
Aisyah terbangun tengah malam, dan waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari. Aisyah bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Gus Aham merengkuh bantal guling. ia membuka matanya, saat merasakan bukan istrinya yang ia peluk, dan tidak ada istrinya di ranjang.
"Sayang?!.", panggilnya. ia terduduk dengan dada telanjang. tapi mendengar gemericik air di kamar mandi, membuatnya merasa tenang dan merebahkan tubuhnya lagi.
Ia menunggu beberapa saat, sampai akhirnya Aisyah keluar dari kamar mandi.
"Njenengan, sudah bangun?!.", ucapnya saat keluar dan melihat suaminya sudah membuka mata.
"Airnya dingin?!.", tanyanya.
"Ndak dingin. segar.", jawab Aisyah.
"Tapi udara di sekitar sini, dingin sayang.",
"Kalau mandi, nanti ndak dingin.", ucap Aisyah meyakinkan.
Dan ucapan istrinya itu, membuatnya bangkit dan berdiri turun dari ranjang dan segera masuk ke kamar mandi. pasalnya, itu adalah perintah dengan bahasa halus baginya.
Suara air mulai bergemericik di kamar mandi. sementara Aisyah memakai baju dan bersiap untuk pulang.
Semalam, Gus Aham mengatakan. akan pulang dini hari, atau menjelang subuh. asal, hujan berhenti. karena perjalanan di tempuh sekitar dua jam, belum lagi kalau ada tanah longsor atau kejadian lain di jalan yang tidak diharapkan.
Lagipula, pakaian mereka kotor. butuh pakaian bersih untuk sholat.
Aisyah mengelap air yang membasahi tubuh suaminya, sementara Gus Aham duduk di tepian ranjang. ia hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
Sebagai istri, Aisyah selalu berusaha menyenangkan suaminya, dalam bentuk apapun itu.
Seperti saat ini, ia harus mengelap tubuh suaminya, memakaikan baju padanya dan kemudian menyisir dan merapikan rambut Gus Aham.
Itu dilakukan Aisyah, sebagai kompensasi setiap suaminya menurut padanya. seperti tadi, meski udara terasa dingin, di tambah air yang terasa seperti kolam es, Gus Aham tetap mandi, sesuai perintah sang istri. oleh sebab itulah, Aisyah memberinya kompensasi kali ini.
Dan kompensasi terakhir adalah kecupan di kening dari istrinya, yang membuat Gus Aham tersenyum senang.
__ADS_1
Aisyah segera merapikan ranjang, sementara Gus Aham membereskan barang-barang mereka. seperti, ponsel charge, beberapa peralatan milik Aisyah yang segera di masukkan dalam tas istrinya. Gus Aham memastikan tidak ada milik mereka yang tertinggal di sana.
Begitu selesai, mereka sepakat untuk segera keluar kamar dan menemui pemilik losmen untuk menyerahkan kunci.
Tepat pukul tiga dini hari mereka keluar dari losmen, setelah pamit pada pemiliknya. Gus Aham dan Aisyah menaiki mobil, menembus udara malam yang terasa dingin.
Banyak pengendara lain yang lewat juga. kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang hendak berdagang atau belanja di pasar, dengan membawa bertumpuk-tumpuk dagangan. mulai dari sayur mayur, buah-buahan hingga aneka ikan dan daging segar.
Gus Aham menepikan mobilnya. hawa dingin semakin menyergap tubuhnya. pasti Aisyah juga kedinginan, pikirnya.
Ia kemudian meraih box di bawah jok belakang. mengambil sebuah jaket dan jas. Gus Aham memakaikan jaket tebal itu pada istrinya, dan ia memakai jas setelahnya.
Ia melajukan mobilnya lagi. tanpa sepengetahuannya, Aisyah tertidur di kursi. dan Gus Aham baru menyadari itu, saat mereka akan mampir ke sebuah masjid untuk menunaikan sholat subuh.
"Sayang.", Aisyah tidak menjawab. membuat Gus Aham menoleh yang mendapatinya tengah terlelap tidur.
Entahlah, Aisyah akhir-akhir lebih mudah tidur. Gus Aham menyadari hal itu. begitu juga dengan Aisyah, tapi mereka sama-sama menyadari, mungkin itu karena Aisyah terlalu lelah dalam mempersiapkan acara wisuda.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Mereka berjalan menuju parkiran mobil setelah selesai melaksanakan sholat berjamaah di masjid dengan para penduduk sekitar.
