Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 103


__ADS_3

Begitu selesai ber-selfie bersama sang kakak, Aisyah segera pamit pergi ke ruang operasi, karena perawat sudah menjemputnya.


Ia melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan kakaknya, yang masih berdiam diri di balik kaca.


Mas Raihan hanya bisa menatap adiknya berjalan menjauh darinya dan menghilang di balik ruangan berpintu cukup besar itu.


Ironis. saat adiknya membutuhkannya, ia tidak bisa mendampingi. adiknya, harus berjuang sendiri dengan bantuan tim medis untuk menyelamatkan suaminya. ia merasa tidak berguna sebagai seorang kakak.


Mas Raihan terduduk di samping kaca. air matanya tak bisa lagi ia tahan. rasa sesak di dadanya mendera, entah apa sebabnya?!. ulu hatinya nyeri tak tertahan, merasa ini semua tidak akan berakhir dengan baik.


Brankar yang di tiduri Gus Aham, mulai memasuki ruang operasi. dan Aisyah sudah menunggu di brankar lain dalam ruangan itu.


Ia masih bisa melihat suaminya dengan jelas sebelum dokter dan perawat memberikan suntikan anestesi. bahkan, saat obat bius itu mulai bekerja, Aisyah masih sempat meraih tangan suaminya sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.


Perawat mulai memasang oksigen pada keduanya, dan Dokter mulai membuat sayatan di pinggang Gus Aham dan Aisyah setelah mengoleskan cairan antiseptik. sementara semua anggota keluarga sedang menunggu di depan kamar operasi.


Hanya mas Raihan yang tetap berada di tempatnya. sesuai perjanjian, Aisyah akan keluar lima belas menit lebih lambat dari Gus Aham. dan ia akan di bawa ke ruang perawatan yang berbeda dari suaminya. jadi, tidak akan ada yang tau jika ia yang mendonorkan ginjal pada suaminya.


Ia tetap berdiri di balik kaca itu. matanya terus menatap pintu yang menghalangi pandangannya dari sang adik. entah, kemana selanjutnya mereka membawa Aisyah pergi. yang ia tau, saat masuk ke ruangan itu. adiknya masih bisa berjalan sendiri dengan di apit dua orang perawat.


Proses operasi yang berjalan hampir empat jam itu, akhirnya selesai.


Gus Aham keluar lebih dulu, dari ruang operasi. semua anggota keluarga yang menunggu di depan pintu, langsung berbaur menghampiri brankar yang di tiduri Gus Aham.


Mereka selanjutnya, mengikuti brankar itu menuju ruangan tempat Gus Aham di rawat. sementara Aisyah, masih berada diruang pemulihan pasca operasi.


Mas Raihan dengan setia menunggu adik kesayangannya di luar ruangan itu.


Ia ingat saat kecil. dia sangat menginginkan seorang adik perempuan. ibu dan ayahnya, bukan tidak ingin memberi adik padanya. tapi, karena kelelahan membantu neneknya di dapur, memasak untuk para santri kurang mampu, yang ikut di rumah mereka. membuat ibu mengalami tiga kali keguguran.


Jadilah, jarak ia dan Aisyah cukup lama. hampir sembilan tahun. melihat semua saudara-saudara sepupunya, memiliki saudara dan adik, membuatnya iri.

__ADS_1


Setiap kali. saat ibunya menemani ia tidur, ia pasti akan merajuk dan merengek meminta seorang adik.


"Raihan, pengen punya adik, Bu. pengen adik cewek, nanti mau Raihan, panggil Syasya.", ucapnya kala itu. tidak hanya meminta, ia juga menyebutkan jenis kelaminnya. dan sudah memilih nama untuk adiknya.


Saat ia tau, ibunya hamil. ia senang bukan main. di usianya yang menginjak delapan tahun, ia lebih sering membantu ibu dan neneknya di dapur.


Ia tidak ingin ibunya keguguran lagi. ia lakukan semua, asal ibunya tidak kelelahan. saat malam tiba, ia dengan sumringah akan memijit kaki ibunya, untuk menghilangkan rasa lelah. terkadang ayahnya protes, karena ia sangat perhatian pada ibunya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Ibu, terus yang di ladeni. bapak, juga mau di pijit. bapak, capek juga habis kerja dan bantuin Mbah kung di sawah.", ucap ayahnya kala itu. membuat mas Raihan, menjawabnya dengan polos.


