
Gus Aham bernafas lega saat mendengar penjelasan dokter tentang hasil CT scan dan Rontgen yang di lakukan pada pinggul dan rahim Aisyah.
Hanya infeksi kecil yang menyebabkannya demam. konsumsi antibiotik sesuai resep dokter akan membantu menyembuhkan infeksinya lagi. dan hasil pemeriksaan radang pinggul di nyatakan aman.
Istrinya belum sadar. mungkin karena lemah dan dehidrasi. Gus Aham tau, beberapa hari ini istrinya tidak makan, minum dan istirahat dengan baik. ditambah dengan tekanan yang mengharuskan ia rujuk dengan Gus Aham. pastilah membuat istrinya stress luar biasa.
Karena Aisyah sedang berada di rumah sakit. maka selain untuk pemulihan, Gus Aham juga meminta pada dokter spesialis saraf mata untuk memeriksa lebih lanjut keadaan mata sang istri.
Ia berharap, saat kondisi istrinya stabil. operasi mata itu bisa segera di lakukan.
Ponselnya berbunyi, terlihat nama Ummi di sana.
"Assalamualaikum.", ucapnya lebih dulu, menyapa ibunya.
"Waalaikum salam.", jawab Ummi.
"Le, kok ndak telfon dari tadi pagi?!. Ummi, nungguin e. gimana hasil pemeriksaannya?!.", tanya Ummi yang sudah menunggu telfon dari Gus Aham sejak ia dan Aisyah pamit pergi ke Surabaya.
"Aisyah. sakit, mi. Aham, jadi lupa mau telfon.", jawabnya.
"Loh, sakit apa, le?.", Ummi terdengar sedikit panik di sana.
"Rahimnya infeksi setelah kuret. Ummi, do'ain Aisyah, ya?!. Ummi, jangan panik. Ummi harus tenang!. ini sekarang, kita ada di rumah sakit. Aisyah, sudah dapat pertolongan. keadaannya semakin stabil dan membaik. nanti, begitu semua stabil, operasi mata juga akan segera di lakukan. Ummi, bantu do'a saja, ya?!.", ucap Gus Aham. menjelaskan panjang lebar agar ibunya tidak panik. mengingat setelah kejadian kemarin, Ummi lebih mudah kaget jika itu menyangkut Aisyah.
"Yaudah. kalau ada apa-apa, kabarin Ummi langsung ya, le?!.",
"Injih, Ummi. assalamualaikum.", ucap Gus Aham memutuskan panggilan Ummi.
Ia menatap Aisyah yang terbaring di ranjang rumah sakit. belum ada tanda-tanda ia akan bangun. tapi saat Gus Aham hendak melepaskan tangannya dari tangan Aisyah, tangan itu bergerak perlahan.
Ia menunggu reaksi berikutnya dari Aisyah. Aisyah membuka kedua matanya perlahan, Gus Aham terlihat tersenyum bahagia. ia segera memencet tombol nurse call, agar dokter dan perawat segera datang ke ruangan untuk memeriksa keadaan istrinya.
"Apa yang tidak nyaman, sayang?!.", tanyanya pada Aisyah yang masih terlihat lemas.
"Ini dimana?.", tanyanya karena mencium aroma alcohol dan obat.
__ADS_1
"Kita, dirumah sakit. dari sore, kamu demam sampai ndak sadar.", ucapnya menceritakan pada Aisyah, sambil mengusap-usap kening istrinya.
"Sekarang jam berapa?.", tanyanya lagi, suaranya masih terdengar lemah.
"Hampir tengah malam.", jawabnya. Aisyah diam.
Beberapa perawat dan seorang dokter masuk keruangan tempat Aisyah di rawat untuk memeriksa kondisi Aisyah.
"Kondisinya semakin membaik, pak. demamnya juga sudah turun. besok pagi, setelah sarapan jangan lupa beri obat antibiotik. setelah itu kita lihat lagi nanti perkembangannya.", ucap dokter itu, menjelaskan tentang kondisi Aisyah yang mulai membaik.
"Kami, permisi dulu.", ucap dokter itu setelah melihat perawat menyelesaikan tugasnya untuk mencatat semua perkembangan dan kondisi Aisyah terkini.
"Terimakasih.", ucap Gus Aham yang di jawab anggukan oleh dokter itu dan segera keluar dari kamar rawat Aisyah. ia sedikit merasa lega dengan hasil pemeriksaan Aisyah barusan.
