Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 134


__ADS_3

"Njenengan, sudah tau?!. cewek apa cowok?!.", tanya Aisyah. ia mendongak, untuk bisa melihat suaminya. Gus Aham menghentikan aktivitasnya.


"Mas, ndak tau.", jawabnya. membuat Aisyah berbalik, sehingga menghadap suaminya.


"Kan, tadi ada yang bilang cewek. ada juga yang bilang cowok. mas, jadi bingung.", gerutunya. membuat Aisyah mengacak-acak rambut suaminya, yang terlihat agak sebal karena tidak mengetahui jenis kelamin bayi mereka lewat acara tujuh bulanan tadi.


Aisyah tersenyum, sehingga suaminya berjongkok di depannya.


"Bagaimana kalau besok USG?!.", tawarnya, pada sang suami. Gus Aham menatapnya.


"Boleh?!.", tanyanya, antusias. Aisyah menganguk tersenyum, mengiyakan pertanyaan suaminya.


"Yess!.", ucapnya, penuh semangat. lantas meraih tubuh Aisyah dan membopongnya ke ranjang untuk beristirahat.


Membuat Aisyah tertawa bahagia dengan reaksi wajah dan tingkah laku suaminya, saat ia mengizinkan untuk menanyakan jenis kelamin janinnya, ketika pemeriksaan.


Mereka sudah berbaring di ranjang. ada yang lebih manja dari Aisyah, selama kehamilannya.


Ya. tentu saja, Gus Aham. setiap kali tidur, kini kebiasaannya adalah menyembunyikan wajahnya di dada sang istri.


Gus Aham beralasan, ia tidak akan bisa manja lagi ketika bayi mereka lahir. maka dari itu, ia ingin puas bermanja pada istrinya sebelum kelahiran bayi mereka.


Selalu begitu, tidur berhadapan, Aisyah memeluk suaminya. sementara Gus Aham menyembunyikan wajahnya di dada sang istri dan tangannya memeluk perut buncit istrinya.


Pagi datang....


Seperti biasa, rutinitas tiap pagi. jama'ah, mengaji dan berdoa untuk bayi di kandungan istri nya. baru Gus Aham, keluar ke masjid untuk ikut pengajian Hikam, yang di kaji Abah bersama para santri dan penduduk sekitar.


"Mas, ke masjid dulu, ya?!.", pamitnya, pada sang istri. Aisyah, yang masih sibuk mengaji hafalannya hanya mengangguk tanpa menoleh. membuat Gus Aham mengecup puncak rambut istrinya, yang masih terbungkus mukena dari samping.


Lalu segera menghambur keluar dan menutup pintu kamar. meninggalkan Aisyah, yang akan melakukan sholat Dhuha seperti biasanya setelah mengaji.


Ya, memang di kehamilan nya ini. Ummi, tidak terlalu membebani Aisyah dengan kegiatan pondok dan diniyah.


Bukan tanpa sebab. Ummi, hanya ingin Aisyah tidak terlalu kelelahan, sehingga mempengaruhi bayinya. mengingat kehamilannya kali ini penuh dengan pengawasan ekstra.


Jadi, untuk sema'an Qur'an di pagi hari, hanya Ummi yang menyimak para hafidzoh.


Selesai sholat Dhuha dan berdoa, Aisyah segera melipat mukenanya. lalu, meletakkan mukena dan sajadah nya di meja.


Ia segera memakai hijabnya, dan bersiap keluar kamar untuk membantu mba Nafis dan mba ndalem menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga besar.


Aisyah menutup pintu kamar, dan menyusuri lorong dari kamarnya menuju ruang makan.


Ia berjalan perlahan, seraya mengusap-usap perutnya yang semakin membesar dari hari ke hari.

__ADS_1


"Assalamualaikum, mba.", sapanya. saat melihat Ning Nafis, menata aneka hidangan, piring, sendok dan gelas di meja.


Ia menoleh dan tersenyum untuk membalas sapaan adik iparnya. "Waalaikum salam.", jawabnya.


"Duduk, nduk.", ucapnya. lantas, menggeser tempat duduk untuk adik iparnya.


"Piring, sendok sama gelas sudah di lap, mba?.", tanyanya


"Belum.", jawab Ning Nafis.


"Mau bantu?!.", sambungnya, bertanya pada Aisyah. sehingga membuat ibu hamil itu menganguk.


Aisyah mengambil piring dan sendok yang masih menumpuk, dan mengelapnya hingga bersih. untuk selanjutnya di tata oleh Ning Nafis di setiap meja.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Begitu ngaji Hikam selesai, semua segera menuju ruang makan untuk sarapan bersama.


