
Mobil mulai keluar satu persatu meninggalkan pelataran ndalem. nampak Aisyah dan kedua keponakannya sedang berdiri di teras ndalem. menunggu semua pergi sebagai bentuk penghormatan.
"Ayo!, masuk. bulek.", ajak Ning Shofy pada Aisyah begitu ketiga mobil sudah menghilang di balik gapura.
Aisyah pun menggandeng kedua tangan keponakannya yang berada di sisi kanan dan kirinya untuk masuk ke ndalem.
Menyusuri lorong, membuat mereka melepaskan genggaman tangan Aisyah dan berlari untuk sampai lebih dulu ke kamar bulek dan pak lek nya.
"Yes!. aku sampai dulu.", ucap Ning Shofy. si kecil yang gesit.
"Bisa buka, ndak?!.", ejek Ning Dija yang kalah dari adiknya.
"Sudah-sudah. sini, biar bulek yang buka.", ucap Aisyah pada kedua keponakannya.
Begitu pintu kamar terbuka. mereka segera berlari ke tempat tidur dan menjatuhkan diri mereka disana.
"Senangnya di kamar, bulek.", ucap Ning Dija.
"Ho'oh.", sahut sang adik. mengiyakan ucapan kakaknya. dan Aisyah hanya tersenyum tipis melihatnya. andai saja...., ah sudahlah. mereka juga tidak sebesar Ning Dija dan Ning Shofy sekarang. tentunya perutnya masih terasa bergerak dan semakin besar pastinya. itu, jika masih ada.
Aisyah mencoba mematahkan pengandai-andaiannya sendiri. ia tidak boleh begitu, ini tidak akan baik. ia memejamkan mata sesaat, mengirimkan hadiah surat Fatihah untuk kedua malaikatnya.
"Bulek.", panggil suara imut yang berasal dari Ning Shofy, membuat Aisyah membuka matanya.
"Bulek, ngantuk?!.", tanyanya. ada sedikit rasa kecewa terlihat dari wajah polosnya.
"Ndak.", jawab Aisyah.
"Tadi, bulek merem sambil berdiri.", ucapnya lagi.
"Bulek, cuma berdoa.", jawabnya.
"Jadi, bulek ndak ngantuk?!.", tanyanya lagi memastikan. Aisyah menggeleng dan mendekat pada mereka.
"Yeaay!.", sorak Ning Dija dan Ning Shofy girang.
"Jadi. apa yang sudah Ning-Ning kecilku ini rencanakan?!.", tanya Aisyah pada kedua keponakannya. ia yakin, mereka ngeyel ndak ikut, bukan karena mau nemenin buleknnya yang sendirian di ndalem. tapi, pasti karena sudah ada yang mereka rencanakan, dan Aisyah sudah hafal dengan kedua keponakannya.
Mereka tersenyum hingga memperlihatkan gigi kecilnya dan mengeluarkan beberapa mainan yang sudah mereka bawa dari sakunya.
"Apa itu?!.", tanya Aisyah.
"Ini kertas lipat dan.....
__ADS_1
"Balon.", ucap Ning Shofy. menyahut ucapan kakaknya.
"Baiklah. jadi, kita akan membuat apa?!.", tanya Aisyah.
"Kita buat burung dari kertas lipat yuk, bulek.", ajak Ning Shofy.
"Iya. nanti, di gantung dengan benang.", sahut Ning Dija.
"Bulek, tapi nggak bisa.", ucap Aisyah.
"Nanti tak ajarin.", seloroh Ning Shofy. membuat Aisyah tersenyum.
"Bulek, niup balon aja, ya?!.", pinta Aisyah pada kedua keponakannya.
"Bulek. ndak mau di ajarin?!.", tanya Ning Dija.
"Bulek, sudah bisa. tapi biar bulek yang niup balon, ya?!.", ucap Aisyah.
"Oke lah.", ucap mereka hampir bersamaan.
Akhirnya, Ning Dija dan Ning Shofy membuat burung dari kertas lipat. sedang, Aisyah meniup balon dan mengikatnya dengan benang, satu persatu.
Begitu lipatan kertas berbentuk burung itu selesai di buat. Ning Dija dan Ning Shofy mengikatnya dengan benang. satu benang berisi dua sampai tiga burung. kemudian setelah selesai, mereka menggantungkannya di langit-langit kamar Gus Aham.
Aisyah naik dengan menggunakan tangga. ia terlihat sangat hati-hati agar tidak jatuh. sementara Ning Dija yang memegangi tangga itu di bawahnya, dan Ning Shofy yang mengulurkan burung yang akan di gantung itu.
Begitu selesai, Aisyah segera turun. sedang Ning Shofy dan Ning Dija meletakkan balon yang sudah terikat dengan tali itu di sembarang tempat.
