Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 137


__ADS_3

Jam tiga dini hari Aisyah terbangun. ia segera menuju ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu. melakukan rutinitas nya untuk sholat tahajud. mengetuk pintu langit dengan dzikir dan doa-doanya.


Setelah nya, ia menyiapkan keperluan suaminya yang akan di bawa ke tempat istighosah.


Karena Gus Aham akan langsung ke yayasan, setelah acara istighosah selesai. Aisyah, membawakan pakaian ganti lebih.


Tidak lupa, ia juga memasukkan deodorant, minyak wangi, sisir, minyak rambut dan peralatan serta kebutuhan lainnya. ia hendak menutup koper milik suaminya, ketika merasakan tangan nya ada yang menyentuh dari belakang.


Ya, suaminya sudah bangun tanpa ia sadari. lalu, diam-diam memeluk Aisyah yang sedang sibuk packing dari belakang.


Tangannya, lantas menarik resleting koper miliknya. Aisyah, berdiri setelah nya. tapi, tubuh Gus Aham masih menempel manja pada tubuhnya yang masih terbalut mukena.


Aisyah mengajak suaminya untuk duduk di sofa. tubuh kekar nya yang hanya terbalut kaos dalam itu masih bertumpu pada tubuh Aisyah.


"Kenapa ndak bangunin, mas?!.", tanyanya, sementara tubuhnya masih bergelayut manja pada Aisyah. ia tersenyum, yang membuat Gus Aham malah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya.


"Ben wes, biar batal sekalian. biar wudhu lagi.", ucapnya sebal. tapi, lagi-lagi Aisyah hanya tersenyum dengan tingkah manja suaminya.


"Njenengan, kan. nanti, nyetir mobil sendiri. pasti capek. jadi sengaja ndak saya bangunin.", jawabnya, memberi pengertian pada suaminya.


"Tapi, mas kan jadi kebangun. gara-gara kamu, ninggalin mas tidur sendiri.", gerutunya.


"Jadi, maunya gimana?!. mau di temenin tidur lagi?.", tanya Aisyah.


"Telat. tuh, adzan subuh.", jawab Gus Aham, yang mendengar adzan subuh mulai berkumandang dan bersahut-sahutan di seluruh penjuru. Aisyah tersenyum.


"Yasudah. saya, siapkan air mandinya dulu ya?!.", ucap Aisyah. yang segera melepaskan diri dari pelukan suaminya. Gus Aham merebahkan diri dengan kesal di sofa, sementara Aisyah tersenyum melihat suaminya, dan melepas mukenanya sebelum menyiapkan air mandi untuk suaminya.


"Mas, ayo mandi.", ajaknya, setelah kembali.


"Mandiin, ya?!.", ucapnya asal.


"Ya Allah. terus, kalau nanti kita punya bayi kembar gimana?!.", tanya Aisyah. ia membuat pengandaian, mengingat sebelumnya ia hamil bayi kembar.


"Ya, nanti nyewa perawat. biar kamu nya tetep bisa perhatiin, mas.", jawabnya. membuat Aisyah menghela nafas, dan segera duduk di sofa. kesempatan itu, tentu saja tidak di lewatkan Gus Aham. ia segera membaringkan tubuhnya di pangkuan Aisyah.


"Anak itu, amanah.", ucap Aisyah, mengusap rambut suaminya pelan.


"Dan yang namanya amanah, itu berarti jadi tanggung jawab kita, mas.", sambungnya.

__ADS_1


"Kenapa tanggung jawab kita?!, karena kita orang tuanya. lewat perantara kita, mereka lahir ke dunia. jadi, sebagai orang tua, kita harus memberi kasih sayang dan pendidikan yang baik. bukan orang lain.", jelasnya.


Aisyah menghela nafas, sementara Gus Aham masih setia mendengarkan. menunggu penjelasan istrinya selanjutnya.


"Boleh-boleh saja, menyewa perawat untuk membantu. hanya saja, untuk masalah pendidikan, terutama pendidikan agama, adab, akhlak dan pendidikan Al Qur'an, sebaiknya kita sendiri yang mengajarkan.", ucap Aisyah, memberi pengertian pada suaminya.


"Ok. kalau bayi kita kembar, mas akan bantu ngerawat.", ucap Gus Aham, yang segera mendapat acungan jempol dari sang istri.


"Tapi, setelah bayi kita tidur. kamu, gantian rawat mas, ya?!.", ucapnya, memelas di kalimat terakhirnya. yang membuat Aisyah menghela nafas dan tersenyum.


Yah. bagaimanapun suaminya adalah bayi besar, pikir Aisyah.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aisyah nampak sedang memakaikan baju pada suaminya sebelum mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah. ya, meskipun mereka harus wudhu lagi setelah nya. dan paling akhir adalah, ia menyisir rambut suaminya.


