
Gus Aham membawa Aisyah ke cafe es krim. begitu mobil sudah terparkir di tempatnya, Gus Aham segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Aisyah. barulah mereka masuk ke dalam cafe setelah mengunci pintu mobil.
Gus Aham sengaja memilih tempat yang tidak terlalu ramai orang, ia ingin menghabiskan waktu berdua lebih banyak bersama istrinya.
"Mau yang mana?.", tanya Gus Aham sambil memberikan list menu pada Aisyah.
"Manut, njenengan saja.", jawabnya pelan.
Mengingat Aisyah belum pernah ke tempat seperti ini sebelumnya, maka Gus Aham pun berinisiatif untuk memesankan es krim untuk istrinya.
"Es krim brownies ice cream rum raisin spesial, tiga dan satu balinese coffe.", ucap Gus Aham pada pramusaji yang mencatat pesanan mereka.
"Ada lagi?.", tanya pramusaji itu.
"Mau makan?.", tanya Gus Aham pada Aisyah, yang hanya di jawab dengan gelengan.
"Risol mayo, dimsum udang dan godoh kriting.", ucapnya.
Pramusaji itu pamit undur diri, membawa catatan pesanan mereka ke dapur.
"Kenapa pesan banyak sekali, Gus?.", tanya Aisyah.
"Tadi pagi kan, kamu belum makan. jadi semua yang di pesan tadi harus di habisin, ya?!.", ucapnya.
"Kebanyakan, Gus.", jawab Aisyah.
"Pasti habis kalau, aku siapin.", ucapnya seraya mencubit hidung Aisyah. ia merasa gemas dengan pipi istrinya yang terlihat makin berisi karena kehamilannya.
Tak berapa lama, pesanan mereka datang. pramusaji itu dengan piawai menyajikan semua pesanan Gus Aham di meja.
"Silahkan.", ucapnya begitu selesai. kemudian pramusaji itu undur diri.
Gus Aham yang duduk berhadapan dengan Aisyah itu segera meletakkan es krim di depan Aisyah, dan menggeser kopi untuk dirinya sendiri.
"Ayo, makan es krimnya.", ucapnya seraya menyuapkan sesendok es krim ke mulut Aisyah.
"Saya, maem sendiri ya, Gus.", ucapnya malu-malu.
"Emang kenapa?.",
"Malu dilihat orang.",
"Malu karena punya suami seperti aku?.",
__ADS_1
"Ndak. bukan begitu, Gus. saya....,
"Aaaa......, sahut Gus Aham. meminta Aisyah untuk membuka mulutnya, sehingga ia tidak bisa protes lagi.
Aisyah menoleh ke sekitar. ia nampak canggung dan takut di perhatikan oleh banyak orang dengan perlakuan suaminya itu, tapi Gus Aham memalingkan wajah Aisyah ke arahnya. ia ingin Aisyah melihatnya dan tidak memperdulikan keadaan sekitar.
Gus Aham terus menyuapkan es krim dan beberapa camilan ke mulut Aisyah secara bergantian, sambil sesekali ia menikmati kopinya.
"Ndak usah lihat ke sekitar. cukup lihat mas, aja.", ucapnya, meraih tangan Aisyah lalu di letakkan di pipinya. ia terdiam dengan perlakuan suaminya di tempat umum itu. sesekali Gus Aham menciumi tangan Aisyah yang ia letakkan di pipinya sambil terus menyuapi Aisyah.
"Gus, udah kenyang.", ucapnya saat dua porsi es cream dan beberapa camilan hampir habis. Gus Aham melepaskan tangan Aisyah, lalu menoleh ke sekitar meja.
"Bener?!.,". tanya Gus Aham yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Aisyah.
"Tapi, es krim nya masih.", sambung Gus Aham.
Aisyah segera mengambil semangkuk es krim yang masih tersisa. ia menyendok es krim itu, lalu menyuapkan ke mulut suaminya.
"Aa...., perintah Aisyah. yang membuat Gus Aham membuka mulutnya, dan Aisyah pun segera menyuapi suaminya dengan es krim.
Aisyah tersenyum melihat Gus Aham yang menurut saja dengan-nya.
"Kenapa?.", tanya suaminya melihat Aisyah tersenyum.
yang mana jawaban itu membuat Gus Aham tersenyum hingga memperlihatkan gigi gingsulnya.
