Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Episode 80


__ADS_3

Aisyah nampak sibuk memilihkan oleh-oleh untuk Ummi. bagaimana tidak?!. di pusat oleh-oleh yang sangat besar ini, banyak sekali macam oleh-oleh yang tersedia. mulai dari makanan, cemilan, minuman hingga baju dan keramik.


"Gus.", panggil Aisyah. ia terlihat mengangkat sebuah vas bunga yang terbuat dari keramik. Gus Aham menoleh, lalu mendekat.


"Mas.", bisiknya. ia ingin Aisyah memanggilnya demikian. membuat Aisyah meliriknya dengan tatapan aneh dan malu. Gus Aham terus mendesak dan mendekat pada Aisyah. membuat Aisyah tidak memiliki celah untuk menghindar ataupun pergi.


"Apa yang, njenengan lakukan?!. dilihat banyak orang.", ucap Aisyah memperingatkan sikap suaminya, karena mereka kini sedang di tempat umum.


"Makanya, panggil mas, dulu.", pintanya lagi. Aisyah meliriknya sebal, tapi ia sebal karena rasa malu yang tidak bisa di tutupi nya.


"Kalau nggak mau panggil, mas. tetep gini aja.", sambung suaminya lagi. Aisyah mendengus.


"Iya. iya..., mas.", ucapnya ketus. Gus Aham tersenyum mendengarnya, walaupun Aisyah menyebutkan panggilan itu dengan ketus.


"Janji ya, mulai sekarang panggil mas, bukan, Gus?!.", ucap Gus Aham memastikan. Aisyah yang merasa tidak nyaman, karena banyak pengunjung yang melihat mereka.


"Injih suamiku, sayang.", ucapnya lembut. membuat Gus Aham sedikit terkejut dan terlena mendengarnya. sehingga Aisyah bisa menerobos pergi dari genggaman suaminya. Gus Aham tersenyum disana. ia masih melihat istrinya yang sudah pergi meninggalkannya.


Banyak sekali macam, bentuk dan model keramik Dinoyo ini. mulai dari vas, mangkuk, aneka hewan lucu ataupun aneka mainan dari keramik yang sudah cukup terkenal di berbagai wilayah.


Aisyah memilih beberapa vas bunga yang cukup besar. itu bisa menjadi hiasan di sudut ruangan atau bisa juga untuk vas bunga, apalagi bunga hidup. pasti menambah cantik warna dan corak vas itu sendiri.


"Bagaimana dengan ini?!.", tanya Gus Aham. ia menunjukkan keramik Dinoyo bentuk Shaun the sheep, nama animasi yang di perankan oleh domba.


"Untuk Ummi, Gus. bukan untuk Ning Dija atau Ning Shofy.", jawabnya. Gus Aham mendekat.


"Lupa?!.", tanyanya. yang membuat Aisyah menghela nafas dan tersenyum.


"Mboten, mas.", jawabnya malu-malu. Aisyah mendorong tubuh suaminya, dan pergi melihat oleh-oleh lain. membuat Gus Aham tersenyum setiap melihat wajah Aisyah yang merah merona karena malu.


Aisyah melihat-lihat madu. ia juga bertanya-tanya pada si penjual tentang jenis madu yang ada di toko itu.


"Orang-orang, biasa menyebutnya madu Lawang. karena, wisata petik madunya berada di jalan jurusan ke arah Lawang. tapi, sebenarnya ini madu klanceng.", ucap pemilik toko menjelaskan pada Aisyah.


Ia berniat membeli beberapa botol sebagai oleh-oleh. untuk Ummi dan Abah, untuk ibu dan kakaknya dan untuk Gus Ma'adz sekeluarga.


"Ambil ini lima ya, pak?!.", ucapnya sambil menunjuk botol

__ADS_1


berisi madu murni itu.


"Injih, mba.", jawab si pemilik toko. yang kemudian mengeluarkan lima botol madu dan siap membungkusnya.


Berikutnya, Aisyah kembali melihat vas bunga, gelas, asbak, hiasan dinding dan kerajinan lain yang terbuat dari keramik Dinoyo. ia masih ingin membelinya untuk Ummi, ibu dan Ning Nafis. akan menambah cantik tampilan rumah mereka, pikirnya.


Gus Aham menghampirinya. ia membantu Aisyah memilih vas bunga. jatuhlah pilihan nya pada vas bunga yang paling besar, ia meminta izin pada suaminya untuk mengambil vas bunga itu sebanyak tiga biji.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Gus Aham mengiyakan permintaan istrinya, apapun yang membuat istrinya senang. berikutnya, Aisyah melihat-lihat kaos khas tulisan kota Malang.


