Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 9


__ADS_3

🌸 Terimakasih kepada para pembaca yang sudah mampir 🌸


🌺 jangan lupa like, komen dan vote ya!!!!,🌺


💝di tunggu kritik, saran serta masukannya, untukt membangun karya-karya yang lebih bermutu dan berkualitas lagi💝😊🙏


 


Sepanjang perjalanan tak ada seorangpun yang berbicara. Gus Aham lebih memilih fokus menyetir sambil mendengarkan musik, sementara Aisyah lebih memilih mengaji, mengulang hafalannya dan menikmati pemandangan tol sambil sesekali melirik Qur'an kecil di tangannya.


Tak terasa, dua jam sudah Aisyah dan Gus Aham menempuh perjalanan, hingga pada akhirnya Gus Aham menyetir mobilnya ke sebuah hotel mewah begitu keluar dari tol.


 


Hotel Vasa tepatnya. hotel modern di gedung bertingkat, berjarak satu kilometer dengan golden city mall dan dua puluh kilometer dari Bandara juanda internasional.


 


Gus Aham dan Aisyah segera turun. beberapa pelayan segera menghampiri mereka dan dengan sopan memberikan senyum, sapa ramah serta membantu mereka membawa barang-barangnya masuk dalam hotel.


Gus Aham segera menuju ke meja resepsionis guna melakukan check-in. begitu selesai Gus Aham dan Aisyah segera di antar pelayan itu ke kamar mereka. seorang pelayan menunjukkan jalan dan seorang lagi membawakan barang mereka.


 


Kamar bernomor 307, tempat Aisyah dan Gus Aham menginap disini untuk tiga hari ke depan. seorang pelayan membuka pintu kamar dan mempersilahkan mereka, Aisyah dan Gus Aham masuk di ikuti oleh pelayan lain yang membawakan barang mereka dan meletakkannya di dekat tempat tidur.


"Ini kamar anda, tuan nyonya.", ucapnya


"Semoga nyaman dan puas dengan pelayanan hotel kami.", sambungnya.


"Terimakasih.", jawab Gus Aham seraya memberi tip pada mereka.


"Terimakasih kembali tuan. bila ada perlu silahkan panggil kami.", ucap mereka yang di angguki Gus Aham.


"Kami permisi. selamat beristirahat.", ucapnya lalu pamit undur diri. Gus Aham menutup pintu setelah mereka pergi.


"Njenengan mau mandi, Gus?.", tanya Aisyah. Gus Aham menggeleng.


"Aku mau rebahan dulu. punggungku capek duduk terus selama nyetir.", jawabnya. Aisyah mengangguk dan membiarkan suaminya istirahat.

__ADS_1


Sementara di rumah....


Ummi geger ngajak Abah ke rumah kang Mu'idz. Ummi mau ngasih lihat foto-foto Kamila ke ibunya kang Mu'idz.


"Ayo, bah.", ajak Ummi.


"Sambil jalan-jalan, biar Ndak kalah sama yang muda.", ucap Ummi lagi.


"Yowes..., yowes..., tapi ke rumah Mu'idz ae dulu. kerumah Kamila nya besok-besok, kalau orang tuanya Mu'idz sudah kesini dan ngasih keputusan.", jawab Abah.


"lho, kan. ibune Mu'idz sudah pasrah, manut sama kita to, bah.", jawab Ummi.


"Manut, ya manut. pasrah, ya pasrah. tapi tetep harus lihat dan kenalan dulu to, mi. sama calon mantunya, meskipun cuma lewat istikharah.", jelas Abah.


"Kan, yang mau punya mantu ibue Mu'idz bukan Ummi.", sambungnya lagi.


"Yoweslah. Ummi manut Abah saja.", jawab Ummi lalu berdiri hendak masuk ke ndalem.


"Kemana?"., tanya Abah mendongak kan kepalanya pada Ummi yang sudah berdiri.


"Ke kamar, bah. ganti baju, siap-siap.", jawabnya lalu pergi meninggalkan Abah yang sedang duduk di teras sambil membaca buku.


Waktu menunjukkan pukul 12.25, selesai beberes Aisyah segera mandi untuk persiapan sholat dhuhur. sedang Gus Aham masih terus duduk bersandar di tempat tidur dan mengerjakan pekerjaannya lewat laptop.


Aisyah keluar dari kamar mandi karena baju gantinya terjatuh. jadilah dia hanya memakai handuk kimono yang disediakan hotel. saat dia keluar, Aisyah sedikit terkejut karena ternyata Gus Aham sedang ada tamu. Aisyah salah tingkah karena tamu itu terus melihatnya dengan tatapan intens yang aneh. buru-buru Aisyah mengambil bajunya yang lain dan segera masuk lagi ke kamar mandi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


 


Aisyah dan Gus Aham selesai jama'ah sholat Maghrib. tampak Aisyah yang masih melipat mukena sementara Gus Aham beranjak rebahan di ranjang dan meraih handphone nya. sejenak dia terdiam menatap layar hp, membaca semua pesan yang masuk.


