Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 50


__ADS_3

Mobil Gus Ma'adz memasuki pelataran ndalem. memang jarak panti dan ndalem tidaklah jauh, hanya sekitar satu kilometer saja. hanya beberapa menit jika di tempuh dengan mobil.


Begitu mobil berhenti, Gus Ma'adz segera turun untuk membukakan pintu Ning Nafis. Gus Aham menghela nafas dalam beberapa saat sebelum akhirnya, membuka pintu mobil dan keluar.


Mereka berjalan memasuki ndalem. orang yang pertama di jumpai adalah Abah, yang sedang duduk di ruang tamu dengan beberapa orang yang datang untuk sowan. Gus Ma'adz dan Gus Aham segera menghampiri, meraih tangan Abah dan menciumnya lalu menjabat semua tamu yang ada di ruangan itu.


Sementara Ning Nafis, lebih dulu pergi ke kamar Ummi. begitu melihat Ning Nafis masuk, Ummi meminta kang Mu'idz yang beberapa hari ini sudah menjaganya, untuk membantunya bangun.


Kang Mu'idz membantu Ummi duduk bersandar setelah membenarkan letak bantal dengan benar agar Ummi merasa nyaman ketika duduk.


"Aisyah?!.", suara Ummi terdengar lemah. menanyakan salah satu menantunya pada menantu tertuanya.


Ning Nafis hanya diam, lalu menghampiri Ummi.


"Ummi, sampun dahar?. (Ummi, sudah makan?).", tanyanya.


"Ning Aisyah, pundi. Ning?. Ummi nyuwun di suapi, Ning Aisyah. (Ning Aisyah, mana. Ning?. Ummi minta di suapi, Ning Aisyah).", tany kang Mu'idz yang melihat Ning Nafis masuk sendiri ke kamar Ummi. Ning Nafis tidak bisa menjawab pertanyaan kang Mu'idz.


"Aisyah, ndak bisa ikut pulang. mi.", sahut Gus Ma'adz. berjalan masuk ke kamar Ummi di ikuti dengan Gus Aham.


Ummi menatap Gus Aham. matanya menyiratkan pertanyaan "Kenapa?.". Gus Aham yang paham dengan tatapan mata ibunya, segera berjalan mendekati Ummi. ia berjongkok disisi ranjang yang lain. Gus Aham meraih tangan Ummi, tapi.....


"Plak...., Ummi menamparnya. membuat semua terkejut dan kaget, apalagi Abah yang baru saja menyusul masuk ke kamar, setelah tamunya pulang.


Gus Aham hanya diam menerima tamparan itu, ia tau ia salah. ia merasa pantas menerimanya.


Seumur hidup, dari kecil hingga Gus Aham dewasa. baru kali ini ia mendapat tamparan dari Ummi. jika biasanya, apapun kesalahan Gus Aham, Ummi yang menutupi dan membelanya, tapi kini. Ummi menjadi orang pertama yang menyalahkannya.


"Ummi, kecewa.", hanya itu yang terucap dari bibir ibunya yang memucat. butiran dari kelopak mata itu, terjun bebas membentuk sungai kecil yang mengalir deras melewati kedua pipinya. hingga Ummi, merasa sesak.


Tak ubahnya dengan Ummi yang menangis, Gus Aham pun juga menitikkan air mata. kesalahan terbesar nya adalah melakukan tes DNA itu, dan meragukan bayi-bayi mereka.


Baru tau Aisyah pergi saja, Ummi sudah drop. lalu, bagaimana memberi tau Ummi, bahwa Aisyah mengalami keguguran?.", pertanyaan-pertanyaan itu muncul dan menari-nari di pikiran Gus Ma'adz, Ning Nafis dan Abah.


Nafas Ummi tiba-tiba memburu, merasakan sesak. membuat semua yang ada di ruangan panik. Gus Ma'adz segera menelepon dokter.


Gus Ma'adz, Ning Nafis, Gus Aham dan kang Mu'idz menunggu di luar sementara Abah menemani Ummi sambil menunggu dokter datang.

__ADS_1


"Gus, Ning. saya permisi dulu.", ucap kang Mu'idz, pamit. yang di jawab dengan anggukan oleh Gus Ma'adz.


Sementara Abah menemani Ummi di kamar sambil menunggu dokter datang. Abah meminta Ummi untuk ber istighfar.


"Istighfar seng okeh, seng sabar. kabeh nduwene Gusti. kabeh pengarepe Gusti. gak apik yen di getuni, di tangisi.", (Banyak-banyak istighfar, yang sabar. semua kepunyaan Allah. semua kehendak Allah. tidak baik kalau di sesali, di tangisi).", ucap Abah menenangkan Ummi setelah mengatakan semua yang terjadi pada Aisyah, termasuk keguguran bayi kembarnya.


