
Kini terdengar suara Ning Nafis yang tengah memimpin doa khotmil Qur'an, sebagai ganti ibu mertuanya. sedangkan ummi dan ibu nampak sibuk momong si kembar, Umar dan Fatimah, juga Ning Dija, Ning Shofi, Abel dan adiknya di ruang keluarga.
Sementara Aisyah, juga turut hadir di antara para alumni tahfidz. walaupun kali ini, dia tidak ikut mengaji karena berhalangan.
Nampak juga di bagian dapur. mereka menata aneka makanan prasmanan dari nasi, sayur, daging, ayam dan lain sebagainya di meja.
"Mengko nek dungone wes mari, tinggal nggowo mengarep.", kata mbok ni, dengan logat Jawa Surabaya nya. sementara yang lain, nampak menyiapkan bingkisan berupa nasi kotak dan kue untuk di bawa pulang para tahfidzoh.
Sementara Ali nampak membagi beberapa anak untuk mengantarkan undangan dari rumah ke rumah pada anak-anak. total kurang lebih, ada dua ratus orang yang di undang untuk acara tasyakuran nanti malam.
"Wa shollahu 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala Ali washohbihi wa salim, walhamdulillahi Robbi al-'alamin. shodaqoallhu al'adzim.",
"Al-fatihah.", ucap ning Nafis, mengakhiri doanya.
Makanan dan piring segera di sajikan setelah doa selesai. mereka nampak banyak yang meminta untuk makan sepiring berdua, bahkan ada yang meminta nampan agar bisa makan bersama-sama seperti waktu di pondok dulu. ramai pastinya, apalagi kini mereka sudah menjadi ibu-ibu yang jelas lebih sibuk ke urusan rumah tangga dan pendidikan putra-putrinya.
Namun, mereka juga bersyukur dengan adanya rutinan ngaji satu bulan sekali, setiap hari Jumat minggu pertama. membuat mereka bisa berkumpul dengan teman-teman pondoknya dulu, dan mengaji bersama. saling menyimak dan mengoreksi, semakin menambah manfaat agar tidak lupa dengan hafalan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang sudah mereka khatam kan.
Aisyah dan ning Nafis pun, turut ikut makan bersama berbaur dengan yang lain. menikmati makanan di selingi dengan guyonan, karena lama tidak bertemu. sungguh, hal kecil dan sederhana yang membuat emak-emak jebolan pondok merasa senang dan bahagia.
Tidak lupa, mbok ni mengeluarkan bingkisan yang akan di bawa mereka pulang nantinya, meskipun mereka masih menikmati makanannya.
"Ndak ngusir lho ya?!. cuma memang tempate sempit, dadi berkate di tok no. soale, mburi arep di gawe nggon madahi neh, rek!.", ucap ning Nafis, dengan logat ala-ala Surabaya, membuat mereka tersenyum mendengarnya.
"Pokok, nek dereng telas. dereng ngadek niki, Ning.", sahut salah satu dari mereka. Aisyah mengacungkan jempolnya pada temannya itu dan tersenyum.
"Wes ta!, tenang. sek ukeh ndek mburi, nek kurang.", ujarnya lagi. Aisyah tersenyum melihat kakak iparnya begitu bersemangat berbaur dan berkomunikasi dengan teman-temannya.
"Berarti suantai to niki, Ning?!.", tanya yang lain.
"Losss pokok e ya, nduk?.", jawab Ning Nafis sembari menoleh pada adik iparnya.
"Loss lah. sekalian reuni, kan jarang ngumpul-ngumpul.", jawab Aisyah. membuat teman-temannya semakin nyaman dengan hal itu.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan bersama dan saling bercengkrama serta bercanda dan bercerita, tidak lupa mereka berfoto bersama. ya, apalagi di zaman sekarang yang serba sosmed. photo, selain sebagai kenangan juga tidak lupa untuk di buat status, yang bisa membuat iri orang yang melihatnya.
Gus Aham dan Gus Ma'adz yang masih setia menemani Abah berkeliling, hanya tersenyum dan menggeleng melihat tingkah istrinya dan teman-temannya saat melewati aula. tapi mereka sudah maklum. ya, begitulah ibu-ibu setiap bertemu dengan sahabat-sahabat lamanya.
