
Gus Aham, Gus Ma'adz dan mas Raihan bergegas berjalan menuju area makam. bertanya kepada setiap orang yang di temui tentang si Mbah dan Mbah kung.
Setelah mencari di sekitar makam, akhirnya mereka menemukan si Mbah dan Mbah kung yang sedang istirahat di pendopo sunan Ampel.
"Nuwun Sewu, Mbah. ngapunten tangklet, Kulo Bade ngersa'aken kepanggih kalian, Mbah Mustajab. njenengan semerap tiyange engkang pundi?.",
"(Permisi, Mbah. maaf, saya ingin bertanya. saya ingin bertemu dengan Mbah Mustajab. apa si Mbah tau, orangnya yang mana?). Gus Ma'adz bertanya setelah duduk di depan si Mbah dan Mbah kung.
"Kulo, tiyange.", (saya, orangnya).", jawab Mbah Mustajab yang sedang istirahat bersama si Mbah di padepokan.
"Alhamdulillah.", seru Gus Ma'adz senang. begitu juga dengan Gus Aham dan mas Raihan. raut wajah mereka terlihat begitu lega.
"Mbah. panjenengan nate kepanggih kaleh lare Niki?.",
( Mbah. Anda pernah bertemu dengan orang ini?).", tanya Gus Ma'adz, yang kemudian disambung oleh Gus Aham dengan menunjukkan foto Aisyah dari layar ponselnya.
Mbah Mustajab dan si Mbah mengamati foto itu dengan seksama.
"Ning Aisyah?!.", tanya si Mbah pada Gus Aham. Gus Aham mengangguk cepat.
"Njenengan, sederek e?.", (kalian, saudaranya?).", sambung si Mbah menanyakan hubungan mereka dengan Aisyah.
"Saya, suaminya. tiyang kaleh niki, mas kulo.", ( saya, suaminya. sedang kedua orang ini, kakak saya.",). Gus Aham memperkenalkan dirinya.
"Wau pamit teng toilet. di tenggo mawon teng mriki, kedap maleh lak balik. menawi tasek antri.",
("Tadi pamit ke toilet. di tunggu saja disini, sebentar lagi juga kembali. mungkin masih antri).", ucap si Mbah.
Si Mbah pun menceritakan awal pertemuannya dengan Aisyah.
"Nggeh teng mriki kepanggih e. larene keturon, trus kulo gugah. Kulo jak teng gubuk kulo, kok purun.",
(Ya disini ketemunya. dia tertidur, trus saya bangunin. saya ajak ke rumah saya, kok mau).", ceritanya yang di dengar kan oleh Gus Aham, Gus Ma'adz dan mas Raihan.
__ADS_1
"Kulo paringi salin damel sholat, wekdale subuh pas kepanggih. wong, kulo pas resik-resik pendopo mriki.",
("Saya beri baju ganti untuk sholat, waktu itu masih subuh ketemunya. wong, saya pas lagi bersih-bersih area makam dan pendopo sini.", lanjut si Mbah menyambung ceritanya.
Lebih dari lima belas menit mereka menunggu, dan Aisyah belum terlihat kembali. Gus Aham pun beralih, meninggalkan kedua kakaknya yang masih mendengarkan cerita awal pertemuan si Mbah dengan Aisyah. juga menceritakan bahwa Aisyah membantunya menyiapkan nasi bungkus yang akan di bagikan untuk para peziarah.
Gus Aham berjalan, melihat-lihat sekitar. dan secara tak sengaja, ia melihat Aisyah keluar dari kamar mandi umum. Aisyah yang juga tidak sengaja melihat Gus Aham segera menutupi wajahnya dengan ujung kerudungnya.
Ia bingung dan kelabakan, apalagi kerudungnya belum terpakai dengan benar karena berjubelnya para peziarah yang berada di dalam toilet. tadinya ia berpikir membenarkan kerudungnya setelah berada di luar toilet.
Ia memegang erat kerudung di bagian dagunya agar tidak terlepas, sementara ia menutup hidung dan bibirnya dengan ujung kerudung serta tangannya. berharap suaminya tidak mengenalinya.
Tapi tidak. Gus Aham tau betul itu istrinya, sekalipun tidak memakai baju miliknya sendiri.
"Aisyah.", Gus Aham memanggilnya. berharap Aisyah berhenti, tapi Aisyah malah berlari kecil masuk ke kerumunan orang yang berlalu lalang keluar masuk area makam.
"Aisyah.", panggilnya lagi. ia berlari mengejar istrinya.