Awalnya, Ummi semakin histeris. tapi Abah terus menuntunnya untuk ber istighfar, sehingga Ummi sedikit lebih tenang.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Dokter selesai memeriksa dan segera keluar menemui Abah, Gus Ma'adz, Gus Aham dan Ning Nafis yang memang masih setia menunggu di luar.


"Gimana, dok?.", tanya Ning Nafis.


"Sebaiknya, ibu di bawa kerumah sakit.", jawabnya. semua masih diam, menunggu keterangan dokter selanjutnya.


"Dengan hanya mengandalkan infus dan suntikan vitamin, itu ndak akan berpengaruh pada keadaannya.",


"Apalagi, ibu menolak untuk makan dan minum. ibu sudah mengalami dehidrasi sebelum saya memasang infus, dan sekarang malah lebih parah.",


"Di tambah lagi, sekarang tekanan tensi ibu tinggi sedang tekanan darah ke jantungnya lemah.", ucap dokter. yang membuat semua terdiam.


Melihat semua diam dengan pemikiran masing-masing. dokter itu membereskan peralatannya, lalu pamit pada Abah.


Sementara kang Mu'idz sudah sampai di depan pintu panti. iya, kang Mu'idz pamit undur diri tadi, karena mau pergi ke panti. tidak ada yang menyuruhnya, itu inisiatif nya sendiri karena tidak tahan melihat Ummi terus mengharap kehadiran Aisyah dalam sakitnya.


"Assalamualaikum.", ucap kang Mu'idz. suasana panti sepi, mungkin semua sedang istirahat. mengingat kang Mu'idz datang pada siang hari.


"Assalamualaikum.", ucapnya lagi. berharap mendapat sahutan. kang Mu'idz menoleh ke kanan dan kiri. berharap bertemu orang, atau setidaknya anak-anak panti yang biasa berkeliaran.


"Assalamualaikum.", ucapnya lebih keras. tapi hasilnya nihil.


Akhirnya kang Mu'idz pun berkeliling, mencari kamar Aisyah tepatnya. begitu ketemu, kang Mu'idz mengetuk jendelanya.


"Tok....,


"Tok....,

__ADS_1


"Tok....,


"Assalamualaikum, Ning.", ucapnya. Aisyah yang selesai melaksanakan sholat dhuhur itu terdiam. ia mengenal betul suara itu, tapi mungkinkah?!....


"Assalamualaikum, Ning. ini, kang Mu'idz.", ucapnya lagi dari luar jendela kamar Aisyah.


"Wassalamu'alaikum salam.", jawabnya. Aisyah beranjak berdiri, lalu mencari sumber suara. ia berjalan dengan tongkat dan sesekali meraba tembok atau perabotan yang di lewatinya.


"Ning, saya ada di jendela. tolong buka, Ning.", ucapnya. Aisyah yang sudah ada di samping jendelanya itu segera membukanya.


"Ceklek....


"Alhamdulillah.", ucap kang Mu'idz sumringah melihat Aisyah membuka jendela kamarnya.


"Tadi saya, salam di depan. tapi ndak ad......,


Ucapannya terhenti melihat Aisyah yang tidak fokus melihatnya, pandangannya kosong. ia melambaikan tangan di depan wajah Aisyah, tapi pandangan Aisyah tetap lurus ke depan. tidak melihatnya, yang sedang berdiri di bawah jendela.


"Kenapa, kang?.", tanya Aisyah.


"Ning. njenengan?!,.....


Tak mampu kang Mu'idz melanjutkan perkataannya. apa yang menimpa gadis yang di kagumi nya itu?!. tapi Aisyah sudah paham kemana arah pertanyaan kang Mu'idz itu.


"Iya. saya ndak bisa lihat sekarang.", ucapnya membenarkan prasangka kang Mu'idz. kang Mu'idz terdiam, ia merasa sedih melihat Aisyah.


"Kang Mu'idz, kenapa kesini?.", tanya Aisyah lebih lanjut. membuyarkan tatapan sendu kang Mu'idz pada Aisyah.


"Ummi, sakit. Ummi ndak mau maem, Ning. Ummi mau ketemu dan mau di suapi Ning Aisyah.", ucapnya.


"Keadaan Ummi makin lemah, drop terus. Ning.", sambungnya.


"Aisyah, sudah ndak ada hubungannya dengan keluarga ndalem.", sahut kakaknya yang baru saja masuk kamar dan mendengar Aisyah berbicara dengan kang Mu'idz lewat jendela.


Ia sedikit mendorong adiknya untuk melangkah mundur, dan segera menutup serta mengunci jendela kamar.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2