Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 76


__ADS_3

Gus Aham pergi ke gazebo yang ada di taman belakang. sesuai tebakannya, Aisyah pasti ada di gazebo untuk menenangkan dirinya.


Memang, Gus Aham tadi tidak sengaja melihat Aisyah pergi ke belakang, ketika ia baru saja selesai memeriksa mesin mobil yang akan digunakan keluarga kang Mu'idz untuk pulang.


Ia juga mendengar aduan dari Ning Dija, tentang buleknnya yang tidak sengaja mendengar obrolan keluarga kang Mu'idz di ruang tengah, ketika hendak mengajak kedua keponakannya untuk sarapan.


Gus Aham membawa nampan berisi nasi, aneka lalapan dan lauk. tak lupa segelas susu dan air putih. ia meletakkan nampan itu, di gazebo tempat istrinya duduk.


"Sarapan bareng?!.", tanya Gus Aham. Aisyah menatap suaminya sendu, ia menghela nafas berat untuk sesaat lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Yasudah. kita niati puasa Sunnah bareng-bareng, ya?!.", ucapnya. membuat Aisyah mengerutkan keningnya. hari apa ini?!. ini bukan hari Senin atau Kamis, juga bukan hari dan weton dirinya ataupun suaminya. ya, Aisyah terbiasa puasa Sunnah Senin Kamis dan puasa pada hari dan weton ia dan suaminya.


Puasa Sunnah itu di maksudkan, agar semua yang di berikan pada keluarga kecilnya selalu berkah, suaminya di beri kesehatan, dijauhkan dari semua marabahaya ataupun kesusahan. diberikan umur panjang yang manfaat dan barokah. tidak hanya barokah untuk keluarganya, tapi juga barokah untuk orang banyak.


Ia melihat semua makanan yang dibawa oleh suaminya. sebanyak itu, dan di bawa sendiri oleh Gus Aham. diam-diam Aisyah mendekat pada suaminya. ia mengambil lauk, lalu mengambil nasi bermaksud menyuapi suaminya.


Gus Aham melihatnya. ia tau benar, istrinya mencoba kuat. maka, ia pun menggenggam tangan istrinya lalu mengarahkan ke mulutnya. Gus Aham mengunyahnya pelan, dan Aisyah tersenyum melihatnya.


Gus Aham pun mengambil lauk dan nasi lalu menyuapi Aisyah. begitulah, mereka mencoba saling menguatkan.


Aisyah menyadari satu hal. saat ia kehilangan bayinya, bukan hanya dia seorang yang menangis sedih dan meratapi. Gus Aham pun juga tidak kalah sedihnya, maka dari itu ia mengajak Aisyah rujuk. agar bisa saling menguatkan dan melewati nya bersama.


"Nanti mau ikut, mas?!.", tanya Gus Aham. memecah kesunyian. mereka makan dalam satu piring.


"Teng pundi?!.", (kemana?!).", tanya Aisyah seraya membersihkan ujung bibir Gus Aham. terlihat ada sebutir nasi di sana.


"Ke malang.", jawabnya.


"Wonten acara nopo?!. ( ada acara apa?!).", tanya Aisyah lagi.


"Cuma tasyakuran acara khitan. jadi, mas punya temen. istrinya, ndak mungkin bisa hamil karena kandungannya di angkat. tapi, mereka ngadopsi anak, sekarang sudah kelas empat SD dan hari ini acara khitanan putranya.", ucap Gus Aham menjawab pertanyaan Aisyah.

__ADS_1


"Kandungan istrinya, di angkat karena apa, Gus?!.", tanya Aisyah, yang ingin tahu.


"Katanya, setiap haid selalu pendarahan sampai masuk rumah sakit. setelah di cek ada kanker di rahimnya. ya sudah, di angkat dari pada jadi penyakit.",


"Terus, ada tetangganya yang butuh bantuan. ia harus kerja karena di tinggal suaminya pergi dengan wanita lain, sedang tetangganya itu punya dua anak. satu laki-laki dan satu perempuan.",


"Ibu dari tetangganya?!. atau nenek dari anaknya kemana?!, kan bisa dititipkan ke mereka.", sahut Aisyah.


