Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 11


__ADS_3

ย 


Gus Aham undur diri pada teman-temannya. sudah empat puluh lima menit lebih dia meninggalkan Aisyah, dan sekarang Aisyah belum muncul disini.


"apa perlu berdandan berlebihan untuk malam ini", pikirnya.


ย 


Memikirkan Aisyah yang bersolek berlebihan untuk bertemu dengan teman-temannya malam ini membuatnya kesal. dan itu membuat Gus Aham memutuskan untuk menyusulnya ke kamar.


Gus Aham berjalan ke arah lift, tak berapa lama lift terbuka. Gus Aham segera masuk, lalu memencet nomor lantai kamarnya dan lift segera tertutup. entah kenapa tiba-tiba hatinya gusar, mendadak tidak enak. begitu lift terbuka, Gus Aham segera berjalan ke arah kamarnya.


ย Aisyah menangis, tubuhnya di tindih, rambutnya di Jambak sedang kedua kaki dan tangannya di ikat dengan ikat pinggang. Boby berusaha melepas handuk kimono Aisyah.


ย 


"Mari kita bersenang-senang,say.....


Katanya urung selesai, Boby mendapat pukulan sehingga jatuh ke arah samping. Gus Aham menghampirinya dan terus memukulnya. Aisyah berusaha bangun, tangisnya tak terhenti. ia duduk meringkuk di samping ranjang, memeluk dirinya sendiri agar kimono yang sudah robek di sana-sini bisa tetap menutupi tubuhnya.


"Hei...., hei. kita ini teman, kawan!. jangan begini.", ucap Boby


"Aku, tidak punya teman sepertimu!!.", ucapnya penuh penekanan dan terus menyerang Boby. Boby terjatuh, dia melihat pisau buah dimeja. segera is mengambilnya. pisau yang awalnya berada di sela-sela buah itu di arahkan ke Gus Aham. Gus Aham menangkap tangan Boby, lalu mengarahkan pisau yang masih di pegang Boby itu ke matanya.


"Harusnya dari kemarin aku tahu, matamu akan jadi mata jahat untuk istriku.", ucap Gus Aham.


Boby sekuat tenaga menahan pisau itu agar tidak mengenai mata maupun wajahnya, tapi Gus Aham terlalu kuat. Boby pun menyikut perut Gus Aham, yang akhirnya membuat Gus Aham merasa sedikit kesakitan dan mundur beberapa langkah. pisau terlepas dari tangan Boby, dan sedikit menggores wajahnya.

__ADS_1


Perkelahian itu masih berlanjut, saling serang dan pukul. Gus Aham yang sudah murka tentunya lebih dominan. hingga beberapa orang dari kamar sebelah dan manager hotel datang, lalu melerai mereka.


Boby tersungkur lemah, berusaha bangun tapi tak sanggup. ia jatuh tergeletak, hanya bisa menatap orang-orang yang datang dengan lemah.


"Panggil polisi dan dokter.", ucap manager hotel begitu melihat luka-luka di tubuh mereka.


Gus Aham berpaling, dia melihat Aisyah yang meringkuk di samping ranjang dan menghampirinya. tangannya meraih tubuh Aisyah, tapi Aisyah menepisnya. tanpa menoleh Aisyah terus berontak ingin lepas.


"Aisyah..", panggilnya. seketika Aisyah menoleh. wajahnya yang pucat pasi, penuh berlinang air mata dan penuh ketakutan menatap suara yang memanggilnya. tak ada reaksi lain yang keluar dari diri Aisyah selain menangis sambil menatap suaminya.


Gus Aham segera melepas jas nya dan memakaikannya pada Aisyah. ada rasa bersalah yang hebat tergambar jelas di wajahnya, direngkuhnya tubuh yang nyaris polos itu. Gus Aham berusaha menenangkan Aisyah dengan pelukan.


Polisi datang. mereka segera membawa Boby dan meminta keterangan dari Aisyah dan Gus Aham, tapi Aisyah belum bisa menjawab banyak. yach, dia masih shock dan sedikit trauma dengan apa yang baru saja di alami. saat polisi sedang menginterogasi dan mengamankan bukti di tempat kejadian perkara, seorang dokter wanita masuk.


"Tolong, priksa dia.", pinta Gus Aham yang menggendong istrinya ke ranjang, lalu beranjak berdiri dan mempersilahkan dokter itu duduk di samping Aisyah. Aisyah memegang erat tangan Gus Aham begitu suaminya beranjak berdiri. sorot matanya mengatakan, agar suaminya tidak pergi.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


ย 


Aisyah terdiam di ranjang menunggu suaminya datang. ya, Gus Aham pergi mengikuti permintaan polisi sebagai pelapor ketika Aisyah sedang di obati oleh dokter.


