
Penculik itu melangkahkan kakinya, semakin mendekat pada tempat Aisyah bersembunyi sembari mengobrak-abrik setiap barang yang di laluinya.
Terdengar suara pintu di tutup, lalu terdengar suara perkelahian.
"Katakan, dimana Aisyah?.", terdengar suara yang sangat ia kenal. Aisyah mengintipnya, terlihat Gus Aham mengunci leher penculik itu dengan tangannya.
Rupanya, Gus Aham sudah lama mengamati gerak-gerik penculik itu. ia semakin yakin kalau orang itu yang membawa Aisyah, karena beberapa kali Gus Aham melihatnya mengambil sesuatu di mobil Jeep Rubicon berwarna putih yang mirip dengan kepunyaannya.
Maka tanpa basa-basi, saat orang itu masuk ke dalam Bak Gus Aham pun segera membuat pergerakan. ia tidak mau mengambil resiko yang lebih berbahaya untuk istri dan anaknya.
"Katakan!. dimana Aisyah?.", ucapnya lagi. yang malah membuat pria itu tertawa. pria itu menyikut perut Gus Aham, sehingga Gus Aham melepaskan kuncian di lehernya. Gus Aham mundur karena kesakitan. dan mulailah mereka berkelahi.
Baku hantam terjadi tanpa ampun dan celah, mereka saling membalas dan menerima pukulan. Aisyah hanya terdiam di persembunyiannya, sesekali ia mengintip Gus Aham dan penculik itu berkelahi.
Gus Aham terus menyerang hingga penculik itu jatuh. ia bergegas menindih tubuh pria itu dan menguncinya agar tidak bisa bergerak.
"Katakan, dimana Aisyah?!.", tanyanya. nafasnya terengah-engah karena tenaganya terkuras. pria di bawahnya itu hanya diam. tangannya bergerak menggapai-gapai mencari benda di sekitar untuk menolongnya.
"Katakan!.", perintahnya. sementara Aisyah yang mendengar hanya bersembunyi, ia menangis melihat pengorbanan suaminya yang mencarinya sampai kemari. tapi tetap tidak mau keluar karena masih kecewa pada Gus Aham.
Tangan pria itu menemukan benda kasar berbulir. iya, dia menemukan serbuk pasir, cepat saja ia meraih pasir itu dan melemparkannya ke mata Gus Aham. Gus Aham melepaskan kuncian nya pada pria itu. ia mundur karena tidak bisa melihat.
Kesemutan itu, di gunakan pria itu untuk menghajar Gus Aham. ia menyerang Gus Aham bertubi-tubi. memukulnya hingga Gus Aham jatuh tersungkur. Aisyah yang melihat dari persembunyiannya ketakutan dan khawatir.
Gus Aham berusaha bangun. tapi dadanya di injak oleh penculik itu, sehingga tertahan. nafas mereka berdua terengah-engah.
"Ini mungkin akan sakit. tapi hanya sebentar.", ucapnya mengeluarkan pisau lipat dari balik burqa nya.
Penculik itu mengayunkan pisaunya ke arah Gus Aham yang masih berusaha bangun dan membuka mata.
"Ach!!...,". teriaknya karena Aisyah memukul bahu pria itu dengan balok yang entah ia dapat dari mana. pisau terlempar.
__ADS_1
Penculik itu murka, ia begitu marah melihat Aisyah menggagalkan aksinya membunuh Gus Aham. Aisyah masih bersiap dengan balok di tangannya. ia waspada dan terus berjaga-jaga.
Aisyah mengayunkan balok itu ke arah si penculik, dan pria itu menghindar. Aisyah berusaha menjauhkan pria itu dari Gus Aham.
"Ugh.", Aisyah menoleh. Gus Aham berusaha bangun, tapi matanya masih belum bisa terbuka. tiba-tiba pria itu menarik dan merebut balok itu dari Aisyah. ia mendorong tubuh Aisyah hingga terjatuh.
"Ah.", teriaknya. Aisyah kesakitan. Gus Aham yang mendengarnya benar-benar bingung dan khawatir.
"Keluarga Cemara, ya?!.", ledeknya
"Sekalian saja aku habisi kalian. satunya ke surga satunya ke neraka.", lanjutnya. pria itu mendekati Gus Aham ia mengayunkan balok ke arah Gus Aham.
Tapi nyatanya balok itu malah menimpa tubuh Aisyah.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ya, Aisyah bangun dan berlari melindungi tubuh suaminya. pukulan itu mengenai pundak dan tengkuk Aisyah. dan pukulan yang ketiga berhasil mengalirkan darah dari tengkuknya. darah itu menetes di kening Gus Aham.
