
Selesai berjamaah, Gus Aham tidak lupa mengajak Aisyah untuk berdzikir dan berdoa sebentar. ia mengecup punggung tangan suaminya, dan seperti biasa Gus Aham mengecup kening istrinya dan berdoa sesaat. selesainya ia merangkup wajah istrinya lalu mengecup kening, hidung dan bibirnya.
Aisyah melipat mukenanya, kemudian membereskan sajadah nya dan milik suaminya. ia meletakkan itu, di meja dekat Qur'an setelahnya.
Aisyah beranjak naik ke ranjang. ia menata bantal nya agar nyaman untuk tidur. tak berapa lama kemudian Gus Aham menyusul naik.
Gus Aham yang melihat istrinya masih mengecek buku hasil rapat dengan Ummi dan Ning Nafis pun, menunggu istrinya selesai dengan mengecek ponselnya.
Ia mengecek email dan pesan, memastikan tidak ada yang terlewat. cukup lama ia menunggu Aisyah menyelesaikan tugasnya, hingga bosan dengan ponselnya.
Gus Aham mematikan ponselnya, lalu menaruhnya di meja samping ranjang. ia menoleh pada istrinya dan mendekat.
"Belum selesai?!.", tanya Gus Aham yang terlihat mencondongkan badannya pada Aisyah.
"Sebentar lagi.", jawabnya tanpa melihat suaminya. ntah lah, ia sedang sibuk menulis apa?.
"Mas, ngantuk.", ucap Gus Aham lagi.
"Njenengan, tidur dulu nggeh?.", pintanya.
Gus Aham menyandarkan kepala dan tubuhnya pada Aisyah, ia ingin di manja.
"Lanjutkan besok saja.", pinta Gus Aham.
"Njenengan, tidur saja dulu.", ucap Aisyah.
"Tapi, mas ndak bisa tidur kalau lampunya nyala.", ucap Gus Aham, yang membuat Aisyah berdiri dan menekan saklar lampu.
Kemudian Aisyah menyalakan lampu tidur, dan segera naik ke ranjang.
"Sudah kan?!. kalau begitu, njenengan cepat tidur.", ucap Aisyah pada suaminya.
Secara tiba-tiba Gus Aham menyahut buku yang ada di tangan istrinya, lalu meletakkan di meja.
__ADS_1
"Kenapa?. kan, lampunya sudah di matiin, mas?!.", protes Aisyah dengan kelakuan suaminya.
"Menulis atau membaca buku dengan penerangan cahaya yang kurang, bisa merusak mata, sayang. apalagi kan?!, kamu baru selesai operasi tidak lama ini.", jawabnya. membuat Aisyah bersungut.
"Ayo, tidur. sudah malam.", ajak Gus Aham. Aisyah mendengus.
"Saya, itu. belum capek dan ngantuk, mas. makanya, mau nyusun jadwal dulu. besok apa yang harus di kerjain?!, dan harus kemana dulu?!.", ucap Aisyah mencoba memberi pengertian suaminya.
"Belum capek ya?!.", ucap Gus Aham. ia nampak memikirkan sesuatu. membuat Aisyah menatapnya penuh kecurigaan.
"Kalau gitu, ayo!. mas, bikin capek.", ucap Gus Aham. ia langsung beraksi meraup tubuh istrinya dan segera melum*t bibir merah tipis milik Aisyah itu. Aisyah tidak sempat mengelak atau menghindar, pada akhirnya ia hanya bisa menuruti kemauan suaminya.
Pergumulan itu, baru saja selesai setengah jam yang lalu. dan cukup membuat istrinya kelelahan. tapi, saat Aisyah beranjak hendak turun dari ranjang, Gus Aham menariknya lagi. membuatnya terjatuh di ranjang dan menimpa suaminya.
Tanpa kata lagi, Gus Aham memberikan nafkah batin lagi pada Aisyah. haich... malam terasa panjang, bagi mereka. Gus Aham dan Aisyah menikmati waktu-waktu itu.
Aisyah berbaring membelakangi suaminya, ia merasa sangat lelah. mau mandi, tapi tenaga yang tersisa belum sepenuhnya terkumpul. jadilah, ia hanya berbaring dan menutupi tubuhnya.
"Mau mandi?.", tanya Gus Aham, yang memeluknya dari belakang. Aisyah mengangguk sebagai jawaban.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Mas, harus ke Surabaya hari ini.", ucap Gus Aham setelah mengecup kening, hidung dan bibir istrinya. Aisyah terdiam.
