
Subuh baru saja berlalu, dan ini masih pukul setengah lima pagi. tapi sudah ada suara ribut di depan kamar rawat Aisyah.
Gus Aham yang merasa sedikit terganggu, segera turun dari ranjang. setelah memindahkan kepala istrinya pada bantal.
Ia bergegas berjalan menghampiri pintu dan segera membukanya.
"Assalamualaikum.", sapa Ummi, yang di temani Gus Ma'adz dengan cerianya. membuat Gus Aham mendengus disana.
"Waalaikum salam.", jawabnya. lantas meraih tangan Ummi dan kakaknya, bergantian.
Setelah nya, Gus Aham membalikkan badan begitu saja.
"Kamu, kaya' e ndak seneng Ummi kesini.", ucap Ummi. Gus Aham yang sudah duduk di sofa ruang istrinya di rawat terlihat menghela nafas.
"Ummi, ngapain?!.", tanyanya. membuat Gus Ma'adz ikut duduk disana.
"Ya, jemput Aisyah toh. kan, hari ini kamu sama Aisyah pulang.", jawab Ummi.
"Musholla, rumah sakit saja batu selesai adzan, mi.", ucapnya.
"Aisyah, juga masih tidur.", sambung Gus Aham.
"Ya, ndak pa-pa kan?!.", jawab Ummi, yang segera duduk di sofa.
"Mas, aja sampai ndak wiridan dulu ini tadi.", seloroh Gus Ma'adz.
"Saking senengnya, Ummi.", sahut Ummi. bibirnya terus mengembangkan senyum. membuat Gus Aham meliriknya.
"Yasudah. karena ada Ummi, dan mas disini. Aham, mau ke musholla dulu. sholat.", ucapnya.
"Sholat apa?!.", tanya Ummi.
"Ya, sholat subuh.", jawab Gus Aham.
"Astaghfirullah hal adzim.", ucap Ummi, kencang. yang membuat Gus Aham, bergegas berdiri dan pergi keluar ruangan, agar tidak mendapat omelan dari ibunya.
Gus Ma'adz tersenyum di tempat duduknya, melihat tingkah polah adiknya yang membuat Ummi mengomel pagi itu.
"Wes jam lima, tapi adikmu durung sholat?!. arep dadi opo bocah kuwi?!.", ( sudah jam lima, tapi adikmu belum sholat?!. mau jadi apa anak itu?!).", ucap Ummi, di akhir omelannya. sehingga membuat Aisyah terbangun.
Aisyah membuka matanya, ia menoleh ke sekitar. tak ada suami di sisinya, hanya ada Gus Ma'adz dan Ummi.
__ADS_1
"Ummi, kapan datang?!.", tanyanya. membuat Gus Ma'adz dan Ummi menoleh ke sumber suara.
"Eh, nduk.", hanya itu, yang keluar dari bibir Ummi. lantas, Ummi menghampiri Aisyah yang masih terbaring di brankar.
"Mas Aham mana, Ummi?!.", tanyanya, ketika mertuanya sudah duduk di kursi samping ranjang nya.
"Baru keluar. sholat subuh.", jawab Ummi.
"Jian, bojo model opo kuwi?!. wong imam kok, subuhan e padang?!.", ( suami macam apa itu?!. seorang imam kok, sholat subuhnya kesiangan).", gerutu Ummi. yang membuat Aisyah tersenyum, lalu meraih tangan mertuanya untuk menenangkan.
"Mas Aham, semalam ndak bisa tidur karena nemenin Aisyah, Ummi.", ucapnya, setelah melihat Ummi sudah berhenti mengomel. ia tidak ingin mertuanya marah kepada suaminya.
Dan pernyataan Aisyah itu, berhasil membuat mertuanya sedikit berhenti dengan Omelan nya.
"Ummi, pagi-pagi kesini ada apa?!.", tanyanya. setelah amarah ummi mereda.
"Lhoalah..., kamu piye to nduk?!. kan, hari ini kamu sama si kembar boleh pulang.", jawabnya.
"Ya, mesti Ummi kesini.", sambung nya. Ummi, tersenyum setelahnya.
"Si kembar mana, nduk?.", tanya Ummi. mertuanya nampak begitu antusias.
"Belum di bawa kesini, mi. mungkin sedang di susui atau di mandiin.", jawab Aisyah.
"Dari semalam, nduk. ngingetin mas terus, suruh nganter kesini.", sahut Gus Ma'adz, yang nampak berbaring di kursi yang terdapat di ruangan itu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Assalamualaikum.", ucap ibu. ia nampak mendorong pintu agar perawat itu, bisa memasukkan inkubator ke dalam kamar rawat Aisyah.
"Waalaikum salam.", jawab mereka bergantian. ibu dan mas Raihan yang mendampingi perawat itu, segera masuk lebih dulu.
