
"Qobiltu an-nikah bil mahri al-madzkur".
"Sah?.", tanya mas Raihan sebagai wali yang menikahkan adiknya pada semua saksi.
"Sah.", jawab mereka serentak. lalu di sambungkan dengan doa yang di panjatkan Abah.
Air mata Aisyah menetes. ia merangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. tak pernah terpikir olehnya, akan menjadi istri dari orang yang sama yang pernah melukainya.
Jika dulu, saat pernikahan yang pertama. ia menangis karena haru. kini, ia menangis karena pilu. ada rasa kecewa pada keluarganya, pada dirinya. ada luka yang menyayat hatinya, karena membiarkan ia menikah lagi dengan Gus Aham dengan alasan silaturahim antara kedua keluarga dan cerita masa lalu.
Doa selesai di panjatkan. Gus Aham mengulurkan tangan pada Aisyah, ibu segera mendekat. mengambil tangan Aisyah untuk menggenggam tangan Gus Aham dan menciumnya. terlihat semua orang saling melempar senyum.
Pak Dhe terlihat berdoa yang di aminkan semua orang, ketika Aisyah mencium tangan suaminya. sedang tangan Gus Aham yang satunya di letakkan di puncak kepala istrinya yang tertutup jilbab. sambil melakukan itu, ia pun berdoa.
Selesai acara akad nikah. Gus Aham dan Aisyah pun sungkem pada semua anggota keluarga yang hadir. kali ini, Ning Nafis yang membantu adik iparnya untuk sungkem pada para sesepuh yang hadir.
Begitu acara sungkeman selesai, mereka melanjutkan dengan acara ramah tamah, yang di isi dengan makan malam bersama.
Semua keluarga yang hadir segera mengambil makanan dan menikmatinya. sementara Aisyah hanya duduk terdiam dengan tatapan kosong di samping Gus Aham.
Tidak ada raut kebahagiaan di wajah ataupun matanya. semuanya terlihat datar.
"Ham. coba ditanya, Aisyah mau makan apa?.", goda Ning Nafis yang membuat Gus Aham tersenyum. ia menoleh ke samping, melihat Aisyah yang kini resmi lagi menjadi istrinya.
"Mau makan?.", tanya Gus Aham. dan Aisyah hanya menjawab dengan gelengan. ekspresi wajahnya juga tidak berubah.
Gus Aham mengerti, sulit bagi istrinya untuk menerimanya lagi. ia tau, apa alasan Aisyah mau menikah dengannya lagi?!.
__ADS_1
Menjijikkan ia mengingat hal itu. bahkan untuk bisa bersama wanita yang di cintainya, cerita lama harus di munculkan. atas nama persaudaraan dan persahabatan para kakek buyutnya, baru bisa menjerat Aisyah dalam pernikahan.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat. semua tamu dan keluarga besar, pamit undur diri. Aisyah terlebih dahulu di antar Amira ke kamar untuk istirahat. sementara Gus Aham masih menyalami semua keluarga yang pamit meninggalkannya di kediaman Aisyah.
"Ini pernikahan kalian yang kedua. aku harap, kamu bisa lebih baik pada adikku.", ucap mas Raihan. kali ini, ia tidak ingin berbasa-basi. Gus Aham hanya mengangguk.
Ia sendiri, sebenarnya juga kurang setuju bila adiknya menikah dengan Gus Aham lagi. tapi isyaroh dari mimpinya setelah sholat istikharah itu, terlihat sangat baik untuk kelanjutan hubungan antara Aisyah dan Gus Aham.
"Jika, kau. melakukan kesalahan lagi, aku sendiri yang akan membawa adikku pergi meninggalkanmu. dan jangan harap ada hubungan lain di antara kita saat itu terjadi.", ucap mas Raihan. ia menekankan setiap kata dan ancaman yang keluar dari bibirnya.
Bukan tanpa sebab. ia melakukan ini, hanya agar Gus Aham bisa bersikap lebih baik pada adiknya. mas Raihan pergi meninggalkan Gus Aham di aula begitu saja, ia harus menenangkan diri, agar tidak berucap lebih kasar lagi pada Gus Aham.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Gus Aham memasuki kamar Aisyah. terlihat dua orang perias yang membantu Aisyah berganti baju dan melepaskan aksesoris mahkota yang menghiasi kerudungnya saat ijab tadi.