Barulah, mereka wudhu lagi dan siap melaksanakan sholat subuh.


"Allahu Akbar.", ucap Gus Aham, setelah membaca Nita sholat subuh, Aisyah pun mengikutinya.


Dua rakaat sholat subuh beserta doa qunut nya selesai. lanjut dengan tahlil dan doa bersama. hari ini, ngaji Hikam diliburkan selama tiga hari, karena Abah dan Gus Ma'adz pergi. otomatis, tidak ada yang menggantikan Abah mengaji.


"Kenapa?!.", tanya Aisyah, setelah duduk di samping suaminya. Gus Aham menoleh Aisyah, wajahnya terlihat memelas. ia lantas berjongkok di depan istrinya.


"Sayang, bisakah mas, ndak pergi?.", tanya Gus Aham. membuat Aisyah mengerutkan keningnya.


"Bisa, ya?!.", tanyanya lagi.


"Kenapa?.", Aisyah balik bertanya, menanyakan alasan suaminya tidak ingin pergi.


"Ndak tau. perasaan, mas ndak enak.", jawabnya. Gus Aham menidurkan kepalanya di pangkuan sang istri. masih dengan, posisi berlutut dihadapan istrinya.


"Mas, ndak tau kenapa?!. tapi, perasaan mas ndak enak.", ucapnya lagi.


"Ndak ada apa-apa. apa yang njenengan khawatir kan?!.", ucap Aisyah.


"Mas, juga ndak tau. pokoknya, perasaan mas ndak enak.", ucap Gus Aham lagi, seolah-olah menegaskan keresahan hatinya saat ini.


"Dengar!.", Aisyah meraih tangan suaminya, dan menggenggam erat.

__ADS_1


"Apa yang njenengan khawatir kan, dan njenengan takutkan itu tidak akan terjadi.",


"Semuanya, baik-baik saja disini. insyaallah, perjalanan njenengan nanti juga baik, lancar, selamat. tidak ada kekurangan apapun.", ucapnya. ia menarik tangan Gus Aham, agar suaminya bangun dari duduknya. lalu, mendudukkan suaminya di ranjang.


Aisyah merangkup wajah suaminya. ia mencium kening, hidung dan turun ke bibir Gus Aham.


"Sepanjang perjalanan, njenengan hanya perlu fokus, hati-hati dan jangan putus bersholawat. insyaallah, semua baik-baik saja.", ucap Aisyah, setelah melepas ciumannya.


Gus Aham nampak menghela nafas berat. ia berusaha meredam gemuruh dan perasaan tidak nyaman di hatinya.


"Baiklah. tapi, bawa ponsel kemana saja kamu pergi.", ucap Gus Aham. ia setuju untuk pergi akhirnya.


"Bahkan, ke kamar mandi, ke diniyah, nyimak hafalan, rapat triwulan. pokoknya, harus di bawa terus. supaya, kalau mas telepon. kamu, bisa langsung ngangkat.", ucapnya, yang membuat Aisyah memberi isyarat OK dengan jarinya. di tambah kedipan matanya, yang membuat Gus Aham langsung meraih tengkuk leher istrinya, dan mencium Aisyah gemas.


Gus Aham lantas berjongkok lagi di depan istrinya. ia mengusap perut buncit milik Aisyah.


"Ayah, mau pergi dulu beberapa hari. jaga ibu baik-baik, ya?!.", ucap Gus Aham, pada bayi mereka.


"Yang pintar, dan jangan rewel.", lanjut Gus Aham. lalu, mengecup perut Aisyah lama, yang di akhiri dengan tendangan dari bayi mereka, sehingga membuat Gus Aham dan Aisyah tertawa.


Puas bermesraan dengan sang istri, Gus Aham lantas minta di antar sampai teras ndalem.


"Aham, berangkat dulu ya, mi, mba?!.", pamitnya, pada Ummi dan Ning Nafis.


"Titip Aisyah, nggeh?!.", sambungnya.


"Ora usah khawatir, ya fis.", ucap Ummi, menjawab Gus Aham, yang di angguki oleh Ning Nafis.


"Le, nitip ya?!.", ucap Ning Nafis, memberikan charger ponsel pada adik ipar nya.


"Itu punyae, mas mu. ketinggalan.", sambung Ning Nafis.


"Injih, mba.", jawabnya.


"Mas, berangkat dulu ya?!.", pamitnya, pada Aisyah. ia mengusap kepala istrinya yang terbungkus hijab. sebelum akhirnya, ia turun dari teras dan masuk ke mobil.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2