Aisyah berjalan tergesa-gesa dengan memegangi perutnya, ia keluar dari area makam, melewati pusat oleh-oleh yang berada di kanan-kiri jalan menuju makam. dan akhirnya benar-benar keluar dari gapura yang bertuliskan "Kawasan wisata religi sunan Ampel".
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Taksi yang di tumpangi Aisyah berhenti, ia segera turun. berharap suaminya sudah tidak mengejar, tapi begitu melihat ada taksi yang berhenti tidak jauh darinya, Aisyah langsung tersadar bahwa Gus Aham mengikutinya.
Di depannya ada bus yang sedang berhenti, menunggu semua penumpang yang berdiri di halte segera masuk. bergegas Aisyah berbaur dengan para penumpang dan akhirnya ikut masuk ke dalam bus.
Aisyah mendapatkan duduk di kursi paling belakang. Gus Aham yang sadar istrinya ikut masuk ke dalam bus segera membayar ongkos taksi dan mengejar bus yang mulai berjalan perlahan itu.
"Aisyah.", panggilanya yang mulai bisa menyamai bus sehingga ia bisa melihat Aisyah.
"Aisyah, pegang tanganku. ayo turun, aku akan menangkapmu.", ucapnya dengan terus berlari dan mengulurkan tangannya berharap Aisyah mau meraihnya.
"Aisyah. ayo Aisyah.", ucapnya bus berjalan semakin kencang dan Gus Aham tetap berusaha mengimbangi. Aisyah tak bergeming, ia bahkan tak mau menoleh. sekalipun banyak penumpang lain yang melihat mereka.
__ADS_1
Ada luka tak berdarah yang merongrong dadanya. sakit luar biasa, bahkan untuk bernafas saja susah. ia masih belum siap bertemu ataupun bertatap muka dengan Gus Aham. bahkan walaupun ia berusaha kuat dan baik-baik saja, berusaha menutupinya dengan senyum. tidak mampu menghapus kekecewaannya pada Gus Aham yang telah meragukan anaknya.
Gus Aham terjatuh ketika mengejar bus, membuat Aisyah menoleh seketika karena khawatir pada suaminya. tapi melihat suaminya bangkit lagi dan mengejar lagi membuatnya mengalihkan pandangannya kedepan lagi.
"Aisyah. jangan tinggalkan aku, Aisyah.", ucapnya begitu bisa mengejar dan sejajar lagi dengan posisi Aisyah yang duduk di kursi belakang.
"Aisyah. kamu berjanji untuk selalu bersamaku, kamu berjanji tidak akan meninggalkanku. Aisyah, tarik aku Aisyah.", teriaknya dengan nafas terengah-engah.
Air mata Aisyah tak dapat di bendung lagi, dadanya kian sesak saat mengingat permintaan suaminya beberapa hari yang lalu agar ia tidak meninggalkannya, tapi kenyataannya Gus Aham sendiri yang mengusirnya. dan yang paling menyakitkan adalah keraguannya pada bayi mereka.
Aisyah menangis hingga bahu dan dadanya berguncang, begitu hebat luka yang di rasakan nya sehingga tidak bisa ia lupakan begitu saja. kerudung nya jatuh di bahu karena tangisannya yang sendu, beberapa saat rambut ikalnya terlihat. segera Aisyah menarik kerudungnya untuk menutupi puncak kepalanya.
ia berpaling, tidak ingin melihat lagi usaha suaminya untuk mengejarnya, ia hanya ingin menenangkan diri dulu.
"Aisyah. jangan tinggalkan, aku.",
"Aisyah....", teriaknya sebelum terjatuh.
Aisyah turun di halte berikutnya, ia menghapus kedua air matanya dan membenarkan kerudungnya sebelum turun.
Aisyah tidak tau lagi harus pergi kemana?!, jika kembali ke area makam sunan Ampel. ia yakin Gus Aham pasti akan menemukannya.
Saat sedang bingung, tiba-tiba ada mobil Jeep Rubicon ntah milik siapa?, yang jelas bukan milik Gus Aham. berhenti di dekatnya.
Seseorang turun dan menghampiri Aisyah.
"Maaf, permisi. saya mau bertanya.", sapa orang yang memakai topi, kaca mata hitam dan masker itu.
"Iya.", jawab Aisyah yang masih memegangi kerudungnya.
"Anda tau alamat ini?.", tanya lelaki itu yang menunjukkan selembar kertas pada Aisyah.
Aisyah melihatnya, tapi kemudian apa yang terjadi?!, Aisyah di bius oleh pria itu dan tidak sadarkan diri. ia sempat berontak, tapi tenaganya yang lemah membuatnya menyerah. pria itupun segera menggendong Aisyah ke mobilnya dan membawakan pergi.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺 TO BE CONTINUED 🌺