
Kondisi Aisyah di nyatakan semakin membaik dan perlahan sembuh dari infeksi rahim yang sempat membuatnya jatuh sakit dan demam.
Operasi mata pun sudah di tentukan waktunya, dua hari lagi tepatnya. tapi itu malah membuatnya tidak tenang dan sedikit uring-uringan saat Gus Aham membahas tentang operasi mata.
"Kenapa?.", tanya Gus Aham yang tidak mengerti dengan istrinya beberapa hari ini.
"Ini terlalu asin.", jawabnya. saat Gus Aham tidak melihatnya makan dengan baik.
"Baiklah. kalau begitu mau makan apa?, biar mas carikan.", tanyanya.
"Tidak mau makan apa-apa.",
Gus Aham menghela nafas dalam, tapi berusaha tidak terdengar saat ia mendengus agar tidak menyinggung perasaan istrinya.
"Bagaimana dengan jus?.", ia menawarkan sesuatu yang segar, yang mungkin saja bisa menarik nafsu istrinya untuk makan.
"Beli saja yang sudah kemasan.", jawabnya.
"Mas, akan membuatnya. jus kemasan tidak terlalu baik bila di konsumsi terlalu sering.",
"Saya, baru dua hari yang lalu minum jus kemasan. dan njenengan sudah bilang tidak baik?!. sepertinya, njenengan memang tidak suka apa yang saya suka.",
"Bukan begitu, sayang. itu karena, mas peduli dengan kesehatanmu.",
"Tidak perlu banyak alasan. saya, akan pergi membelinya sendiri.",
Aisyah beranjak berdiri dari tempat duduknya. Gus Aham menahannya ketika ia hendak melangkah.
"Mas, akan belikan.", ucapnya pelan. meraih lengan istrinya agar berhenti dan tetap di tempatnya.
"Saya, bisa sendiri. meskipun saya buta, saya tidak akan merepotkan njenengan.", ucapnya.
Ia akhirnya paham, kenapa istrinya bersikap seperti itu?!. masalah operasi rupanya. Gus Aham hanya menghela nafas di sana, ia berusaha sesabar mungkin menghadapi istrinya.
Dua hari kemudian.....
Hari ini operasi akan di laksanakan. Aisyah sudah berbaring di brankar rumah sakit dengan infus di tangannya. ia terlihat gelisah sebelum memasuki ruang operasi. beberapa kali Gus Aham mendengarnya menghela nafas panjang. tapi ia berusaha menenangkan dengan mengusap kening istrinya.
"permisi, tuan. kami harus membawa ibu Aisyah.", ucap salah seorang perawat yang datang dengan beberapa temannya, bermaksud membawa Aisyah ke ruang operasi. Gus Aham mengangguk, mempersilahkan mereka.
Sementara Aisyah menjalani operasi, Gus Aham menunggu di luar. tidak ada doa dan harapan lain yang terucap, kecuali untuk keberhasilan operasi yang sedang berlangsung saat ini.
__ADS_1
Dokter bilang, operasi transplantasi kornea berjalan sekitar satu sampai dua jam. tergantung berapa banyak jumlah kornea mata yang rusak dan perlu di ganti.
Kornea itu di dapat dari orang yang meninggal, yang sudah berwasiat untuk mendonorkan kornea mata nya. proses pengambilan kornea mata sendiri di lakukan, saat si pendonor sudah dinyatakan benar-benar meninggal. nantinya, kornea itu akan di simpan dalam tempat yang sudah berisi cairan khusus agar tahan setidaknya sampai empat belas hari.
Sudah lebih dari satu jam, Aisyah berada di ruangan itu. Gus Aham mulai nampak cemas. terlihat kedua tangannya yang menyatu hingga membentuk kepalan tangan. mencoba meredam rasa khawatir di hatinya.
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka. ia segera berdiri melihat keadaan istrinya yang masih tertidur efek suntikan anestesi.
Perawat mendorong brankar yang di tiduri Aisyah ke ruang perawatan. sementara Gus Aham menunggu dokter keluar dari ruangan tempat operasi. menunggu penjelasan.
"Operasi berjalan lancar.", ucap dokter saraf mata yang sudah berdiri di depannya sambil melepas masker medis nya. Gus Aham terlihat senang.
"Kita bisa melepas perbannya Minggu depan.",
"Terimakasih, Dok.",
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Ummi, boleh nyusul?.", tanya suara di seberang, yang sudah sangat merindukan anak dan menantunya.
