
Gus Aham masih menunggu di depan pintu gudang. ia menunggu Aisyah membuka pintunya.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. harusnya Aisyah keluar untuk makan siang, minum obat dan sholat, tapi tidak ada suara apapun dari dalam. karena khawatir, Gus Aham pun berlari keluar. ia mencoba melihat Aisyah dari jendela kaca bagian gudang.
Aisyah nampak tertidur di lantai, di depan pintu.
"Aisyah.", panggilnya. Aisyah hanya diam tak menyahut.
"Aisyah, bisakah kamu mendengar ku?.", tanyanya, tapi Aisyah tidak merespon.
Gus Aham bingung harus berbuat apa?!, sebenarnya, ia khawatir pada kondisi istrinya sekarang. terlebih Aisyah tidak merespon panggilanya. ia khawatir, mengingat kondisi Aisyah masih dalam masa pemulihan.
Gus Aham masuk lagi. mencari mba Yati, yang di jumpai nya di dapur.
"Mba. ada kunci gudang cadangan?.", tanyanya.
"Buat apa, Gus?.",
"Aisyah, sepertinya pingsan di gudang.", jawabnya.
"Ya Allah.", serunya lalu cepat-cepat berjalan menuju kantor mengambil kunci cadangan yang menggantung.
Mba Yati segera kembali menemui Gus Aham yang sudah menunggu di depan gudang.
"Niki, Gus.", ucapnya seraya memberikan kunci pada Gus Aham.
Gus Aham segera membuka pintu gudang. ia sedikit kesulitan masuk, karena Aisyah ternyata bukan tidur melainkan pingsan. sehingga saat Gus Aham berusaha membuka pintu, Aisyah tidak bisa menyingkir.
Gus Aham tidak mungkin terus mendorong pintu itu. jadilah, ia berlari keluar rumah. ada Gus Ma'adz dan Ning Nafis yang baru saja turun dari mobil, di susul mas Raihan yang juga baru saja memasukkan mobilnya ke pelataran halaman panti. tapi Gus Aham tidak menghiraukan mereka, ia terus berlari menuju samping rumah, yang membuat mereka bertiga yang baru datang ikut merasakan khawatir.
Gus Aham berdiri di samping kamar gudang, ia mencoba mencongkel jendela. ya, ia harus lewat jendela untuk bisa masuk dan menolong Aisyah.
Berhasil. jendela berhasil di congkel, perlahan Gus Aham masuk lewat jendela. cukup sempit, tapi ia tetap memaksakan masuk. sampai akhirnya, ia berhasil masuk.
Gus Aham segera menghampiri tubuh Aisyah. ia demam, mungkin karena tidur di lantai. segera di bopongnya tubuh kecil itu, mba Yati membuka pintu. sudah ada Gus Ma'adz, Ning Nafis dan mas Raihan yang berdiri di luar. Gus Aham berjalan melewati mereka dan menggendong Aisyah ke kamar. ia membaringkan tubuh istrinya di ranjang lalu menyelimutinya, sementara mba Yati keluar dan menelfon dokter.
__ADS_1
"Kenapa Aisyah bisa terkunci di gudang?.", tanya mas Raihan begitu mereka keluar dari kamar Aisyah.
"Aisyah, tau. mas.", jawab Gus Aham. mas Raihan mengerutkan keningnya.
"Dia hampir jatuh, saya menahannya. tapi dengan sekali meraba. Aisyah, tau kalau itu. saya.", ceritanya singkat.
Mas Raihan menghela napas. sebenarnya, ia sangat ingin tau apa yang terjadi di antara Gus Aham dan Aisyah?!. tapi bertanya dulu, bukankah ia terlalu ikut campur urusan rumah tangga adiknya?. pikirnya.
Dokter datang, kali ini Riko yang memeriksanya. ia sedang bertugas saat mba Yati meneleponnya, jadi segera mungkin ia menyelesaikan pekerjaan nya dan bergegas pulang ke panti.
Semua menunggu Riko di kamar Aisyah. ia tampak beberapa kali memegang tangan Aisyah untuk mengecek denyut nadi. lalu memakai stetoskop dan meletakkan di dada Aisyah untuk memeriksa tekanan jantungnya.
Riko menghela nafas berat begitu selesai memeriksa Aisyah. ia menggeleng pelan melihat mas Raihan.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Gimana?.", tanya mas Raihan mendekati Riko.
"Denyut nadi dan jantungnya lemah. kurang istirahat setelah kuret.", jawabnya.