 


"Kamu mau makan apa?.", tanya Gus Aham sambil berganti posisi duduk.


"Apa saja Gus.", jawab Aisyah masih membereskan sajadah dan melipatnya lalu menaruh di meja.


"Ya udah, kamu siap-siap. kita makan diluar, soalnya aku ada janjian ketemu juga sama orang.", ucapnya. Aisyah mengangguk.

__ADS_1


Aisyah segera bersiap. ganti baju dan sedikit memakai riasan. walaupun suaminya tidak mungkin tergoda olehnya, dia tidak boleh tampil biasa. itu akan mempengaruhi citra suaminya. gamis berwarna navy polos dengan bahan jatuh serta warna kerudung yang sepadan itu membuat kulitnya terlihat lebih cerah. apalagi di padu dengan sedikit riasan celak di mata bulatnya dan warna lipstik soft pink di bibirnya membuatnya begitu segar di pandang.


Aisyah selesai, sedang Gus Aham masih membalas chat yang masuk ke ponselnya.


"Gus. baju gantinya saya taruh sini.", ucapnya dan hanya di jawab dengan sebuah "deheman". Aisyah yang sudah hafal benar dengan watak suaminya itu hanya tersenyum melihat wajah keturunan arab-jawa itu.


Gus Aham meletakkan ponselnya, menoleh ke arah Aisyah untuk mengambil baju gantinya. tapi matanya malah tertuju ke wajah Aisyah yang tengah tersenyum melihatnya. sejenak, Gus Aham terpukau melihat Aisyah tersenyum "cantik", batinnya. tapi ketika Aisyah mengalihkan pandangannya karena salah paham terhadap pemikiran Gus Aham, Gus Aham pun tersadar dari kekagumannya.


"Ya Allah, Guse pasti marah. aku tadi ngelihatin begitu.", pikir Aisyah yang memalingkan wajah dan pura-pura mengambil ponsel lalu membelakangi suaminya. Gus Aham tersenyum simpul lalu segera ke kamar mandi untuk ganti baju.


Tak berapa lama kemudian Gus Aham sudah siap. mereka pun segera keluar kamar dan berjalan menuju lobi hotel.


"Kamu tunggu disini, aku ambil mobil ya.", perintah nya pada Aisyah.


"Nggeh, Gus.", jawabnya


Gus Aham segera menuju ke tempat parkir dan mengambil mobilnya, lalu bergegas menjemput Aisyah di lobi hotel.


Mobil yang sedari tadi berjalan mulai memasuki area parkir sebuah rumah makan. dekorasi adat jawa membuat rumah makan itu terlihat begitu elegan dan klasik.


Gus Aham dan Aisyah segera turun dari mobil dan masuk. serentak pramusaji, juru masak dan manager rumah makan itu keluar menyambut mereka. membuat Aisyah terheran-heran dan bertanya-tanya.


 


"Delamat datang tuan, nyonya. selamat malam.", sapa mereka. Gus Aham mengangguk dan mereka kembali ke tempat dan tugasnya masing-masing.


"Tempatnya sudah saya siapkan tuan.", ucap manager itu, Gus Aham mengangguk. lalu mengikutinya, begitu juga dengan Aisyah.


Mereka sampai di meja yang selalu jadi tempat favorit Gus Aham saat mengunjungi rumah makan miliknya. tempat outdoor yang memperlihatkan keindahan kota Surabaya di malam hari. Gus Aham sendiri memilih dekorasi Jawa karena sang kakek. ya, almarhum Mbah yai, yang sangat suka ukir-ukiran dan gebyok. selain itu Mbah yai juga yang mengenalkan Gus Aham pada jenis, nama dan asal ukir-ukiran tersebut.


"Kamu, tunggu makanannya datang. aku mau nemuin orang dulu"., ucapnya pada Aisyah. Aisyah mengangguk.


Baru saja Gus Aham hendak meninggalkan Aisyah, tapi langkahnya terhenti karena ada seorang pria yang berjalan ke arahnya dan menghampirinya.


"Hei!!!, baru aja mau aku samperin lho. udah kesini aja.", ucapnya sambil meraih tangan orang itu dan saling berjabat.


"Dari pada nungguin lama, mending samperin lah.", jawab pria itu.


Gus Aham memperkenalkan pria bernama Boby itu pada Aisyah, lalu mempersilahkannya duduk.

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2