Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 120


__ADS_3

"Apa maksudnya dengan rumah kita?!.", tanya Aisyah.


"Tentu saja, sudah waktunya bagi kita untuk berpisah dari Abah dan Ummi, dan dari ibu juga mas Raihan.", ucap Gus Aham. ia berusaha memberi pengertian pelan-pelan pada istrinya.


"Kita, mau pergi kemana?!.", tanyanya. raut wajahnya berubah seketika.


"Ke Surabaya. sudah waktunya, kita mengurus yayasan anak jalanan.", jawabnya, Aisyah terdiam. ia nampak berpikir. Gus Aham mencoba mengerti.


"Anak-anak jalanan, bukan hanya laki-laki. ada juga orang tua dan perempuan.",


"Jika, mas hanya membuka yayasan untuk anak laki-laki, bukankah itu tidak adil?!.",


"Sementara, harkat, martabat, serta harga diri seorang wanita itu harus di junjung tinggi?!.", ucapnya, pelan-pelan ia berusaha memberi pengertian pada istrinya.


"Apa Abah, akan mengizinkan?!.", tanyanya lirih. tidak ada yang dipikirkan Aisyah, kecuali hubungan suaminya dan Abah. mengingat, baru saja Abah merasa senang dan bangga dengan suaminya.


"Pelan-pelan. tugas kita adalah meyakinkan nya.", jawab Gus Aham, mengusap puncak kepala istrinya. tapi Aisyah masih diam. ia pun menarik tubuh Aisyah agar bersandar pada tubuhnya.


"Tentu saja. kita akan pergi, saat kamu setuju.", ucapnya lagi. ia tidak ingin Aisyah berpikir berlebihan. ia hanya ingin, istrinya fokus pada kesehatan dan pemulihannya. sehingga mereka bisa cepat pulang.


...----------------...


"Silahkan, duduk.", ucap seorang asisten rumah tangga, yang terlihat sedang mempersilahkan dua orang tamu masuk.


Riko dan ibunya, yang baru saja masuk ke rumah dokter Fitri segera mengambil tempat untuk duduk.


"Saya, panggilkan ibu dulu, nggeh?!.", ucapnya. lalu pergi meninggalkan Riko dan ibunya.


Tak berapa lama kemudian, sang nyonya rumah datang menemui Riko dan ibunya.


"Bagaimana kabarnya, jeng?.", sapa ibu Dita, ibu dari dokter Fitri calon mertua Riko. ia segera menghampiri calon besannya, dan mereka pun berpelukan.


"Baik, jeng.", jawab ibu Riko. Riko tersenyum, dan mencium tangan calon mertuanya setelah mereka saling melepas pelukannya.


"Bi, panggil Fitri.", suruh nya, pada asisten rumah tangga nya, ketika pembantu itu datang, dan menghidangkan teh serta camilan untuk tamu majikannya.


Pembantu yang sudah bertahun-tahun ikut Bu Dita itu tersenyum, dan mengangguk. ia pergi setelah nya untuk memanggil putri sang majikan.


"Non. ada tamu, sama ibu disuruh nemuin.", ucapnya, ketika ia sudah sampai di balkon. menemui nona mudanya, yang tak lain adalah dokter Fitri. dokter Fitri hanya mengangguk, sehingga membuat pembantunya segera undur diri.

__ADS_1


Ia sudah tau siapa yang datang?!, karena ia sudah melihatnya dari balkon, saat mobil Riko datang.


Biarlah, masalah itu diselesaikan oleh ibunya. karena yang memaksa perjodohan ini adalah orang tuanya. walaupun pada akhirnya, ia sendiri juga tertarik dan menyukai Riko.


Lama mereka mengobrol, tapi dokter Fitri belum juga datang dan ikut bergabung.


"Bi...", panggilnya lagi. dengan sedikit mempercepat langkahnya, pembantu paruh baya itu datang menuju ruang tamu, memenuhi panggilan majikannya.


"Injih, Bu.", ucapnya, setelah sampai.


"Fitri mana?!.",


"Di balkon, Bu. tadi, sudah saya panggil.", jawabnya, lembut.


"Kok, nggak kesini?!. coba panggil lagi!.", perintahnya. pembantu itu hendak melangkah kan kakinya, tapi tertahan karena ucapan Riko.


"Biar saya yang kesana, bi.", ucap Riko. ia memberi isyarat, meminta izin pada ibu Dita untuk menemui dokter Fitri. dan mendapatkan izinnya.


"Tolong, di anter ya bi?.", pinta Bu Dita pada pembantunya, yang langsung di jawab dengan anggukan.


"Mari, mas!.", ucapnya. mempersilahkan Riko, untuk mengikutinya.