"Mau makan, sayang?!.", tanyanya begitu pintu di tutup oleh perawat. Aisyah menggeleng.
"Haus?.", tanyanya lagi. dan Aisyah mengangguk yang membuat Gus Aham dengan sigap menuang sebotol air ke dalam gelas. ia pun membantu Aisyah untuk minum.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ya. Aisyah mengeluh badannya gerah, dan ingin mandi. sedang kondisinya masih lemah, tidak memungkinkannya untuk terkena air dingin. jadilah ia pergi keluar kamar untuk mencari air panas.
"Mike. bisakah mengantarkan baju ke kamar rawat istriku?. taruh saja di luar, nanti aku akan mengambilnya.", pesan itu segera terkirim pada sahabatnya.
Ya. rumah sakit tempat Aisyah di rawat, tetaplah rumah sakit di mana Mike dan Sintya bekerja. rumah sakit Siloam, Surabaya.
"Ok. Sintya, yang akan membelikannya.", Gus Aham mendapatkan pesan balasan dari Mike dan segera membacanya. ia merasa lega dan segera kembali ke kamar perawatan istrinya saat sudah mendapatkan air panas untuk Aisyah.
Gus Aham sudah menyiapkan se ember air hangat untuk menyeka tubuh Aisyah. ketika Gus Aham hendak membuka baju Aisyah, ia menahannya.
"Mau apa, njenengan?.", tanyanya.
"Katanya, mau mandi. jadi, mas bantu.", jawab Gus Aham.
"Tidak usah. saya, bisa sendiri.", ucapnya. membuat Gus Aham menarik tangannya dan tersenyum melihat istrinya yang masih keras kepala bahkan di saat sakit seperti ini.
__ADS_1
"Mana kamar mandinya?.", tanyanya. hendak turun dari ranjang.
"Sayang. kondisi kamu masih lemah, belum boleh kemana-mana. coba menurut sedikit saja!. kamu, masih dalam perawatan karena infeksi.", ucapnya lembut, mencoba memberi pengertian pada istrinya.
"Infeksi apa?.", tanyanya.
"Infeksi rahim. bila sampai fatal, maka harus di operasi. dan itu bisa membuat kamu sulit punya anak.", jawab Gus Aham, ia tidak bermaksud menakut-nakuti istrinya. hanya saja, ia tidak ingin Aisyah sembrono dan gegabah sehingga melukai dirinya lagi.
"Operasi apa?.", tanyanya.
"Entah operasi apa?!, tapi itu berhubungan dengan rahim.", jawab Gus Aham asal.
Tiba-tiba terdengar isakan tangis dari Aisyah. Gus Aham mendekatinya.
"Kenapa?.", tanyanya. melihat wajah istrinya yang menunduk.
"Saya, ndak mau operasi. saya, masih ingin punya anak.", jawabnya. membuat Gus Aham memeluk istrinya. Lagi-lagi ia membuat istrinya menangis.
"Sudah. ndak apa,sayang. yang penting!. kamu harus jaga kesehatan, makan dan minum obat yang teratur dan nurut.", ucapnya menenangkan hati istrinya. Aisyah mengangguk mendengarnya.
"Yasudah. sekarang, belum boleh mandi. jadi di seka saja, ya?!.", ucap Gus Aham, yang di jawab dengan anggukan pelan oleh Aisyah.
"Tapi, njenengan jangan ngapa-ngapain saya, ya?!.", ucapnya polos. Gus Aham ingin tertawa mendengar ucapan istrinya, tapi ia berusaha menahan agar tidak terdengar oleh istrinya yang akan membuatnya semakin malu.
"Masa'?!. mas, tega mau ngapa-ngapain sayangku yang lagi sakit?!.", ucapnya beberapa saat setelah berhasil meredam tawa dan senyumnya.
"Saya, mana tau pikiran, njenengan?!. apalagi saya, kan ndak bisa lihat.", jawab Aisyah mengerucutkan bibirnya.
"Tapi, sayangku bisa ngerasain, kan?.", goda Gus Aham.
"Pokoknya, saya ndak mau kalau harus di apa-apain. sudah, saya mandi sendiri aja.", ucapnya sebal dan ia harus menahan malu.
Lagi-lagi Gus Aham tersenyum melihat reaksi istrinya, wajahnya memerah ntah karena malu atau karena marah?!. tapi ia bahagia, bisa melihat ekspresi lain dari istrinya hari ini, setelah pernikahan kedua mereka.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