Tidak ada pembicaraan apapun yang terjadi di antara mereka. karena setelah Aisyah masuk mobil, tidak berapa lama kemudian ia tertidur. sementara Gus Aham memilih membiarkan istrinya beristirahat dan fokus menyetir.
Mobil memasuki pelataran ndalem. begitu Gus Aham memarkir mobilnya dengan sempurna Aisyah refleks terbangun. ia menstabilkan pandangannya dengan cahaya yang masuk.
"Kok bangun?!. mau, mas gendonge.", ucap Gus Aham.
"Ngawur, njenengan. bisa geger semua santri yang lihat.", ucapnya, membuat suaminya tersenyum. Aisyah meraih tas nya lantas segera turun dari mobil, begitu juga dengan Gus Aham.
Masih cukup pagi saat mereka sampai di ndalem. Ummi masih di musholla, selesai jama'ah dan sekarang sedang nyimak hafalan para santri.
Sedang Ning Nafis juga masih mengajar anak-anak tarbiyah untuk hafalan juz 'Amma, juz ke tiga puluh dalam Al-Qur'an.
Sementara Abah sedang berada di masjid, mengaji kitab Hikam bersama Gus Ma'adz, santri putra dan penduduk sekitar. penyampaian yang ringan dalam pengajian kitab Hikam yang di sampaikan oleh Abah sangat ringan. membuat warga sekitar yang tidak terlalu faham pun, mampu menerima dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
__ADS_1
Aisyah dan Gus Aham segera menuju kamar mereka. begitu sampai di sana, Gus Aham segera merebahkan tubuhnya.
"Mas, tidur sebentar ya!.", ucapnya.
"Injih. saya, mau masukin Qur'an yang di mobil ke ndalem dulu. sekalian mau ngecek jumlahnya, udah bener belum?!.",
Aisyah lantas meninggalkan Gus Aham beristirahat dikamar. ia tidak ingin mengganggu suaminya. apalagi sebentar lagi, suaminya harus menyetir sendiri lagi untuk berangkat ke Surabaya.
Aisyah mulai berjalan menuju mobil BMW milik suaminya. ia membuka pintu belakang dan mulai mengeluarkan Qur'an kecil yang akan di gunakan sebagai souvenir pada acara Khotmil Qur'an tahun ini.
Beberapa mba-mba ndalem yang melihat Aisyah membawa Qur'an itu, segera berlarian dan menghampiri. mereka berlomba-lomba membantu Ning-nya.
Itulah, tata krama anak pondok. mereka akan berlomba-lomba membantu, menolong. tidak hanya pada Ning-nya, Bu nyai-nya, kyai- nya saja. tapi, mereka juga akan dengan sigap menyambut dan membantu para tamu dan wali santri yang berkunjung ke pondok. indahnya, dunia anak pondok.
Mereka membawa Qur'an itu masuk, dan meletakkannya di meja yang berada di ruang tengah ndalem hingga selesai. begitu selesai, mereka segera pamit undur diri dan melanjutkan kegiatan mereka lainnya.
Aisyah duduk bersimpuh di samping meja, menghitung jumlah Qur'an kecil itu. ia khawatir kurang atau kelebihan. mengingat, mereka tidak sempat menghitungnya karena keadaan tidak memungkinkan.
"Assalamualaikum, nduk.", suara yang khas dari mertuanya yang baru saja memasuki ndalem dan langsung menuju ruang tengah, begitu mba ndalem bilang Aisyah sudah pulang.
"Waalaikum salam, Ummi.", Aisyah buru-buru meraih tangan ibu mertuanya dan mengecupnya.
"Sampek jam berapa, nduk?.", tanya Ummi.
"Tadi, sekitar jam gangsal (lima), Ummi.", jawabnya.
"Trus Aham mana?.",
"Mas, istirahat Ummi. soale bidal wangsul jam tigo.", (mas, istirahat, Ummi. soalnya berangkat pulang jam tiga).",
"Yowes, bangunin mas mu. ajak sarapan bareng-bareng sek. pekerjaan mu di lanjut nanti lagi.",
"Injih, Ummi.",
Aisyah segera pamit ke kamar, untuk membangunkan suaminya dan mengajak sarapan bersama keluarga.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