Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 143


__ADS_3

Gus Aham memilih lewat tol agar bisa segera sampai di rumah sakit tempat istrinya di rawat.


Di tengah malam dan sepinya jalanan, ia terus melaju menerobos dinginnya malam. dalam pikirannya, ia hanya harus segera sampai dan menemui istrinya.


Syukur-syukur kalau sampai di sana masih sempat menemani persalinan Aisyah.


Waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Gus Aham sampai di depan sebuah rumah sakit. ia segera memarkir mobilnya, dan segera turun setelah memastikan mobilnya terparkir dengan benar.


Gus Aham tidak lupa mengunci pintu mobil, sebelum akhirnya berlari masuk. menghampiri resepsionis, dan menanyakan kamar pasien atas nama istrinya, yang sedang hamil.


Perawat itu memberi tau kamar Aisyah, dan memberikan pengarahan pada Gus Aham jalannya. Gus Aham menganguk-angguk paham. ia segera berjalan menyusuri jalur yang di arahkan petugas resepsionis itu, setelah mengucapkan terima kasih.


Langkah kakinya, ia percepat. sebelum akhirnya, ia berlari kecil menuju kamar Aisyah. entahlah, apa yang terjadi pada istrinya?!. tapi perasaan nya benar-benar tidak nyaman.


"Assalamualaikum, Bu. Ummi.", ucapnya. ketika melihat kedua ibunya menunggu di luar sebuah ruangan.


"Waalaikum salam.", jawab ibu dan Ning Nafis. sementara, Ummi langsung berhambur memeluk Gus Aham.


"Aisyah, mana. mi?!.", tanya Gus Aham, setelah Ummi melepaskan pelukannya.


"Aisyah, di dalam. tapi, ndak ada yang boleh masuk. jadi, kita cuma bisa nunggu di luar.", jawab Ummi.


Gus Aham berjalan mendekat pada jendela. ia melihat istrinya duduk seorang diri di brankar. bibirnya, tak berhenti melantunkan sholawat nabi untuk menguatkan dirinya sendiri.


Tiba-tiba Aisyah turun dari ranjang. ia berjalan perlahan ke arah jendela, karena melihat suaminya. Gus Aham memperhatikan istrinya berjalan dengan seksama, ia nampak kesulitan. ingin rasanya, ia bergegas masuk dan menuntun atau menggendong Aisyah.


Tangannya, ia letakkan di jendela. mirip seperti orang yang sedang membelai. di tengah rasa sakit yang ia rasakan, masih sempat Aisyah tersenyum di depan suaminya. seolah-olah ingin mengatakan, bahwa ia dan bayi mereka baik-baik saja.


Gus Aham hanya bisa berdiri disana, sambil terus menatap wajah istrinya. ia kemudian memberi isyarat pada Aisyah, untuk kembali istirahat di brankar. ia tidak mau terjadi apa-apa dengan istri dan bayinya, mengingat bahwa air ketuban Aisyah merembes.


Aisyah yang paham dengan kekhawatiran suaminya, menganguk. ia memalingkan wajah dan tubuhnya, mulai melangkah.


Tapi, saat akan duduk di ranjang. ia merasakan sakit yang luar biasa. Aisyah bahkan harus berpegang pada meja yang berada di samping brankar nya.


Tangannya gemetar, sambil menahan rasa sakit ia berusaha mencari pegangan apapun di sekitarnya. hingga tidak sengaja menjatuhkan gelas yang berada di atas meja.


"Prang...", Gus Aham berlari ke arah pintu. ia hendak membukanya, dan masuk menemui istrinya. tapi, sebelum ia berhasil meraih gagang pintu. seorang perawat menghentikan nya.


"Maaf, pak. Anda, mau kemana?!.", tanyanya.

__ADS_1


"Saya, ingin masuk. istri saya, kesakitan.", jawab Gus Aham, panik.


"Menurut prosedur rumah sakit. pasien tidak di izinkan di temani siapapun, kecuali petugas dan perawat. semua itu, untuk menjaga keamanan pasien.", ucap perawat itu. membuat Gus Aham bingung seketika. tapi, wajah kesakitan istrinya membayang jelas di pelupuk matanya. ia bersikeras ingin masuk.


"Aku, suaminya.", ucap Gus Aham, pada perawat itu.


"Meskipun suaminya, tetap tidak bisa, pak.", jawab perawat.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Sementara Aisyah benar-benar kesakitan di dalam. ia bahkan sampai terjatuh, karena tidak kuat menahan rasa sakitnya. mungkin, itu efek dari obat perangsang yang di berikan padanya tadi.


