
"Alhamdulillah, le.", ucap Ummi, senang. penuh rasa syukur, melihat putranya sudah sadar.
Gus Aham melihat ibunya yang baru saja menghampiri di samping ranjang. Ummi terlihat begitu bahagia. saking bahagianya, Ummi sampai menitikkan air mata.
Ummi, ingat. bagaimana selama berhari-hari putranya tidak sadarkan diri, tidak merespon dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Lebih menyedihkan lagi, saat melihat Aisyah setia mendampingi suaminya. ia terus berusaha merangsang semua sensor motorik suaminya dengan suara dan sentuhan.
Aisyah tidak pernah lelah mengaji, mendengarkan sholawat di dekat telinga suaminya, sampai bercerita sambil terus mengusap, membelai wajah dan tangan Gus Aham.
Meskipun tidak ada respon atau balasan dari suaminya, Aisyah tetap sabar melakukannya. itulah, yang membuat semua hati orang yang melihatnya terenyuh dengan pengabdian seorang istri pada suaminya.
Ummi merangkup kedua pipi putranya, dan mengecup pipi itu bergantian sebelum akhirnya, berakhir dengan dekapan hangat seorang ibu.
Gus Aham yang masih lemah itu, hanya bisa membalas pelukan Ummi dengan tangannya yang lemah.
"Aisyah, mana Ummi?!.", tanya Gus Aham, setelah Ummi melepaskan pelukannya.
"Aisyah, belum bisa kesini, le. kata ibumu, dia kecapekan.", jawab Ummi.
Gus Aham menoleh keruangan sekitar. ia masih nampak bingung.
"Ini dimana, Ummi?!.", tanyanya.
"Di rumah sakit, le. kamu, sudah ndak sadar hampir lima hari.",
Sontak jawaban Ummi itu, mengingatkannya pada kejadian saat itu. saat ia berkendara di tengah hujan deras di sertai angin, hingga mobilnya di hentikan seseorang dan sampai pada saat ia di tusuk. ia ingat dengan jelas suara erangannya waktu itu.
Wajah Gus Aham yang berubah karena mengingat kejadian itu, membuat Ummi khawatir.
"Kenapa, le?!.", tanya Ummi, khawatir.
"Ummi, panggilin dokter dulu, ya?!.", sambungnya. lantas Ummi pergi meninggalkan Gus Aham sendiri di kamar.
Tiba-tiba Gus Aham menarik selimutnya. ia hendak turun dari ranjang. tapi tiba-tiba, badannya terhuyung-huyung. ia merasa lemah dan tak bertenaga.
Gus Aham hampir saja jatuh, jika Gus Ma'adz tidak datang tepat waktu dan menahannya.
Gus Ma'adz segera membantu adiknya untuk kembali ke ranjang. dan barulah dokter serta Ummi datang.
"Kenapa, Adz?!.", tanya Ummi, pada putra sulungnya. ia melihat Gus Ma'adz baru saja menyelimuti adiknya.
"Aham, tadi turun, mi. dia hampir jatuh.",
__ADS_1
"Ya Allah. dokter, tolong di periksa ya?!.", pinta Ummi. yang membuat dokter segera memeriksa keadaan Gus Aham lebih lanjut.
Gus Aham yang terbaring di brankar, hanya bisa menurut saat dokter memeriksa tubuhnya.
"Kondisinya cukup bagus. seperti nya transplantasi ginjal berhasil dan tidak ada tanda-tanda penolakan pada tubuhnya.",
"Hanya saja. kondisi pasien masih cukup lemah.",
"Untuk memastikan hasilnya, kami akan terus memantaunya.", ucap dokter itu, menjelaskan keadaan Gus Aham pada Ummi dan Gus Ma'adz setelah memeriksanya.
"Alhamdulillah.", ucap Gus Ma'adz dan Ummi bergantian, begitu mendengar penjelasan dari dokter.
Mereka merasa lega. karena, itu artinya Gus Aham baik-baik saja sekarang.
"Mas.", panggil Gus Aham. yang membuat Gus Ma'adz segera menghampirinya.
"Iya, le. kenapa?!.", tanyanya.
"Beritahu, Aisyah. aku baik-baik saja. aku, akan segera pulang nemui dia.", jawab Gus Aham, lemah.
"Iya.", jawab Gus Ma'adz, mengangguk. mengiyakan permintaan adiknya.
Sementara di ruangan lain. Aisyah, belum juga sadarkan diri.
"Bagaimana, dok?!.", tanya mas Raihan, begitu melihat dokter selesai memeriksa adiknya.