"Mulai sekarang kalian sah menjadi suami istri, kalian harus saling menjaga. Ummi titip Aham, ya Nduk?!. tolong jaga Aham untuk Ummi.", kilas balik itu terlihat saat ia hendak jatuh dan tak sadarkan diri. itu pesan Ummi, saat Gus Aham baru saja mengucapkan ijab kabul, sebelum acara "temu manten" di gelar. Ummi datang ke kamarnya dan memintanya menjaga Gus Aham serta mengarahkan Gus Aham agar siap memimpin pondok di masa depan.
"Ku kirim kau ke neraka. ucapnya mengayunkan pisau. Pisau itu hampir saja menancap di tubuh Aisyah bila saja ia tidak jatuh di sisi Gus Aham.
Gus Aham menahan pisau itu. melihat Aisyah tak sadarkan diri, ia murka. segera tangan itu di putarnya sehingga pisau itu terjatuh. Gus Aham bangun dan mulai menyerang balik, dengan tangan kosong ia memukul dan menghajar tanpa ampun.
"Brakkk.", pintu berhasil di dobrak oleh polisi yang di bawa Gus Ma'adz dan mas Raihan. Gus Aham menoleh membuat celah bagi penculik itu untuk kabur loncat ke laut lewat jendela.
Polisi berbaur mengejar, ada yang keluar. ada yang menembak untuk memberi peringatan.
"Aisyah. bangun!.", ucap mas Raihan yang sudah meraih tubuh adiknya yang tergeletak di lantai.
"Kenapa ada banyak darah?.", tanyanya tanpa melihat ke sekitar.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, mas Raihan langsung membopong tubuh adiknya keluar. Polisi berhasil meminta nahkoda untuk menepikan kapal di pelabuhan terdekat. kapal Pelni DOBONSOLO ini berlayar dari Surabaya ke Jakarta.
Begitu kapal merapat mereka segera turun dari kapal. ambulan sudah di panggil dan siap di dermaga itu. mas Raihan segera turun dengan membopong tubuh adiknya. ia tak izinkan siapapun menyentuhnya.
Begitu di tidurkan di brankar ambulance mas Raihan juga ikut masuk untuk menemani. sementara Gus Aham dan Gus Ma'adz ikut mobil polisi. tidak ada pembicaraan apapun sampai mereka tiba di rumah sakit terdekat. beruntungnya, kapal itu belum berlayar terlalu jauh. hingga memungkinkan untuk putar balik.
Ambulan berhenti di sebuah rumah sakit dengan bangunan megah. RS PHC Surabaya biasa di sebut dengan rumah sakit pelabuhan, mungkin karena tempatnya yang dekat dengan pelabuhan Tanjung perak Surabaya.
Pintu mobil ambulan terbuka, beberapa perawat yang sudah bersiap segera menarik brankar ambulan. terlihat Aisyah keluar dengan ranjang yang menopang tubuh kecilnya.
Gus Aham dan Gus Ma'adz turun dari mobil dan mulai mengikuti Aisyah yang sudah di bawa terlebih dahulu masuk ke rumah sakit. terlihat mas Raihan yang terus menggenggam tangan adiknya, ia berada di samping Aisyah hingga adiknya masuk ke ruang ICU.
Dokter dan perawat masuk kedalam melakukan pertolongan pertama pada pasien, sementara mas Raihan hanya bersandar di luar pintu. ia terdiam mematung disana, berharap adiknya baik-baik saja.
Gus Ma'adz menenangkan Gus Aham dan memintanya untuk duduk. agar tidak terlalu gelisah, ia pun menurut.
"Maaf, tuan. lukanya harus di obati. mati ikut saya.", ucap perawat itu dengan sopan. melihat luka robek akibat pisau di telapak tangan Gus Aham.
"Obati saja disini.", jawab Gus Aham. ia tidak ingin meninggalkan istrinya, tidak walau sebentar saja.
"Tapi, tuan...,
"Kalau mau mengobati, lakukan saja disini. kalau tidak mau ya sudah.", bentaknya pada perawat itu. membuat Gus Ma'adz mengambil alih.
"Maaf. berikan saja obatnya, aku akan membersihkan luka adikku dan mengobatinya.", ucapnya mencoba menengahi.
"Baiklah.", jawab perawat itu lalu pergi mengambil beberapa obat dan alat yang di butuhkan, memberikannya pada Gus Ma'adz dan undur diri.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1