Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 118


__ADS_3

Ibu, tersenyum melihat Aisyah dan Gus Aham dari jendela kaca. dan ibu, memilih untuk kembali ke penginapan nya. agar tidak menggangu Gus Aham dan Aisyah, yang sedang melepas rindu.


"Bagaimana, njenengan bisa tau?!.", tanya Aisyah, Gus Aham tampak menyandarkan kepala istrinya di dada bidang miliknya.


"Karena, kamu "garwo", saya.", ucapnya. membuat Aisyah mengerutkan keningnya, lalu mendongak melihat wajah suaminya. membuat Gus Aham tersenyum.


"Iya, dalam bahasa Jawa. garwo berarti pasangan kan?!.",


"Kata Abah, garwo itu ada singkatan nya.", lanjut Gus Aham, membuat Aisyah menatapnya dan mengangkat alisnya.


"Garwo, singkatan dari "sigarane nyowo". belahan jiwa, separuh dari diri kita. jadi, kalau kamu merasa sakit, mas juga pasti merasa.", ucap Gus Aham. yang membuat Aisyah tersenyum, dan Gus Aham membalasnya.


Aisyah kembali menyandarkan kepalanya di dada suaminya. terdengar Gus Aham menghela nafas lega.


"Waktu, mas bangun. mas, pengen cepet-cepet ketemu kamu.", ucapnya, mengenang hari saat ia sadar dan tidak menemukan istrinya.


"Mas, coba hubungi kamu.",


"Harusnya, saat kamu ndak ngangkat telfon. harusnya, mas sudah tau. tapi, mungkin mas terlalu bodoh. ndak peka, sehingga ndak berpikir, bahwa kemungkinan kamu yang donorin ginjal.", ucapnya pelan. matanya menatap lurus, sementara dagunya berada tepat di puncak kepala Aisyah. membuat ia mengecupnya sesekali. Aisyah yang mendengar itu, mengeratkan pelukannya di dada Gus Aham.


"Apalagi, saat polisi datang jemput mas. yang ada di pikiran, mas cuma satu.",


"Kamu ndak boleh tau.",


"Karena, mas takut kamu kecewa.", Aisyah menggeleng dalam pelukan suaminya, dan mengeratkan pelukannya lagi. ia sama sekali tidak memiliki pikiran seperti itu.


"Jadi, keinginan mas buat ketemu kamu. mas, urungkan dulu. fokus nyelesain masalah dulu. takut, jadi beban pikiran kamu.", Gus Aham terdiam sejenak. ia nampak menarik nafas dalam.


"Waktu, mas bebas. mas, ndak sabar pengen ketemu kamu.",


"Abah, Ummi, mba Nafis, mas Ma'adz sampek Dija dan Shofy. minta mas, buat jemput kamu.",


"Mas, berangkat ke panti. sepanjang jalan, mas merasa bahagia. udah, kebayang gimana nanti, kalau ketemu kamu.",


"Tapi, sampai sana. kamu ndak ada, mba Yati ndak mau ngasih tau. mas, malah ketemu Riko keluar dari kamar kamu.", ceritanya, mengenang waktu itu.


"Mas, benar-benar kesetanan waktu itu. mas, marah dan nyari kamu ke semua ruangan panti.",


"Mas, teriak-teriak. manggil nama kamu, tapi ndak ada sahutan. malah, Riko datang ngasih surat dari kamu buat, mas.", Gus Aham berhenti bercerita. ia menelan ludahnya kelu, mengingat saat-saat itu.


"Andaikan dokter Fitri ndak kerumah periksa Ummi. mungkin, mas akan ngelakuin kesalahan fatal lainnya.", ia terdiam sejenak. mengingat, ia sudah mengetik email pada pengacaranya untuk mengurus surat perceraian, dan hampir saja mengirimkannya.

__ADS_1


"Jadi, njenengan tau dari dokter Fitri?!.", tanya Aisyah. ia mendongak menatap wajah suaminya. Gus Aham menganguk.


"Maaf. saya pikir, saya mau kasih kejutan buat njenengan. jadi, karena beberapa hari ngerasa nggak enak badan, dan lihat siklus haid, saya. sebelum ke panti, saya minta kang Mu'idz nganter ke klinik dokter Fitri.", ceritanya.


"Saya, mau njenengan jadi orang pertama yang tau tentang kehamilan saya. tapi, malah semuanya jadi begini.", sambungnya. ia terlihat menyesal merahasiakan kehamilannya pada semua orang, hingga membuat semua khawatir dengan keputusannya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Jadi, kamu priksa kehamilan di dokter Fitri?!.", tanya Gus Aham. membuat Aisyah melepaskan pelukannya. Aisyah menganguk.


