Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 67


__ADS_3

Perban terbuka sempurna, giliran kapas yang menutupi matanya di buka perlahan.


"Coba buka perlahan!.", perintah dokter Eric. saat kapas benar-benar telah dibersihkan dari kedua mata Aisyah.


Aisyah membuka matanya pelan. pandangannya kabur dan samar.


"Coba kedip lagi.", ucapndokter Eric memberikan perintah.


"Bagaimana?!.", tanya dokter Eric beberapa saat ketika melihat mata Aisyah sudah mulai beradaptasi dengan cahaya yang menerpanya.


Ia melihat Gus Aham tersenyum penuh harap padanya, dan melihat dokter Eric yang sepertinya masih menunggu respon lanjutan dari kedua mata Aisyah. ia melihat semua itu dengan jelas.


"Iya. saya, bisa melihat.", jawab Aisyah. Gus Aham terlihat menengadahkan tangannya, bersyukur kepada Allah karena memudahkan jalan bagi istrinya untuk melihat lagi.


Sementara dokter Eric segera memeriksa mata Aisyah. ia menarik kelopak mata Aisyah agar bisa melihat semua hasil operasi transplantasi kornea yang di jalani Aisyah kemarin. memastikan semuanya aman dan tidak ada penolakan.


"Bagus. semua normal.", ucap dokter Eric mematikan senter yang ia gunakan untuk mengecek kornea Aisyah barusan. Gus Aham sangat senang mendengarnya.


"Tapi, masih harus minum beberapa vitamin lagi untuk menutrisi kornea nya agar bisa menyatu dengan bagian mata yang lain.", ucapnya memberi penjelasan.


"Tuliskan saja resepnya, dok. kami akan membelinya sepulang dari sini.", pinta Gus Aham yang segera di angguki dokter Eric.


Dokter Eric berjalan ke meja kerjanya, mengambil secarik kertas dan pulpen, lalu menuliskan semua resep vitamin yang perlu di konsumsi Aisyah untuk kesehatan matanya.


Sementara Gus Aham membantu istrinya turun dari ranjang tempat nya berbaring untuk pemeriksaan. mereka segera bergabung duduk di depan meja dokter Eric untuk menunggu resep selesai ditulis.


Beberapa saat kemudian, dokter Eric menyerahkan resep yang harus di tebus di apotik untuk vitamin mata Aisyah.


"Baiklah, Dok. terimakasih untuk hari ini, kami permisi dulu.", pamitnya pada dokter Eric.

__ADS_1


"Ok. sampai ketemu satu minggu lagi untuk check kesehatan mata.", jawab dokter Eric. menjabat tangan Gus Aham saat berpamitan.


Gus Aham dan Aisyah keluar dari ruangan dokter Eric dan berjalan keluar dari rumah sakit dan menaiki mobil Gus Aham.


Selama perjalanan, Aisyah lebih memilih diam dan menunduk atau melihat suasana jalanan yang mereka lewati.


"Mau mampir makan, setelah menebus vitamin?.", tanya Gus Aham. sesekali ia melihat Aisyah dan memperhatikan jalan.


"Mboten. (tidak).", jawabnya. tanpa melihat suaminya yang sedang duduk di sampingnya, tepatnya di belakang kemudi.


Tak berapa lama kemudian. Gus Aham menghentikan mobilnya di depan sebuah apotik. ia turun setelah memarkirkan mobilnya.


"Tunggu disini sebentar, nggeh?!. mas, turun dulu nebus vitamin buat kamu.", ucapnya sebelum turun dan masuk untuk antri mengambil vitamin yang diperlukan istrinya.


Diam-diam, Aisyah menatap suaminya dari jendela mobil yang tertutup. ia tidak mengerti perasaannya sama sekali.


Tidak ada rasa bahagia di dirinya karena bisa melihat lagi. justru Gus Aham yang terlihat begitu bahagia dan antusias.


