Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 121


__ADS_3

"Terserah kamu saja.", jawab dokter Fitri ketus.


"Baiklah.", sahut Riko. ia tidak tau mau bicara apalagi.


Suasana di antara mereka hening lagi. dan itu, membuat Riko tidak tau harus berbuat dan berkata apalagi.


"Sudah?!.", tanya dokter Fitri. yang di jawab anggukan oleh Riko.


"Baiklah. aku permisi ke kamar dulu, aku mau istirahat.", ucap dokter Fitri yang di angguki oleh Riko.


Dokter Fitri meninggalkan Riko yang masih berada di balkon rumahnya. ia merangsak masuk dalam kamarnya. dan bersorak kegirangan di balik pintu saat ia sudah menutup pintu kamarnya.


"Hihihi....., nggak nyangka berhasil juga.", ucapnya girang. pada awalnya, ia memang malas bertemu Riko lagi setelah pertemuan mereka yang terakhir. tapi, setelah obrolan mereka malam itu, membuat dokter Fitri girang bukan main. ia bahkan naik ke ranjangnya, dan berjoget ria.


...----------------...


"Malam ini, njenengan tidur dimana?!.", tanya Aisyah, yang melihat suaminya baru saja keluar dari kamar mandi.


"Tidur di sofa seperti biasa.", jawab Gus Aham. Aisyah terdiam mendengar jawaban suaminya.


"Kenapa?!.", tanya Gus Aham, yang mendekat pada ranjang istrinya. Aisyah menggeleng pelan sebagai jawaban. membuat suaminya paham, saat istrinya bersikap demikian itu berarti ada yang sedang di mau dan di sembunyikan Aisyah darinya.


"Tidurlah!.", ucap Gus Aham, yang membuat Aisyah berbaring. ia mengusap-usap rambut istrinya.


Aisyah hanya diam. Gus Aham sebenarnya tau apa keinginan istrinya, tapi sengaja ia membiarkan nya. menunggu istrinya sendiri yang mengatakan padanya, apa kemauan nya.


Aisyah nampak gelisah. ia tidak bisa memejamkan matanya, sekalipun Gus Aham mencoba menidurkan nya dengan mengusap puncak kepala nya.


"Kenapa?!.", tanya Gus Aham, yang melihat Aisyah tidak kunjung juga memejamkan mata. Aisyah tidak juga menjawab. ia malah mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya.


"Coba bilang sama, mas. kenapa?!.", tanya Gus Aham lagi. Aisyah meliriknya, kesal. ia tau suaminya sudah paham, tapi kenapa masih memintanya untuk mengatakan.


"Mau ditemenin.", gumamnya lirih. membuat Gus Aham mengerutkan keningnya, karena tidak jelas mendengar ucapan Aisyah.


"Apa?!. mas, ndak denger.", ucap Gus Aham.


"Mau ditemenin.", ucapnya lagi, lirih.


"Hm...?.", Gus Aham mengerutkan keningnya, karena suara Aisyah tidak terdengar jelas di telinganya.

__ADS_1


"Aach.., njenengan sebenarnya sudah dengar kan?!.", ucapnya. ia merengek manja karena Gus Aham berpura-pura.


"Loch. bener, mas ndak denger.", jawab Gus Aham.


"Nggak taulah.", ucap Aisyah. yang merasa sebal dengan kepura-puraan suaminya. ia menutup wajahnya dengan selimutnya. Gus Aham tertawa tanpa suara melihat istrinya jengkel.


"Loch. beneran, mas ndak tau.", ucap Gus Aham beberapa saat kemudian, saat ia berhasil meredam tawanya.


"Terserah deh.", ucap Aisyah dari balik selimut.


"Coba deh bilang sekali lagi. yang agak keras dan jelas.", ucap Gus Aham berusaha membujuk istrinya.


"Ndak mau. njenengan, selalu gitu.", jawabnya kesal.


"Nggak deh. beneran, mas dengerin baik-baik.", bujuknya lagi. tapi Aisyah tidak meresponnya. Gus Aham menarik selimut yang menutupi wajah istrinya.


"Ayo!. coba bilang sekali lagi. tapi, yang jelas dan agak keras ya?!. supaya, mas denger.", pinta Gus Aham. Aisyah terlihat menghirup nafas dalam di sana. wajahnya masih menunjukkan raut wajah sebal.


"Tidur nya, mau ditemenin.", ucap Aisyah. kali ini dengan suara sedikit keras.