"Mas, malah ndak tau. dokter Fitri juga ndak cerita.", ucap Gus Aham.


"Loch. saya pikir, njenengan tau saya hamil dari dokter Fitri?!.", ucap Aisyah


"Awalnya, mas cuma tanya kamu dimana?!. trus, dokter Fitri ngasih tau mas, klinik ini. bilang, kalau kamu koma setelah donor ginjal, karena hamil.", jawab Gus Aham.


"Ooh.", gumam Aisyah.


"Dokter Fitri tau darimana?.", tanya Gus Aham.


"Tau apa?.", Aisyah balik bertanya.


"Tau, kamu disini.", jawab Gus Aham.


"Riko?.", Gus Aham memperjelas jawaban istrinya. Aisyah menganguk.


"Dokter Fitri, calonnya Riko. di jodohin sama ibunya.", jawab Aisyah.


"Saya, juga baru tau pas kita pulang dari Surabaya. pas pertama kali, dulu.", sambungnya. membuat Gus Aham menganguk-angguk paham.


Suasana hening sejenak. Aisyah menyandarkan kepalanya lagi, kali ini di bahu suaminya.


"Dengar!.", ucap Gus Aham. ia merangkup wajah istrinya, agar menatapnya.


"Jangan melakukan hal yang membahayakan seperti kemarin.", pintanya, pada sang istri.


"jangan menanggung semuanya sendiri. mengerti?!.", ucapnya lembut pada Aisyah. membuat Aisyah tersenyum. matanya yang berbinar, membuat Gus Aham melayangkan kecupan di bibir istrinya.


Ia memeluk Aisyah setelahnya. menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri.


Mengingat pertama kali ia melihat istrinya dalam keadaan koma. membuat Gus Aham ketakutan.

__ADS_1


Takut kalau Aisyah tidak akan bangun lagi. dan benar-benar pergi meninggalkannya dengan anak mereka.


Gus Aham mengeratkan pelukannya. entahlah, ketakutan itu membuatnya tidak ingin melepaskan pelukannya.


Aisyah yang paham, berusaha menenangkan suaminya. ia mengusap-usap punggung Gus Aham.


"Saya, disini sekarang. njenengan, ndak perlu khawatir. ndak perlu takut.", ucapnya lembut. ia masih terus mengusap punggung suaminya.


"Berjanjilah, tidak akan terjadi lagi.", pinta Gus Aham, yang masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya. sehingga Aisyah bisa merasakan hembusan nafasnya.


"Janji.", jawabnya. membuat Gus Aham diam di sana. dan suasana hening sejenak. sebelum akhirnya, ia menyadari suaminya tertidur, dan masih dengan posisi yang sama.


Aisyah tersenyum melihat suaminya tertidur di bahunya. sudah lama, ia tidak melihat suaminya bermanja seperti ini kepadanya.


Ia menyibakkan rambut Gus Aham yang menutupi sebagian wajahnya. ia bersyukur, masih diberi kesempatan.


Kesempatan untuk menyelamatkan suaminya, kesempatan untuk berkumpul bersama suami dan keluarga nya, serta kesempatan dan kepercayaan untuk merawat bayi di kandungan nya.


Karena waktu juga sudah mendekati jam tidur siang. Aisyah pun ikut memejamkan mata, menyusul Gus Aham tidur.


Di tempat lain....


Dokter Fitri sudah menunggu Riko di tempat yang di katakan oleh calon suaminya, sebelumnya.


Dokter Fitri sudah menebak apa yang akan terjadi selanjutnya?!. mungkin Riko akan marah, karena ia memberitahu keluarga ndalem perihal keadaan dan tempat Aisyah saat ini.


Tapi, ia tidak mau ambil pusing. sudah terlanjur, ya hadapi saja. lagipula, ndak ada yang salah kalau Gus Aham, yang sebagai suami dari Aisyah, tau kebenarannya.


"Assalamualaikum.", sapa Riko, yang sudah berdiri di belakangnya. membuat dokter Fitri menoleh dan menjawab.


"Waalaikum salam.",


Riko lantas segera mengambil tempat duduk. ia memilih duduk di seberang dokter Fitri.


"Sudah pesan?.", tanya Riko. dokter Fitri menganguk. ia selalu memesan makanan nya sendiri, karena setiap kali bertemu, Riko tidak pernah memesankan untuknya.


Mendengar jawaban nya, membuat Riko menganguk dan tersenyum.


"Ada yang ingin aku tanyakan.", ucapnya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2