Gus Aham tidak mengatakan itu semalam. kenapa begitu mendadak?!, pikirnya. ia sedikit merasa sedih dan kecewa dengan perkataan suaminya barusan.
Ntah kenapa?. apa karena hubungan mereka yang semakin membaik?!, ntah karena beberapa minggu ini, terbiasa di temani suaminya atau karena ia tidak ingin jauh. yang jelas, saat mendengar Gus Aham berkata demikian, ia hanya terdiam.
"Mau ikut?!.", tanya Gus Aham. Aisyah nampak berpikir sejenak.
Jika ia ikut. lalu, kapan waktu untuk memulai menjalankan amanah Ummi, untuk mempersiapkan acara wisuda itu?!. akan banyak waktu yang terbuang, pikirnya.
"Njenengan, ndak bantu di diniyah dulu?.", tanya Aisyah. ia hendak menjawab pertanyaan dari suaminya, sebelum akhirnya mendengar sebuah ketukan di pintu kamarnya.
__ADS_1
Gus Aham beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu, sementara Aisyah melepas mukena dan melipatnya.
Tak banyak yang di dengar dan di ketahui oleh Aisyah, dengan siapa suaminya berbicara. begitu Aisyah beranjak berdiri, terdengar suara pintu kamar di tutup, dan Gus Aham kembali menemuinya.
"Sinten, mas?!.", tanya Aisyah. ia berdiri dan meletakkan mukena serta sajadahnya di meja. lalu duduk di meja rias untuk mengeringkan rambutnya sebelum pergi ke pondok, membantu Ummi menyimak hafalan para santri.
Gus Aham mendekatinya. ia membantu Aisyah mengeringkan rambut istrinya dengan handuk.
"Kamu, nggak mau di tinggal?!.", tanya Gus Aham tiba-tiba. membuat Aisyah terdiam dan salah tingkah. Gus Aham menurunkan handuk yang di pakai untuk mengeringkan rambut Aisyah.
"Terkabul.", ucap Gus Aham beberapa saat setelah ia menyandarkan dagunya di pundak istrinya. Aisyah masih belum mengerti apa maksud suaminya.
"Barusan, mba ndalem datang. katanya, di minta Gus Ma'adz kesini. pesan, mas suruh gantiin ngajar kitab "Khusnul hamidiyah", di kelas Aliyah. mas, lagi pusing. katanya, karena kebanyakan makan duren kemarin.", ucap Gus Aham menceritakan kedatangan mba ndalem, yang di utus oleh Ning Nafis.
Aisyah tersenyum mendengarnya, banyak bunga bermekaran di hatinya. entah, mendengar suaminya tidak jadi berangkat, membuatnya senang bukan main.
Padahal, ia juga tidak selalu bersama dengan suaminya. ada banyak kegiatan pondok dan diniyah yang harus ia ikuti. terlebih sekarang, ia harus mempersiapkan acara wisuda para tahfidz yang sudah menyelesaikan hafalannya.
Gus Aham menegakkan badannya, ia mengusap-usap rambut Aisyah lagi agar sedikit mengering.
"Padahal, walikota Surabaya mau datang ke yayasan.", ucapnya. ia memperhatikan dan mengusap setiap helai rambut Istrinya yang di gerai. Aisyah menoleh kebelakang, melihat suaminya yang masih sibuk mengeringkan rambut miliknya.
"Sepenting itu, ya?!.", ucap Aisyah. ia menarik tangan suaminya, sehingga Gus Aham menghentikan aktivitasnya. Aisyah menatap wajah suaminya, saat Gus Aham berjongkok di depannya.
Ia tau. suaminya sedang berjuang untuk yayasan itu, agar bisa bermanfaat bagi anak-anak jalanan dan keluarga yang kurang mampu. kini, usahanya selama ini mulai di perhatikan oleh walikota. bukankah, ini suatu kemajuan yang baik?!, pikirnya.
"Kalau memang sangat penting dan mendesak. sebaiknya, njenengan berangkat, mas.", ucap Aisyah. Gus Aham tersenyum dan menatapnya.
Ia membelai pipi Aisyah lembut. membuat Aisyah tidak bisa membaca pikiran suaminya. wajahnya terlihat bingung.
"Sebenarnya, acaranya besok. mas, berpikir berangkat hari ini, untuk melihat dan mengontrol persiapan anak-anak di yayasan. apa masih ada yang kurang atau tidak.", ucap Gus Aham menjelaskan. ia tidak ingin istrinya bingung ataupun merasa bersalah karena, istrinya berat melepasnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