya lima belas sampai dua puluh menit, sebelum akhirnya sampai dan memasuki halaman ndalem.
Di teras sudah terlihat Abah, Ummi, Ning Nafis, Gus Ma'adz dan kedua putrinya. mereka juga tidak kalah antusias menunggu dan menyambut kepulangan Aisyah dan Gus Aham.
Mobil Gus Aham terparkir sempurna sebelum ia turun dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Ia menutup pintu mobil, begitu Aisyah sudah turun dengan dua paper bag berisi mainan untuk kedua keponakannya. sedang Gus Aham menurunkan beberapa oleh-oleh dan cemilan untuk Abah dan Ummi, yang segera di ambil alih oleh kang Mu'idz untuk dibawa masuk ke ndalem.
"Assalamualaikum.", ucap Gus Aham begitu mendekat ke teras ndalem. Ummi, yang sudah tidak sabar. segera turun dari teras dan meraih tubuh menantunya.
Dipelukan Aisyah, Ummi menitikkan air mata haru. bersyukur, menantunya bisa melihat kembali.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Ham. bawa istrimu masuk, istirahat.", perintah Abah.
"Lho, bah. Ummi, sek kangen sama Aisyah e.", ucap Ummi. ia masih belum mau pisah dengan menantunya.
"Ya, biar istirahat dulu to, mi. kasian, perjalanannya jauh. wong, nanti, besok sampek besok-besok nya lagi masih bisa ketemu.", ucap Abah. Ummi nampak kecewa sesaat, tapi sadar semua demi kebaikan menantunya.
"Yasudah, le. bawa istrimu masuk, istirahat.", ucap Ummi yang menyetujui perintah Abah pada akhirnya.
Gus Aham menganguk. ia mengajak istrinya ke kamar untuk membersihkan diri, dan istirahat.
Hari-hari berikutnya. Abah dan Ummi lebih membebaskan Gus Aham dan Aisyah setelah pernikahan kedua mereka. itu dimaksudkan, agar mereka banyak memiliki waktu berdua.
__ADS_1
Gus Aham sendiri juga jarang keluar kota untuk mengecek usahanya. ia hanya akan keluar kota, jika memang masalah di restoran, di bengkel ataupun di yayasan tidak bisa di atasi oleh orang kepercayaannya.
Dan kalaupun Gus Aham harus keluar kota. Abah dan Ummi pasti meminta Aisyah untuk ikut. menurut Abah dan Ummi, lebih banyak waktu bagi mereka untuk terus bersama. lebih cepat juga, tumbuh rasa mahabbah, rasa cinta di antara Gus Aham dan Aisyah.
"Besok, njenengan harus ke Surabaya lagi?!.", tanya Aisyah yang sedang melipat mukenanya setelah selesai sholat berjamaah.
"Iya. ada orang yang mau survei. siapa tau?!, ada rezeki buat anak-anak jalanan itu. dan mereka mau jadi donatur.", jawab Gus Aham, berharap.
"Saya, ndak ikut ya?!.", ucapnya meminta izin.
Bertemu dengan banyak orang dan kemudian mengikuti berbagai undangan acara perkumpulan, atau pertemuan para pebisnis muda, bukanlah gayanya.
Terlebih beberapa kali bertemu, mereka selalu menanyakan perihal kehamilan Aisyah. Kenapa?!, sudah setahun lebih menikah dengan Gus Aham, belum juga memiliki tanda-tanda kehamilan.
Sedih, kesal, jengah, tapi hanya bisa menahan diri saat mendengarnya.
"Maaf, ya?!. kalau teman-teman, mas gitu.", ucap Gus Aham. ia faham kenapa istrinya tidak mau ikut.
Ummi juga menginginkannya, tapi lebih memilih sabar. karena, Abah dan Ummi sadar. hubungan mereka tidak bisa di paksakan. Ummi, lebih tidak ingin kalau ada kejadian seperti kemarin. sampai Gus Aham dan Aisyah cerai secara agama.
"Disiapkan baju buat berapa hari?.", tanya Aisyah.
"Ndak usah. mas, besok langsung pulang saja.", jawabnya.
"Selesai acara, langsung pulang. apa ndak capek?!.", tanyanya. ia mengkhawatirkan suaminya. Gus Aham yang mendengar itu, hanya tersenyum dan mengusap rambut Aisyah yang tergerai, saat ia baru saja ikut duduk di samping suaminya.
"Acaranya kan, sore. besok mas, berangkat ba'da dhuhur aja. langsung ke yayasan, ketemu sama yang survei. untuk semua pengaturan penyambutan, mas udah pasrahkan sama Dodi. nanti, biar di atur sama dia.",
"Jadi, pada intinya. karena semua sudah di atur, kamu ndak usah khawatir. mas, kecapekan.", sambungnya. yang membuat Aisyah terlihat lega.
Gus Aham senang, karena Aisyah mengawatirkan nya. bagaimanapun hubungan mereka saat ini?!, saling perhatian dan menjaga, itu sudah cukup bagi Gus Aham. ia hanya ingin, perlahan meraih hati istrinya tanpa sifat egoisnya.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