"Kalau gitu, aku akan lebih sering nurut sama kamu.", ucapnya. yang membuat keduanya saling pandang dan tersenyum.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Begitu selesai makan es krim mereka segera membayar dan keluar dari kedai.
"Mau kemana lagi?.", tanya Gus Aham yang sudah duduk menyetir di sampul Aisyah.
"Pulang aja, Gus.",
"Mau ke taman dulu?, jalan-jalan?!.", tawarnya.
"Ndak. pulang aja, ya?!. njenengan juga pasti banyak kerjaan",
"Kerjaan emang banyak, tapi hari ini spesial. mas, mau habisin waktu sama kamu.", jawab Gus Aham, tapi Aisyah hanya diam.
"Mampir ke taman dulu, ya?!.", bujuk suaminya lagi.
__ADS_1
"Atau kemana, gitu?.", sambungnya.
"Jangan pulang dulu, pokoknya.", ucapnya merajuk.
"Yasudah. terserah njenengan mau kemana?!, saya ikut saja.", jawabnya.
Gus Aham meraih tangan Aisyah, lalu mengecupnya dengan tetap fokus menyetir. ntah kenapa?, ia begitu bahagia bisa seharian bersama istrinya.
"Gus, nyetir yang bener.", ucapnya yang melihat suaminya hanya menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya terus memegang tangan Aisyah.
Terkadang ia menempelkan tangan Aisyah di pipinya atau mengecupnya sesekali.
"Mas mu ini kan, jago balap. jadi ndak usah khawatir.", ucapnya.
"Bukannya gitu, Gus. tapi alangkah baiknya kalau mentaati peraturan lalu lintas.", jelas Aisyah pada suaminya. tapi nyatanya itu tidak membuat suaminya melepaskan tangannya.
"Pegang tangan dan manjanya bisa disambung nanti, kalau sudah sampai.", sambung Aisyah, dan kali ini berhasil membuat Gus Aham melepaskan tangannya.
"Ok. kamu sendiri yang bilang, ya?!.", ucap Gus Aham girang yang membuat Aisyah malu dan salah tingkah dengan ucapannya barusan.
Gus Aham membenarkan posisi duduknya, lalu menyetir dengan benar menuju taman kota. begitu sampai, ia segera memarkirkan mobilnya. Gus Aham turun dan segera membukakan pintu untuk istrinya.
"Ayo!.", ajaknya penuh semangat memasuki taman kota yang rimbun dan rindang.
Pengunjung di jam kerja seperti ini tidaklah banyak, serasa menyewa taman secara privat saking sepi dan jarangnya orang yang berlalu lalang.
Gus Aham mengajak Aisyah mengelilingi taman, merasakan udara sejuk yang tenang sembari melihat aneka bunga dan pohon yang tertata rapi menghiasi taman sehingga terlihat cantik. sesekali, saat mereka melintasi beberapa kedai makanan dalam taman terdengar ocehan penjual yang iri dengan kebersamaan mereka, membuat Gus Aham semakin mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Aisyah.
Aisyah duduk di kursi taman yang tersedia, di bawah rindangnya pepohonan yang menambah sejuk dan teduh. Gus Aham merebahkan tubuhnya di kursi dan menjadikan pangkuan Aisyah sebagai bantalan. ia ingin bermanja-manja dan memanjakan istrinya hari ini.
Persis seperti muda-mudi yang sedang di mabuk asmara, Gus Aham tidak pernah melepaskan tangan istrinya.
"Halo sayang, kamu lagi ngapain?!.", tanya Gus Aham pada perut Aisyah yang mulai membuncit itu.
"Lagi tidur?!. sama. ini ayah juga lagi tiduran di pangkuan Mama-mu.", ucapnya setelah diam beberapa saat seperti mendengar sahutan dari dalam perut istrinya. melihat itu Aisyah hanya tersenyum.
"Nanti setelah kamu lahir. kita akan sering pergi bersama, ayah akan turuti semua mau kamu. semua permintaan kamu dan Mama. ayah akan selalu berusaha jadi yang terbaik untuk kalian.", janjinya. Gus Aham mengecup perut Aisyah beberapa kali. yang mana perlakuannya itu benar-benar membuat aisyah tersenyum bahagia.
Mereka tetap bercengkrama, bercerita dan bercanda hingga lupa waktu bahwa hari sudah semakin siang.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1