Nampak dokter Fitri sedang duduk di balkon. ia fokus menatap laptop di depannya. sesekali, ia melirik ponsel dan setumpuk laporan yang berada di atas mejanya.


"Sibuk?.", tanya Riko, yang sudah lumayan berdiri di pintu. ia mengamati gerak-gerik dokter Fitri yang dengan lincah menggerakkan jarinya di atas keyboard.


Dokter Fitri melihatnya sekilas, lalu kembali lagi pada pekerjaan nya. ada banyak laporan kesehatan yang harus ia periksa.


Riko berjalan menghampiri. "Boleh duduk?.", tanyanya, saat berdiri di samping kursi yang berada di depan dokter Fitri.


"Duduklah.", jawabnya pelan. tapi matanya masih fokus menatap layar laptop.


Riko berdehem, lalu menggeser kursi dan segera menduduki nya.


"Ada yang bisa dibantu?!.", tanya Riko berbasa-basi.


"Kalau saya butuh bantuan, sudah pasti saya minta asisten, untuk membantu.",


"Tapi, seperti yang njenengan lihat. saya, justru mencari pekerjaan untuk menyibukkan diri saya.", jawabnya. Riko terdiam dan nampak berpikir sejenak.

__ADS_1


"Kenapa?.", tanya Riko, ia ingin tau alasannya.


"Agar saya tidak memikirkan, hal yang tidak perlu dipikirkan. contohnya seperti......", jawabnya, sengaja ia menggantung ucapannya. membuat kening Riko berkerut.


"Perjodohan.", sambungnya, penuh penekanan. sorot matanya, beralih menatap Riko yang berada di depannya. ia kemudian mematikan laptop nya. dan merapikan semua pekerjaan nya, lalu beranjak pergi.


"Tunggu!.", ucap Riko, membuat dokter Fitri urung melangkah kan kakinya. ia menghadapkan badannya pada Riko. ingin tau, apalagi yang akan di katakan laki-laki yang telah merebut hatinya ini.


"Apalagi?!.", tanyanya. wajahnya bukan lagi, wajah-wajah manis nan sumringah yang selalu ia perlihatkan saat awal-awal mereka bertemu. tapi wajah jutek, cuek dan sebal yang kini terlihat setelah pertemuan mereka yang terakhir kali.


"Kalau saya ada salah, saya minta maaf.", ucap Riko. dokter Fitri terdiam di tempatnya. matanya melirik Riko sesaat, sebelum akhirnya ia mengangguk.


"Tunggu!.", ucap Riko, saat melihat dokter Fitri melangkahkan kakinya. membuat dokter Fitri berhenti melangkah, lalu membalikkan badannya. postur tubuhnya seolah-olah mengatakan pada Riko, ada apalagi?!.


Riko melangkahkan kakinya. ia mendekat pada dokter Fitri. dokter Fitri hanya menatapnya.


"Mm....", Riko bingung bagaimana mengatakannya. ia terdiam cukup lama, hingga membuat dokter Fitri melangkahkan kakinya. tapi, Riko menarik tangannya. sehingga dokter Fitri masuk dalam pelukannya. untuk sesaat mereka terdiam. tapi saat mereka sadar, Riko segera melepaskan pelukannya. begitu juga dengan dokter Fitri, ia segera berpindah tempat dan menjaga jarak.


Suasana hening setelah insiden itu, yang mana membuat Riko menjadi lebih sulit untuk mengucapkan maksudnya.


"Bisakah kita memulainya dari awal?!.", ucap Riko. ia berusaha mencairkan suasana hening dan canggung yang menyelimuti mereka.


Pertanyaan itu, membuat dokter Fitri melirik Riko dan mengerutkan keningnya. ia tidak paham kemana arah pembicaraan Riko.


Tentu saja, ia tidak bisa menebak. karena ia tau, Riko hanya menyukai Aisyah. tidak mungkin bagi dirinya masuk dalam perhitungan Riko, apalagi sampai mengisi hatinya.


"Maksudnya. bisakah kita mulai dengan perkenalan dulu?!.", tanyanya. ia mengulangi pertanyaannya.


"Kita, dijodohkan oleh orang tua. dan belum mengenal masing-masing pribadi dari calon pasangan kita.",


"Bagaimanapun, nantinya yang akan menjalani kehidupan keluarga adalah kita. jadi, aku rasa kita perlu saling mengenal dan memahami karakter dari pasangan kita.", ucap Riko. membuat dokter Fitri terkejut, tapi ia lebih ke tidak ingin memperlihatkan ekspresi nya pada Riko.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺



dokter Fitri dan Riko

__ADS_1



__ADS_2