"Kalau, bapak mau dipijitin. ya, aku di bikinin adik dulu. kaya' ibu.", jawabnya.


"Lha, itu juga hasil bikinan bapak e.", jawab ayahnya. yang segera mendapat pukulan kecil di pundaknya dari sang istri. membuat mereka tertawa renyah.


Mas Raihan tersenyum, mengingat kenangan itu. tapi senyumnya memudar, saat ia ingat hari sebelum ayahnya meninggal.


Seperti biasa, selesai mengajar anak-anak kampung yang datang ke mushola miliknya ba'da sholat Maghrib. ayahnya, turun dari musholla dan masuk ke rumah.


Malam itu, seperti biasa. mereka bergurau, dan melakukan semua aktivitas bersama. hanya saja, ayahnya sering mengatakan padanya. bahwa, ia harus bisa menjaga ibu dan adiknya.


Mas Raihan tidak mengerti, apa maksud ucapan itu?!. tanpa di suruh pun, ia akan melindungi dan menjaga adik serta ibunya.


Malam berlalu begitu saja. ayahnya, juga masih menemaninya tidur. dan seperti biasa, ayahnya pasti terbangun sekitar jam dua dini hari, untuk sholat malam.


Biasanya, selesai sholat tahajjud, sholat hajat dan sholat malam lainnya. ayahnya akan tawasul dan wirid hingga subuh datang.


Tapi malam itu, selesai sholat malam. ayahnya, hanya berwirid sebentar. lalu pamit pada ibu, hendak tidur sebentar dan meminta di bangunkan ketika adzan subuh berkumandang.


Ayahnya, mengeluh pusing dan ibu mengiyakan permintaan suaminya.

__ADS_1


Tapi, ketika waktu subuh datang. ayahnya sudah tidak menyahut saat di bangunkan. subuh waktu itu, gempar dengan berita meninggalnya sang ayah. bahkan, saat mantri datang untuk memeriksa dan menolong ayahnya.


Mantri itu mengatakan bahwa, ayah mas Raihan sudah meninggal, sekitar 10-15 menit yang lalu.


Saat itu, mas Raihan baru sadar. bahwa yang di katakan ayahnya secara berulang-ulang kemarin adalah pesan terakhir untuknya.


Kini, adiknya terbaring di ruangan itu sendiri. ia merasa gagal melaksanakan amanah ayahnya. merasa tidak mampu menjaga adiknya.


Pintu terbuka. beberapa perawat mendorong brankar tempat Aisyah berbaring keluar ruangan.


Mas Raihan dengan langkah cepatnya segera memutar untuk masuk dan segera menghampiri adiknya yang akan segera di bawa ke ruang perawatan.


Aisyah di bawa ke ruangan VIP yang sudah di siapkan mas Raihan untuknya. bagaimanapun, ia meminta semua yang terbaik untuk adiknya.


Mas Raihan, menginginkan adiknya segera sembuh. jadi, ia akan melakukan apapun.


Baik Aisyah dan Gus Aham malam ini dalam pemantauan intens dari pihak rumah sakit. mereka ingin melihat hasilnya. apakah ada penolakan pada tubuh Gus Aham?!. dan, apakah ada komplikasi atau gangguan pada tubuh Aisyah?!.


Mas Raihan belum bisa tidur. entahlah, perasaannya benar-benar tidak nyaman.


Sesekali ia melirik jam dan melihat adiknya yang belum juga sadar. beberapa perawat, dan terkadang dokter yang menangani adiknya masuk untuk melakukan pemeriksaan.


"Kapan adik saya, akan sadar?!.", pertanyaan itulah, yang selalu keluar dari bibirnya, saat dokter atau perawat selesai memeriksa kondisi Aisyah.


"Kami belum bisa pastikan. tapi, semuanya terlihat baik-baik saja.", jawab dokter. lalu, pamit meninggalkan ruangan Aisyah.


Sementara di ruangan lain, di kamar Gus Aham tepatnya. Ummi, masih setia menunggu di samping putranya. mengingat, besannya mengatakan bahwa Aisyah belum bisa menjenguk, karena tidak enak badan.


"Aisyah....", panggilnya lemah. saat ia baru saja membuka matanya. membuat Ummi, yang sedang duduk di sofa dan tadarus hafalannya, segera berdiri dan mendekat ke brankar.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2