Setelah suaminya pergi bersama polisi, tak berapa lama dokter itu juga pamit pergi. Aisyah sendirian, dan itu membuatnya tak bisa memejamkan mata. pikirannya melayang, takut kalau saat dia tidur, tiba-tiba ada yang masuk lalu melakukan hal buruk seperti tadi padanya. jadilah dia hanya duduk dan memeluk lututnya di ranjang.


ย 


Suara pintu kamar di buka,

__ADS_1


"Ada yang mencoba masuk", pikirnya.


Secepat kilat Aisyah bereaksi meraih pemukul bisbol yang menjadi hiasan dinding untuk pertahanan dirinya, lalu berjalan tertatih ke pintu. tapi saat pintu terbuka, dia malah membuang pemukul itu lalu meraih sosok di depannya dan mendekapnya erat. tangisnya meledak lagi.


"Tidak apa-apa. semua baik-baik saja.", ucap Gus Aham yang juga membalas pelukan istrinya. entah kenapa?!, ini adalah pertama kalinya, hatinya sakit melihat istrinya menangis. itu membuatnya merasa tidak nyaman, dan berusaha menenangkannya.


Gus Aham melepaskan pelukannya, lalu meraih wajah istrinya dengan kedua tangannya sehingga mereka saling bertatap muka. sorot mata penuh ketakutan itu masih mengalirkan air mata, Gus Aham berusaha menghapusnya.


"Tidak apa-apa. aku disini sekarang, semua akan baik-baik saja. jangan menangis lagi, jangan menangis.", ucapnya sambil terus menghapus air mata yang malah kian deras mengalir.


"Ayo istirahat!.", ajak Gus Aham sambil menutup pintu kamar.


Gus Aham meraih tubuh Aisyah, lalu menggendongnya dan menidurkannya di ranjang. Gus Aham hendak melepas jas nya yang sedari tadi di pakai Aisyah, tapi Aisyah menariknya dan menggeleng. dia merasa nyaman jas itu menutupi handuk kimono yang masih menempel di tubuhnya. dan Gus Aham berusaha mengerti.


Gus Aham beranjak mengambil selimut. saat hendak menyelimuti Aisyah, barulah dia sadar ada luka-luka di beberapa bagian tubuh istrinya, seperti kaki yang terkena sabetan ikat pinggang, pergelangan tangan yang memerah dan memar bekas di ikat dan kening yang memar karena benturan. cepat-cepat Gus Aham menyelimuti Aisyah hingga pundaknya, kemudian memeluk Aisyah yang tengah tidur Miring membelakangi dirinya. Gus Aham mencium pundak istrinya.


"Apa masih sakit?.", tanyanya lalu memalingkan wajahnya, tak sanggup melihat keadaan istrinya. suaranya tertahan seperti ada penyesalan disana. Aisyah yang sadar dengan suara suaminya yang berbeda itu hanya menggeleng.


Gus Aham menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan agar perasaannya tenang. dia beralih ke sisi tempat tidur lainnya dan segera naik ke ranjang lalu masuk dalam satu selimut bersama Aisyah. dan ini adalah pertama kalinya mereka tidur seranjang.


Nafas Aisyah masih sedikit berat dan masih terdengar sedikit isakan dari setiap nafasnya. Gus Aham menenangkannya dengan memeluk selama beberapa saat.


"Sudah.", ucap Gus Aham seraya mendongakkan wajah istrinya. Aisyah menatap Gus Aham.


bulu mata yang lentik itu terlihat masih basah oleh bekas air mata. hidung mancung milik istrinya terlihat memerah, tapi ada satu yang tiba-tiba memancing nafsunya. bibir merah tipis bagaikan strawberry matang itu, terlihat sedikit kering seperti minta untuk di basahi.


Awalnya, ragu-ragu Gus Aham menginginkannya. tapi bibir itu seakan menggoda akhirnya, Gus Aham perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Aisyah. Gus Aham mengecup lembut dan Aisyah tidak menolaknya. karena tidak ada penolakan, maka Gus Aham pun melanjutkan melahap bibir strawberry Aisyah, tapi kali ini dengan lebih rakus.

__ADS_1


๐ŸŒบTO BE CONTINUED ๐ŸŒบ


__ADS_2