Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 15


__ADS_3

 


Mobil memasuki gerbang panti. iya, Aisyah adalah putri dari pemilik yayasan panti asuhan.


 


Bukan hanya anak yatim-piatu yang tinggal di panti ini, tapi ada juga anak yang sekolah diniyah di pondok Gus Aham yang tinggal disini.


Bukan tanpa sebab, mereka anak-anak yang dulunya mondok dan sekolah di pondok milik keluarga Gus Aham, namun karena orang tuanya kurang mampu jadilah mereka di tarik ke panti milik keluarga Aisyah.


Disini, selain mereka bisa sekolah sampai jenjang tinggi, mereka juga di ajari ketrampilan, bercocok tanam hingga peternakan. yang mana akan sangat bermanfaat saat mereka sudah dewasa, berkeluarga dan terjun di masyarakat.


Mereka sampai sekitar pukul 10.35 pagi, keadaan panti sangat sepi. anak-anak kebanyakan sekolah dan bekerja di jam itu.


Gus Aham segera turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Aisyah.


Aisyah turun, di edarkannya pandangannya pada sekitar. setelah menikah, ini kali kedua Aisyah datang lagi menemui ibu dan keluarganya.


"Ayo masuk.", ajak Gus Aham. Aisyah tersenyum dan mengangguk.


Gus Aham meraih tangan Aisyah dan menggandengnya. Aisyah melihat tangannya yang bertautan dengan tangan suaminya, seperti mimpi rasanya melihat sikap suaminya beberapa hari ini. mengingat itu tidak akan terjadi kalau tidak di depan keluarga.


"Assalamualaikum.", Gus Aham memberi salam begitu di dekat gazebo, tempat ibu bekerja.


Kebiasaannya adalah mengecek pemasukan dari donatur, mencatat pengeluaran baik untuk biaya anak-anak sehari-hari, biaya sekolah dan kebutuhan lainnya.


Ada juga sembako berupa beras, gula, minyak dan sedikit uang yang harus di keluarkan panti setiap bulannya, untuk santunan para janda dan fakir miskin.


Ibu tersenyum. "Waalaikum salam.", jawabnya. segera Gus Aham melepas alas kakinya dan naik ke gazebo untuk mencium punggung tangan mertuanya.


Ibu Aisyah sangat senang, di peluknya putri satu-satunya itu setelah mencium tangan ibunya.


"Kamu tau, ibu kangen?.", ucap ibunya masih dengan memeluk Aisyah.


"Tau, Bu. makanya Aisyah kesini.",


"Tapi, jangan sering-sering kesini. kamu kan juga harus ngurus Bu nyai dan pondok.", ucap ibunya melepaskan pelukannya lalu merangkup kedua pipi Aisyah, yang membuat aisyah tersenyum.


"Mas, kemana Bu?.", tanyanya


"Mas mu sama mbak mu sekarang gak cuma ngajar di tempatnya kuliah dulu. tapi sekarang sering di undang untuk mengisi seminar juga.", jawab ibunya sedikit kesal.


"Kenapa ibu kesal?.",


"Lha piye, to?, kasihan Abel sering di tinggal. anak seumuran dia kan haruse dapat perhatian lebih dari orangtuanya.",


Aisyah hanya tersenyum mendengar keluhan ibunya.

__ADS_1


"Sebenernya, Abel atau ibu yang butuh perhatian?.", tanya aisyah. ibunya mengerutkan kening. yang membuat aisyah dan Gus Aham tersenyum.


"Bu, insyaallah kalau Aisyah ndak terlalu repot dan saya bisa antar, kami akan sering-sering main dan jenguk ibu kesini.", ucap Gus Aham. ibu mertuanya yang mendengar itu tersenyum.


 


Mereka asyik mengobrol di gazebo. ibunya menceritakan semua yang terjadi selama Aisyah menikah dan tinggal di ndalem Gus Aham.


 


"Loch, Ko. tak kirain kamu wes berangkat to, le?!.", celetuk ibunya saat melihat Riko, anak panti juga yang kini sudah berhasil meraih gelar sarjana dan menjadi seorang dokter.


Riko menoleh, ia tersenyum melihat Aisyah, Gus Aham dan ibu. Riko mendekat lalu mencium tangan Gus Aham.


"Belum Bu,." jawabnya sambil duduk di pinggiran gazebo.


"Berangkatnya masih besok pagi.", sambungnya.


"Oalah, ibu bearti yang salah denger. yowes, kamu ke dapur. bilang mba Yati ada Aisyah sama Gus Aham, suruh buatin minum sama masak yang enak buat makan siang.", perintah ibu.


"Injih, Bu.", jawabnya.


"Ais..., ech. maaf.", ucap Riko. ia merasa tidak biasa memanggil Aisyah dengan panggilan Ning, tapi kalau langsung panggil nama lebih tidak sopan, jadilah ia mengulang perkataannya.


"Ning, Gus. saya ke dapur dulu.", ucapnya yang di angguki Gus Aham, lalu undur diri.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Tapi, semua sudah beres to, le?!.", tanya suara di seberang yang tidak lain adalah Gus Ma'adz.


"Beres, mas. aku juga bilang ke pak Rudi kalau mau pulang, cuma kalau ada apa-apa aku suruh beliau langsung telfon aku.", jawabnya sambil sesekali menyibakkan rambutnya yang tertiup angin.


"Alhamdulillah, kalau sudah beres. yowes, mas tutup dulu telfonnya, nanti mas sampein ke Ummi.",


"iya, mas. assalamualaikum.", ucapnya lalu menutup telfon setelah mendapat Jawaban salam dari kakaknya.


