Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 139


__ADS_3

Benar. mungkin ia memang terlalu banyak berpikir, sehingga memiliki rasa khawatir berlebih.


Apalagi, ia terbiasa bersama dengan Aisyah. dan sekarang harus berpisah untuk waktu yang lumayan lama, menurutnya.


Ya, mereka harus berpisah selama empat hari. rencananya, 2hari Gus Aham akan ikut istighosah, dan dua hari lagi ia harus pergi ke yayasan, serta mengecek bisnis kuliner serta otomotif nya.


Mungkin, itu yang membuat ia berpikir berlebihan. mengingat mereka terpisah, dan Gus Aham meninggalkan Aisyah dalam keadaan hamil besar.


"Tapi, perutnya gimana?.", tanya Gus Aham.


"Ndak apa, mas. dia pinter, nurut pesan ayahnya.", jawab Aisyah. lagi-lagi Aisyah mendengar suaminya menghela nafas berat.


"Kenapa?!.", tanya Aisyah.


"Mas, kangen. pengen manja-manjaan sama kamu.", jawabnya, raut wajahnya terlihat memelas. membuat Aisyah tersenyum melihatnya.


"Njenengan, harus istirahat sekarang. besok kan, acaranya padat.", ucap Aisyah. ia mencoba memberi pengertian pada sang suami.


"Temenin sampe tidur, ya?!.", pintanya.


"Kalau kita terus video call. yang ada, njenengan ndak akan bisa istirahat. ndak akan tidur.", ucapnya lagi. Gus Aham terlihat tidak bersemangat mendengar ucapan istrinya.


"Tidur nggeh?!, istirahat dulu. kan, saya juga butuh istirahat. kalau kita terus begini, saya sendiri juga ndak akan bisa istirahat.", ucapnya lagi, lembut.


"Hm, ya sudah. mas, nurut.", jawabnya. membuat Aisyah tersenyum disana.


"Tapi, besok pagi telepon mas, ya?!.", pintanya.


"Pasti.", jawab Aisyah, yang berhasil membuat Gus Aham tersenyum seketika.


"Assalamualaikum, sayang.", ucap Gus Aham.


"Waalaikum salam.", jawab Aisyah.


"Udah gitu aja?!", tanya Gus Aham, ketika panggilan videonya hampir di matikan oleh istrinya. membuat Aisyah mengarahkan layar ponsel lagi ke wajahnya.


"Kenapa, mas?!.", tanya Aisyah, bingung.


"Ya, masa' gitu aja?!.", ucapnya.


"Terus?!.", tanya Aisyah, tidak paham maksud suaminya. Gus Aham mendongak, karena istrinya tidak peka.


"Kasih ciuman selamat malam donk, sayang. seperti biasanya.", ucapnya, sedikit kesal.


"Kan, njenengan jauh.", ucap Aisyah.


"Ya, kiss aja layar ponsel nya.", ucap Gus Aham, ndak mau tau. membuat Aisyah tersenyum tidak mengerti.


"Ayo!.", ucap Gus Aham. ia lantas sudah memanyunkan bibirnya di layar ponsel, yang membuat Aisyah tersenyum sebelum akhirnya, ia pun melakukan hal yang sama.


"Mmuach.", ucapnya, yang membuat Gus Aham tersenyum senang.


"Yasudah. mas, tidur dulu ya?!.", ucapnya, yang di angguki Aisyah dari sana.

__ADS_1


"Assalamualaikum.", sambungnya.


"Waalaikum salam.", jawab Aisyah. dan panggilan itupun terputus.


Aisyah meletakkan ponselnya di atas meja di samping ranjang. ia lantas membenarkan posisi nya, agar tidurnya nyenyak meskipun tidak ada suaminya yang menemani.


Pagi datang. Aisyah, baru saja menyelesaikan sholat subuh dan dzikir nya, ketika ponselnya berdering.


Tentu saja itu dari suaminya. siapa lagi yang rajin menghubungi nya saat mereka sedang berjauhan seperti ini, bila bukan Gus Aham.


"Assalamualaikum, sayang. sudah bangun?!.", sapa suara dari seberang.


"Waalaikum salam. sampun.", jawab Aisyah.


"Video call, sayang.", pintanya. yang segera membuat Aisyah mengubah mode panggilan mereka.


Nampak di layar wajah istrinya yang polos tanpa riasan, dan masih memakai mukena.


"Baru selesai sholat.", ucap Aisyah.


"Mas, juga baru selesai. terus inget kamu.", ucapnya, seraya tersenyum. yang membuat Aisyah ikut tersenyum.


"Gimana, sayang?!. ngerasa ndak nyaman nggak?.", tanya Gus Aham. ia benar-benar ingin tau keadaan istrinya, karena perasaan tidak enaknya semakin menjadi.


"Ndak gimana-gimana. saya, nyaman-nyaman aja kok, mas.", jawabnya. membuat Gus Aham menghela nafas.


"Kenapa ya?!. mas, ngerasa ndak enak terus e?!.", ucap Gus Aham.


