
Akhirnya, setelah melewati beberapa kali pemeriksaan dan chek up, untuk mengetahui keadaan dan kondisi kesehatan Aisyah dan bayi-bayinya, dokter mengizinkan mereka untuk pulang.
Tentu saja, masih dengan pemantauan dokter. jadi, dokter dan perawat akan secara rutin berkunjung untuk memeriksa kesehatan ibu dan bayi kembar nya.
Bukan hanya karena tugas mereka, tapi lebih karena permintaan Gus Aham. apalagi, ia juga sudah mempersiapkan inkubator di kamarnya untuk kedua bayi kembarnya. meskipun, dokter mengatakan bahwa tidak masalah bagi bayi-bayi itu untuk keluar dari inkubator.
Ya, begitu lah Gus Aham. ia ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya. terlebih, untuk kedua putra dan putrinya. ia tidak ingin Fatimah dan Umar merasa tidak nyaman, saat sudah pulang ke ndalem.
Gus Aham mendorong kursi roda tempat istrinya duduk. sementara Fatimah di gendong Ummi, dan Umar di gendong ibu.
Terlihat juga mas Raihan yang membawa tas berisi baju ganti adiknya selama dirumah sakit.
Nampak Aisyah menyapa beberapa perawat dan dokter yang di jumpai di koridor rumah sakit.
Mereka akan pulang pagi ini. sebenarnya, bayi-bayi mungil itu sudah bisa keluar dari inkubator. hanya saja, Gus Aham tetap ingin anak-anak nya berada di inkubator. minimal, sampai berat badan mereka mencapai normal.
Gus Aham menggendong istrinya, saat mereka sampai di dekat mobil. ia mendudukkan istrinya dengan benar, sehingga Aisyah merasa nyaman.
Tidak sabar rasanya, untuk sampai di ndalem. mengajak istri dan kedua anaknya istirahat di kamarnya. kamar yang menjadi saksi dan tempat untuk mereka memadu kasih dan bermanja.
"Siap.", ucap mas Raihan, memberi kode pada Gus Aham begitu ia memasukkan tas adiknya ke mobil, dan memastikan semua penumpang sudah masuk ke mobil Gus Aham.
Gus Aham mengacungkan ibu jarinya, sebagai jawaban.
"Kita pulang. bismillahirrahmanirrahim.", ucap Gus Aham, yang mulai menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
Gus Ma'adz dan mas Raihan berdiri berdampingan melihat mobil Gus Aham yang mulai berputar di parkiran, sebelum akhirnya berjalan melewati gerbang rumah sakit untuk pemeriksaan nomor plat kendaraan.
Setelah nya, Gus Ma'adz dan mas Raihan beralih ke mobil mereka masing-masing, untuk menyusul Gus Aham yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan mereka di pelataran rumah sakit.
Ia begitu bersemangat mengemudi. senyum kecilnya terus tersungging di bibirnya. ya, Gus Aham benar-benar bahagia bisa membawa istri dan bayi kembarnya pulang.
Terlebih, ndalem sudah sangat ramai dengan hadirnya keluarga besar dari Gus Aham dan Aisyah.
Ya, mereka juga bersuka cita menyambut anggota keluarga baru yang sudah dinanti nantikan oleh pasangan yang tidak sungkan mengumbar keharmonisan di depan orang banyak itu.
Mobil memasuki pelataran ndalem dan terparkir dengan sempurna, sebelum akhirnya Gus Aham keluar dari mobil dan menghampiri pintu mobil di sisi lain, untuk membantu istrinya.
Begitu pintu mobil terbuka, Gus Aham segera meraih tubuh Aisyah dan menggendongnya. sementara Fatimah dan Umar di gendong oleh ibu dan Ummi.
"Kenapa?.", tanya Gus Aham.
"Malu, mas. banyak yang lihat.", bisik Aisyah lagi, yang hanya membuat Gus Aham tersenyum. pada akhirnya, Gus Aham tetap membopong Aisyah untuk memasuki ndalem.
Nampak keluarga besar dari kedua belah pihak antusias untuk menyambut. apalagi, besok akan di adakan acara tasyakuran kelahiran Umar dan Fatimah. kalau bahasa jawanya sih, sepasaran, yang biasanya dilaksanakan saat bayi berusia antara lima sampai tujuh hari.
Jadi, selain untuk menyambut dan menengok anggota baru di keluarga besar mereka, para sanak saudara juga sekalian "rewang".
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Malam menunjukkan dirinya, tapi tamu baik dari pihak keluarga dan teman Gus Aham maupun Aisyah masih datang silih berganti menjenguk mereka.
__ADS_1
"Masyaalloh, Ning. Khumairah nya, pipi Ning Fatma.", begitu ucap salah seorang dari teman teman Aisyah, yang kini tengah mengelilingi Aisyah dan kedua buah hatinya.
"He'em, merah merona.", sahut yang lain, yang nampak gemas dengan pipi khumairah (merah merona) milik Fatimah. ia nampak sesekali mengusapnya lembut.
"Gus Umar, lelap sekali ya Ning?!. kalau malam ngajak begadang nggak?!.", tanya yang lain. Aisyah tersenyum dan menggeleng mendengar ucapan dan pertanyaan mereka.
"Belum tau. saya, kan belum pernah tidur bareng mereka.", jawabnya pelan.
"Selama dirumah sakit, kami kan di pisah.", sambungnya, memperjelas.
Sementara Aisyah sibuk bercengkrama dengan tamu, yang juga merupakan teman-temannya selama mondok. rupanya, ada satu sosok yang diam-diam mengamati keseruan mereka.
Ya, siapa lagi kalau bukan Gus Aham. ia bersandar pada daun pintu, sesekali memperhatikan istrinya dari balik sana. menatap wajah dan senyuman yang hampir hilang, tatkala ia mengingat kejadian di rumah sakit saat Aisyah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan dua buah cinta mereka.
Muncul lagi perasaan bersalah dan rasa sakit di raut wajahnya.
Ponsel Gus Aham berdering, yang membuatnya segera merogoh saku celananya.
Ia segera mengeluarkan ponsel itu dari sakunya dan bersiap menerima panggilan, saat ia melihat layar ponsel yang ternyata, adalah Aisyah.
Bukannya mengangkat telfon, Gus Aham lantas menoleh pada sang istri yang sedang duduk di ranjang bersama teman-temannya. rupanya, sedari tadi Aisyah tau bahwa Gus Aham memperhatikannya.
Nampak senyuman manis tulus, disertai raut wajah penuh pertanyaan di tunjukkan Aisyah pada suaminya. tapi, Gus Aham yang masih berdiri di ambang pintu itu hanya tersenyum dan menggeleng.
Gus Aham nampak terlihat pergi setelah seseorang menghampirinya. membuat Aisyah, hanya menatap pintu kamar itu.
__ADS_1