"Kami, belum menemukan apa yang menjadi penyebab adik anda belum sadarkan diri.",
"Seharusnya, jika tidak ada komplikasi ataupun masalah lain. dia, sudah sadarkan diri. tapi, ini aneh.", ucap dokter.
Mas Raihan, menoleh melihat adiknya. dokter itu, pergi berlalu begitu saja.
Mas Raihan menghela nafas dalam. ia mendekati brankar tempat adiknya terbaring. ini sudah hari kedua dari operasi. Gus Aham saja, sudah sadar dari kemarin. tapi Aisyah?!...,
Ia mendekatkan wajahnya pada wajah adiknya. lalu, berbisik.
"Sya. ayo, bangun!.",
"Bukannya, kamu berjanji akan baik-baik saja?!. selama Gus Aham, baik-baik saja.",
"Gus Aham, sudah sadar, sya.",
"Kondisinya, juga baik-baik saja.",
__ADS_1
"Dia, terus nyari kamu.",
"Terus nanyain, kamu. berapa lama lagi, mas harus bohong?!.", bisiknya. ia mengharap adiknya mendengar, dan segera membuka matanya.
Mba Mira mengetuk pintu sebelum akhirnya masuk. melihat kondisi suaminya yang kelelahan akhir-akhir ini. membuatnya terlihat khawatir.
"Mas. makan dulu, ya?!. bareng sama aku.", ucapnya, berjalan ke arah sofa. dan meletakan makanan rumahan yang ia bawa di meja setelah menutup pintu.
"Kenapa kesini?!. siapa yang jaga, Michael?!.", tanyanya. ia mengkhawatirkan putra keduanya yang baru lahir dan berumur sebulan lebih.
"Justru karena Michael sama Abel, aku kesini.", jawabnya. membuat mas Raihan terdiam, lalu memeluk istrinya erat.
Ya, sejak merawat dan menemani Aisyah di rumah sakit. waktunya untuk bersama sang istri dan kedua anaknya, nyaris hilang.
Terdengar isakan dari pelukannya. ya, mba Mira menangis. bukan, sedih karena di abaikan untuk merawat adik iparnya. tapi sedih karena, melihat adik iparnya yang tidak kunjung sadar. sehingga, membuat suaminya tidak mengurus diri dengan baik.
"Maaf, ya. mas, ngabai in kamu sama anak-anak, akhir-akhir ini.", ucapnya. membuat mba Mira melepaskan pelukannya.
"Aku, ndak masalah. mas, mau terus jaga Aisyah. aku ndak apa-apa.",
"Aku, cuma sedih lihat keadaan sampean. kenapa jadi kelihatan tirus begini?!. mas, jadi kelihatan kurus.", ucapnya. ia mengusap pipi mas Raihan lembut.
Mas Raihan, menahan tangan mba Mira di sisinya. ia merasa hangat dan nyaman. mba Mira, yang paham segera menuntun dan mengajak suaminya duduk.
Begitu duduk. mas Raihan, merebahkan tubuhnya di sofa dengan paha mba Mira sebagai bantalan.
"Boleh, mas tidur sebentar?!.", tanyanya. yang membuat mba Mira menganguk, dan segera mengusap-usap rambut mas Raihan, agar ia bisa segera tidur.
Mba Mira paham. suaminya, pasti kurang istirahat akhir-akhir ini. ia pasti lebih sering terjaga untuk memantau keadaan adiknya.
Mas Raihan tidak mau pergi dari sisi adiknya. terlebih, ibu harus fokus pada urusan panti. sehingga, ibu hanya akan datang di pagi hari, untuk membawakan makanan dan baju ganti untuk mas Raihan.
Bila memungkinkan, ibu akan tinggal sejenak untuk menggantikan mas Raihan berjaga di rumah sakit. sehingga mas Raihan bisa pulang sebentar, untuk melihat istri dan kedua anaknya.
Mba Mira menatap adik iparnya yang masih terbaring di brankar. tidak ada yang berubah sejak operasi dua hari yang lalu.
Dokter bilang kondisinya baik-baik saja. tidak di temukan komplikasi ataupun masalah lain pasca operasi. tapi kenapa adiknya belum juga sadar?.
Perlahan, ia menggeser kepala mas Raihan yang sudah terlelap. lalu berjalan, menghampiri adik iparnya.
"Bangunlah!. semua menunggumu, terutama suamimu. dia selamat sekarang.", bisiknya. hingga membuat Aisyah menggerakkan jarinya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