Mata Aisyah terpejam sesaat. kilas balik tentang kejadian malam itu terlintas lagi di mimpinya. amarah suaminya, hinaan yang di terimanya dan pandangan jijik penuh kebencian dari suaminya sebelum pergi meninggalkannya dan menutup pintu kamar itu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Ach.....", pekiknya. ia terbangun tiba-tiba saat Gus Aham sudah duduk di sampingnya dan mulai mengemudi. membuat suaminya menghentikan mobil seketika karena terkejut dan khawatir dengan keadaan istrinya.


"Kenapa, sayang?!.", tanyanya. begitu mobil menepi dengan sempurna. ia merangkup wajah istrinya. mencari jawaban di kedua mata Aisyah.


Aisyah yang awalnya reflek juga menatap mata suaminya segera meraih tangan Gus Aham untuk menjauh dari wajahnya.


"Mboten nopo-nopo. (Ndak apa-apa).", jawabnya. ia memalingkan wajahnya. nafasnya memburu, ia belum terbiasa dengan semuanya. dan belum siap untuk menatap langsung wajah ataupun mata suaminya.

__ADS_1


"Sayang. sudah hampir Maghrib juga. kita, cari musholla dulu, sholat. sekalian cari maem, ya?!. ajak Gus Aham. yang hanya di jawab anggukan dan seperti biasa, tidak mau menatap wajah suaminya. Aisyah lebih memilih melihat keluar jendela, melihat sekeliling jalanan yang di lewati.


Mobil Gus Aham memasuki sebuah pelataran masjid. begitu mobil berhenti, Gus Aham segera membuka pintu mobil. begitu juga dengan Aisyah. ia tidak mengizinkan suaminya membukakan pintu mobil untuknya.


Ada rasa sedikit kecewa di hati Gus Aham melihat istrinya membuka pintu mobil sendiri. mengingat, ia yang biasanya melakukan itu untuk Aisyah. tapi sejenak kemudian, ia berfikir positif. bahwa mungkin karena kini, Aisyah sudah bisa melihat. jadi, ia tidak ingin merepotkan orang lain.


Gus Aham dan Aisyah pergi ke tempat wudhu masing-masing, untuk wanita dan pria. mereka berpisah sesaat sebelum akhirnya ikut sholat Maghrib berjamaah bersama para jama'ah lain yang hadir.


Selesai jama'ah, mereka juga ikut berdzikir sampai selesai dengan jama'ah lain yang di akhiri dengan saling berjabat tangan dengan semua para jama'ah.


Gus Aham sudah membukakan pintu mobil untuk Aisyah. sementara Aisyah baru saja keluar dari masjid. dengan wajah sumringah nya, Gus Aham mempersilahkan istri tercinta nya masuk. walaupun respon yang sama dengan sebelumnya, cuek dan menghindar di tunjukkan oleh Aisyah.


Setelah menutup pintu mobil, Gus Aham pun masuk dan duduk di belakang kemudi. siap untuk pergi mengantarkan kemanapun istrinya mau, meskipun istrinya tidak meminta untuk di antar.


"Sekarang. mau nyari maem dimana, sayang?!.", tanya Gus Aham sembari melajukan mobilnya dan sesekali melirik Aisyah.


"Terserah njenengan.", jawabnya. lagi-lagi ia mengabaikan suaminya.


Gus Aham hanya menarik nafas pelan. ia kemudian terfikir untuk mengajak Aisyah ke tempat makan yang mungkin akan membuatnya merasa sedikit lebih baik.


Ia membawa Aisyah ke cafe sky 36 Surabaya. cafe dengan pemandangan malam kota Surabaya yang eksotik. Gus Aham berharap, dengan mengajak Aisyah ke sana, bisa membuat istrinya merasa lebih baik. atau tidaknya sedikit tersenyum.


Mobil berhenti tepat di depan cafe. Gus Aham bergegas turun, membuka pintu mobil untuk Aisyah. mereka berjalan memasuki cafe itu. Gus Aham nampak menghampiri kasir dan berbincang dengan seorang wanita dan laki-laki disana. entah apa yang mereka bicarakan.


Tak lama kemudian, salah satu dari pelayan itu pergi. membuat Gus Aham juga pergi dan menghampiri Aisyah.


"Mari, tuan. saya, antar ke tempat yang sudah anda pesan.", ajak seorang pelayan wanita yang baru saja menghampiri mereka.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2