Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 112


__ADS_3

Malam ini juga, Aisyah di bawa ke Banyuwangi. ada seorang perawat kepercayaan Riko, yang ikut dalam mobil ambulan itu.


Sedang Riko membawa mobil sendiri. berjaga-jaga saat ia di butuhkan rumah sakit tempatnya bertugas dalam keadaan darurat, jadi ia bisa berpisah di jalan untuk sementara waktu.


Terlihat brankar yang di tiduri Aisyah mulai di masukkan dalam mobil. setelah nya baru ibu dan seorang perawat masuk menemani Aisyah.


Mas Raihan membawa mobil sendiri, karena ia harus sering pulang menjenguk istri dan anaknya.


Mobil ambulan mulai keluar dari pelataran panti. mas, Raihan segera mengikuti di belakangnya. sementara Riko, masih mengemas bajunya.


Baru saja, mobil ambulan dan mobil mas Raihan berlalu. tiba-tiba ada sebuah mobil BMW masuk dalam pelataran panti.


Ya, itu mobil Gus Aham. siang tadi di bebaskan, dan malam ini langsung ke panti untuk menjemput istrinya. ia sudah sangat rindu.


Tidak sabar ingin memeluk, mengecup dan bermanja pada istrinya.


Gus Aham turun dari mobil, wajahnya terlihat sumringah. senyumnya selalu berkembang di bibirnya, menghiasi wajah cerahnya.


"Assalamualaikum.", ucapnya, ketika sudah berdiri di depan pintu.


"Waalaikum salam.", jawab mba Yati.


"Mba, Aisyah dimana?!.", tanya Gus Aham, yang sudah tidak sabar ingin menemui istri tercintanya.


Mba Yati bingung harus jawab apa?!, mengingat pesan ibu sebelum berangkat tadi.


"Mba. kalau Gus Aham kesini, nyari Aisyah. tolong bilang Aisyah ndak ada.", pesan ibu, sangat jelas. tapi, kalau Gus Aham nanya lagi, ia harus jawab apa?!, pikir mba Yati.


"Mba?!.", suara Gus Aham, menyadarkan nya.


"Mba Aisyah, mboten wonten, Gus.", ( mba Aisyah, ndak ada, Gus).", jawabnya pelan.


"Kemana?. keluar sama ibu?!.", tanyanya. ia lantas melangkahkan kakinya masuk, hendak menuju kamar istrinya. Gus Aham bermaksud menunggu Aisyah, di kamar istrinya.


"Gus, njenengan mau kemana?!.",


"Mau ke kamar Aisyah, mba.", jawabnya. membuat mba Yati berlari kecil, menghadang langkah Gus Aham.


"Ndak boleh, Gus.", ucap mba Yati, yang membuat Gus Aham mengerutkan keningnya.


"Kenapa?!.", tanya Gus Aham. ia tetap melangkahkan kakinya, sehingga membuat mba Yati yang menghadangnya berjalan mundur.

__ADS_1


Hingga mba Yati dan Gus Aham melihat Riko keluar dari kamar Aisyah. wajah Gus Aham, sudah tidak bersahabat melihatnya, mengingat Riko dan Aisyah sangat akrab.


"Apa yang kamu lakukan dikamar, Aisyah?!.", tanya Gus Aham yang segera mendekat pada Riko.


"Tidak ada.", jawab Riko.


"Lalu dimana Aisyah?!.",


"Dia tidak ada disini.",


Gus Aham yang tidak percaya dengan jawaban Riko, segera membuka pintu kamar.


"Aisyah..!.", panggilnya. ia mulai berjalan memasuki kamar istrinya.


"Aisyah.", panggilnya saat matanya mulai melirik, mencari sosok istrinya di kamar itu. tidak ada sahutan. membuat Gus Aham bergegas membuka kamar mandi, untuk memastikan istrinya tidak ada di sana.


"Dimana Aisyah?!, apa yang kalian sembunyikan?.", tanya Gus Aham, yang sudah mulai bingung dan cemas, karena tidak menemukan istrinya.


Riko hanya mengulurkan sebuah surat untuk Gus Aham dari Aisyah.


"Apa ini?!.", tanya Gus Aham.


Gus Aham membuka amplop surat itu, dan segera meraih selembar kertas di dalamnya.


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh.


*Gus, saat njenengan baca surat ini. mungkin saya, sudah ndak ada di sisi njenengan. saya, hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih dan maaf yang sebesar-besarnya tidak bisa menemani, njenengan lagi.


