
"Jangan banyak bergerak.", ucap Gus Aham, ketika dokter dan perawat tadi sudah menyelesaikan tugasnya, dan keluar dari ruangan mereka.
"Maunya di peluk dari depan atau belakang?!.", tanyanya. yang membuat Aisyah mengulurkan kedua tangannya. ia pun segera naik ke ranjang istrinya, dan berbaring. setelah nya, Aisyah segera menyembunyikan kepalanya di dada bidang suaminya.
Baru beberapa saat suasana hening. dipikir Gus Aham, Aisyah sudah tidur. tapi, tiba-tiba istrinya mendongak lagi. membuat Gus Aham yang hampir terpejam, segera membuka mata.
"Kenapa?!.", tanyanya. ketika melihat istrinya sudah mendongak menatapnya. tatapan mata Aisyah seperti sedang menunggu mendapatkan sesuatu.
"Minta apa, sayang?!.", tanyanya lagi. kali ini ia benar-benar tidak tahu, apa keinginan istrinya.
"Biasanya gimana?!.", ia malah balik bertanya. membuat Gus Aham nampak berpikir.
"Tuh kan, njenengan pura-pura lagi.", ucapnya. ia nampak mulai sedikit kesal. Gus Aham, sedikit panik. ia takut istrinya merajuk lagi, dan banyak bergerak sehingga membuat lukanya terbuka lagi.
Jadilah ia berinisiatif segera meraih kepala istrinya. Gus Aham memberi kecupan cukup lama di kening Aisyah, turun ke hidung kecil yang bangir milik istrinya, lalu sampai pada bibirnya.
Aisyah nampak tersenyum setelahnya. huft, hampir saja, batin Gus Aham.
"Bener, kan?!. njenengan, pura-pura ndak tau tadi.",
"Iya, maaf. mas, tadi lupa.", jawab Gus Aham, yang juga tersenyum. Aisyah menatapnya, yang mana itu merupakan tatapan menanti sebuah penjelasan.
"Kan, udah lama sayang. kamu, koma hampir 5minggu. jadi, mas fokus buat kesehatan kamu.", ucapnya membela diri. lagi-lagi raut wajah istrinya berubah lagi, kali ini Aisyah terlihat sedih.
Salah lagi, pikir Gus Aham. kenapa hari ini mudah ngambek?!, nangis, dan manja bersamaan?!. beginikah semua wanita yang sedang hamil?!, Gus Aham nampak berpikir keras.
"Itu kan, sudah lewat. ndak usah ngerasa bersalah, yang penting sekarang kita semua baik-baik saja.",
"Yang penting, sekarang kita bisa berkumpul lagi.", ucap Gus Aham, seraya mendekap tubuh Aisyah.
"Tidur ya?!. jangan mikir yang aneh-aneh lagi.", pintanya.
...----------------...
Pagi menyapa. seperti biasa setelah sholat subuh, Gus Aham akan menyiapkan air untuk menyeka tubuh istrinya. karena, memang dokter menganjurkan agar lukanya tidak kena air lebih dulu.
"Saya, di mandiin ibu saja, mas.", ucapnya saat melihat suaminya meletakkan air di atas meja.
"Kenapa?!.", tanya Gus Aham.
__ADS_1
"Malu.", jawab nya lirih. membuat Gus Aham mengerutkan keningnya.
"Malu.", ucapnya lagi. mengulang ucapannya, kali ini di sertai rengekan. membuat Gus Aham menghela nafas disana.
"Kenapa malu?!. kan, biasanya juga mas yang mandiin.", protes Gus Aham.
"Ya, pokoknya malu.", jawabnya dengan nada sedikit kesal.
Ok. Gus Aham memilih mengalah dan menuruti istrinya. dengan suasana hati istrinya yang tidak menentu dari kemarin, akan lebih sulit bagi Gus Aham untuk membujuknya atau menenangkannya saat keinginan istrinya tidak di penuhi.
"Ok. mas, panggil ibu dulu ya?!.", ucapnya, lantas ia segera keluar dan memanggil mertuanya, yang sedang berada di penginapan.
Untung nya, penginapan itu tidak jauh dari klinik tempat Aisyah di rawat. jadi Gus Aham bisa segera kembali bersama mertuanya untuk memandikan Aisyah.