"Prang...!.", terdengar sesuatu jatuh dari dalam, yang membuat Gus Aham semakin panik, dan terpaksa mendobrak pintu.


Ya. Gus Aham mendobrak pintu, mengabaikan ucapan perawat yang melarangnya.


Sesampainya, di dalam. Gus Aham, melihat Aisyah terduduk kesakitan di samping ranjang. ia segera menghampirinya dan meraih tubuh Aisyah untuk di tidurkan di ranjang.


"Tuan, silahkan keluar.", ucap perawat yang mengikutinya masuk dalam ruangan.


"Aku, akan ada di sini.", jawabnya.


"Tidakkah, kamu melihat?!. istriku, kesakitan dan tidak ada yang menemaninya disini. bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?!.", ucap Gus Aham, ia sedikit geram dengan ucapan perawat itu.


"Nanti, akan ada dokter dan perawat yang mengontrol keadaan pasien.", jawabnya.


"Aku, akan tetap disini.", ucap Gus Aham, tegas.


"Anda menyalahi prosedur.", ucap perawat itu, tidak kalah tegasnya dengan Gus Aham.


Gus Aham menatap tajam perawat itu, hatinya dongkol karena perawat itu, meminta ia untuk keluar.


"Silahkan, keluar!.", ucap perawat itu, sekali lagi.


"Tap...',


"Biarkan, dia disini.", sahut Riko, yang baru saja masuk dalam ruangan.


"Tapi, dok. ini, prosedur di rumah sakit ini. Anda, jelas tidak tau, karena anda dokter pindahan di rumah sakit ini?!.", ucap perawat tersebut.

__ADS_1


"Aku, penanggung jawab nya.", ucap Riko.


"Maaf, ini jelas menyalahi peraturan rumah sakit.", jawab perawat itu lagi.


"Bayi itu, tidak akan lahir tanpa di temani ayahnya. apa kau bisa menanggung akibatnya?!, jika ada masalah dengan persalinannya karena calon ibu merasa cemas?.", sahut Riko, tegas. perawat itu, terlihat menghela nafas berat.


"Kalau begitu, silahkan anda menemui dokter yang bertanggung jawab atas persalinan pasien.", ucapnya, kemudian.


"Baik. aku, akan menemuinya.", jawab Riko.


Setelah nya, perawat itu pergi. keluar dari ruang tempat Aisyah di rawat. Gus Aham menoleh, melihat istrinya yang terbaring lemah.


Wajahnya, pucat. jelas, ia menahan kesakitan yang sangat demi kelahiran putra pertama mereka.


"Terimakasih.", ucap Gus Aham kemudian, pada Riko. Riko hanya membalas tatapannya, dan mengangguk.


"Aku, permisi keluar.", ucap Riko, sesaat kemudian. ia membalikkan badan, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar Gus Aham, menanyakan sesuatu.


"Ummi, bilang. kamu, yang bawa Aisyah ke rumah sakit?!.", ucap Gus Aham. membuat Riko, menghela nafas dalam. ia berbalik dan menatap nya.


"Jangan salah paham?!. saya, datang ke pondok hanya untuk memberitahu Ais. bahwa, saya dan Fitri akan melangsungkan akad nikah. bagaimanapun, kami adalah sahabat sejak kecil.", ucapnya, menjelaskan.


"Apapun tujuannya, terimakasih.", ucap Gus Aham. yang membuat Riko tersenyum dan mengangguk.


"Semoga kelahirannya lancar. Ais dan bayi kalian sehat selamat.", ucap Riko.


"Terimakasih, selamat juga untuk pernikahannya. bila tidak ada halangan, aku dan Aisyah pastikan hadir di acara kalian.", ucapnya, memastikan. sekali lagi, Riko tersenyum dan mengangguk senang.


"Baiklah. aku, tinggal dulu. masih ada pasien yang membutuhkan ku.", ucap Riko. Gus Aham menganguk dan tersenyum tipis.


"Terimakasih.", ucap Aisyah, pelan. yang langsung mendapat perhatian Gus Aham dan Riko.


Riko menatap wajah sahabatnya, ia tersenyum penuh arti.


"Semangat Ais, aku menunggu kelahiran keponakanku.", ucap Riko, memberi semangat pada Aisyah yang di jawab dengan senyuman.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2