"Demamnya, kemungkinan terjadi karena ada infeksi di rahimnya. sebaiknya segera di bawa ke rumah sakit, mas.", lanjut Riko lebih jelas.
Ada suara khas yang cukup dikenal semua orang yang hadir di ruangan itu. ya, suara ibu yang baru datang dari Pati bersama Amira dan Abel.
Rupanya, ibu sudah lumayan lama berdiri disana. mendengarkan penjelasan Riko mengenai Aisyah.
"Siapa yang baru di kuret?.", tanyanya sambil melangkah masuk kamar Aisyah. matanya menatap semua orang yang hadir di kamar, dan berhenti saat melihat menantunya hanya diam menunduk.
"Gus?!.", panggil ibu. penuh harap, menantunya bisa menceritakan semua yang terjadi saat ia pergi menemani Mira dan Abel ke Pati. tapi Gus Aham hanya bisa diam.
"Bu. istirahat dulu, ya?!. kan kita baru sampai.", ajak Mira pada ibu mertuanya seraya menuntun ibu ke kursi yang ada di kamar Aisyah.
Suasana sejenak hening. sampai Riko pamit kembali ke rumah sakit karena mendapat telepon darurat.
"Apa yang sebenarnya terjadi selama ibu pergi, le?.", tanyanya pada mas Raihan yang terus diam.
__ADS_1
"Gus Aham?!, Gus Ma'adz?.", ibu menyebut nama mereka, meminta penjelasan. Gus Aham terdiam.
"Kemarin Aisyah jatuh, mi.", jawab mas Raihan.
"Makanya, harus di kuret.", sambungnya.
"Kok, iso?!.", tanya ibu. meminta penjelasan lebih. mas Raihan menggeleng.
Ia tidak tau, bagaimana hubungan Aisyah dan Gus Aham sekarang. sebab itu, ia tidak bisa menjawab lebih detail.
"Kok. ndak ada yang jawab?.", ucap ibu bingung.
"Aisyah sempat pergi dari rumah, Bu. ngapunten, ndak bisa jaga Aisyah.", jawab Gus Ma'adz ragu.
"Alesane nopo, Gus?.", (alasannya apa, Gus?).", tanya ibu, terus mendesak., tapi ndak ada yang menjawab.
"Nopo perjanjian e njenengan kalian Aisyah, sakderenge nikah tasek berlaku?, (Apa perjanjian anda dengan Aisyah, sebelum nikah masih berlaku?).", tanya ibu. membuat semua yang berada di ruangan itu mengerutkan kening, menyiratkan tanya di wajahnya.
"Deg". mungkinkah ibu tau?, pikir Gus Aham.
"Nggeh, Gus. Kulo semerap. Kulo mireng piyambak, njenengan kaleh aisyah nikah, namung damel nyenengke Ummi kaleh keluargane piyambak-piyambak. (Iya, Gus. saya tau. saya dengar sendiri, anda dan Aisyah menikah, hanya untuk membahagiakan ummi dan masing-masing kedua keluarga).", ucap ibu. membuat semua kaget, bahkan Gus Aham sendiri.
Ya, perjanjian yang mereka ucapkan ketika duduk berdua di gazebo itu, tidak sengaja di dengar ibu. ketika dalam masa ta'aruf.
Ibu pun bercerita, bahwa sebenarnya ia pun sudah meminta Aisyah memikirkan baik-baik perihal perjodohan itu, dan boleh menolaknya bila Aisyah keberatan. tapi Aisyah tetap memilih untuk melanjutkan perjodohan yang di atur kakeknya dan almarhum Mbah yai dulu.
Aisyah bahkan mengatakan bahwa, mungkin saat itu Gus Aham dan dirinya belum sama-sama memiliki rasa, tapi ia meyakinkan Gus Aham akan mencintainya suatu hari nanti. karena itulah, ibu pun merestui dan mengizinkan Aisyah menikah dengan Gus Aham.
"Kulo pikir, Aisyah niku hamil lantaran njenengan memang tresno lan kepingin nggadah Putro kaleh larene. tibak e.....(Saya pikir, Aisyah hamil karena memang anda cinta dan ingin memiliki anak dengan dia, ternyata.....
"Saya sangat mencintai Aisyah, Bu.", Gus Aham sudah tidak tahan lagi, sehingga menyahut perkataan ibu yang belum selesai.
"Dan karena cinta saya yang begitu besar, sehingga membuat hubungan kami diposisi seperti ini sekarang.', lanjutnya.
Ia tidak peduli apa yang akan terjadi berikutnya setelah ia mengatakan semua perasaanya. ia hanya tidak mau lagi untuk menyembunyikan dan tidak mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