Ia membelikan beberapa untuk ketiga keponakannya. iya, satu untuk Abel dan yang dua untuk Ning Dija dan Ning Shofy.


Selesai sudah. Aisyah merasa itu sudah cukup untuk buah tangannya. tinggal nanti, nyari buah duren favorit Abah, Ummi dan Gus Ma'adz.


"Bayar, bos!.", perintahnya pada sang suami setelah si penjual menyebutkan semua total nominal yang harus di bayar. Gus Aham melirik istrinya, ia tersenyum dan mengeluarkan dompet. untuk kemudian, mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerahkannya pada si pemilik toko.


"Cung. angkat barang-barang bapaknya ke mobil.", perintah si pemilik toko pada karyawannya, yang hanya di jawab dengan acungan jempol. ia segera mendekat dan mengangkat semua barang-barang yang telah di beli Aisyah dan Gus Aham ke mobil.


"Habis ini nyari duren ya, Gus?!.", ucap Aisyah. membuat Gus Aham yang sedari tadi memegang tangannya, beralih jadi menggigit tangan istrinya.


"Sakit.", ucap Aisyah.


"Kenapa digigit?!.", tanyanya kesal.


"Hukuman, karena lupa lagi.", jawab Gus Aham.


"Bukan lupa, tapi belum terbiasa........., mas.", ucapnya. ia mengucapkan panggilan itu dengan canggung. membuat Gus Aham yang sedang menyetir tersenyum bahagia.


"Kalau gitu. harus sering-sering di ucapin, biar nggak canggung.", ucap Gus Aham.


"Mas, ini suamimu, lho. masa' ada pasangan suami istri, manggilnya istri ke suaminya, Gus. sama sekali ndak ada mesra-mesranya. kaya' manggil santri ke putra Bu nyai nya.", ucapnya. ia terdiam sesaat, sebelum melanjutkan ucapannya.


"Manggilnya ganti, mas. atau beb, apa yang, gitu?!. biar kedengarannya syahdu di telinga dan adem di hati.", sambungnya. membuat Aisyah tersenyum malu, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya?!, kalau sampai ia memanggil Gus Aham dengan panggilan-panggilan yang disebutkan tadi.


"Kenapa?!." tanya Gus Aham, heran. yang melihat istrinya tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Aneh.", jawab Aisyah. matanya menatap lurus ke depan.


"Apanya?.",


"Panggilannya.", ia menjawab dengan tawa yang tidak bisa di tahan.


"Anehnya dimana?!.", Gus Aham sedikit kesal dengan Aisyah. ia menganggap Aisyah sedang meledeknya. padahal, Gus Aham mengatakan dan meminta itu, agar mereka bisa lebih dekat.


"Saya, terbiasa dengan panggilan itu. kalau, sekarang harus manggil, mas. rasanya aneh, Gus.", ucapnya. ia mencoba mengatakan apa yang ada dipikirannya agar suamiku tidak salah faham.


"Kalau begitu, biasakanlah.", ucapnya. nadanya terdengar datar dan penuh penekanan.


Aisyah sedikit merasa tidak enak hati karena melihat wajah suaminya yang sedang menahan rasa kesal. ia khawatir, suaminya marah yang menyebabkan hubungan mereka merenggang.


Ia terdiam beberapa saat dan menatap suaminya, sebelum akhirnya meraih salah satu tangan Gus Aham yang memegang kemudi. Aisyah memposisikan duduknya menghadap Gus Aham.


"Maaf.", ucap Aisyah. ia menggenggam tangan suaminya, berharap suaminya mau melihatnya dan menyudahi suasana yang terjadi saat ini. ia sungguh merasa tidak nyaman.


Gus Aham terlihat menghela nafas. ia masih terdiam dan fokus menyetir.


"Gus...!.", rengeknya. yang membuat Gus Aham malah menarik tangannya dari genggaman Aisyah.


"Mas, deh!.", ucap Aisyah panik. saat tangan suaminya beralih memegang kemudi.


"Mas. iya, aku panggilnya sekarang, mas.",


"Mas, jangan gitu?!.",


"Jangan ngambek ya, mas. ya?!.", ucapnya. ia merengek menarik lengan Gus Aham, yang akhirnya membuat suaminya tersenyum.


"Iya. mas, nggak ngambek. tapi jangan lupa lagi!.", jawabnya menghardik Aisyah, agar tidak lupa bagaimana memanggil dirinya.


Gus Aham meraih kepala Aisyah agar bersandar di pundaknya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2