Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 154


__ADS_3

Gus Aham nampak berjalan menghampiri Ummi dan Abah, yang sudah duduk di gazebo taman belakang.


Nampak raut wajah Ummi yang menahan kesal.


"Ummi, sama Abah manggil, Aham?.", tanyanya, begitu sampai di depan gazebo. Abah nampak mengangguk, kemudian menutup buku bacaannya dan melepas kacamatanya.


"Ada apa, bah?.", tanya Gus Aham, setelah duduk bergabung bersama mereka di gazebo.


"Kata Abah, kamu mau bawa Aisyah sama cucu Ummi untuk tinggal di yayasan?!.", tanya Ummi, tanpa basa-basi lagi.


Ya, Gus Aham memang sudah membicarakan masalah itu dengan Abah nya.


Bahkan, saat hendak membuat rumah di yayasan pun, Gus Aham meminta izin dan meminta Abah untuk mencarikan tanggal dan hari yang tepat.


Bukan tanpa alasan Gus Aham hanya mengatakan itu pada Abah nya?!. karena ia faham karakter ibunya, pasti langsung tidak menyetujui, apalagi mengizinkan.


Ummi pasti meminta ia dan sang istri tetap tinggal di ndalem menemaninya sampai adiknya menikah. atau bahkan meminta Gus Aham membuat rumah di sekitar ndalem, sama seperti yang diminta Ummi pada Gus Ma'adz.


"Terus, Ummi piye, le?!.",


"Ndak bisa ketemu sama Aisyah, sama cucu Ummi?!.",


"Anakmu itu kembar. gimana nanti Aisyah ngerawatnya?!, siapa yang bantuin?!.",


"Aisyah pasti kerepotan. jagain kamu, jagain si kembar. belum lagi ngurus rumah.",


"Terus nanti, mesti bantu kamu ngurusin yayasan.",


"Kamu, pikir. jadi ibu itu, gampang?!. coba pikir, gimana repotnya ngurus rumah tangga kalau anak-anak lagi sakit?!. Ummi, bener-bener ndak ngerti sama jalan pikiranmu, kali ini.",


Ummi terus saja mengeluarkan uneg-uneg nya, dan hanya di dengarkan oleh kedua pria yang di sayanginya di depannya. sesekali, Abah nampak menghela nafas dalam dan melirik Gus Aham, mendengar protes istrinya. tapi, Gus Aham hanya menanggapi dengan senyuman.


Setelah di rasa ibunya cukup mengeluarkan semua kekhawatiran dan protesnya, Gus Aham perlahan mendekat.


Ia kini duduk lebih dekat di depan Ummi. tangannya meraih kedua tangan berkulit bersih milik ibunya.

__ADS_1


"Mi, Aham minta izin ya?!. bawa Aisyah dan kedua cucu Ummi untuk tinggal di yayasan?!.", ucapnya lembut, mulai membujuk wanita yang begitu mencintainya itu.


"Ummi, ndak usah khawatir. semua sudah Aham persiapkan dan perhitungkan.", sambungnya.


"Masalah tempat tinggal?!, Alhamdulillah, rumah sudah jadi sepenuhnya. perabotan sudah di isi semuanya.",


"Untuk yang membantu Aisyah, Aham juga sudah pikirkan. akan ada tiga orang yang membantu merapikan rumah dan membantu menjaga si kembar.",


"Aham, hanya minta restu dan doa dari Abah dan Ummi, agar yayasan semakin maju dan sukses.",


"Semakin bermanfaat dan dapat membantu anak-anak jalanan, anak kurang mampu, anak yatim, para dhuafa, dan lansia. Aham, hanya berharap, Aham dan Aisyah bisa berguna bagi mereka."


"Tapi dengan kalian tinggal disini, kalian juga tetap berguna. lebih-lebih ilmu kalian?!. akan sangat bermanfaat untuk perkembangan pondok yang sudah lama di kelola Mbah kung mu.",


"Kenapa harus memilih, untuk tinggal dan menetap di yayasan?!.",


"Bisa seperti biasanya to, le?!. Aisyah bantu Ummi di pondok, kamu yang wira-wiri ke yayasan.", sanggah ummi, masih belum mau menerima penjelasan Gus Aham.


"Ummi, nyesel dukung kamu buat bikin yayasan kalau kaya' gini.", gerutu ummi, pada akhirnya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Gus Aham tersenyum melihat Abah. ia mengisyaratkan agar Abah tidak ikut berbicara untuk membujuk ibunya.


