Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 71


__ADS_3

Gus Aham akhirnya mengembalikan beberapa boneka dan menggantinya dengan bola, beberapa set permainan bulu tangkis, dan bola voli. yach, itu bagus untuk membantu anak-anak panti baik laki-laki ataupun perempuan untuk berolahraga.


"Yakin, membeli sebanyak ini, Gus?.", tanya Aisyah. Gus Aham mengangguk.


"Tapi...",


"Anggap saja, sebagai sodaqoh untuk kedua bayi kita. dan sebagai rasa syukur, karena kamu bisa melihat lagi.", sahut Gus Aham. mengusap rambut Aisyah yang terbungkus hijab dengan sempurna.


Aisyah terdiam sejenak mendengar jawaban suaminya, tapi sesaat kemudian ia tersenyum menatap suaminya. dan Gus Aham membalasnya.


Ya, yang sudah biarlah. bukankah kita sudah sepakat untuk memulainya dari awal lagi?!. ayo!, waktunya melangkah. apapun yang dilakukan saat ini, harus di usahakan hanyalah untuk kebaikan masa depan bersama.


Pelayan toko itu membantu Gus Aham dan Aisyah memasukkan barang-barangnya di bagasi mobil dan di jok belakang dari mobil itu.


Bagaimanapun, mobil BMW itu terlalu kecil jika harus membawa boneka, aneka peralatan olahraga dan makanan serta cemilan dari Surabaya sebanyak ini.


Aisyah yang sudah duduk di jok samping kemudi itu menghela nafas melihat barang sebanyak itu memenuhi jok mobil belakang milik suaminya. Gus Aham masuk, duduk dan menutup pintu mobil setelah menyelesaikan pembayaran dengan si pemilik toko.


"Mau beli apa lagi?.", tanya Gus Aham yang mulai menyalakan mesin mobilnya dan siap melaju di jalanan.


"Cukup, Gus.", jawabnya. kalau beli lagi mau ditaruh dimana?!, pikirnya.


Karena Aisyah mengatakan bahwa itu sudah cukup. segera Gus Aham melajukan mobilnya di jalan raya. ia memilih jalan tol agar cepat sampai di tempat tujuan pertama, panti.


Prioritas utamanya sekarang adalah hubungan mereka. Gus Aham ingat, saat ia memohon kepada Abah dan Ummi agar mengkhitbah Aisyah lagi untuknya. ia berjanji, akan memperbaiki semuanya. nurut, manut dan mentaati semua permintaan dan kemauan Abah dan Ummi.


Entahlah, ia tidak pernah jatuh cinta pada seorang gadis hingga seperti ini. rela merendahkan dirinya demi meraih hati gadis pujaannya.


Tapi, Aisyah. gadis yang dulunya ia pandang rendah, ia anggap sebagai seorang cucu abdi ndalem yang tidak penting. ia anggap sebagai gadis yang pintar cari muka, dan bermulut manis, hingga membuat Ummi memaksanya untuk menikahinya. kini, gadis itu benar-benar menaklukkannya dengan semua apa yang ada di dirinya.


Bukan dengan kecantikan nya, tapi dengan kesungguhan hatinya. ia gadis yang sempurna bagi Gus Aham. sabar, kuat dan punya pendirian. gadis itu sabar menghadapinya, membuatnya yang memiliki temperamen buruk dan mudah marah menjadi lebih lembut.

__ADS_1


Dia juga kuat. bahkan tekadnya lebih kuat dari seorang Gus Aham. dia juga memiliki pendiriannya sendiri, dan tidak mudah terpengaruh dengan omongan orang lain. sekalipun, ia sudah tau, bahwa suaminya bukanlah putra terbaik, bahkan mungkin anak yang terburuk akhlak nya dari Abah dan Ummi.


Kini, istrinya memberi kesempatan. ia tak akan menyia-nyiakan nya. di mulai dari persahabatan, kan?!. maka, ia tidak akan menyentuh Aisyah tanpa permintaan ataupun izinnya. ini janjinya, untuk menghormati persahabatan mereka.


Tapi, ia juga tidak akan menyerah?. ia akan terus berusaha meraih hati istrinya.