"Sampun, Gus.", jawab salah satu dari mereka. sementara lainnya membereskan dan memasukkan semua peralatan dan perlengkapan ke dalam tas dan koper makeup.
Begitu selesai membereskan, mereka segera pamit undur diri, meninggalkan Gus Aham dan Aisyah di kamar.
Gus Aham berjalan mendekat, tapi belum sempat ia mendekati Aisyah langkahnya terhenti ketika mendengar Aisyah berucap.
"Kalau mau mandi, ada handuk bersih di lemari. njenengan, bisa cari sendiri.", ucapnya dingin. Gus Aham hanya tersenyum melihat sikap istrinya. ia melangkah lagi ke arah Aisyah.
"Maaf. ndak bisa menyiapkan dan melayani, njenengan. ini resiko, karena menikah dengan orang buta.", ucapnya lagi. Gus Aham sedikit terluka dengan perkataan istrinya, tapi ia memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam, berusaha untuk tidak terpancing emosinya.
Setelah lega, ia melangkah lagi. lebih dekat pada Aisyah, sehingga akhirnya, ia berlutut di depan wanita yang kini duduk di tepian ranjang.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas Gus Aham. ia meraih tangan istrinya, sejenak di tatapnya wajah istrinya. terlihat goresan kesedihan di sana.
"Ndak apa. mulai sekarang, mas yang akan jaga kamu.", ucapnya. menjawab permintaan maaf Aisyah.
Aisyah menarik tangannya, ia beringsut ke atas ranjang. lalu menaikkan kakinya, kemudian merebahkan tubuhnya, meraih bantal dan mencoba terpejam. seketika, Gus Aham langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
Gus Aham pergi ke kamar mandi setelah mengambil handuk bersih di lemari. ia menyalakan shower, mengguyur badannya agar merasa segar. ia bahagia malam ini, karena bisa bersama gadis yang di cintainya lagi. meskipun sementara ini, ia harus memaksa Aisyah untuk menerima kehadirannya.
Gus Aham keluar kamar mandi, dengan baju ganti bersih. wangi melati, hiasan pada kerudung Aisyah tadi menyeruak. menyebar ke seluruh ruangan. mengingatkan nya pada malam pertama mereka tujuh bulan yang lalu, pada pernikahan pertamanya.
Waktu itu, mereka tidur terpisah. Aisyah tidur di ranjang dan Gus Aham tidur di sofa. sedang, saat berada di ndalem Gus Aham. Aisyah tidur di ranjang bawah, sedang Gus Aham tidur di ranjang atas.
Akankah, malam ini sama seperti malam itu?. jawabannya adalah tidak. ya, bukankah Aisyah adalah hak nya, sekarang?!. sekalipun ia tidak mau, tapi ia tidak akan menolak, Gus Aham suaminya dan itu kewajibannya.
Kali ini, Gus Aham yang memiliki keyakinan dan tekad penuh pada pernikahannya.
Selama mereka selalu bersama, selama mereka tidak terlepas dari ikatan pernikahan.Gus Aham yakin, Aisyah akan bisa memaafkan dan menerima ia kembali.
Bukankah di dunia ini, tidak ada yang mustahil?." seperti ia sendiri, yang pada akhirnya jatuh cinta dan bertekuk lutut
pada Aisyah karena kegigihannya untuk membuat hari-hari Gus Aham menjadi berwarna.
Gus Aham menjemur handuk itu ditempatnya , agar cepat kering. setelah nya, ia berjalan ke ranjang. menaikkan kakinya dan memasukkan dalam selimut.
Ditatapnya wajah yang mampu membuatnya cemburu itu, ia terlihat manis. Gus Aham mendekat, mengecup kening Aisyah untuk beberapa saat. ia ingin Aisyah merasakan kerinduan yang membelenggunya. yang membuatnya hampir gila dan putus asa.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