Tak lupa, mas Raihan mencium tangan Ummi. lalu, menyapa Gus Ma'adz.
"Dari tadi, Gus?!.", tanya mas Raihan, setelah mereka duduk kembali di sofa.
"Dari subuh.", jawab Gus Ma'adz. membuat mas Raihan mengerutkan keningnya.
"Lha, gimana to?!. dari semalam, ngingetin terus. ech, pagi ini, baru selesai jama'ah. sudah geger lagi minta di anter kesini.", ucap Gus Ma'adz. menceritakan tentang Ummi. membuat mas Raihan dan ibu tersenyum mendengarnya.
"Kelihatannya, Bu nyai sangat senang dengan cucu kembarnya.", ucap mas Raihan.
__ADS_1
"Pasti senang. apalagi, ini cowok cewek.", jawab Ummi.
"Yang satunya pasti lembut, mirip Aisyah. yang satunya, mesti waspada. soale, zaman Aham masih kecil dia itu aktif dan kreatif nya luar biasa.", ucap Ummi, seraya mulai mengambil Fatimah dari box bayi, dan menggendongnya.
"Sampai masuk sumur ya, mi?!.", sahut Gus Ma'adz, di sertai senyuman kecil di bibirnya. membuat Aisyah dan yang lainnya mengerutkan kening.
"Masuk sumur?!.", Aisyah mengulang pernyataan Gus Ma'adz dengan nada terheran-heran
"Iya. Jian, masyaalloh kok nduk, mas mu itu.", jawab Ummi. membuat Aisyah dan yang lainnya tertawa karena Ummi, membenarkan ucapan Gus Ma'adz.
"Aham, begitulah karena Aham butuh perhatian, mi.", ucap Gus Aham, yang muncul tiba-tiba dari pintu. ia nampak membawa beberapa bungkus makanan dalam wadah kresek.
"Kalau Aisyah kan, memang asli perhatian sama Aham, mi. jadi, Aham nggak perlu nyari perhatian.", ucapnya, terus melangkah menghampiri istrinya, lalu mengecup kening Aisyah.
"Hallah..., alasan.", seloroh Ummi, sedikit kesal. tapi segera mengalihkan perhatian nya pada Fatimah yang berada di gendongannya.
Bayi itu terlihat semakin sehat. pipi merah nya juga nampak sedikit berisi.
Ya, perawat bilang Fatimah dan Umar selalu menghabiskan susu botol yang di berikan pada mereka, saat Aisyah beristirahat.
Tentu saja, itu ASI Aisyah yang sudah di keluarkan dan di tampung dalam botol. mengingat keadaan nya yang baru saja siuman, dan butuh waktu istirahat lebih lama agar segera pulih. jadi, ia hanya akan meng- ASIhi kedua anaknya saat perawat membawa mereka berkunjung ke ruang tempat Aisyah di rawat.
"Mba, jadi kapan cucu dan mantu saya bisa pulang?!.", tanya Ummi, pada perawat yang nampak mengambil Umar dari inkubator, lalu memberikan nya pada Aisyah untuk di susui.
"Tunggu dokternya dulu ya, Bu.", jawabnya.
"Biar nanti, bayi dan ibunya di periksa. kalau memang keadaan sudah sehat sepenuhnya, dan tidak ada masalah ataupun kendala lain. insyaallah, hari ini bisa pulang.", sambung nya, memberi penjelasan pada Ummi, dan keluarga.
Mereka semua mengangguk. pertanda setuju dengan ucapan perawat, perihal prosedur rumah sakit.
Ya. alangkah baiknya, pulang saat semua dinyatakan baik-baik saja. setidaknya, perasaan para keluarga akan tenang dan tidak khawatir pada keadaan Aisyah dan bayinya. mengingat, mereka lahir prematur.
Gus Aham, nampak sedikit rikuh saat Aisyah memberikan Umar padanya, untuk di letakkan kembali dalam inkubator. ia ingin ganti menyusui Fatimah, mumpung perawat mengajak bayi-bayi itu untuk mengunjunginya.
"Piye to, ham?!.", hardik Ummi. seraya menyerahkan Fatimah pada Aisyah, yang segera di ambil olehnya.
"Itu bukan boneka.", ucap Ummi, yang kesal karena Gus Aham tidak menggendong cucunya dengan benar.
Ya, Gus Aham menggendong tubuh Umar. dan tangan kirinya menyangga kepala bayi mungil itu. sementara ia dengan penuh konsentrasi dan fokus, berjalan pelan menuju inkubator untuk meletakkan putranya di sana.
Andai saja Ummi, tau. ia keringat dingin menggendong bayi laki-lakinya, karena takut. bukan takut bayinya merasa tidak nyaman. tapi, lebih takut bayinya jatuh karena ia tidak bisa menggendong dengan benar.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