Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 27


__ADS_3

Kehamilan Aisyah sudah menginjak bulan ketiga, sebentar lagi akan diadakan acara tiga bulanan. entah kenapa?!, akhir-akhir ini ia merasakan perubahan pada sikap suaminya. Gus Aham sering keluar kota. Yach, walaupun tidak menginap dan masih sering menyuapi Aisyah, tapi Gus Aham sudah jarang memperhatikannya.


"Sudah sampai, Gus?.", tanya Aisyah begitu melihat suaminya turun dari mobil. Gus Aham hanya menjawab dengan anggukan.


Aisyah buru-buru mencium tangan suaminya, ia begitu senang suaminya pulang cepat. ia mengikuti suaminya masuk ke dalam rumah bertemu Abah dan Ummi lalu masuk ke kamar.


"Saya siapkan air mandinya dulu nggeh, Gus.", ucapnya sambil memberikan segelas air putih pada suaminya.


Entah kenapa?, akhir-akhir ini suaminya jarang mengajaknya berbicara. mungkinkah lelah?!, atau banyak fikiran dan banyak pekerjaan yang harus di kerjakan nya?.


Aisyah tidak ingin berfikir macam-macam, ia memilih berfikir dengan akal sehatnya.


"Aisyah.", panggil Gus Aham.


Aisyah yang sedang menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu, menoleh dan segera menghampirinya.


"Injih, Gus.",


"Mulai hari ini, pakai ponsel ini.", ucapnya sambil menaruh ponsel baru di meja.


"Semua nomer sudah aku salin.", sambungnya.


"Tapi kan, saya sudah ada ponsel, Gus.", jawabnya.


"Ponsel lama, aku yang pegang.",


"Nomernya?.",


"Nomernya aku pakai. kamu pakai nomer yang baru.",


"Tapi, Gus....


"Aku butuh istri yang penurut.", ucapnya penuh penekanan. yang mana membuat Aisyah terdiam seketika.


"Injih.", jawabnya pelan. lalu undur diri menyiapkan air mandi untuk suaminya.

__ADS_1


Perlahan air mata Aisyah menetes saat ia mempersiapkan air untuk Gus Aham, sambil terus berfikir dan mengoreksi diri tentang kesalahannya. ia sama sekali tidak tahu, apa salahnya?. pernah ia ingin bertanya, tapi takut memicu amarah suaminya. jadilah ia hanya menerka-nerka dan berusaha lebih lembut dan sabar menghadapi suaminya.


"Sudah siap, Gus.", ucapnya. ketika baru saja keluar dari kamar mandi. Gus Aham berdiri dan berjalan memasuki kamar mandi.


Aisyah membersihkan tempat tidur dan menyiapkannya. setelah selesai, ia keluar kamar dan mengambilkan makanan serta teh hangat untuk suaminya.


Tak berapa lama, Gus Aham keluar dari kamar mandi. ia segera mengambil pakaian dan menggantinya.


"Maemnya, Gus.", ucap Aisyah begitu suaminya selesai berganti baju. Gus Aham melemparkan handuk ke ranjang, yang segera di ambil Aisyah untuk digantung agar kering.


Gus Aham hendak menyuapkan sesendok ke mulutnya, tapi terhenti sebelum ia membuka mulutnya.


"Sudah makan?.",tanyanya pada Aisyah.


"Sudah.", jawabnya seraya mengangguk.


"Masih muntah?.", Aisyah terdiam mendengar pertanyaan Gus Aham berikutnya. dengan ragu ia mengangguk, takut suaminya kecewa. mengingat sikap Gus Aham akhir-akhir ini berubah-ubah dan tidak menentu.


Terkadang ia begitu hangat, tapi tidak lama kemudian ia bersikap dingin dan tidak mau tau.


Gus Aham menyuapinya, lalu menyuapi dirinya sendiri secara bergantian dengan Aisyah.


"Gus, kalau saya ada salah. saya minta maaf, dan tolong beritahu saya, supaya saya tidak melakukan kesalahan yang sama.", ucap Aisyah.


Gus Aham berhenti menyuapi, ia menghela nafas dalam.


"Jadilah istri yang baik, penurut. jangan melakukan hal-hal yang tidak pantas.", ucapnya. Aisyah sebenarnya tidak mengerti maksud dari perkataan suaminya, tapi untuk menyenangkan hati Gus Aham, ia pun mengangguk dan menjawab. "Injih, Gus.",.