Dua jam berlalu dengan cepat. mobil milik Gus Aham sudah memasuki pelataran panti. tampak sepi, mungkinkah anak-anak sedang pergi?!. berlibur atau belajar kelompok mungkin?!. mengingat ini hari Minggu. pikirnya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Gus Aham mengajak Aisyah turun dan masuk ke rumah. ia merasa ada yang tidak benar?!. kenapa rumah begitu sepi?, bahkan saat ia mengucap salam, tidak ada satupun yang menjawab.


Gus Aham malah mengajaknya terus berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan aula ruang tamu dan kamar nya serta kamar kakaknya. dan ternyata....,


"Selamat datang!.", sorak sorai dari anak-anak panti, mas Raihan, mba Mira, Abel, mba Yati dan ibunya mengejutkannya di ujung lorong.


Mereka memberi kejutan dan ucapan selamat pada Aisyah karena bisa melihat lagi. nampak mas Raihan membawa kue yang bertuliskan "SELAMAT, SEMOGA SELALU BAHAGIA DAN SEHAT". ini bukan hari ulangtahun nya, ini adalah perayaan dan rasa syukur mereka sekeluarga karena Aisyah bisa melihat lagi.


Begitu juga, saat transplantasi kornea itu berhasil. Gus Aham langsung memberi kabar pada kakak iparnya dan keluarga ndalem, agar mereka merasa tenang dan senang dengan hasilnya.


Dan saat mereka mendapat kabar bahwa, Aisyah sudah bisa melihat. semua anak-anak panti sepakat menyiapkan kejutan untuk Aisyah. mereka semua menyanyangi Aisyah, seperti Aisyah menyanyangi mereka. jadi, ini adalah ide anak-anak panti.


Aisyah terkejut, ia nampak bahagia dan merasa haru.


"Ini semua, yang bikin anak-anak. katanya, supaya mba Aisyah seneng. sehat-sehat terus ya, nduk?!.", ucap ibu. Aisyah tersenyum dan memeluk ibu.


"Mba. kita nggak dapat pelukan?!.", tanya salah seorang anak panti perempuan.


"Sini.", ucap Aisyah, setelah melepas pelukan ibu. anak-anak itu pun bergerombol memeluk Aisyah bersamaan.


"Sudah, cukup peluk-pelukannya?!.", tanya Gus Aham beberapa saat kemudian.

__ADS_1


"Kalau sudah cukup. ayo!, ikut mas ke mobil!.", ajaknya pada semua anak panti.


Semua anak-anak mengikuti Gus Aham menuju mobilnya. ia membuka pintu mobil bagian belakang dan bagasinya. nampak banyak mainan dan makanan.


"Ayo, ambil satu-satu!.", Gus Aham membuat anak-anak panti itu senang bukan main. mereka segera mengambil apa yang mereka suka.


"Suamimu itu, jangan suka manjain anak-anak. takute, mereka jadi berani minta.", ucap ibu pada Aisyah yang berdiri di teras bersama mas Raihan, mba Mira dan Abel. melihat Gus Aham disana dengan kerumunan anak-anak panti.


"Yoben, Bu. uange ben rodok Sido. ( biarin, Bu. uangnya biar sedikit berkurang).", sahut mas Raihan. membuatnya Aisyah tersenyum.


"Gus Aham, cuma pengen nyenengin anak-anak panti, Bu.", jawab Aisyah.


"Pak lek.", teriak Abel dari teras.


"Buat, aku ndak ada to?!.", sambungnya. Gus Aham hanya mengacungkan ibu jarinya.


"Opo Kuwi?!. ( apa itu?!).", gerutunya. melihat pak lek nya hanya mengacungkan jempol menjawab pertanyaan nya.


"Kesana, kalau mau.", ucap mba Mira. ia tidak ingin anaknya, berbuat semaunya sendiri.


"Mama, gak lihat to?!. lhawong, kemruntel kaya' gitu, trus aku disuruh uyel-uyelan?!. kalah aku, ma.", jawabnya.


"Yaudah, kalau ndak mau uyel-uyelan. ndak dapat bagian.", ucap mba Mira. membuat anaknya kesal.


Gus Aham menutup bagasi mobilnya begitu barang di dalamnya habis, dan anak-anak sudah banyak yang pergi meninggalkan mobilnya.


"Ayo!. maem bareng-bareng dulu!.", teriak ibu. yang membuat anak-anak panti segera masuk dan duduk di aula ruang tamu untuk makan bersama. sebagai rasa syukur atas pulihnya kesehatan Aisyah.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2