
Perjalanan selama kurang lebih tiga jam itu cukup melelahkan bagi mereka. terlebih bagi Aisyah dan Gus Aham yang sama-sama dalam masa pemulihan.
Mobil Gus Aham yang di kemudikan Gus Ma'adz berhenti di pelataran panti. Gus Aham segera turun hendak membopong tubuh Aisyah yang tengah tertidur lelap di jok belakang, tapi terhenti karena mas Raihan lebih dulu mengangkat tubuh adiknya.
Gus Aham dan Gus Ma'adz ikut masuk. sementara mas Raihan membawa tubuh kecil adiknya ke kamarnya. menidurkannya di ranjang lalu keluar menemui Gus Aham dan Gus Ma'adz yang berada di aula ruang tamu.
"Mas, aku ndak bisa pulang. tolong sampaein ke Ummi dan Abah.", ucap Gus Aham berpesan pada kakaknya.
"Aku, akan segera pulang begitu urusan dengan Aisyah selesai.", lanjutnya. Gus Ma'adz mengangguk.
Kini, ia sendiri yang harus menjelaskan pada Ummi. tapi itu lebih baik, dari pada Gus Aham harus ikut dengannya dan meninggalkan Aisyah di panti. karena, Gus Ma'adz tau, Aisyah adalah tanggung jawab adiknya.
"Bawa Aisyah pulang segera, ya. le?!.", ucapnya lalu memeluk tubuh adiknya. lanjut Gus Ma'adz pamit pada mas Raihan.
Mas Raihan dan Gus Aham mengantar Gus Ma'adz keluar. Gus Ma'adz segera menaiki mobil Jeep Rubicon milik adiknya. ia harus segera kembali ke ndalem. ada Ummi yang sedang sakit dan menunggu penjelasan dari Gus Ma'adz.
Mas Raihan segera masuk ke dalam aula begitu mobil Jeep yang di naiki Gus Ma'adz menghilang di balik pagar panti. Gus Aham mengikuti di belakang, tapi langkahnya terhenti saat mas Raihan yang berjalan di depannya berhenti.
"Saya, ndak tau apa masalah njenengan dengan adik saya. tapi yang perlu njenengan tau, apapun yang mau njenengan lakukan, tolong jangan dekati Aisyah. sebelum saya benar-benar tau duduk permasalahannya.", ucap mas Raihan tetap dengan pandangan lurus ke depan tanpa melihat Gus Aham yang berdiri di belakangnya.
"Njenengan, hanya di izinkan melihat dan menjaga Aisyah dari jauh. saya, ndak ingin adik saya terganggu dengan kehadiran, njenengan.", lanjutnya. dan Gus Aham hanya diam mendengar perkataan kakak iparnya.
Ia sadar sepenuhnya, ini kesalahannya. hingga menyebabkan Aisyah buta dan kehilangan kedua bayi mereka, tapi ia tidak bisa menjauh dari istrinya.
"Satu hal lagi.", ucap mas Raihan setelah melangkahkan kakinya beberapa jangkah.
"Hindari memakai sesuatu yang bisa di kenali oleh, Aisyah. njenengan, juga tidak di izinkan berbaur dengan anak panti. lebih sedikit yang tau, njeng disini. itu lebih aman.", sambungnya lalu meninggalkan Gus Aham yang masih berdiri di tempatnya.
Jadilah, Gus Aham menjaga Aisyah dengan jarak. seperti apa yang di katakan kakak iparnya, ia hanya bisa menurut. saat kakak iparnya harus pergi keluar panti, Gus Aham yang menjaga, itupun dari jauh. kecuali kalau Aisyah terjatuh, ia baru akan mendekat. setelah membantu berdiri, Gus Aham akan menjauh lagi.
Ia tidak ingin Aisyah merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. maka ia melakukan seperti apa yang di katakan kakak iparnya.
Saat Aisyah berbaur bersama anak panti. Gus Aham hanya akan melihatnya dari jauh, tanpa seorang pun anak panti tau ia ada di sini.
__ADS_1
Saat waktu malam untuk istirahat tiba. Gus Aham akan tidur di bawah samping ranjang Aisyah, beralas kasur tipis. untuk berjaga bila kekasih hatinya terbangun dan menginginkan air karena merasa haus.
Ia menghindari segala benda dan bau yang bisa membuat Aisyah mengenalinya. termasuk mengganti sabun mandi dan tidak memakai parfumnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Mba Yati. saya titip Aisyah, ya?!.",
"Saya, ada seminar di Kediri.", lanjutnya .
"Injih, mas.", jawab mba Yati.
Selesai bersiap, mas Raihan menuju kamar Aisyah. terlihat Gus Aham duduk di kursi samping tempat tidur adiknya dan sedang melayani adiknya makan.