Ibu segera masuk dan mulai membantu putrinya untuk membersihkan diri. sementara Gus Aham pergi ke mushola, seperti biasa ia membersihkan tempat ibadah yang berada di klinik itu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Waktu itu, menunjukkan sholat dhuhur hampir tiba. Gus Aham, masih duduk dan menunggu istrinya untuk pemeriksaan lanjutan.
Menurut kata dokter kemarin. ini pemeriksaan terakhir, bila keadaan nya semakin membaik, dan janinnya sudah sehat sepenuhnya. maka, mereka bisa segera pulang.
"Jahitannya, sedikit terbuka ya?!.", tanya dokter, yang baru saja selesai memeriksa Aisyah, dan duduk di depan Gus Aham.
"Iya. kemarin istri saya, tidak sengaja banyak bergerak. jadi, sedikit terbuka.", jawabnya.
"Ndak masalah sih, pak. hanya, kan kalau bisa di usahakan agar lukanya cepat mengering. biar ndak ada gangguan kehamilan lainnya.", ucap dokter itu, yang segera di angguki oleh Gus Aham.
Menyelesaikan pemeriksaan kesehatan terutama ginjal dan bekas jahitannya. Gus Aham mengajak Aisyah ke poli kandungan. sesuai dengan perintah dokter yang mengawasi kehamilannya, selama ia berada di sini.
Sampai di tempat dokter, Gus Aham dan Aisyah di beri rujukan ke rumah sakit RSIA putri, Surabaya. untuk melakukan USG. tidak ada maksud apa-apa, selain memastikan kondisi janin benar-benar sehat dan tumbuh dengan baik.
Gus Aham meminta izin, untuk membawa istrinya dengan mobil pribadi, tentunya dengan di ikuti seorang perawat dari klinik istrinya di rawat, untuk membantu semua prosedur mereka ke rumah sakit putri, Surabaya.
...----------------...
Ini hari pertama Riko mengajak dokter Fitri untuk berkencan.
Ya, dokter Fitri sibuk memilih pakaian apa yang akan ia kenakan untuk bertemu pria yang berhasil memikat hatinya.
__ADS_1
Harus berdandan feminim kah?!. atau seperti biasa saja, seperti ia sehari-hari yang lebih suka dengan pakaian casual.
Semua isi lemari sudah hampir keluar, tapi ia belum juga menemukan yang pas untuk nya.
Sebenarnya, semua pakaian dokter Fitri sudah pas. ndak mungkin kan?!. beli baju yang ndak pas, dengan ukuran tubuh kita?!.
Hanya saja, ia ingin terlihat berbeda. yang mana, itu bisa membuat kencan pertama nya dengan Riko berkesan. singkatnya, dokter Fitri ingin dia menjadi pusat perhatian Riko.
"Sayang, Riko sudah datang tuh.", ucap Bu Dita, ia merangsak masuk ke dalam kamar anaknya.
"Kok kamu belum siap?!.", ucapnya heran, saat melihat kamar putrinya berantakan, dan dokter Fitri belum siap.
"Aku bingung, ma.", jawabnya.
"Bingung kenapa?!.",
"Bingung milih baju mana, yang cocok buat aku?!.", jawab dokter Fitri. yang membuat ibunya mendekat pada setumpuk baju yang sedang berserakan di ranjang.
"Coba ini, sayang.", ucap ibunya, setelah ikut memilih baju di ranjang. dokter Fitri mengambil baju itu dari tangan ibunya, dan segera pergi ke kamar mandi.
Tak berapa lama, ia kembali setelah berganti baju.
"Ma?!.", tanyanya, di depan pintu kamar mandi.
"Cantik.", jawab ibunya, di sertai senyuman. dokter Fitri, segera duduk di meja rias untuk memberi riasan natural di wajahnya. sementara ibunya, membantu menyisir rambutnya, agar anaknya bisa siap dengan cepat.
Cukup lama Riko menunggu di ruang tamu, hingga ia melihat dokter Fitri menuruni tangga dengan ibunya.
"Maaf, ya nak Riko?!. lama.", ucap Bu Dita.
"Ndak apa, Bu.", jawab Riko, tersenyum.
"Yaudah. kalian, buruan jalan. jangan pulang malam-malam, ya?!.", ucap Bu Dita, berpesan pada dokter Fitri dan Riko sebelum pergi.
Setelah berpamitan. mereka segera berjalan beriringan, keluar rumah.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1