Jadilah, kamar Gus Aham dan Aisyah terlihat seperti kamar anak. karena banyak dekorasi kertas dan balon dimana-mana.
"Bagus kan, bulek?!.", tanya Ning Dija. Aisyah tersenyum. ya, ini bagus, tapi tidak tau bagaimana reaksi si empunya kamar kalau sudah pulang dan melihat kamarnya berubah seperti ini?!.
"Bulek. Shofy, laper.", ucap Ning Shofy yang memegangi perutnya.
"Ho'oh. Dija, juga. capek plus laper setelah bekerja keras menghias kamar bulek.", selorohnya.
"Baiklah. ayo, ke ruang makan. pasti masih ada banyak makanan disana.", ajak Aisyah pada mereka.
Mereka pun berjalan beriringan keluar kamar menuju ruang makan. terlihat beberapa mba ndalem yang sedang membereskan piring dan gelas kotor dimeja. bekas menjamu keluarga kang Mu'idz sebelum berangkat ke rumah Kamila tadi.
"Mba, anak-anak mau maem. bisa tolong ambilkan piring?!.", pinta Aisyah pada salah seorang mba ndalem.
"Nggih, Ning. sebentar.", jawabnya. lalu pergi ke belakang untuk beberapa saat dan kembali dengan membawa beberapa piring dan sendok.
__ADS_1
"Sayurnya, mau di angetin dulu, Ning?!.", tanya mba ndalem itu.
"Ndak usah, mba. di angetin nanti aja, kalau anak-anak udah selesai maem.", jawabnya. yang di jawab anggukan dan senyuman oleh mba ndalem itu, lalu ia pamit undur diri.
Aisyah mengambilkan nasi dan lauk untuk kedua keponakannya. mereka terlihat tidak sabar dan ingin segera menyantap makanannya.
Sementara itu.....
"Ankahtuka, watazwijaha Kamila binti Ahmad Shidiq bil mahri milyun dular hallan.......,
"Qobiltu an-nikah bil mahri al-madzkur.",
"Sah?!.", tanya Abah sebagai penghulu pada para saksi yang merupakan kedua ayah dari Kamila dan kang Mu'idz.
"Sah!.", jawab para saksi dan semua kerabat yang hadir.
Abah segera menyambung dengan doa, sementara para tamu juga tetua mengaminkan. kang Mu'idz terdiam dan merenungkan dalam doanya, ia ingat Aisyah.
Ya. kini mereka sudah memiliki pasangan masing-masing. ia hanya berharap bahwa Aisyah semakin bahagia dan langgeng dengan Gus Aham, sementara ia juga bahagia dan bisa menjadi imam yang baik bagi istrinya.
"Le.", panggil Abah pada kang Mu'idz yang masih menengadahkan tangannya saat doa sudah selesai di panjatkan.
"Enggeh, bah. nopo?!.", tanyanya. ia sedikit terkejut.
"Kok, nopo?!. yo, ayo!. wes, sah. trus istrimu ndang di dungani. trus di tiup ubun-ubun e, setelah itu lanjut mau ngapain?!, yo terserah. wong udah sah.", ucap Abah. yang membuat kang Mu'idz tersenyum tipis, lalu segera menaruh telapak tangannya di puncak kepala istrinya. ia berdoa dengan di aminkan semua kerabat dan tetangga sekitar yang hadir.
Begitu selesai, Kamila segera mencium punggung tangan kang Mu'idz yang kini sah sebagai suaminya.
Ibu kang Mu'idz mendekat, memberikan cincin pada Kamila yang segera di ambil oleh kang Mu'idz dan di pakaikan di jari manis istrinya. suara tepuk tangan menggema, membuat Kamila nampak tersenyum malu dengan perlakuan suaminya.
Berlanjut ke acara berikutnya, yakni ramah tamah. semua tamu di persilahkan untuk mencicipi hidangan dan masakan yang sudah di siapkan oleh keluarga Kamila.
"Mahare okeh, ya?!. (mahare banyak, ya?!).", terdengar beberapa obrolan tetangga yang ikut membantu keluarga Kamila di dapur.
"Iyo. sak milyar, dolar pisan. (Iya. satu miliar, dolar lagi).", sahut yang lain. kakak perempuan Kamila yang mendengarnya hanya tersenyum dan mencoba meluruskan.
"Milyar dolar dalam bahasa Arab artinya, satu juta. bukan satu milyar.", ucap Asna.
"Mosok to, mba?!.", seloroh salah seorang dari mereka.
"Kalau ndak percaya. tanya aja sama pak yai.", jawabnya.
"Lha, soalnya. pas jamanku sekolah, itung-itungan cuma Sampek seratus lho, mba.", ucap salah seorang dari mereka yang hanya di sambut senyuman oleh Asna.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