Abah yang faham pun, hanya menghela nafas dalam lalu beranjak pergi meninggalkan istri dan anaknya. bukan tanpa sebab, Abah tau Gus Aham dan Ummi butuh ruang untuk berbicara berdua.


Gus Aham melihat Abah nya berlalu. ia segera berpindah posisi. kali ini, ia duduk di samping ibunya.


Gus Aham memeluk tubuh penuh kasih sayang yang tanpa lelah selalu ada untuknya. ia menyandarkan kepalanya pada bahu Ummi. namun, itu tak membuat ibunya bergeming ataupun menoleh padanya.


"Ummi dulu selalu bilang, Aham bisa menjadi hebat seperti mas Irfan dan mas Ma'adz, setiap kali Aham merasa di bedakan dari saudara-saudara Aham yang lain.", ucap Gus Aham.


Ia mencoba mengingatkan ibunya yang terus memberi semangat padanya, saat ia merasa Abah nya tidak menyukainya karena ia tidak seperti kedua kakaknya.


"Hanya saja, setiap anak memiliki keistimewaan dan kelebihan yang berbeda-beda.",

__ADS_1


"Mas Ma'adz, yang sangat faham dengan isi kitab kuning. terutama, dalam ilmu Faroidh, Manteq, Hisab dan Falakh. sehingga menjadi salah satu penyusun kalender pondok kita, bersanding dengan para kyai sepuh dan Masyayikh. semua perhitungannya tentang hukum waris dan perbintangan dapat ia selesaikan dengan akurat.",


"Ada juga Mas Irfan, yang ahli di bidang tajwid dan ilmu tasawuf. menjadi penghafal Al-Qur'an terbaik di pondoknya, hingga mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan di Kairo, Mesir. dan menjadi mahasiswa lulusan terbaik pada tahun itu.",


"Bahkan, kyai tempatnya menimba ilmu sampai sukarela datang jauh-jauh kemari hanya untuk meminang mas Irfan. menikahkannya dengan putri terbaik mereka, mba Bilqis.",


"Sedangkan, Aham?!......


"Aham, hanya anak nakal. tidak memiliki keistimewaan apapun, Ummi. yang Aham bisa hanya berusaha menjadi bermanfaat dan berguna bagi orang lain.", ucapnya. membuat ummi langsung menoleh menatap putra yang sedari tadi bersandar di pundaknya.


"Bisa menikah dengan wanita sebaik dan sesempurna Aisyah. itu, membuat Aham bersyukur dan selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.",


"Ummi ingat dengan benar, kan?!. bagaimana Aham selama di pondok?.", ucapnya, mengingatkan kenakalannya semasa mondok pada sang ibu.


"Aham sering di hukum. sering melanggar peraturan pondok, sering juga terseret masalah sehingga membuat ummi dan Abah sedih.",


Dan penuturannya itu membuat sang ibu mendekap wajah Gus Aham seraya menggeleng kuat. ia ingin meyakinkan putranya, bahwa semua putra yang ia lahir kan istimewa. tidak pernah ada seorang putranya yang membuat ia dan sang suami kecewa.


"Mungkin, memang begini jalannya. dan memang mungkin, kemampuan Aham, hanya sampai disini.",


"Hanya mampu membantu anak-anak jalanan dan orang yang tidak mampu, untuk hidup lebih baik. bersama-sama saling belajar agama, agar kehidupan kami lebih terarah.",


"Tidak seperti mas Ma'adz ataupun mas Irfan, yang mampu memimpin dan membimbing ratusan bahkan ribuan santri untuk menegakkan dan mensyiarkan agama Allah.", ucap Gus Aham, yang membuat wanita hebat di depannya berderai air mata.


"Lagipula, bermanfaat tidak harus menjadi guru. tidak harus tetap berada di pondok, membantu mengembangkan pondok ini.", sahut Abah, yang datang kembali dan menyahut pembicaraan istri dan anaknya.


Abah segera beralih dan duduk di samping istrinya.


"Aham, punya caranya sendiri untuk menjadi bermanfaat bagi orang banyak. dia punya cara sendiri, untuk mengembangkan ilmu dan menyiarkan agama.", lanjut Abah.


"Bukankah, sudah cukup?!. Dengan adanya Ma'adz dan Nafis disini?.",


"Dan sebentar lagi, Fahim juga akan selesai mengabdi di pondok tempatnya belajar. Abah, yakin ia mampu meneruskan perjuangan Mbah kung nya dalam mengelola pondok ini.", lanjut Abah, yang juga ikut menenangkan ummi.


🌺TO BE CONTINUED🌺

__ADS_1


__ADS_2