"Sya. mas, ada seminar di Kediri hari ini.", ucapnya begitu berdiri di samping Gus Aham.
"Mas, pergi aja. Syasya bisa sarapan sendiri.", ucapnya seraya mengulurkan tangannya tak berarah, meminta mangkok berisi sarapan yang ada di tangan Gus Aham.
Ya, Aisyah mengira kakaknya lah yang selalu melayani dan merawatnya. padahal, itu adalah Gus Aham.
"Nanti, mas telat?!.",
"Ndak.", jawab mas Raihan. yang di jawab dengan senyuman oleh adiknya.
Gus Aham lanjut menyuapi Aisyah. ia tidak pernah sedikitpun berbicara saat bersama dengan Aisyah. biarlah, Aisyah mengangapnya tidak ada, dari pada Aisyah menjauh darinya.
Begitu selesai sarapan, Aisyah di bantu mas Raihan berdiri dan berjalan di sampingnya. mengantarkan kakaknya berangkat sampai teras rumah, sementara Gus Aham hanya mengikuti mereka dari belakang.
"Hati-hati ya, mas?!.", ucapnya pada kakaknya. ia melambaikan tangan tanpa arah.
Mobil mas Raihan sudah keluar dan menghilang di balik tembok pagar panti.
"Mba Yanti.", panggilnya pada tukang masak panti. Gus Aham segera mendekat karena mba Yati tidak ada.
__ADS_1
"Mba, aku mau ke kamar.", ucapnya pada Gus Aham yang ia kira MB Yanti. Gus Aham tersenyum dan mengangguk. ia tau istrinya tidak bisa melihatnya mengiyakan permintaannya, tapi ini cukup baginya. bisa berada di sisi istrinya.
Aisyah memutar tubuhnya, ia menggunakan tongkat untuk mengetahui jalan yang ia lalui di depannya. Gus Aham hanya mengikuti di belakang.
Melewati aula, Aisyah masih berjalan seperti biasa. sampai ia melewati lorong yang menghubungkan antara aula ruang tamu, ruang penyimpanan barang atau gudang yang masih di pakai, menuju kamar Aisyah dan mas Raihan.
Kamar itu berada di ruangan terbuka, sehingga di depan kamar mereka masing-masing ada gazebo dengan kolam kecil untuk bersantai.
Kebetulan Mba Yati mengepel lantai lorong yang akan di lewati Aisyah. Gus Aham masih setia mengikuti istrinya kemanapun pergi. sampai tiba-tiba, Aisyah terpeleset karena lantai yang masih licin. ia hampir terjatuh, tapi Gus Aham dengan sigap menangkapnya.
Aisyah yang secara refleks menyentuh rambut dan wajah orang yang menolongnya itu, sontak terdiam. ia berusaha berdiri, lalu berjalan dengan tergesa-gesa tanpa tongkat di tangannya.
Sikap Aisyah berubah seketika setelah insiden terpeleset dan hampir jatuh itu. iya, karena dia tau siapa yang menolongnya tadi.
Ia tau benar, rambut tebal yang panjangnya sebahu itu milik siapa?. tekstur wajah lancap berhidung mancung dengan rambut halus yang tumbuh di sekitar pipi, itu adalah kepunyaan suaminya.
Aisyah berjalan tak tentu arah, meraba-raba tembok sebagai bantuan petunjuk jalan. air matanya mulai mengalir, ada rasa sesak di dadanya begitu tau suaminya disini.
Gus Aham yang menyadari hal itu segera mendekatinya. buru-buru ia memberi pengertian Aisyah, tapi Aisyah terus memberontak dan akhirnya memilih masuk ke gudang penyimpanan barang. ia mengunci pintu itu dari dalam, lalu membuang kuncinya ke sembarang arah.
Ia menangis, teringat suaminya yang menanyakan siapa ayah dari anak yang di kandungnya. ia meraba perutnya yang rata, teringat kembali bahwa mereka menantinya di surga.
"Sayang. ayo keluar!, mas disini.", ucap Gus Aham dari luar.
"Sayang. mas, tau. mas, salah. ayo kita bicarakan semua, kita perbaiki lagi semuanya.", bujuknya.
"Aisyah. beri, mas. kesempatan, sayang.", pintanya dari balik pintu, suaranya terdengar kelu.
Aisyah tidak bergeming dengan permintaan Gus Aham. yang ia tau, ia belum siap bertemu dengan suaminya. kecewanya terlalu dalam, hingga melukai perasaannya. seperti ada banyak goresan dan cabikan di dalamnya.
Tak ubahnya dengan Aisyah yang terluka, Gus Aham pun merasakan hal yang sama.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