"Apa?!.", tanya Gus Aham. ia berpura-pura tidak mendengar lagi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Iya, iya. mas, denger.", ucapnya. ia menarik selimut yang menutupi wajah Aisyah. tapi Aisyah, terlanjur sebal dan ia mencoba tetap bersembunyi di balik selimutnya.


"Ayo!, jangan marah lagi. mas, minta maaf.", bujuk Gus Aham.


"Njenengan, ngeselin.", ucapnya, ketika selimut yang menutupi wajahnya terbuka.


"Iya, iya. mas, minta maaf sayang.", ucapnya. tapi Aisyah malah menangis. membuat Gus Aham sedikit panik dan bingung.


"Kenapa?!. ada yang sakit?!.", tanya Gus Aham. yang melihat istrinya menangis sesenggukan. Aisyah menggeleng.


"Terus kenapa?!. coba bilang sama, mas.", tanya Gus Aham lagi.


"Saya, cuma minta di temenin. tapi, kenapa njenengan begitu?!. njenengan, sebenarnya sudah tau kan?!. tapi tetep saja, pura-pura ndak tau. ngerjain saya.", jawabnya, di sertai isakan dan sesenggukan tangisnya. membuat Gus Aham tersenyum, lalu mengusap puncak rambut Aisyah.


"Maaf. mas, cuma bercanda tadi.", ucapnya, berusaha menenangkan istrinya.

__ADS_1


"Masa' gitu aja, nangis?!.", sambung Gus Aham.


Entahlah, beberapa hari ini ia ingin selalu di perhatikan suaminya dan dekat dengan suaminya. mungkin faktor kehamilan.


"Yasudah. sini.", ucap Gus Aham. ia menggeser tubuh istrinya, agar ranjang itu muat untuknya dan sang istri. barulah setelah nya, Gus Aham ikut naik ke ranjang dan berbaring bersama istrinya.


Mereka saling berhadapan, sementara Gus Aham memeluk erat Aisyah. menyembunyikan wajah istrinya di dada bidang nya. yang mana, hal itu selalu berhasil membuat Aisyah merasa nyaman.


"Lain kali, jangan gitu. atau saya, ndak akan mau njenengan apa-apain.", ucapnya. ia masih saja menggerutu di pelukan suaminya. dan perkataannya itu, sukses membuat Gus Aham tersenyum.


"Apa-apain, gimana maksudnya?!.", tanya Gus Aham. ia ingin istrinya mengatakan lebih jelas.


"Tuh, kan!. njenengan, mulai lagi.", ucapnya kesal. ia memukul dada bidang suaminya beberapa kali, sebelum akhirnya membalikkan badannya dan melenguh kesakitan.


"Ah...", rintih Aisyah. yang membuat Gus Aham segera bangun.


"Kenapa, sayang?!.", tanyanya, panik. ia mendapati bercak darah di bagian pinggang baju Aisyah.


"Mas. akan panggil dokter sebentar. jangan bergerak, ya?!.", pintanya, seraya turun dari ranjang dan segera berlari keluar untuk mencari dokter atau perawat.


Tak lama kemudian. Gus Aham kembali dengan seorang dokter dan perawat yang sudah membawa alat serta antiseptik untuk membersihkan luka.


"Lukanya, sedikit terbuka. mungkin, tadi ibu Aisyah terlalu banyak bergerak.", ucap dokter itu, setelah memeriksa Aisyah. sementara ada seorang perawat yang sedang merawat luka istrinya dan memakaikan perban disana.


Gus Aham tidak terlalu konsentrasi dengan ucapan dokter. matanya, sibuk mengawasi istrinya yang sedang meringis kesakitan karena perawat membersihkan luka di pinggangnya.


"Untuk kasus Bu Aisyah, harus mendapatkan perawatan dan perhatian ekstra ya, pak?!.",


"Mengingat. ada janin yang tumbuh dalam rahimnya, sehingga memperlambat kesembuhan dari luka jahitan nya.",


"Karena, seiring berjalannya waktu. bayi akan semakin tumbuh besar, dan membutuhkan ruang. sehingga membuat perut ibu membesar. yang mana, hal itu membuat kulit menjadi elastis dan tertarik.",


"Dengan luka dan pertumbuhan janin, di waktu yang bersamaan. ini akan mempersulit dan memperlambat proses pengeringan luka jahitan tersebut.",


"Sebaik nya, usahakan agar luka itu cepat mengering dan sembuh. agar bayi dan sang ibu tidak mengalami masalah-masalah kehamilan lainnya.", ucap dokter. menjelaskan panjang lebar, yang di angguki oleh Gus Aham.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2