Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 18


__ADS_3

 


Mobil Gus Aham memasuki halaman ndalem. suasana terlihat sepi karena pada jam-jam segini, pasti santri, kang-kang dan Mba ndalem sudah masuk sekolah.


 


Begitu Gus Aham selesai memarkir kan mobilnya di garasi. ia segera turun dan membuka pintu mobil untuk Aisyah.


"Bulek.", panggil anak kecil berumur tiga tahun putri dari Gus Ma'adz Ning Shofy.


Aisyah berbalik dan tersenyum, lalu berjalan ke arahnya dan menggendong tubuh kecil itu.


"Ning Shofy, ndak sekolah?.", tanyanya saat anak kecil itu memeluknya erat.


"Mimi, masih ngajar ngaji.", jawabnya


"Di anter bulek, mau?!.", dengan cepat Ning Shofy mengangguk girang dan tersenyum membuat Aisyah juga ikut tersenyum.


"Tapi, ketemu uti dulu. ya?!, bulek harus pamit dulu sama uti.",


"Ok.", jawabnya antusias.


Gus Aham mengulurkan tangannya pada Ning Shofy, bermaksud mengambil alih ia dari gendongan Aisyah, mengingat Aisyah pasti lelah.


"Ayo gendong, pak lek.", ajaknya.


"Emoh.", jawabnya menolak.


"Kok, emoh?!.", ucap Gus Aham. bagaimanapun meski Gus Aham tidak dekat dengan Abah dan dua saudaranya yang lain, tapi Gus Aham paling dekat dengan Gus Ma'adz dan keluarganya, begitu juga dekat dengan Dija dan Shofy.


"Pak lek jelek soalnya.", ucap anak kecil itu polos.


"Katanya, shofy. ini pak lek Shofy yang paling ganteng.",


"Tapi sekarang pak lek, jelek. banyak rambutnya.",


Gus Aham mengusap kedua pipinya, memang banyak bulu halus mulai tumbuh disana. beberapa hari ini sejak fokus kasus Aisyah, memang Gus Aham jarang memperhatikan penampilannya.


Gus Aham mengajak Aisyah masuk ndalem. terlihat mba-mba ndalem sedang menata sarapan untuk keluarga.nbegitu melihat Aisyah dan Gus Aham masuk, mba-mba ndalem segera menyapa, menundukkan kepalanya.


"Ummi sama Abah dimana?.", tanyanya pada mba ndalem.


"Ummi, masih teng pondok. Gus, nyimak hafalan. Abah, menawi teng kandang kaleh Gus Ma'adz.", jawab salah satu dari mereka.


"Yasudah. nanti, kalau Ummi sudah ke ndalem. kasih tau saya.", pesannya. lalu mengajak Aisyah pergi ke kamar.


Gus Aham mengambil Ning Shofy dari gendongan Aisyah begitu masuk dan mendudukkan nya di sofa kamar mereka, lalu mengajaknya bermain.


"Tok....,


"Tok....,

__ADS_1


"Tok....,


Pintu kamar di ketuk, Aisyah membuka pintu kamar. terlihat kang Mu'idz di depan pintu dengan membawa koper milik Gus Aham yang ada di mobil.


"Kopernya, Ning.",


"Tolong di bawa masuk geh, kang.",


Kang Mu'idz masuk dan menaruh koper di dekat ranjang.


"Gus.", sapanya ketika melihat Gus Aham bermain dengan Ning Shofy di karpet bulu, depan TV. gus Aham mengangguk.


"Ada yang perlu saya bantu lagi, Ning?.",


"Mm.....


"Ndak ada, kang. kang Mu'idz bisa keluar.", ucap Gus Aham menyahut.


"Injih. saya permisi.", ucapnya


Kang Mu'idz undur diri dan keluar dari kamar Gus Aham. Aisyah menutup pintu kamar.


"Bulek, katanya habis jalan-jalan, ya.", tanya Ning Shofy, yang melihat Aisyah membuka koper membereskan baju-baju mereka. memisahkan baju bersih dan baju kotor.


"Iya.",


"Ada hadiah buat, Shofy?.", tanyanya. Aisyah terdiam. ia tidak ingat harus membeli mainan untuk keponakannya karena insiden kemarin.


"Ada. ayo ikut pak lek.", jawab Gus Aham. lalu menggendong Ning Shofy keluar kamar agar tidak menggangu Aisyah.


"Loch, le. sudah pulang?!.", terdengar suara Ummi dari ruang makan, ketika Gus Aham melewatinya.


"Sudah, mi.", jawab Gus Aham menghampiri ibunya, kemudian mencium tangannya.


"Aisyah mana?.",


"Aisyah di kamar, mi. beres-beres.", jawabnya.