Gus Aham mendekatkan gelas berisi air putih ke bibir Aisyah yang langsung diminum oleh istrinya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Tidurlah.", perintah Gus Aham begitu selesai makan bersama istrinya.


"Gus. bisakah njenengan tidur dengan saya, malam ini?.", tanya Aisyah. ia berharap suaminya mau menemaninya tidur malam ini. mengingat beberapa hari belakangan ini ia sering tertidur sendiri di ranjang sedang Gus Aham tidur di sofa.

__ADS_1


Dan saat Aisyah bertanya, Gus Aham selalu beralasan bahwa, ia tertidur karena mengerjakan pekerjaannya.


Wajah Aisyah terlihat jelas sedang berharap, Gus Aham pun akhirnya mengiyakan permintaan istrinya.


Mereka segera naik ke ranjang. Aisyah memeluk suaminya dan menjadikan dada suaminya sebagai bantalan kepalanya. ia benar-benar merasa nyaman dan tenang. tak berapa lama kemudian Aisyah tertidur.


Setelah dirasa bahwa istrinya sudah benar-benar terlelap, Gus Aham segera memindahkan kepala istrinya ke bantal. ia membenarkan selimut istrinya, mengecup kening Aisyah lalu segera turun dari ranjang.


Gus Aham beralih ke sofa, lalu membuka laptopnya. pikirannya benar-benar kalut, kacau dan diselimuti rasa khawatir yang besar. apalagi saat ia mulai membaca lagi notif pesan via WhatsApp yang masuk ke ponselnya beberapa jam yang lalu.


Ia memandangi Aisyah yang sudah terlelap di ranjang dari sofa kamarnya. diam-diam ia merasa takut kehilangan. Gus Aham mengusap wajahnya kasar, menunggu info selanjutnya dari orang kepercayaannya.


Sebuah notif WhatsApp masuk ke ponselnya. Gus Aham segera membukanya.


"Ternyata benar, Gus. kang Mu'idz pernah menyukai Ning Aisyah, itu sebabnya juga sampai sekarang ia belum menyetujui jodoh yang di carikan Ummi untuk nya"


Gus Aham melemparkan ponselnya ke meja. ia tidak tahu harus berbuat apa?, dan benarkah bayi di perut istrinya bukan anaknya?!. keraguan mulai muncul dan merasuki pikirannya.


"Aku hanya melakukannya pada malam itu, setelah itu kami tidak pernah melakukan hubungan badan lagi. apa iya?!, hanya melakukan pada malam itu, lantas ia bisa hamil?.", pikirnya.


Gus Aham benar-benar gusar. ditambah lagi dengan semua kiriman screenshot yang dikatakan oleh peneror itu, bahwa itu adalah bukti chat nya dengan Aisyah. dan nomer yang tidak di kenal itu, terus menerornya dengan mengatakan akan mengambil Aisyah dan anaknya. sebab itulah Gus Aham mengganti ponsel Aisyah dengan ponsel dan nomer yang baru saja di belinya.


Gus Aham juga memasang penyadap di ponsel baru Aisyah. ia ingin tau, dengan siapa saja aisyah berhubungan dan berkomunikasi. ia perlu mengumpulkan semua bukti untuk mengetahui semua ini benar atau hanya rekayasa?!.


Gus Aham berjalan ke balkon kamarnya, menikmati udara malam untuk menenangkan fikirannya. baru kali ini, ia benar-benar merasa takut kehilangan.


Sebuah notif WhatsApp masuk lagi ke ponselnya, yang segera di buka dan di baca oleh Gus Aham.


" Ternyata Gus Irfan dan Ning Aisyah pernah saling mengagumi, Gus. Gus Irfan mengangumi Ning Aisyah karena kelembutannya dan bisa meraih hati Ummi, sedang Ning Aisyah mengagumi Gus Irfan, karena merupakan santri paling di sayang oleh kyai Rembang.",


Gus Aham terdiam begitu selesai membaca pesan itu. pantas kalau Aisyah menyukai dan mengagumi kakaknya, memang Gus Irfan adalah anak yang berbakat dan berbakti. semua permintaan dan perintah Abah serta Ummi, pasti akan di penuhi oleh Gus Irfan. tidak ada kata tidak untuk kedua orangtuanya. sedangkan, ia?!, apalah ia bila di bandingkan dengan kakak keduanya ini.


Jadi penyelidikan tentang siapa peneror itu mengacu pada kang Mu'idz dan Gus Irfan untuk sementara ini , sesuai dengan keterangan dari para mata-mata dan orang kepercayaannya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2