......................
Sore menjelang Maghrib. anak-anak nampak menyapu pelataran yayasan, untuk menyambut tamu undangan yang akan hadir dalam rangka tasyakuran.
Setelahnya, nampak semua anak berlarian ke kamar mandi untuk wudhu, saat mendengar adzan magrib berkumandang. kali ini, Abah yang diminta menjadi imam oleh Gus Aham. alasannya, agar yayasannya semakin barokah dengan doa Abahnya.
"Mbok ni, sudah makan?.", tanya ibu, saat mbok ni datang kesekian kalinya untuk menyiapkan makanan di meja makan rumah Gus Aham.
"Sampun, Bu.", jawabnya, lembut .
"Tenan lho ya, mbok ni. Ojo ngapusi, lho. Yo tandang, Yo maem.", sahut ummi.
"Njih, Bu estu sampun kok.", jawabnya.
"Bel, sudah sholat?.", tanya ibu.
"Sudah, ti.", jawabnya.
"Kamu juga sudah, nduk?.", tanya ibu pada menantunya.
"Sampun, Bu.", ucapnya, sembari mengambil alih putranya dari pangkuan ibu.
"Monggo, sami dhahar sedoyo, Bu, Ning!.", ucap mbok ni.
"Anak-anak biar saya, yang jaga.", sambungnya. ia lantas mengajak putra kembar Aisyah dan putra mas Raihan bermain di ruang keluarga.
Sementara di luar nampak para tamu undangan sudah mulai berdatangan dan memenuhi aula yayasan. kali ini, Abah meminta sahabatnya yang juga seorang kyai di daerah yayasan Gus Aham untuk mengimami tahlil.
"Yi, aku lho suwi gak ketemu sampean. kok, tambah ganteng rumasanku.", ucap Abah, mengajak bercanda sahabatnya. yai Masduki namanya. termasuk yai sepuh yang cukup masyhur, apalagi dengan pondoknya yang cukup modern.
__ADS_1
"Berarti aku ayem, sehat.", jawabnya.
"Lha sampean kok tambah tuwo, se??.", tanya yai Masduki. Abah tertawa, begitu juga dengan yai Masduki yang tidak kalah renyah tawanya dari Abah.
"Lha nek enom terus lak yo, anakku kalah.", jawab Abah.
"Iyoe, biyen saking gantenge akeh cah pondok putri ngirim surat, nok awak e dewe ya?!.", ujar yai Masduki, mengenang masa muda mereka, yang membuat keduanya tertawa renyah dan Gus Ma'adz serta Gus Aham yang mendengarnya hanya bisa ikut tertawa.
"Abahmu, dulu pas sek enom. persis Aham gini lho. ngganteng, duwur. cuma bedanya abahmu, cungkring.", cerita yai Masduki.
"Nek kamu kan, enek gagahe.", sambung yai Masduki. Gus Aham tersenyum.
"Wes, wes... njagonge sambung mengko maneh.",
"Saiki aku njaluk tulung. tulung, tahlile imamono. cek anakku entuk barokah e salah sijine yai masyhur.", ucap Abah. yai Masduki mengangguk.
"Aku seng tahlil, sampean seng ndungo ya?!.", tawarnya.
"Lho, Yo kabeh no!.", ujar Abah.
"Ben podo-podo barokah e ngunu lho!.",
"Barokah ko dungoku, yo barokah ko ikhlase abahe.", jelasnya.
"Ayo, piye?!. nek iyo, aku yo, oke.", sambungnya.
"Iyo wes, manut.", ucap Abah, pasrah.
Mereka pun segera berjalan memasuki aula. banyak dari warga sekitar yang berebut untuk mencium tangan yai Masduki. hingga akhirnya, yai Masduki dan Abah serta Gus Aham dan Gus Ma'adz, duduk di depan untuk memulai memimpin doa dan tahlil.
Tahlil dipimpin oleh kyai Masduki dan doa di pimpin oleh Abah. seperti biasa begitu acara selesai, setelah menyuguhkan makanan, tentu para tamu undangan di bawakan bingkisan. tidak lupa, mereka bermushofahah sebelum pulang ke rumah masing-masing.
...----------------...
__ADS_1