"Tapi, kamu beneran ndak ngerasain apa-apa kan, sayang?!.", tanyanya lagi, memastikan.


"Ndak, mas. saya, baik-baik saja kok.", jawabnya, sengaja ia ucapkan dengan penuh penekanan agar suaminya percaya. Gus Aham terlihat menganguk dan menghela nafas.


"Coba, mas mau lihat dia.", pintanya. yang membuat Aisyah segera menghadapkan layar ponsel pada perut buncitnya.


"Assalamualaikum, sayang.", sapanya pada bayi di perut Aisyah. yang segera di respon dengan sebuah tendangan. membuat Aisyah , tersenyum dan mengusapnya.


"Nendang, ya?!.", tanya Gus Aham.


"Injih.", jawab Aisyah.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Kangen, ayah??.", tanyanya, pada perut buncit istrinya.


"Yang pintar ya, sayang?!. jangan rewel, jangan buat ibu sakit.", ucapnya. Gus Aham nampak terdiam sebentar.


"Berjanjilah!. kamu akan lahir, hanya saat ayah bersama kalian.", ucapnya kemudian, setelah ia terdiam beberapa saat. dan bayi mereka menjawab dengan gerakan halus, yang membuat Aisyah mengusapnya lagi.


"Kenapa, njenengan berkata begitu?!.", tanya Aisyah. ia terlihat langsung mengarahkan layar ponsel ke wajahnya, begitu mendengar ucapan suaminya.


"Mas, ndak tau. mas, hanya memastikan ke khawatiran mas ndak akan terjadi.", jawabnya.


"Apa yang njenengan khawatir kan dari kemarin adalah ini?!.", tanya Aisyah. Gus Aham nampak menghela nafas dalam lalu menganguk.

__ADS_1


"Mas, ini baru tujuh bulan. ndak mungkin lahir sekarang.", ucap Aisyah, menepis ke khawatiran suaminya.


"Mas, nggak yakin. tapi, mas harap saat kamu lahiran. mas, bisa nemenin kamu.", ucapnya. wajahnya terlihat sedih.


Aisyah tersenyum, ia mencoba mencairkan suasana.


"Semuanya akan baik-baik saja. njenengan, doain saja ya?!.", ucap Aisyah, lembut.


"Karena dia bergerak saat njenengan bilang seperti itu. berarti, bayi kita setuju untuk menunggu njenengan pulang menemani kelahirannya.", sambungnya. dan lagi-lagi itu berhasil membuat ke khawatiran Gus Aham mereda. ia pun tersenyum mendengarnya.


"Yasudah. njenengan, temui para jama'ah dulu nggeh?!. saya, juga harus bantu mba Nafis siapkan sarapan.", ucap Aisyah.


"He'em, sayang.", jawabnya.


"Assalamualaikum.", ucap Aisyah.


"Waalaikum salam.", jawab Gus Aham.


Aisyah meletakkan ponsel nya di meja, dan ia segera melepas mukenanya. menggantinya dengan kerudung, sebelum akhirnya, keluar dari kamar, menuju ruang makan untuk membantu kakak iparnya menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Assalamualaikum, mba.", sapanya pada Ning Nafis, yang terlihat sedang mengelap piring, gelas dan sendok.


"Waalaikum salam, nduk.", balasnya dengan senyum manisnya.


Baru saja, Aisyah duduk dan mengobrol dengan kakak iparnya. tapi, tiba-tiba ada mba ndalem datang dan menghampiri mereka.


"Nuwun Sewu, Ning. wonten kiriman damel Ning Aisyah.", ucapnya. menyerahkan amplop itu, lalu segera pamit undur diri.


"Opo, nduk?.", tanya Ning Nafis. saat Aisyah sudah membukanya.


"Undangan, mba.",


"Undangan nikah?!. siapa?!.",


"Riko sama dokter Fitri.", jawabnya.


"Alhamdulillah.", sahut mba Nafis, senang. begitu juga dengan Aisyah.


Tak berapa lama, ummi datang dan segera mengajak mereka serta kedua cucunya untuk sarapan.


Sarapan selesai. Aisyah dan Ning Nafis, segera pamit bersiap untuk mengajar diniyah. sementara meja di bersihkan oleh mba ndalem.


Karena waktu masih pagi. Aisyah tidak langsung ke kelas, mengingat para santri juga masih lalaran (melantunkan nadhom, jurumiyah, imrithi, alfiyah, Maknun) dan masih banyak lagi, sesuai kelasnya.


Ia memilih, untuk ke Mahids sebentar. melihat persiapan soal ujian untuk tengah semester. tapi l, sesampainya di Mahids Aisyah tidak bertemu dengan seorang pun. mungkin, semua guru sedang mandi dan bersiap mengajar pikirnya.


Aisyah pun memilih untuk turun. kantor Mahids yang berada di lantai dua itu, cukup melelahkan baginya untuk naik dan menuruni tangga. apalagi, kemarin baru saja hujan, sehingga menyisakan sedikit genangan air.


"Ach....!, teriak Aisyah. sebelum akhirnya ia jatuh dan tubuhnya berguling di beberapa anak tangga.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2