Terimakasih, karena sudah menjadi imam yang baik untuk saya. tapi maaf, mungkin saya bukanlah wanita yang baik untuk, njenengan.


Maaf, saya tidak bisa menanggung beban bersama panjenengan. apalagi, di saat-saat sulit seperti ini. saat njenengan harus menjalani proses hukum. saya, malah melarikan diri dan pergi.


Mungkin, saya bukanlah wanita yang berhati besar. yang bisa selalu menutup mata dengan setiap tindakan, njenengan.


Oleh sebab itu, saya mengizinkan panjenengan menikah lagi. mencari pendamping yang lebih baik. lebih bijak, lebih baik dan lebih segala-galanya dari saya. karena saya, ndak sanggup lagi. πŸ™πŸ™πŸ™


Mohon maaf, nggeh Gus?!... sekian terimakasih.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh*.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Gus Aham lemas seketika selesai membaca surat itu. ia terduduk di lantai. tidak percaya, istrinya akan berbuat demikian.


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. ia yakin, ada yang di sembunyikan istrinya. Aisyah tidak mungkin berbuat demikian.


"Katakan, padaku!. dimana Aisyah?!.", tanyanya. ia berdiri dan meraih kerah baju Riko.


"Kalaupun aku katakan, dia tidak akan mau menemui mu.", jawabnya, membuat Gus Aham mendorong tubuh Riko kasar, hingga punggung Riko membentur tembok. Gus Aham berbalik. ia menyusuri semua ruangan panti dengan meneriakkan nama istrinya.


"Aisyah...?!.",


"Aisyah...?!.",


"Kamu dimana, sayang?. mas, sudah pulang.", teriaknya.


Gus Aham terus berteriak, menyusuri semua ruangan yang ada di asram., ia ingat, jika Aisyah dipanti. ia senang sekali bercerita di kamar anak-anak.


Beralih ke perpustakaan panti. Gus Aham mencarinya di sana, masih dengan meneriakkan nama istrinya. mba Yati dan Riko yang melihatnya, hanya bisa diam. merasa iba dengan Aisyah dan Gus Aham.


Aisyah sendiri, saat menulis surat itu juga menangis. ia menangis, karena tau, itu akan melukai perasaan suaminya. tapi lebih sakit lagi, jika ia sampai meninggal dan suaminya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. mengingat, Aisyah mendonorkan ginjal untuk Gus Aham. jadilah, ia mengambil keputusan itu.


Aisyah tau betul, apa yang dia alami sekarang adalah resiko dari keputusannya. dan karena ia sadar, peluangnya sangat tipis. ia, menulis surat itu.


Gus Aham pulang ke ndalem, ia nampak lesu. begitu mobil terparkir, ia segera melangkahkan kakinya masuk ndalem. Ummi, Abah, Gus Ma'adz, Ning Nafis dan kedua keponakannya sudah mempersiapkan sambutan untuk Aisyah.


"Pak lek!.", seru Ning Dija, yang baru saja melihat pak lek nya masuk ke ndalem. ia melihat pak leknya tertunduk lesu. kemudian, ia mengintip keluar. tidak ada buleknnya. mungkinkah buleknnya bersembunyi?!, pikirnya.


"Bulek mana, pak lek?.", tanya gadis kecil itu. tapi Gus Aham hanya diam. ia mengabaikan Ning Dija begitu saja.


Berjalan ke ruang makan, nampak ibu dan semua anggota keluarga ada di sana. mereka sudah memasang wajah paling manis untuk menyambut Aisyah.


"Selamat datang dirumah, nduk.", ucap mereka bersamaan, saat Gus Aham masuk ke ruang makan. tapi mereka hanya melihat Gus Aham seorang diri.


"Le, mana Aisyah?!.", tanya Ummi, yang menghadang putranya. Gus Aham hanya menunduk dan menggeleng. ia berjalan begitu saja, meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.


Semua yang berada di ruang makan, bingung. ada apa sebenarnya?!.",


Gus Aham membuka pintu kamarnya. ia melihat ke sekitar. aroma khas Aisyah masih tercium disana. tempat-tempat mereka bersenda gurau dan bercumbu terlihat jelas ada bayangan nya. ia memasuki kamarnya, meletakkan sepucuk surat dari istrinya di meja. dan menjatuhkan badannya di ranjang. memeluk bantal sang istri. segar aroma rambutnya masih menempel di bantal itu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2