Gus Aham meletakkan ponselnya, ia fokus kembali ke laptop nya. angin yang berhembus membuat bunga-bunga bergoyang perlahan, di tambah suara gemericik air di kolam ikan kecil di samping gazebo. menambah indahnya pemandangan yang ada di depan kamar Aisyah, membuat pikirannya lebih rileks dan santai dalam mengecek setiap email laporan yang masuk dari karyawan-karyawan kepercayaannya.


Aisyah datang membawa camilan dan kopi untuk suaminya di gazebo. terlihat suaminya begitu serius menatap laptopnya, memeriksa setiap laporan yang masuk ke emailnya.


Melihat itu, Aisyah tidak mau mengganggu. ia pun meninggalkan Gus Aham dan berjalan mengelilingi panti untuk melihat-lihat asrama dan fasilitas lainnya.


Anak-anak mulai pulang satu persatu dari sekolahnya, mereka senang sekali melihat Aisyah datang berkunjung ke panti. mereka berebut mencium tangan Aisyah.


Dulu, Aisyah sering menemani mereka belajar. dan yang paling menyenangkan adalah Aisyah akan bercerita mengantarkan mereka tidur sampai mereka semua terlelap.


"Anak-anak tetap suka sama kamu ya, Ais?.", suara di belakang itu mengejutkannya, Aisyah menoleh ke arah sumber suara yang memiliki panggilan khas untuknya. ya, dia adalah Riko.

__ADS_1


Aisyah dan Riko adalah teman sedari kecil, selisih umur mereka hanya tiga tahun, lebih tua Riko.


Dulu, Aisyah ingat saat awal-awal Riko datang ke panti ini, ia menangis karena ibunya menitipkan dia, dan harus pergi bekerja keluar negeri karena ayahnya meninggal jatuh dari ketinggian saat sedang bekerja di sebuah proyek bangunan.


Aisyah lah yang bisa membujuknya saat Riko berhari-hari tidak mau makan dan hanya menangis ingin bertemu ibunya. setiap kali Riko sakit, Aisyah juga yang bisa membujuknya minum obat.


Aisyah tersenyum melihatnya.


"Jadi dokter juga harus gitu. jangan galak-galak, biar pasiennya gak kabur.", ucap Aisyah menahan senyumnya yang mana malah membuat Riko tertawa kecil sambil berjalan ke arah Aisyah.


"Siapa yang jadi dokter?.", tanyanya saat sudah sampai di depan Aisyah.


"Kata ibu, kamu sudah berhasil jadi dokter. pasti ibumu bangga, Rik.",


Riko tersenyum. "Iya, ibuku bangga. dan memintaku pergi dari sini.", jawabnya. raut wajahnya sedikit berubah kecewa.


"Kenapa?.", tanya Aisyah.


"Ibu, mau aku segera menikah. ibu sudah pilihkan jodoh, sudah pilih calon untukku.",


"Itu bagus. jadi, aku gak akan denger lagi pertanyaan-pertanyaan konyol dari kamu. seperti, Ais, cewek tuh suka cowok yang kaya' gimana sih?, atau. Ais karena gak ada anak cewek yang mau sama aku, kamu aja ya, yang jadi pacarku.", ucap Aisyah tertawa riang mengenang masa kecil mereka sewaktu masih sekolah di TK dan SD.


Mengingat itu, Riko hanya tersenyum getir. padahal itu bukan sekedar ucapan anak-anak, bahkan saat ia dewasa, ia pun menginginkan hal yang sama sampai bertekad harus sukses demi mendapatkan Aisyah.


Riko rela kuliah jauh-jauh dan waktunya liburan digunakan untuk membantu mengurus panti dari pada berlama-lama menemui ibunya. namun kenyataannya lain. setelah ia menyelesaikan kuliah kedokterannya dan mulai bekerja, tanpa sepengetahuannya rupanya Aisyah telah dijodohkan dengan Gus aham. bahkan perjodohan itu telah di atur sedari mereka kecil.


 


Gus Aham mencari-cari Aisyah, dan melihatnya sedang tertawa riang dengan Riko. entah kenapa?!, melihat itu hatinya merasa gondok dan kesal.


 


"Hei, cantik.", Gus Aham memanggil seorang anak kecil yang baru saja melewatinya. anak kecil itu segera berbalik dan mendekat pada Gus Aham.


Gus Aham berbisik di telinga anak itu. anak itu tersenyum dan mereka melakukan TOS tanda sepakat.


Gus Aham mengeluarkan uang dan memberikannya pada anak itu, lalu anak itu segera menghampiri Aisyah, menarik ujung lengannya sehingga Aisyah berjongkok. lalu anak kecil tadi membisikkan sesuatu.


"Rik, aku pergi dulu ya. Gus Aham muter-muter nyari aku katanya.", pamitnya pada Riko yang di jawab dengan anggukan, lalu Aisyah pergi mencari Gus Aham.


Dikamar, Gus Aham pura-pura tidak bisa mengikat rambutnya sendiri. Aisyah yang melihatnya segera mendekat.


"Saya bantu, Gus.", ucapnya. Gus Aham hanya diam, tapi memberikan sisir dan ikat rambutnya pada Aisyah.


Bagaimanapun. dengan keadaan Aisyah sekarang, ia tidak boleh gampang marah. jadi meskipun ia merasa tidak nyaman melihat Aisyah dengan Riko, tapi cara paling aman adalah menggunakan anak kecil tadi, dan dia menunggu hasilnya. seperti sekarang ini.


"He... he... he..., Gus Aham tertawa dalam hati, merasa menang dari Riko.

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺



__ADS_2