
Mobil yang di kendarai Gus Aham melenggang sempurna memasuki pelataran ndalem. suasana sore hari di pondok begitu ramai. banyak santri lalu lalang berjalan menikmati indahnya suasana sore hari, atau bahkan ada santri yang keluar masuk area makam untuk tawasul pada pendiri pondok terdahulu, yang merupakan si Mbah nya Gus Aham.
Gus Aham segera membukakan pintu untuk Aisyah begitu turun dari mobil. ia membantu istrinya turun dari mobil.
Setelah menutup pintu mobil, Gus Aham menuntun Aisyah menaiki tangga untuk sampai di teras ndalem. sudah ada Ummi, Ning Nafis dan Gus Ma'adz di sana, sedang Abah harus keluar ke ndalem kakaknya yang tidak jauh dari pondok.
"Assalamualaikum, Ummi.", ucapnya. begitu sampai di depan mereka.
"Waalaikum salam.", jawab Ummi dan yang lain bergantian.
Gus Aham mencium tangan Ummi dan Ning Nafis, lalu memeluk Gus Ma'adz. Aisyah yang masih berdiam diri di hampiri oleh Ummi. ia memeluk menantunya penuh rasa bahagia dan haru, begitu juga dengan Ning Nafis. mereka begitu merindukan kehadiran Aisyah di ndalem ini.
"Selamat datang bulek.", teriak dua anak kecil yang selalu menemaninya saat berada di ndalem. Aisyah mulai tersenyum kecil mendengar kedua suara Ning Dija dan Ning Shofy.
"Ayo, bulek. tak anter ke kamar, Dija sama Shofy ada hadiah buat pak lek sama bulek.", ucapnya meraih tangan Aisyah lalu menariknya berjalan mengikuti mereka yang setengah berlari.
"Hei, nggak boleh gitu. nanti bulek bisa jatuh.", ucap Gus Aham yang baru saja mengejar dan berhenti di depan mereka.
"Kalau ngajak, bulek. jalan harus pelan-pelan, nanti bulek bisa kesandung.", ucap Gus Aham memberi pengertian pada kedua putri Ning Nafis.
"Iya, sayang. pelan-pelan.", ucap Ning Nafis yang baru saja berjalan mendekat pada kedua putrinya.
"Yowes. ayo hati-hati, bulek.", ajak Dija yang mulai mengajak Aisyah berjalan lagi.
"Kaya' pengantin ya, kak?!. jalan pelan-pelan.", celetuk Ning Shofy.
'Pengantinnya, pak lek.", sahut Ning Dija. yang membuat adiknya tertawa.
__ADS_1
Gus Aham dan Ning Nafis mengikuti kedua putri kecilnya dan Aisyah dari belakang. hingga, akhirnya mereka tiba di depan kamar Gus Aham.
"Siap ya, bulek?!.", tanya Ning Dija. yang di jawab anggukan oleh Aisyah.
"satu...., dua....., tiga....,". seru kedua bocah kecil itu. mereka sangat bahagia dengan apa yang akan mereka tunjukkan pada Aisyah.
Pintu terbuka. Ning Dija dan Ning Shofy menarik Aisyah masuk. Ning Nafis dan Gus Aham cukup terkejut dengan hadiah yang di berikan oleh kedua keponakannya.
Bukan hal yang mahal, tapi penuh dengan cinta. ya, beberapa bunga mawar yang masih segar terikat disana dengan tangkai dan daun yang masih terlihat segar. ada juga beberapa buket bunga Lili, bunga Mawar, dan Anggrek yang bergerumbul di ranjang.
Ada juga kelopak bunga mawar, yang terhampar di sprei berwarna putih, membentuk tanda hati atau love.
"Suka, bulek?!. tanya Ning Shofy. yang langsung di senggol oleh kakaknya, Ning Dija. sambil memberi isyarat bahwa tidak boleh mengatakan hal itu, karena jelas buleknnya ndak bisa melihatnya.
"Ayo, bulek. duduk di ranjang. di fotoin, Dija. buat kenang-kenangan nanti.", ucapnya menarik tangan Aisyah, berjalan menuju ranjang.
"Pak lek, duduk sini juga.", perintah Ning Shofy. dan Gus Aham pun mengikuti. ia duduk di samping Aisyah dan memangku bunga Lili, bunga kesukaan Aisyah. yang kata orang, bunga Lili menggambarkan ke anggunan, ke elokan dan tekad yang kuat.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Nduk. untuk sementara, kamu ndak usah ngajar dulu, ya?!. kalau mau nyimak hafalan boleh, nanti bilang sama, Ummi. ya?!.", ucap Ummi pada Aisyah yang sedang duduk di gazebo bersama Gus Aham. Aisyah hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
Ya. setelah kejadian itu, tidak ada ekspresi dari wajah Aisyah selain diam dan tersenyum tipis. pandangannya jelas tak berarah, tapi ia lebih banyak menunduk.