"Kedua orang tua tetangganya sudah meninggal lama. saudara-saudaranya nggak ada yang sanggup di titipi, rata-rata faktor ekonomi. jadilah, mereka di ambil oleh teman, mas dan istrinya.", ucap Gus Aham mengakhiri ceritanya. Aisyah merasa iba dan terketuk hatinya untuk ikut Gus Aham menemui kedua anak itu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Keluarga kang Mu'idz sudah pamit pulang setelah sarapan tadi. kini, giliran Aisyah dan Gus Aham yang pamit untuk pergi ke Malang, menghadiri undangan dari sahabatnya.


"Hati-hati ya, nduk?!.", ucap Ummi. yang selalu mengingatkan Aisyah dan Gus Aham ketika akan pergi.


"Injih, mi.", jawab Aisyah.


"Teng villa, bah.", jawabnya.


"Wes telpon, Mbah Rosyid biar di bersihin?!.", tanya Abah lagi.


"Sampun, bah.", jawabnya.


Pada akhirnya, Gus Aham dan Aisyah segera masuk ke dalam mobil setelah berpamitan. Ummi dan Abah melambaikan tangan hingga mobil itu menghilang di balik gapura.


Tujuan pertama mereka tentu saja ke villa lebih dulu. villa marry ind puncak buring, Malang tepatnya. rencananya, Gus Aham dan Aisyah akan istirahat di sana dulu, sebelum pergi ke acara khitanan.


Kurang lebih, dua jam perjalanan di tempuh oleh mereka hingga sampai di villa. Gus Aham segera membukakan pintu mobil Jeep Rubicon miliknya untuk Aisyah begitu sampai.


Aisyah segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke villa bersama Gus Aham.

__ADS_1


"Ndak ada orang, Gus?!.", tanya Aisyah.


"Namanya villa, ya gini. jauh dari villa lain. biasanya orang yang datang ke villa ini karena mau liburan atau bulan madu.", ucapnya. sambil membuka pintu villa dengan kunci.


"Mas, maaf si Mbah telat nyambutnya.", ucap seorang pria tua yang datang dengan wanita tua menghampiri Aisyah dan Gus Aham.


"Ndak apa, Mbah. saya disini, cuma semalam kok. besok, sudah balik.", ucap Gus Aham.


"Oiya, Mbah. kenalkan!. ini istri saya, Aisyah namanya.", ucap Gus Aham memperkenalkan Aisyah pada Mbah Rosyid dan istrinya. orang yang biasa merawat, menjaga dan menyewakan villa ini.


Aisyah meraih tangan Mbah Rosyid dan istrinya secara bergantian, ia menjabat dan menciumnya. Aisyah, tersenyum menatap mereka sesudahnya.


Mbah Rosyid mempersilahkan Gus Aham dan Aisyah masuk, ia juga membantu Gus Aham membawa tas nya.


"Taruh di kamar saja, Mbah. ndak perlu masukkan ke lemari.", ucap Gus Aham yang sudah hafal dengan Mbah Rosyid setiap kali ia datang berkunjung.


Setiap Gus Aham atau keluarganya datang. Mbah Rosyid dan istrinya pasti akan segera membawa barang-barang mereka ke kamar dan menatanya di lemari.


"Kalau gitu. saya, sama Mbah dok ( Mbah Putri), permisi dulu, Gus.", ucap Mbah Rosyid pamit pada Gus Aham dan Aisyah yang sedang duduk di ruang tamu.


"Kalau ada apa-apa. atau butuh apa-apa, jangan sungkan minta ya, nduk?!.", ucap istri Mbah Rosyid pada Aisyah yang di jawab dengan senyuman dan anggukan.


Mereka pun pamit pergi dan pulang meninggalkan Gus Aham dan Aisyah berdua di villa.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore lewat. Aisyah segera mandi untuk menyegarkan badan dan bersiap melaksanakan sholat ashar berjamaah dengan Gus Aham.


Waktu yang begitu singkat, ia gunakan untuk mengajak Aisyah berkeliling di sekitar villa sambil menunggu waktu Maghrib dan isya' tiba, setelah mereka selesai berjamaah sholat ashar.


rumput hijau terhampar luas, ada gazebo di halaman villa itu. dan aneka tanaman hias yang tertata apik di sana.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2