"Pak lek, mau pai.",u cap Ning Shofy menunjuk kue yang tersaji di meja.


Gus Aham mendudukkannya, lalu mengambilkan kue untuk Ning Shofy.


"Kapan sampainya, le?.", tanya Gus Ma'adz yang baru saja masuk ke ruang makan bersama istrinya,bNing Nafis.


"Barusan, mas.",


"Abah mana, adz?.", tanya Ummi yang belum melihat Abah datang ke ruang makan untuk sarapan bersama.


"Tadi di kandang, mi. lihat love bird yang sudah mulai menetas.",


"Coba, panggilen.", Ummi menyuruh Gus Ma'adz. ia hendak melangkah, tapi Abah sudah nampak berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


Begitu Abah masuk ke ruang makan,bgus Aham segera mencium tangannya.


"Le, panggil Aisyah.", perintah Ummi.


Gus Aham segera berjalan menuju kamarnya. kebetulan Aisyah sudah selesai dengan acara beres-beres nya.


"Di cari, Ummi.", ucap gus Aham begitu pintu kamarnya terbuka.


"Injih,nGus.",


Aisyah segera menghampiri suaminya yang sudah menunggunya di tengah pintu kamar. mereka berjalan beriringan ke ruang makan.


Diruang makan semua anggota keluarga sudah berkumpul. Aisyah segera mencium tangan Ummi dan abah, lalu mencium tangan kakak iparnya, Gus Ma'adz dan Ning Nafis.


"Sehat, nduk?.", tanya Abah begitu Aisyah duduk di dekat suaminya


"Alhamdulillah, bah.",


"Selama di Surabaya, Aham ndak ngerepotin kamu to?.", tanya Abah.


"Ndak, bah. malah Aisyah yang ngerepotin Gus Aham.",


"Kalau kamu ngerepotin aham. itu wajar, dia kan suamimu. harus tanggung jawab penuh sama istrinya.", Aisyah hanya tersenyum mendengar ucapan mertuanya.


"Yasudah. Shofy,bbaca doa sebelum makan. yu'.", ajak Ummi, Ning Shofy si gadis kecil itu langsung menengadahkan tangannya dan mulai memimpin doa.


Begitu sarapan pagi selesai, Aisyah segera pamit ke kantor Mahids. ia harus menyiapkan pekerjaan nya yang tertunda karena ditinggal pergi ke Surabaya menemani suaminya.


"Lihat itu,nistrimu. baru pulang sudah berkutat dengan pekerjaan diniyah. ndak ada yang bantu dia karena semua sudah repot ngurus pondok sendiri-sendiri.", ucap Abah tanpa memandang Gus Aham.


Gus Aham terdiam.


"Untungnya. dari kecil Aisyah sudah di latih, sudah di didik dan di persiapkan untuk memiliki kemampuan seperti itu.", lanjut Abah.


"Bah, insyaallah nanti Aham juga akan belajar mengurus pondok. Ma'adz yang ajari.", ucap Gus Ma'adz, mencoba menenangkan Abahnya.


Abah beranjak dan pergi meninggalkan ruang makan.


"Le, jangan terlalu dipikir ya?!, omongan abahmu.", Ummi mencoba menenangkan Gus Aham.


"Ndak apa, mi. Aham baik-baik saja.", ucapnya tersenyum dan memegang tangan Ummi yang mengelus-elus lengannya.


"Le, mas mau nemuin Abah dulu.", ucapnya. Gus Aham mengangguk, dan Gus Ma'adz pun pamit.


Ning Nafis membereskan semua piring dan membawanya ke dapur untuk di cuci mba-mba ndalem.


"Kalian, beresinnya nanti dulu, ya. Ummi sama Gus Aham sedang ngobrol di ruang makan.", pesannya pada mba-mba ndalem agar tidak masuk ke ruang makan dulu, sehingga ummi bisa lebih lama meredam amarah Gus Aham.


Dulu, saat Abah menyinggung nya tentang semua masalah pondok Gus Aham pasti marah. Abah selalu mengatakan bahwa Gus Aham adalah satu-satunya anak yang tidak bisa di banggakan. tapi kali ini, entah kenapa emosi dalam dirinya bisa terkontrol. padahal Ummi sudah was-was dan takut kalau Gus Aham marah sehingga membuat sakitnya kambuh.


Ya, Gus Aham penderita bronkitis sejak lahir. itulah yang membuat Ummi begitu memanjakannya, dan lebih protektif kepadanya .

__ADS_1


Apapun yang di mau, apapun yang di inginkan Gus Aham, walau Abah menolak. Ummi yang akan mengabulkannya.


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2