Untuk berinteraksi, Aisyah seakan seperti tak mampu. apalagi setelah keluarganya membuat keputusan ,bahwa ia harus rujuk dengan Gus Aham. semakin tidak ada tawa renyah dan sikap ceria dari dirinya. semuanya hilang.
Sebaik apapun perlakuan Gus Aham saat ini, itu tidak dapat menghapus rasa kecewanya. ia pikir, suaminya benar-benar mencintainya, tidak akan meragukan sedikitpun tentang dirinya, tapi kenyataannya salah. mungkin bagi Gus Aham, ia hanyalah seorang wanita yang hina. yang tidak pantas mengandung anaknya, sehingga ia meragukannya?!. pikirnya.
__ADS_1
Jika saat ini, ia duduk berdua dengan suaminya di gazebo. itu tidak lebih karena suaminya selalu mengikutinya kemana ia pergi. ntah karena tidak percaya?!, atau karena ingin menjaga?!. Aisyah masih belum membedakan karena rasa kecewanya.
Gus Aham masih duduk di sampingnya, sambil mengecek dan membalas email yang masuk di ponsel dan laptopnya. sementara Ummi sudah pergi, dan Aisyah hanya duduk diam, ia lebih menikmati semilir angin yang datang. karena hanya itulah yang bisa ia nikmati saat ini. mau menikmati pemandangan?, bukankah matanya tidak berfungsi?!.
"Sayang.", ucap Gus Aham, beringsut mendekat pada tempat Aisyah duduk. Aisyah tetap diam di tempatnya, tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Sayang, Alhamdulillah. ada berita bagus.", ucapnya penuh semangat.
"Barusan dokter di Surabaya, kasih kabar. katanya suda ada donor mata yang cocok untuk kamu.", ucapnya antusias. berbeda dengan Aisyah, yang tetap diam walaupun mendengar berita itu. ia sama sekali tidak tertarik.
Bagus menjadi buta baginya, karena ia tidak akan melihatnya wajah dingin suaminya saat marah. wajah jijik yang di tunjukkan Gus Aham saat mentalaknya, dan mata yang penuh kebencian yang benar-benar meragukan janin yang di kandungnya. ia tak mau melihat itu lagi.
Terkadang kilasan kejadian itu muncul di mimpinya, apalagi saat suaminya mentalak nya dengan jelas, lalu menunjukkan mata yang penuh kebencian sebelum akhirnya, Gus Aham pergi keluar kamar dan menutup pintu. itulah alasan ia tidak mau rujuk kembali dengan suaminya, selain rasa kecewa yang ia rasa.
"Ndak perlu repot. saya, lebih senang dengan keadaan, saya yang seperti ini. maaf, kalau njenengan merasa terbebani. tapi, seharusnya itu sudah njenengan pikirkan baik-baik, ketika njenengan minta kita untuk rujuk.", jawabnya dingin. ia meraih tongkatnya, beranjak berdiri lalu mulai berjalan meninggalkan Gus Aham yang masih terdiam di gazebo karena jawaban Aisyah.
"Brukk...., Aisyah terjatuh. ia tidak tau ada tangga kecil, sehingga membuatnya tersandung dan jatuh. kepalanya terbentur pot bunga yang cukup besar. Gus Aham segera turun dari gazebo dan menghampirinya.
"Harusnya kalau mau ke kamar, bilang sama, mas.", ucapnya sambil membantu Aisyah berdiri. ia melihat luka memar di kening istrinya. cepat-cepat Gus Aham memeriksanya, lalu mengecupnya sesaat. sekilas, bayangan itu terlintas. dimana saat Gus Aham terluka, baik luka kecil atau besar. ia pasti meminta Aisyah untuk mengecupnya. ia merasa lebih baik ketika mendapatkan itu.
"Apa memang lebih baik, lukanya?!.", tanya Aisyah waktu itu, dan hanya di jawab anggukan oleh Gus Aham. lalu dengan manjanya, Gus Aham pasti menyandarkan atau menyembunyikan kepalanya di dada Aisyah.
"Kalau begitu, lain kali. lakukan itu, padaku.", pinta Aisyah kala itu.
"Ok.", jawab Gus Aham.
"Lebih baik?.", tanya Gus Aham. setelah menjauhkan bibirnya dari kening Aisyah. membuyarkan lamunannya. Aisyah hanya diam, ia ingin lanjut berjalan. tapi tangan Gus Aham menahannya. tanpa aba-aba, Gus Aham menggendong Aisyah ke kamar mereka.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