"Ndak usah, Ummi. begitu selesai, Aham dan Aisyah akan segera pulang.", jawab Gus Aham.
"Janji ya, le?!. Ummi, wes kangen sama kamu, sama Aisyah. apalagi Dija sama Shofy, tiap hari nanyain buleknnya.", Gus Aham tersenyum mendengar cerita Ummi, tentang rewelnya dua keponakannya yang memang sangat dekat dengan istrinya.
"Amin...", sahut Ummi.
"Yowes, le. Ummi, ada tamu. sambung nanti lagi, ya?!.",
"Injih, Ummi. assalamualaikum.",
"Wassalamu'alaikum salam.",
Panggilan berakhir. Gus Aham menghampiri Aisyah yang masih terbaring di brankar rumah sakit. kedua matanya tertutup perban dengan sempurna.
"Ummi, yang barusan telfon?.", tanyanya. membuat Gus Aham tau, bahwa istrinya sudah bangun sedari tadi.
"Iya, sayang. baru bangun, apa yang dirasa?!. ada yang nggak nyaman?.", tanyanya. Aisyah hanya menggeleng.
"Kapan bisa keluar rumah sakit?.",
"Tunggu pemeriksaan dokter selanjutnya, sayang.",
__ADS_1
"Saya, pengen segera keluar dari rumah sakit. udah ndak tahan sama bau obat.",
"Iya. nanti, ya?!.", ucapnya mencoba memberi pengertian pada Aisyah.
Pada akhirnya, setelah melalui proses pemeriksaan yang panjang. Aisyah di izinkan untuk pulang hari itu juga. tapi masih harus tinggal di hotel, sambil menunggu waktu untuk membuka perban dan melihat hasil operasi transplantasi kornea itu, apakah ada penolakan atau tidak.
Gus Aham segera menggendong Aisyah begitu sampai di depan hotel tempat mereka menginap. ia merasa canggung, sebenarnya. tapi, ia sedang malas berdebat dengan suaminya. jadilah, ia menurut saja ketika Gus Aham menggendongnya memasuki hotel, hingga menjadi pusat perhatian banyak pengunjung.
Gus Aham menurunkan Aisyah di ranjang begitu sampai di kamar mereka.
"Mau makan siang, sayang?!.", Aisyah menggeleng.
"Tapi, kamu harus minum obat, lo.", ucapnya lagi berusaha membujuk istrinya.
"Ada beberapa vitamin mata yang harus diminum, untuk pemulihan kornea nya.", lanjutnya.
"Njenengan, saja yang minum.",
Gus Aham tiba-tiba mengecup bib*r Aisyah. ia sedikit merasa kesal dan jengkel dengan jawaban istrinya. Aisyah terkejut.
"Apa yang njenengan lakukan?.", tanyanya sambil mendorong dada suaminya.
"Mencium istri. dan itu bukan perbuatan dosa.", jawabnya santai. membuat Aisyah semakin jengkel.
"Ayo, makan!. kalau tidak mau, nanti mas cium lagi.", ancamnya.
Akhirnya, Aisyah setuju untuk makan dan meminum obatnya. itupun dengan ancaman akan dicium setiap mengeluh kenyang.
Membuat Gus Aham tersenyum puas karena istrinya menurut untuk makan dan minum obat.
Seminggu berlalu....
Aisyah dan Gus Aham kembali mengunjungi rumah sakit. untuk pembukaan perban dan memeriksa apakah hasil operasi berhasil atau tidak. ada reaksi penolakan atau tidak pada kornea barunya.
Aisyah cukup tegang menanti hasilnya. ia hanya berharap, semoga tidak ada masalah, sehingga tidak perlu terus datang ke rumah sakit.
Ia lebih menyukai suasana pondok yang riuh ramai dengan suara lalaran (menghafal nadhoman ilmu nahwu, seperti Jurumiyah, Imriti dan ilmu Mantek seperti Alfiyah ibni Malik dengan di sertai tabuan dari timba, gagang sapu dan tamborin atau yang biasa disebut kecrek oleh para santri).
Aisyah dengan di gendong Gus Aham, berjalan memasuki ruang dokter Eric. ia menidurkan Aisyah di brankar, untuk diperiksa.
Beberapa saat dokter Eric mensterilkan tangannya sebelum membuka perban yang melingkar di kepala hingga menutupi matanya.
__ADS_1
🌺 🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