Setelah sarapan, seperti biasa mereka disibukkan dengan kegiatan masing-masing.


Gus Aham dan Gus Ma'adz di pondok putra dan diniyah. Aisyah dan Ning Nafis, serta ibu mengajar tajwid di diniyah dan ikut rapat triwulan, membahas pondok tentunya.


Setelah semua kegiatan pondok berakhir. barulah Aisyah bisa bertemu dengan suaminya lagi.


"Waalaikum salam.", jawab Aisyah, yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Ia tersenyum melihat istrinya, dan segera duduk di sofa. membuat Aisyah menghampiri suaminya, yang melepas kopyah nya dan meletakkannya di meja.


"Minum, mas.", ucapnya, menyodorkan segelas air putih yang ia siapkan sebelumnya di atas meja samping ranjang.


"Makasih, sayang.", ucapnya, menerima air putih itu, lalu meneguknya, hingga habis. Aisyah mengambil duduk di samping suaminya, yang pasti membuat suaminya segera berbaring dengan manja di pangkuan istrinya.


"Mas, agak pusing.", keluhnya, yang membuat Aisyah dengan cekatan memijit kepala suaminya.


"Kenapa?!.", tanya Aisyah.


"Abah, ngajak berangkat nanti. soalnya, banyak ndalem-ndalem kyai sepuh dan habaib yang mau di datengin sebelum istighosah.",


"Ndalem-ndalem kyai dan habaib itu ada yang sejalur, searah dan ada yang dekat dengan tempat istighosah.", sambungnya.


"Yasudah, ndak apa. kalau harus berangkat hari ini.", jawab Aisyah.


"Tapi kan, kita mau USG.", sahutnya. membuat Aisyah diam sejenak.


Ia menghela nafas sejenak, nampak berpikir. sebelum akhirnya berucap. " USG nya, setelah pulang aja nggeh?!.", ia berusaha membujuk suaminya.

__ADS_1


"Sekarang siap-siap dulu.", pinta Aisyah lagi.


"Ndak bisa, sayang. setelah acara istighosah, mas mau lanjut ke yayasan.",


"Mas, sudah lama ndak nengok anak-anak. kasian mereka.", sambungnya. membuat Aisyah diam sejenak.


"Mas, nyusul saja ya?!.", ucapnya, meminta izin.


"Njenengan, minta izin Abah. nanti, kalau Abah ngizinin, njenengan nyusul. baru kita USG.", ucap Aisyah. membuat Gus Aham bangun dengan bersemangat.


"Ok.", jawabnya, senang. lantas ia segera berdiri dan keluar kamar. meninggalkan istrinya untuk menemui dan meminta izin Abah. membuat wanita yang di tinggalkan itu, tersenyum melihat tingkah Gus Aham yang seperti anak kecil.


Tak berapa lama kemudian, Gus Aham sudah kembali dengan wajah riangnya. membuat Aisyah, yang sedang menyalin hasil rapat triwulan untuk ujian kenaikan kelas dan haflah pondok terkejut.


"Assalamualaikum, sayang.", sapanya.


"Waalaikum salam.", jawab Aisyah. dan Gus Aham segera menutup pintu kamar.


Gus Aham segera mengambil tempat duduk di samping istrinya, yang masih sibuk mencatat hasil musyawarah nya tadi.


"Abah, ngizinin. jadi, mas berangkat besok pagi.", ucapnya.


"Istighosah kubro nya kapan?.",


"Masih dua hari lagi sih sebenernya. cuman kan, Abah pengen sambil mampir-mampir dan sowan ke ndalem kyai-kyai sepuh.", jawabnya.


"Jadi, besok. mas, ke penginapan dulu. gabung, sama Abah dan yang lainnya, baru sowan-sowan ke kyai sepuh dan habaib.", sambungnya.


"Ok.", jawab Aisyah. ia masih tetap menyalin tulisannya.


"Sayang.", panggilnya.


"Hm...", Aisyah menjawab tanpa menoleh.


"Ayo, USG. mas, pengen tau banget ini.", ajaknya.


Walaupun barang-barang dan semua peralatan bayi di beli dengan warna netral. tapi, Gus Aham tetep kekeuh ingin tau jenis kelamin anak mereka.


"Yasudah. saya, siap-siap dulu, nggeh?!.", ucap Aisyah. ia segera pergi untuk berganti baju.


"Yess!!.", jawab Gus Aham, girang.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2